Si Jampang urang Sukabumi bukan orang Betawi, ini 5 faktanya

Sama dengan si Pitung yang suka beraksi a la Robin Hood, bedanya si Jampang tak melawan Belanda.

Masyarakat Betawi yang banyak bermukim di Jakarta dan kota-kota satelit sekitarnya (Depok, Bekasi, Tangerang, dan lain-lain) mempunyai cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun oleh orang-orang tua dulu. Satu cerita yang terkenal adalah si Pitung. Nama tokoh lainnya adalah si Jampang.

Banyak kemiripan cerita di antara keduanya. Pitung dan Jampang sama-sama jawara-jawara silat dan suka beraksi a la Robin Hood alias mencuri dari orang kaya dan membagikan hasil curian kepada orang miskin. “Jampang memang mirip cerita Si Pitung. Bedanya, Pitung ada kisah melawan Belanda, sedangkan Jampang diceritakan tidak melawan Belanda,” kata Andi Yahya, seorang budayawan Betawi.

Nah, si Pitung lebih populer dibanding si Jampang. Film si Pitung (diperankan Dicky Zulkarnaen) pun dulu mengalahkan pamor film si Jampang (diperankan Barry Prima). Ini satu hal lagi yang mesti diketahui netizen Sukabumi, si Jampang aslinya bukan orang Betawi tapi urang Sukabumi. Baru tahu? Ini lima fakta tentang si Jampang.

BACA JUGA: Dulu menakutkan kini jadi label kaos gaul, 5 fakta teluh Jampang Sukabumi

1. Lahir di Jampang Sukabumi

Selama ini orang tahunya si Jampang itu orang Betawi. Padahal aslinya ia berasal dari Jampang Sukabumi. Namanya saja Jampang, ya aslinya dari Jampang. Di situs resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, si Jampang dideskripsikan sebagai pendekar silat yang lahir di sebuah desa bernama Jampang, Sukabumi bagian selatan, Jawa Barat.

Ibu si Jampang adalah orang Jampang asli dan ayahnya orang Banten. Si Jampang lahir di Jampang, kampung ibunya. Kemungkinan karena lokasi lahirnya itulah ia kemudian dinamai Jampang.

BACA JUGA: Mulai silat sampai muay thai, ini 5 info komunitas MMA di Sukabumi

2. Merantau ke Depok

Seiring berjalannya waktu, dikisahkan bahwa kedua orang tua si Jampang meninggal dunia akibat menderita sakit. Si Jampang hidup sebatang kara dan kerabat terdekatnya yakni sang paman, tinggal di wilayah Grogol, Depok. Saat itulah si Jampang memutuskan untuk pergi merantau ke Depok. Si Jampang dirawat pamannya layaknya anak sendiri.

Saat si Jampang beranjak remaja, sang paman menyuruhnya pergi berguru ilmu bela diri silat di sebuah padepokan di Cianjur, Jawa Barat. Guru silat yang mendidik Si Jampang merupakan kenalan dekat pamannya. Si Jampang diminta untuk serius menimba ilmu bela diri silat agar memiliki ilmu dan bekal hidup di hari mendatang.

“Pang, lu mesti punya kepandaian silat, karena menegakkan kebenaran tanpa kekuatan adalah sia-sia. Lu ikut mamang ke Cianjur. Lu belajar silat di sana ama kenalan mamang,” ujar paman dari Si Jampang.

“Aye (baik), mang. Aye sih pegimane mamang aja gimana baeknye,” jawab Jampang dengan penuh rasa hormat.

BACA JUGA: Ini sambal orang Sunda, nomor 5 khas Jampang Sukabumi Gaess

4. Si Jampang dikenal berparas tampan

Si Jampang dalam tradisi cerita lisan orang Betawi dikenal berparas tampan dan benar-benar gagah. Setelah belajar silat, si Jampang pandai beratraksi silat dan memainkan golok. Karena ketampanan dan kepiawaian bermain silat, si Jampang muda banyak digandrungi gadis-gadis remaja.

Setelah belajar silat dan ilmu agama, si Jampang memutuskan merantau ke Kebayoran Lama, Jakarta Selatan agar lebih mandiri. Di sana ia awalnya tinggal di rumah sahabat karib pamannya. Si Jampang Jampang membantu si tuan rumah untuk berkebun dan berdagang buah di pasar Tanah Abang.

Tetapi di Kebayoran Lama inilah Si Jampang mendapat cobaan. Ia bertemu dengan centeng-centeng yang bertindak arogan meminta uang pajak. Jampang lalu memaksimalkan kemampuan silatnya untuk memberantas tindakan sewenang-sewenang tersebut. Sampai akhirnya tidak ada lagi aksi kriminal dari para preman-preman di Kebayoran Lama.

Si Jampang lalu menikahi seorang gadis asal Kebayoran Lama dan memiliki seorang anak. Oleh bapak mertuanya, Jampang diberi kuasa untuk merawat sebidang tanah untuk digarap. Bersama istrinya, si Jampang menggarap tanah, menanami lahan dengan padi, kacang, dan kelapa. Selain itu, Jampang juga menjual hasil kebun mertuanya ke pasar Tanah Abang.

BACA JUGA: Eyang Santri dikunjungi tokoh nasional dan dunia, ini 5 fakta sesepuh Cidahu Sukabumi

4. “Robin Hood dari Betawi”

Selain Si Pitung, si Jampang juga dijuluki “Robin Hood dari Betawi.” Setelah istrinya meninggal dan anaknya mesantren, si Jampang merasa kesepian. Dari situlah muncul pikirannya ingin membantu rakyat Betawi yang menderita akibat mendapat tekanan dari para tuan tanah dan para orang kaya yang kikir.

“Ah, lebih baik aye rampok harta mereka untuk, aye bagikan kepada rakyat jelata,” pikir si Jampang.

Si Jampang pun mulai merampok harta benda para tuan tanah dan orang-orang kaya di daerah Grogol. Mereka yang menjadi korbannya pun murka kepadanya. Namun, rakyat justru senang karena sering mendapat bagian harta hasil rampokan si Jampang. Sejak itulah, ia terkenal sebagai perampok dan menjadi buah bibir warga.

Kabar itu sampai ke telinganya anak si Jampang yang sedang mesantren. Anak si Jampang merasa malu dengan kelakuan ayahnya yang mencuri walaupun untuk dibagikan kepada orang miskin hasil curiannya.

BACA JUGA: Gaess, ini dia 5 hal yang diingat warga Jakarta jika disebut Sukabumi

5. Akhir hayat si Jampang

Istri si Jampang meninggal sejak lama. Si Jampang pun ingin punya istri lagi. Ia pun melamar seorang janda bernama Mayangsari. Namun di luar dugaan lamaran si Jampang ditolak Mayangsari. Cara menolaknya adalah si Jampang diharuskan membawa syarat sepasang kerbau sebagai mas kawin kalau mau menikahi Mayangsari.

Si Jampang pun kebingungan bagaimana cara ia memperoleh kerbau. Harga kerbau sangat mahal, sementara dia tidak mempunyai uang. Setelah berpikir sejanak, si Jampang pun teringat pada Haji Saud, seorang kaya raya yang tinggal di daerah Tambuh. Sepasang kerbau bagi Haji Saud bukanlah berarti apa-apa. Akhirnya suatu malam, si Jampang bersama kawannya si Sarpin menuju ke rumah Haji Saud dengan memakai topeng dan membawa golok.

Keduanya berhasil mencuri sepasang kerbau milik Haji Saud dengan mudah. Namun, ketika mereka akan keluar pintu desa, puluhan anggota polisi telah mengepung. Para anggota polisi tersebut menodongkan senapan laras panjang. Si Jampang dan si Sarpin pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka akhirnya dimasukkan ke dalam bui dan si Jampang sebagai gembong perampok dihukum mati.

Kabar meninggalnya si Jampang membuat para tuan tanah dan orang-orang kaya merasa gembira. Namun, di sisi lain, rakyat kecil yang kerap dibantu oleh si Jampang merasa sedih dengan kematiannya. Kini, bagi rakyat Betawi, si Jampang adalah sosok pahlawan yang murah hati.

Lalu, bagaimana bagi urang Jampang Sukabumi perihal si Jampang? (dari berbagai sumber)

  • 28
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *