Kobra 1,5 meter teror warga Sukabumi, 5 fakta waspada teror ular

Dampak musim hujan, hampir seluruh pulau Jawa beberapa waktu belakangan sedang mengalami teror ular berbisa, terutama kobra dan weling yang paling mematikan.

Warga Sukabumi beberapa pekan belakangan dihebohkan dengan kemunculan ular yang meneror sampai ke pemukiman warga. Hal yang cukup mengkhawatirkan ular-ular yang bahkan mulai masuk ke rumah termasuk jenis yang berbisa dan mematikan seperti kobra dan ular weling. Dari keterangan BPBD Kota Sukabumi bahkan ada ular berjenis King Kobra yang panjangnya mencapai 1,5 meter.

Nah, agar kalian waspada Gaess, berikut lima fakta yang dirangkum redfaksi sukabumiXYZ.com dari berbagai sumber.

[1] Belasan ular teror warga Sukabumi, ada kobra 1,5 meter

Dari informasi yang disampaikan pihak BPBD Kota Sukabumi, sedikitnya ada 18 ekor ular berbagai jenis diamankan dalam sepekan terakhir. Kepala Seksi Penjegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Bahrami mengatakan, 18 ekor ular yang diamankan itu berasal dari lima titik, yaitu Benteng Kidul Warudoyong, Taman Asri Cikole, Sriwedari Gunungpuyuh, serta di kawasan Cisaat dan Cibatu (Kabupaten Sukabumi).

“Jenis-jenisnya mulai dari ular kobra, ular koros, ular welang dan ular sanca batik. Yang paling besar kita tangkap di Cibatu ular kobra panjangnya hampir 1,5 meter. Kemudian di Sriwedari kita tangkap ular sanca kembang panjang lima meter,” kata Zulkarnain seperti dikutip dari Sukabumiupdate.com, Minggu (15 Desember 2019).

[2] Musim kawin ular dan alih fungsi lahan

Tak hanya di Sukabumi, seperti diketahui teror ular juga dikabarkan di berbagai wilayah di Jawa Barat bahkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Barat, teror ular (terutama kobra) terjadi mulai Bogor, Kota Bogor, Depok, Bekasi, Sukabumi hingga Purwakarta. Di Bogor misalnya, teror ular kobra terjadi di Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal dan di Keradenan Cibinong, Bojonggede serta beberapa lokasi lain.

Menurut Panji Petualang, tokoh pawang  terkemuka, ular dan reptil lain akan masuk musim kawin di awal tahun atau sekitar Januari sampai Maret. “Biasanya di akhir tahun akan bermunculan anak-anak ular dan reptil lain ke dunia,” ujar Panji di kanal YouTube PANJI PETUALANG, Sabtu (14 Desember 2019).

Sementara itu menurut herpetolog dari Yayasan Herpetofauna Indonesia, Nathan Rusli, alasan terbesar masuknya kobra ke pemukiman warga karena alih fungsi lahan. Lahan yang awalnya hutan atau kebun yang merupakan habitat alami kobra, berganti menjadi perumahan. “Mayoritas satwa akan mati atau berpindah, namun beberapa jenis seperti ular kobra memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi. Maka dapat bertahan hidup dan berkembang biak di pemukiman,” ujarnya seperti dikutip dari Liputan6.com, Minggu (15 Desember 2019).

[3] Bukan King Kobra, tapi lebih berbahaya

Berita teror kobra juga ramai di media sosial, di antaranya dengan munculnya banyak meme ular King Kobra raksasa mau masuk rumah. Entah benar atau hoax, yang pasti kebanyakan kobra yang dilaporkan bukanlah jenis King Kobra melainkan jenis kobra Jawa. Secara ukuran kobra Jawa lebih kecil dibandingkan King Kobra, tetapi jangan salah justru lebih berbahaya.

Kobra Jawa memiliki ciri berwarna hitam pada sisi bagian atas dan abu-abu pada sisi bagian bawah dan ukurannya lebih kecil (dibandingkan King Kobra).Unik sekaligus berbahanya, kobra Jawa memiliki bisa yang dapat dikeluarkan dengan cara disemburkan dengan jangkauan sampai 3 meter. Berbeda dengan King Kobra yang tidak bisa menyemburkan bisa. Walaupun memang jenis bisanya masih lebih berbahaya King Kobra.

[4] Bagaimana cara mengatasi teror ular?

Nathan Rusli lebih lanjut memberikan tips kepada masyarakat supaya rumahnya seminimal mungkin terhindar dari kobra. Pertama sekali dengan menghilangkan rumah dari tumpukan-tumpukan barang bekas. “Kemudian menjaga kebersihan juga akan mengurangi kemungkinan adanya tikus. (Dan) akan mengurangi kemungkinan ular masuk rumah,” tukas Nathan.

Nathan melanjutkan, ular berbisa apapun pada dasarnya takut kepada manusia. Mereka akan menggigit bilamana merasa terancam. Oleh karena itu, gigitan ular bias dihindari dengan senantiasa waspada di mana anda meletakan tangan dan menginjakkan kaki. Jangan sampai tidak sengaja menyentuh ataupun menginjak kobra. “Kedua, gunakan senter ketika berjalan di tempat gelap,” katanya.

Nah, saat menjumpai ular usahakan menghindar secara perlahan. Tujuannya supaya tidak mengagetkan ular dan tidak membuat hewan buas itu merasa terancam. “

[5] Hati-hati, sepatu sering jadi tempat favorit ular

Nah, hati-hati ini Gaess. Rupanya ular senang tinggal di tumpukan kardus dan sepatu. Menurut Koordinator Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi Diky Sapta Aji, warga harus hati-hati memeriksa sepatu dan kardus-kardus. “Sepatu juga perlu diperhatikan karena ular suka sekali ngumpet di situ. Kalau bisa jangan asal taruh sepatu di luar atau teras rumah,” kata Diky seperti dikutip dari Ayobekasi.net, Minggu (15 Desember 2019).

“Kalau mau pakai sepatu dilihat dulu, jangan asal pakai saja. Simpannya juga di dalam rumah saja, di tempat atau rak terang. Boleh dikasih kamper di bagian dalam sepatu,” tambahnya. Diky mengungkapkan, tidak hanya hewan jenis ular saja, tapi binatang melata lain seperti kadal dan biawak jadi cukup sering ditemukan. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar di kondisi udara lembap seperti sekarang.

So Gaess, hati-hati pake sepatu ya!

[dari berbagai sumber]

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *