Dulu menakutkan kini jadi label kaos gaul, 5 fakta teluh Jampang Sukabumi

Kaos Teluh Jampang dijual sampai ke China, Taiwan, Korea dan Singapura. Wow!

Gaess, daerah Pajampangan (Surade, Jampangkulon, Ciracap, Jampangtengah, Sagaranten, dan lain-lain) terkenal dalam berbagai hal. Pemandangan alam pegunungannya yang indah, wisata lautnya yang mantab, termasuk juga keramah-tamahan masyarakatnya. Selain itu, yang tak bisa dilepaskan dari imej daerah di selatan Sukabumi ini adalah teluh.

Walaupun kini Jampang telah semakin maju, tetap saja orang di luar Jampang punya berpersepsi negatif tentang teluh. Namanya persepsi ya tak bisa dipaksa untuk berubah. Lambat laun juga berubah sendiri seiring berjalannya waktu.

Namun demikian, ada apa sih antara Jampang dengan teluh? Berikut lima fakta tentang teluh Jampang yang mungkin gen Y Sukabumi belum tahu.

BACA JUGA:

Cileuleuy lebih terawat dari Cicatih-Cibeber, 5 fakta sungai di Cicurug Sukabumi

Gaess, ini dia 5 hal yang diingat warga Jakarta jika disebut Sukabumi

1. Bukan teluh ataupun santet, tapi sene

Orang luar Jampang lebih mengenalnya dengan sebutan teluh ataupun santet. Sebetulnya di Jampang sendiri, masyarakat lokal mengenalnya dengan sebutan sene. Walaupun ada detil yang berbeda, tapi intinya ya sama itu-itu juga. Lalu apa itu sene alias teluh alias santet? Apa beda di antara ketiganya?

Santet secara umum sering disebut sebagai teluh (ilmu hitam). Jadi istilah teluh adalah untuk menyebut secara keseluruhan ilmu hitam, tak hanya santet. Sementara itu, sene adalah istilah yang lebih tepat untuk menerjemahkan santet.

Santet szendiri berarti upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Santet dilakukan menggunakan berbagai macam media antara lain rambut, foto, boneka, dupa, rupa-rupa kembang, paku dan lain-lain. Seseorang yang terkena santet akan berakibat cacat atau meninggal.

Santet atau sihir dalam bahasa Arab dinamakan ainun saqhirah, atau sesuatu yang menyilaukan mata. Lebih jauh, bermakna menakjubkan, atau sebuah kemampuan luar biasa yang sulit diterima akal sehat. Dalam masyarakat Jawa, terdapat fenomena teluh braja. Menurut kesaksian dan cerita turun-temurun dari leluhur, teluh braja juga merupakan sinar terang benderang yang melesat amat cepat. Mirip dengan pemaknaan ainun saqhirah ya, Gaess.

BACA JUGA:

5 info akhir Juli 2018 ada penerimaan PNS baru, warga Sukabumi berminat?

Mulai Yan Asmi sampai komika Irvan Karta, ini 5 komedian nasional asal Sukabumi

2. Daerah-daerah terkenal santetnya

Jampang bukanlah satu-satunya daerah di Indonesia yang terkenal dengan fenomena budaya santetnya. Setidaknya di pulau Jawa saja ada Banyuwangi (Jawa Timur) dan Pati (Jawa Tengah) yang identik dengan cerita-cerita santet.

Khusus untuk Banyuwangi, gen Y Sukabumi harus tahu bahwa dulu, di tahun 1998, pernah ada tragedi kemanusiaan yang dikenal dengan sebutan pembantaian dukun santet. Kabarnya ratusan orang yang diduga melakukan praktik santet menjadi korban pembunuhan. Kenyataan itu cukup menjadi penegas bahwa Banyuwangi identik dengan santet, terlepas dari persoalan benar atau tidak.

Lalu, ada daerah Pati di Jawa Tengah. Percaya atu tidak, Pati bahkan dijuluki oleh sebagian orang sebagai kota dukun. Sebab selama ini Kabupaten Pati memang dikenal sebagai pusat bisnis gaib. Kota ini kondang dikenal sebagai markas besar Paguyuban Paranormal Indonesia, yang dipimpin Eddy Rusmanto alias Boss Eddy.

Wajah Kota Pati sebagai kota paranormal juga bisa dilihat dari maraknya baliho besar yang menawarkan jasa alternatif pemecahan masalah di beberapa sudut kota. Padahal, kota kecil dengan penduduk kurang dari seratus ribu jiwa ini tak terlalu ramai. Namun di setiap akhir pekan, ratusan tamu datang dari luar. Mereka adalah para pasien sejumlah paranormal yang buka praktek di situ. Oalah, pantas saja disebut kota dukun. Wallahualam.

BACA JUGA:

Mulai silat sampai muay thai, ini 5 info komunitas MMA di Sukabumi

5 film lokal tayang Juli Gaess, ada yang dibintangi artis Sukabumi lho

3. Peristiwa berdarah akibat teluh

Ini yang sebenarnya menyedihkan. Banyak kisah berdarah akibat teluh atau sene. Di atas sudah diceritakan tentang pembantaian berdarah dukun santet di Banyuwangi. Fenomena yang relatif sama juga kerap terjadi di Jampang dan sekitarnya. Orang tak bersalah menjadi korban akibat dituduh menjadi dukun santet. Padahal santet sendiri sangat sulit dibuktikan.

Terakhir terjadi sekitar Maret lalu. Seorang ibu bernama Atikah (40) terpaksa dirawat di RSUD Jampangkulon akibat dianiaya orang tak dikenal di rumahnya. Warga Kampung Babakankubang RT 4 RW 2 , Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas kabarnya dituduh sebagai dukun santet, lalu dihakimi orang tak bertanggung jawab.

Masih banyak lagi kejadian-kejadian penyiksaan terhadap orang yang diduga mempunyai ilmu santet. Padahal kini sudah zaman modern, di mana orang semakin berpikir rasional.

BACA JUGA:

Ini sambal orang Sunda, nomor 5 khas Jampang Sukabumi Gaess

Eyang Santri dikunjungi tokoh nasional dan dunia, ini 5 fakta sesepuh Cidahu Sukabumi

4. Berlindunglah kepada Allah, santet takkan mempan

Katanya, pada perkembangannya santet menyerang lebih halus tidak berkesan sebagai kejahatan mistis, karena santet dan teluh modern telah dikemas dan didesign sedemikian rupa, sehingga terlihat seperti layaknya penyakit medis. Santet dan teluh saat ini banyak ragam dan jenisnya di antaranya berupa penyakit serangan jantung yang tiba tiba, kelelahan yang kronis, liver, seolah kecelakaan pada saat target sedang perjalanan.

Ah, kalau pun benar ada orang yang memiliki ilmu santet dan menggunakannya untuk mendzalimi orang lain, penangkalnya adalah kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kita selalu dijauhkan dari marabahaya. Aamiin.

5. Kaos Teluh Jampang super keren

Sene alias santet alias teluh di satu sisi hanyalah sebuah persepsi. Keberadaan praktik hitam itu sendiri bisa benar ada, bisa juga tidak ada sebenarnya. Jika persepsi kita baik dan berpikir positif, maka lambat laun imej santet akan terlupakan dari Jampang. Mungkin itulah yang menjadi ide dan filosofi dasar para pembuat kaos berlabel Teluh Jampang.

Adalah Fery Irawan (29), pemuda asal Ciparay, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi yang cerdik melihat peluang bisnis dari populernya imej teluh di Jampang. Fery yang pernah kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung mengaku tidak suka dengan imej teluh di daerahnya. Setelah melalui berbagai proses dialektika, rupanya Fery bersama mahasiswa lain asal Jampang mendapat ide untuk membuat kaos berlabel Teluh Jampang.

Itu dilakukan Fery dan teman-temannya sejak tahun 2009, dan sampai kini kaos label Teluh Jampang sudah begitu populer tak hanya di kalangan anak muda Jampang, tetapi juga Sukabumi pada umumnya. Bahkan, menurut Fery, kaos Teluh Jampang sudah berhasil menembus pasar dunia.

Dan, dengan kaos label Teluh Jampang ini lambat laun imej teluh yang menyeramkan akan semakin pudar dengan sendirinya. Selanjutnya, imej Jampang daerah teluh pun akan dilupakan seiring berjalannya waktu. (dari berbagai sumber) 

  • 16
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *