5 catatan sejarah masa perjuangan dari Tour Sejarah ke Takokak, gen XYZ Sukabumi wajib tahu

Kapten Harun Kabir (diabadikan menjadi nama jalan di Kota Sukabumi), dibantai di Takokak oleh penjajah Belanda.

Kecamatan Takokak tidak berada di dalam wilayah administrasi Kabupaten Sukabumi, melainkan bagian dari Kabupaten Cianjur. Namun demikian, Kecamatan yang hanya berbatas Sungai Cibeber dengan wilayah Kabupaten Sukabumi, membuat orang kerap mengira Takokak masuk ke wilayah Sukabumi.

Lagipula warga Takokak lebih sering bepergian ke Kota Sukabumi untuk berbelanja dan keperluan lain karena lebih dekat. Bahkan untuk menuju Cianjur dari Takokak, lebih mudah aksesnya jika melewati Kota Sukabumi. Hal lainnya, warga Takokak secara sosio-kultural sama dengan warga Pajampangan (Sukabumi selatan).

Kondisi Takokak yang terisolir sejak dulu membuatnya cocok menjadi tempat untuk penjajah Belanda menghukum para pejuang kemerdekaan RI dan cocok menjadi basis “pemberontak.” Fakta sejarah tersebut memancing ketertarikan pegiat sejarah Sukabumi yang tergabung dalam Komunitas Jelajah Sejarah Soekaboemi (JSS) yang melakukan “Tour Sejarah ke Takokak” pada hari Minggu, 21/10/2018.

Nah, berikut lima fakta kesejarahan Takokak yang dirangkum oleh Komunitas JSS.

1. Sejarah kewilayahan Takokak

Konon menurut cerita masyarakat turun temurun, pembuka awal wilayah Takokak ini bernama Raden Sungging yang kuburannya berada di Puncak Bungah. Lalu, sejak VOC menguasai wilayah Priangan, Takokak masuk wilayah Jampang yang berada di dalam wilayah administratif Bataviasche Ommelanden. Daerah Takokak dikembangkan menjadi perkebunan kopi dan nila.

Dalam perkembangannya, dikarenakan wilayahnya yang terpencil, Takokak dan Jampang secara keseluruhan menjadi basis pemberontakan terhadap penjajah Belanda seperti yang dilakukan oleh Syekh Yusuf Al Makasari maupun Raden Prawatasari. Nah, agar mudah memerangi para “pemberontak,” pemerintah Hindia Belanda memasukkan wilayah Jampang, termasuk Takokak, dalam pengelolaan Regentschap Tjiandjoer pada tahun 1715.

Selanjutnya, pada tahun 1827 dibentuk Distrik Jampang Wetan dan Jampang Kulon di mana Takokak termasuk dalam wilayah Jampang Wetan yang dikepalai oleh Kepala Cutak. Tahun 1839 wilayah Jampang dimekarkan menjadi Jampang Wetan, Jampang Tengah dan Jampang Kulon, dan Takokak waktu itu masih berada dalam distrik wilayah Jampang Wetan.

Tahun 1874 dibentuk onderdistrik (setingkat kecamatan) yang dikepalai kepala Asisten Wedana. Salah satu wiayah yang dibentuk kemudian adalah onderdistrik Takokak. Pada tanggal 30 April 1878, onderdistrik Takokak disewakan kepada swasta, yaitu Bunga Melur, dengan sistem erfacht (sewa maksimal 75 tahun), dan ditanami kopi.

Tahun 1898, Takokak sudah mulai membesar dan diawasi oleh koffeinkoppakhuismeester Mas Daoewidjaja. Selanjutnya, penanaman kopi digantikan dengan teh dan kina, dibentuklah NV Boenga Meloer Batavia dengan administratur yang terkenal adalah J. Th. van der Berg. Selain itu ada juga perkebunan lainnya: NV Cult. Mij Takokak Batavia dan NV Cult Mij Tjisoedjen Amsterdam.

Hingga tahun 1906 saat wilayah Takokak ini dipimpin Wedana Raden Nata Mijaya, belum ada upaya pemerintah untuk membangun wilayah ini kecuali sekedar pengambilan hasil perkebunan.

BACA JUGA:

Menelusuri jejak masa lalu Kota Sukabumi berlandaskan resi, ratu, dan rama

FYI nih gen XYZ Sukabumi, 5 fakta sejarah kemerdekaan RI yang terlupakan

Film ini dibuat zaman Belanda, nomor 5 produsernya wartawan asal Sukabumi

2. Takokak menarik pegiat sejarah

Muatan sejarah Takokak yang tinggi menjadi daya tarik para pegiat sejarah, terutama di Sukabumi. Salah satunya adalah Komunitas Jelajah Sejarah Soekaboemi (JSS) yang melakukan “Tour Sejarah ke Takokak” pada hari Minggu tanggal 21 Oktober 2018 kemarin. Komunitas yang berada di bawah naungan badan hukum Yayasan Kipahare ini mengadakan kegiatan tur dan napak tilas sejarah di pabrik dan Perkebunan Bunga Melur, Pabrik Teh Cisujen dan mengunjungi kuburan massal para pejuang di Makam pahlawan Cigunung Tugu.

Ketua komunitas JSS, Dida Hudaya, juga mengadakan percobaan reka ulang peristiwa sejarah dengan mengundang pegiat reenactor Perang Dunia Kedua Jerman, Alif Rafik Khan, untuk sharing dan memandu kegiatan reka ulang. Kegiatan reka ulang yang dilakukan adalah penguasaan Pabrik Bunga Melur oleh Pasukan Belanda, penembakan Kapten Harun Kabur, dan eksekusi para pejuang di Cigunung Tugu.

Tur sejarah yang dipandu admin Soekaboemi Heritages Irman Sufi juga dihadiri pula oleh Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Kota Sukabumi, Yudi James, yang juga menjadi salah satu pemain reka ulang sejarah tersebut.

3. Tempat para pejuang bersembunyi dari kejaran Belanda

Karena terpencil, wilayah Takokak menjadi tempat strategis untuk bersembunyi para pejuang kemerdekaan. Berdasarkan penelusuran Komunitas JSS, pada masa kolonial tercatat sempat terjadi peristiwa perlawanan para kuli terhadap administratur perkebunan bernama Evekink (tahun 1928). Peristiwa yang dipicu persoalan pembayaran gaji tersebut sempat membahayakan diri sang administratur, namun ia selamat karena menembakan pistol ke udara dan polisi segera datang membantu.

Kemudian, pada masa Agresi Militer Belanda I sekitar Juli 1947, Takokak juga menjadi pilihan para pejuang sebagai basis perlawanan gerilya terhadap tentara pendudukan Belanda. Belanda mati-matian ingin menghancurkan basis pejuang di Takokak ini karena menjadi duri yang selalu mengganggu pasukan Belanda.

Pada tanggal 27 Agustus 1947, Belanda mencoba menyerang Takokak pada sore hari pukul 4.30 dari arah Nyalindung namun menemui kegagalan. Upaya yang sama juga diakukan melalui Gegerbitung, namun hasilnya sama, para pejuang kuat bertahan di Takokak.

Pada tanggal 7 September 1947, Belanda kembali melakukan gempuran terhadap para pejuang di Takokak dengan membawa dua unit tank. Upaya ini berhasil menekan para pejuang ke arah Cisujen sehingga fokus perjuangan beralih disekitar Sukanegara dan Pagelaran. Namun demikian, Takokak belum bisa dikuasai sepenuhnya, serangan gerilya terus dilakukan di wilayah ini, sedangkan pasukan Belanda masih memusatkan kekuatannya di Nyalindung.

BACA JUGA:

Di balik penaklukan tentara Inggris di Sukabumi, 5 fakta Letkol Eddie Soekardi

Si Jampang urang Sukabumi bukan orang Betawi, ini 5 faktanya

Tionghoa Sukabumi penerjemah Bung Karno, 5 hal mengenal Szetu Mei Sen

4. Terbunuhnya Kapten Harun Kabir

Takokak menjadi tempat terbunuhnya salah satu tokoh pejuang lokal Sukabumi ternama, Kapten Harun Kabir. Untuk mengenang kebesaran jasanya, kini salah satu nama jalan di Kota Sukabumi diberikan atas namanya.

Alkisah, pada sekitar bulan November 1947, Harun Kabir yang menjabat Kepala Staf Brigade II Suryakencana, masih berada di Takokak bersama pasukannya, dan terus memantau pergerakan pasukan Belanda. Harun kemudian hendak mengadakan rapat koordinasi dengan Kolonel Kawilirang, Letkol Eddie Soekardi dan beberapa perwira tinggi lainnya di Perkebunan Bunga Melur.

Namun rupanya rencana pertemuan tersebut terendus Belanda, sehingga pada waktu Maghrib mereka diserang pasukan Belanda. Harun Kabir dan keluarganya ikut mengungsi ke Cioray, sebuah kampung di pedalaman Takokak. Harun Kabir dan para pengungsi berlindung di rumah seorang pemuka agama di sebuah gubuk dekat huma penduduk.

Pada Rabu malam tanggal 12 November 1947, Harun yang ada dalam kondisi masih sakit karena terserang malaria diminta untuk menemui Kolonel Kawilarang dan Mayor Kosasih untuk suatu tugas ke Yogyakarta esok paginya. Harun hendak menyuruh keluarganya bergabung dengan pengungsi. Sayangnya, menjelang Subuh sekitar pukul 04.00 (13 November 1947), akibat pengkhianatan seorang penduduk, satu peleton pasukan Belanda mengepung gubuk kecil tempat mereka tinggal. Mereka menyergap dan menembak mati Harun Kabir bersama dua ajudannya di depan anak dan istrinya.

5. HJC Princen, desertir Belanda sembunyi di Takokak

Takokak juga tercatat dalam sejarah menjadi tempat aksi desertir Belanda, HJC Princen, yang bergabung dengan tentara Republik. Alkisah, saat pasukan Belanda melakukan Agresi Militer II di Yogyakarta dan Jawa Tengah, pasukan Siliwangi kembali ke wilayah-wilayah perjuangan di Jawa Barat termasuk Sukabumi dan Cianjur.

Salah seorang Pasukan Belanda yang melakukan desersi bernama Princen membelot dan bergabung dengan para pejuang di bawah pimpinan Kapten Saptaji di Cipriangan Sukabumi. Pasukan Princen mulai mengacau pasukan Belanda, pabrik-pabrik dan pos polisi di sekitar Sukabumi dan Cianjur, di antaranya Padaasih, Kadudampit, Parakansalak, Cikidang, Sukaraja, Baros, Gandasoli, Lampegan, Harjasari dan lain lain.

Takokak menjadi sasaran penyerangan pasukan Princen juga di mana pada tanggal 25 Juli 1949, pos polisi Takokak diserang oleh Princen dan berhasil membawa beberapa senjata dan peluru.  Karena ulahnya tersebut, Belanda sangat marah dan berencana untuk melakukan pembunuhan terhadap Princen. Persoalannya Belanda sulit mengidentifikasi tempat persembunyian Princen.

Sayangnya, Princen sendiri tanpa sengaja membongkar tempat persembunyiannya sendiri. Pada tanggal 20 Juli 1949, ia menculik Asisten Wedana Takokak dan membawanya ke markasnya di Cilutung, lalu memindahkannya tidak jauh dari situ dan kemudian membebaskannya. Informasi tempat ini akhirnya sampai kepada Pasukan Belanda dan dikirim ke Biro Intelijen Staf Umum KNIL-KL di Bandung pada 28 Juli 1949.

Penjelasan Wedana menyebutkan bahwa, “Markas itu terletak di lembah berukuran sedang, berbentuk bundar, dibentuk oleh beberapa bangunan, lebih besar dari rumah-rumah kampung. Rumah-rumah dibangun dari papan dan ditutupi dengan seng. Di luar kelompok bangunan ada lapangan (seukuran lapangan sepak bola). Seluruhnya dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi.”

Belanda kemudian mendatangkan pasukan khusus yang berpengalaman dalam Perang Dunia II melawan Jerman dipimpin Henk Ulrici yang dibentuk tanggal 5 Agustus 1949 dengan nama sandi Compagnie Eric. Dalam sergapan di lokasi tersebut Princen berhasil lolos, namun istrinya bernama Odah tewas ditangan Ulrici.

Itulah lima fakta bersejarah dari Takokak yang tentunya sangat menarik ya, Gaess. Untuk kalian yang ingin tahu lebih banyak, silakan hubungi komunitas JSS, bisa melalui berbagai saranan medsos. Ingatlah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

  • 74
    Shares
Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

9 thoughts on “5 catatan sejarah masa perjuangan dari Tour Sejarah ke Takokak, gen XYZ Sukabumi wajib tahu

    • Feryawi Heryadi
      23 November 2018 at 23:27
      Permalink

      terimakasih. kalau mau kontribusi tulisan silakan, Gan

      Reply
  • Avatar
    12 November 2018 at 10:29
    Permalink

    Nah postingan kali ini sangat bermanfaat, saya sering berkunjung dan membaca postingan disini.
    Emang keren-keren kontennya. Salah satu blog yang recommended deh.

    Reply
    • Feryawi Heryadi
      23 November 2018 at 23:31
      Permalink

      terimakasih. kalau mau kontribusi tulisan silakan, Gan

      Reply
  • Avatar
    12 November 2018 at 14:01
    Permalink

    Nah postingan kali ini sangat bermanfaat, saya
    sering berkunjung dan membaca postingan disini. Emang keren-keren kontennya.
    Salah satu blog yang recommended deh.

    Reply
  • Avatar
    13 November 2018 at 00:00
    Permalink

    Emang mantap kontennya. Semangat min untuk sering-sering update.
    saya diam-diam baca dan share tiap kontenmu lho.

    Reply
    • Feryawi Heryadi
      23 November 2018 at 23:26
      Permalink

      terimakasih. kalau mau kontribusi tulisan silakan, Gan

      Reply
    • Feryawi Heryadi
      23 November 2018 at 23:24
      Permalink

      yeeeyyyyy/ terimakasih. kalau mau kontribusi tulisan silakan, Gan

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *