Terulang seperti 2018, enam bulan pertama 2019 ada 5 kasus bunuh diri di Sukabumi

Tahun 2018, ada lima kasus bunuh diri pada periode Januari-Mei.

Duh ngeri ya, Gengs. De javu, dua tahun terakhir dalam enam bulan pertama selalu terjadi lima kasus bunuh diri di Sukabumi. Beragam alasan mereka melakukan aksi bunuh dirinya, dari mulai persoalan utang, hingga cinta yang tak direstui.

Siapa, kenapa? Simak kuy lima faktanya.

[1] Rabu (20/2/2019): Satu keluarga bunuh diri di Cikembar

Sebuah peristiwa kebakaran menewaskan satu keluarga di Kampung Sukasirna RT 003 RW 013 Desa Cikembar, Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (20/2/2019) diduga karena aksi bunuh diri. Polisi menduga, Jamal (37), salah satu korban kejadian ini, melakukan aksi bunuh diri dengan bensin.

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi mendapatkan informasi bila korban Jamal pernah mengungkapkan niatnya akan bunuh diri kepada istrinya Desi Suwangsih (31), beberapa waktu sebelumnya. Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) juga tercium bau bensin yang berasal dari jenazah korban.

Selain itu, posisi kedua korban Jamal dengan istrinya berdekatan, diduga Jamal memegang tubuh sang istri sedangkan anak mereka, PR (10), yang ikut jadi korban berada sekitar satu meter dari keduanya. Ketiga jenazah sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekarwangi Cibadak. Rencananya, jenazah akan diautopsi untuk mengetahui penyebab kematian.

[2] Rabu (20/3/2019): Gadis 16 tahun gantung diri di Nagrak

Warga Kampung Ciawitali RT 01/06, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, digegerkan penemuan sosok tergantung di pintu kamar, Rabu (20/3/2019). Diketahui, gadis berusia 16 tahun bernama Nurjanah nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri menggunakan kain batik yang diikatkan di kusen pintu kamarnya. Peristiwa tragis ini pertama kali diketahui oleh temannya, Rina (18) sekitar pukul 08.00 WIB.

Sebelum ditemukan mengakhiri hidupnya, sekira pukul 07.30 WIB, Nurjanah mendatangi rumah Rina. Kepada Rina, ia menceritakan hubungannya dengan seorang pria berinisial EP yang tak direstui orang tuanya. Kepada Rina, gadis malang itu sempat mengatakan ingin mati saja jika harus putus dengan EP. Usai curhat, Nurjanah lantas pulang ke rumahnya. 30 menit kemudian, Rina ke rumah korban dan menemukan korban sudah dalam keadaan gantung diri.

Polisi menyatakan korban murni bunuh diri, sedangkan penyebab bunuh diri Nurjanah masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Jasad Nurjanah pun langsung dikebumikan pihak keluarganya di TPU tidak jauh dari rumahnya di Kampung Ciawitali, Rabu siang.

Editor’s Picks:

Membaca Ujang yang ditemukan membusuk di Talaga Warna Sukabumi dari 5 status FB

[3] Kamis (2/5/2019): Siswa SMP tewas gantung diri di Cicurug

RA (14), seorang siswa kelas VIII salah satu sekolah SMP di Cicurug ditemukan tewas tergantung di pohon mangga menggunakan seutas tali tambang, di halaman sekolah PAUD, Kamis (2/5/2019). Peristiwa ini sontak membuat geger warga Kampung/Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Jenazah RA sempat dilarikan ke RSUD Sekarwangi Cibdak, namun pihak keluarga menolak untuk diautopsi. Jenazahnya langsung dimakamkan pada siang hari yang sama, pukul 11.00 WIB.

Dari pengakuan uwak atau bibi korban, Nurlaela Sari, empat hari sebelumnya RA sempat mendatanginya. Kepada Nurlaela, RA bercerita tak tahan lagi tinggal bersama ayahnya yang kini sudah memiliki istri lagi. Kepada Nurlaela, RA mengaku pernah dipukul. Hal itu yang membuat RA tak betah dan ingin pindah.

Nurlaela mengaku sudah menyampaikan kejadian ini kepada Dewi, ibu kandung RA yang kini bekerja sebagai TKW di Hongkong. Ibu kandungnya sangat berduka dan terpukul serta meminta kasus kematian anaknya ini diusut tuntas.

[4] Selasa (28/5/2019): Pria tewas gantung diri di Gunungpuyuh

MA (30) ditemukan tewas dengan kondisi leher dibelit kain sarung yang dikaitkan ke kusen pintu rumah, Selasa (28/5/2019) siang, sekitar pukul 14.00 WIB. Warga Kampung Kutapasir RT 04/11 Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi tersebut diduga nekad mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

MA diketahui tinggal di rumah tersebut bersama anaknya, NA (12), istrinya LI (23) dan ibunya JU (63). Dari keterangan pihak keluarga, awalnya tak ada kecurigaan sama sekali. Kecurigaan muncul saat ibu, istri dan anaknya hendak masuk ke rumah, namun rumah sudah dalam kondisi terkunci. Akhirnya meminta bantuan ke warga untuk membuka paksa. Setelah pintu terbuka, nampak MA sudah dalam keadaan tergantung menggunakan kain sarung.

Editor’s Picks:

[5] Kamis (13/6/2019): Pria tewas menggantung di Cikembar

Sesosok mayat pria ditemukan menggantung di sebuah pohon jati dengan leher terikat tali, Jumat (14/6/2019) pagi, sekitar pukul 07.00 WIB. Lokasi penemuan mayat tersebut berada di area kebun warga Kampung Cilaksana RT 02/04, Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Pria yang diketahui berinisal EG (41) itu diduga nekad mengakhiri hidup dengan cara gantung diri akibat persoalan ekonomi. Ia tercatat warga Kampung Cipanas RT 01/06 Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, dan berprofesi sebagai satpam.

Jenazah EG pertama kali ditemukan Ikoh dan Sahi yang biasa melewati kebun tersebut. Saksi melihat EG dalam kondisi menggantung di pohon jati. Dari keterangan saksi lainnya, EG pada Kamis (13/6/2019) sore sekitar pukul 17.30 WIB sempat mendatangi rumah bibinya di Kampung Cilaksana untuk silaturahim Lebaran. Pada malam hari EG meninggalkan rumah bibinya untuk silaturahim dengan warga kampung, namun tidak kembali lagi. Jenazah EG dibawa ke rumah duka di Kampung Cipanas karena pihak keluarga menolak untuk diotopsi.

EG diberi tahu oleh adiknya di Samarinda, Kalimantan Timur bahwa ibunya sakit, ibunya ini berstatus sebagai transmigran. Diduga korban ingin nengok namun tidak memiliki biaya. EG juga diketahui sempat mengirim pesan singkat kepada istrinya, dia menitipkan anak-anaknya agar diurus dengan baik. Istri korban sempat menanyakan perihal itu namun tidak mendapat balasan.

Wah, ngeri ya, Gaess. Dua tahun terakhir, setiap awal tahun atau enam bulan pertama tahun berjalan, selalu ada fenomena bunuh diri di Sukabumi. Untuk tahun lalu, silakan baca Horor, Gengs, Januari-Mei 2018, setiap bulan ada kasus gantung diri di Kabupaten Sukabumi

Nah Gaess, buat kalian yang sempat kepikiran mau bunuh diri karena persoalan cinta ataupun ekonomi dan lainnya, coba pikir lagi. Rugi amat hanya gegara persoalan hidup. Hidup adalah masalah itu sendiri, Gengs. So, apapun masalahnya, yuk kita hadapi dengan tenang dan ikhlas.

[dari berbagai sumber]

Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *