Hiu Megalodon hidup di laut purba Jampang Kulon, 5 fakta ini gen Sukabumi XYZ tahu?

Tak hanya Megalodon si huntu gelap, paus berukuran jauh lebih besar pun diduga pernah hidup di laut purba Jampang Kulon.

Media lokal dan nasional, terutama online, belakangan ramai membahas ditemukannya fosil gigi hiu purba atau Megalodon di Desa Gunung Sungging, Kecamatan Surade. FYI ya Gaess, Megalodon adalah hiu raksasa penguasa lautan yang diperkirakan hidup antara 23 sampai 3,6 juta tahun yang lalu. Ia mempunyai nama ilmiah Otudus megalodon, yang artinya adalah gigi besar.

Nah, para ahli ilmu geologi sejak lama memang menduga wilayah Pajampangan (secara spesifik disebut Jampang Kulon) jutaan tahun yang lalu memang lautan. Bahkan temuan gigi hiu Megalodon yang oleh orang sekitar disebut huntu gelap (gigi petir), bukanlah kali pertama ini saja. Artinya, sebelumnya pernah ditemukan fosil yang sama dan bahkan pernah dilakukan studi ilmiah.

Berikut lima fakta tentang Megalodon dan laut purba Jampang Kulon yang disarikan dari tulisan T. Bachtiar (seorang anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung), yang dimuat di Harian Pikiran Rakyat edisi tanggal Kamis 22 Desember 2005.

KLIK DI SINI: Situs Hiu Purba di Kampung Cigintung Desa Gunungsungging Kecamatan Surade

[1] Temuan Oka Sumarlin dkk

Pada sekira tanggal 27 Agustus – 3 September 2005, Oka Sumarlin dan timnya dari Jantera (Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Geografi) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menelusuri gua-gua yang belum didata di Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi (Pajampangan).

Desa Cikarang memang mempunyai gua kapur yang sangat kaya. Saat orientasi awal di sekitar lokasi gua di mana terhampar ladang/huma, Oka dkk melihat benda-benda yang menonjol dibandingkan dengan lingkungannya. Setelah dibersihkan, ternyata benda itu fosil gigi ikan hiu. Oka menyimpulkan di kawasan itu tersimpan potensi fosil ikan laut yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

[2] Fosil gigi ikan hiu yang otentik

Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog jaraknya 50 km dari pantai. Di daerah inilah Oka dkk menemukan fosil gigi ikan hiu. Dan ternyata fosil gigi ikan hiu yang ditemukan sangat otentik dan berbeda dengan fosil gigi ikan hiu yang ditemukan di Gua Pawon, Kab. Bandung.

Fosil gigi ikan hiu dari Desa Cikarang ukurannya jauh lebih besar. Panjangnya 9,5 cm, belum termasuk akar giginya yang patah dengan lebar bagian atas 7,5 cm.

[3] Laut purba Jampang Kulon

Kawasan Jampang Kulon (red: demikian dituliskan T. Bachtiar) sesungguhnya sejak kala Oligo-Miosen atau 25 juta tahun lalu sudah menjadi daratan. Namun, dalam evolusinya yang dinamis, karena ada sesar turun yang memanjang barat-timur, secara evolutif kawasan ini mengalami penurunan yang sangat berarti.

Akibatnya, pada kala Pliosen antara 5–1,8 juta tahun yang lalu, kawasan Jampang Kulon kembali berada di bawah permukaan laut dan binatang koral tumbuh subur dengan berbagai binatang laut lainnya. Laut selatan ini pun sampai saat ini merupakan habitat hiu tropis yang kaya dan merupakan jalur migrasi berbagai jenis paus (purba).

Bila fosil gigi ikan hiu banyak terdapat di sini, dapat diduga, di kawasan ini terdapat pula fosil tulang belakang ikan paus.

editor’s picks:

Wilayah Jampang Sukabumi, dasar lautan yang terangkat dan kisah hukuman bagi si kikir

Gaess, ini 5 kelebihan tanah dan warga Pajampangan Sukabumi

Gaess, ini 5 cerita tentang teluh Jampang Sukabumi dan cap seram dunia hitam

[4] Umur fosil sekitar 5 sampai 1,8 juta tahun

Hiu tropika ini diduga menemui ajalnya di laut purba Jampan Kulon. Patut diduga pula gigi yang paling depan tanggal di sini, lalu terkubur sedimentasi dan terawetkan menjadi fosil. Bila melihat sejarah pembentukan bumi Jampang Kulon, umur fosil ini paling tidak ada dalam rentang waktu antara 5 sampai 1,8 juta tahun yang lalu.

Sejak 1,8 juta tahun lalu, secara evolutif kawasan Jampang Kulon terangkat kembali. Sehingga fosil gigi ikan hiu kini berada di lokasi yang jauhnya 50 km dari pantai. Dinamika luar bumi telah menyebabkan pelapukan dan erosi lapisan bebatuan yang melapisi dan mengawetkan gigi hiu sehingga fosil yang asalnya terselimuti bebatuan sedimen itu kini tersingkap ke permukaan.

[5] Megalodon, predator buas yang ‘sayang anak’

Perihal Megalodon sendiri, ada banyak penemuan fosil ikan purba raksasa ini di berbagai belahan dunia. Sebuah penelitian terbaru dari tim dari University of Bristol dan Swansea University mengklaim telah dapat presisi mengukur Megalodon. Tubuh hiu raksasa ini bisa memanjang hingga 19 meter dengan bobot mencapai 48 ton. Ukuran ini jauh lebih besar dari semua hiu yang pernah hidup dan dua kali lebih besar dari hiu putih besar.

Masih dari penelitian yang sama, dengan tubuh sebesar itu, megalodon ekornya sepanjang 3,85 meter dan sirip di punggungnya bisa berdiri setinggi 1,62 meter. Maka, manusia dewasa bisa berdiri di punggung hiu purba ini dan tingginya kurang lebih sama seperti sirip di punggungnya.

Hiu purba ini tersisa melalui fosil giginya yang disebut huntu gelap oleh ornag lokal Pajampangan. Pantas saja jika hewan purba ini memiliki gigi sebesar tangan manusia dan memiliki kekuatan gigitan lebih dari 10 ton. Sebagai perbandingan, kekuatan gigitan hiu putih yang ‘hanya’ dua ton membuatnya terlihat tidak begitu mengerikan.

Terlepas dari gambaran buasnya, Megalodon ternyata punya sisi lembut. Penelitian terkini yang dipublikasikan di jurnal Biology Letters, menunjukkan bahwa megalodon perhatian dan merawat anak-anaknya sampai tumbuh besar. Widih, ternyata Megalodon si buas juga sayang anak ya, Gaess.

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *