Mengintip pesona peradaban masyarakat purba Sukabumi di Palabuhanratu


Irman Sufi Firmansyah

Writed by: Irman Sufi Firmansyah
Editor by: Feryawi
09 Jul 2019 | 1:33 WIB


Temuan di Situs Tugu Gede mencerminkan peradaban masa lalu manusia purba Sukabumi yang mengenal pahat batu dan logam.

Hai, Gengs. Sukabumi mempunyai bukti-bukti peradaban masa lalu yang mengagumkan lho, salah satunya adalah Situs Tugu Gede Cengkuk di Kecamatan Cikakak, daerah Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Kali ini tim Reenactor Explore Kipahare (REK) melakukan eksplorasi dengan membawa serta personil Museum Antik Kipahare serta tim Relawan Pelestari Cagar Budaya (RPCB) Kipahare bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten guna meneliti tinggalan kepurbakalaan. Dalam naungan Yayasan Dapuran Kipahare, kegiatan ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya melakukan Bimbingan Teknis Pelestari Cagar Budaya di lokasi sama pada 2017 lalu.

Tim juga membawa serta asisten wanita dan juga anak kecil untuk menjadi bahan rekomendasi mengenai keamanan dan kenyamanan perjalanan menuju Situs Tugu Cengkuk ini.

Jangan tanya kesannya gimana ya? Pokoknya mengasyikkan, menarik, sekaligus bermanfaat banget banget lho, Gaess. Simak yuk lima catatannya.

[1] Ditemukan warga Belanda di lokasi yang indah

Situs Tugu Gede adalah nama resmi yang disematkan pada kawasan ini, lokasinya berada di Kampung Cengkuk, Desa Margalaksana, Kecamatan Cikakak. Situs ini berada pada ketinggian 400-500 meter di atas permukaan air laut (dpal), di sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan halimun.

Tim REK yang dipimpin Irwan Irhas Nurly disambut Juru Pelihara (Jupel) Abah Jaya di bale-bale rumahnya yang nyaman dan dilengkapi sebuah museum kecil tempat penyimpanan temuan-temuan dari Situs Tugu Gede.

Lokasi situs berada kurang lebih 500 meter dari bale Jupel, di lembah dengan jalanan yang dihiasi pohon cengkeh dan leuit tempat penyimpanan beras. Tim kemudian berkeliling dan melakukan pencatatan-pencatatan serta wawancara dengan jupel, data ini kemudian dikomparasikan dengan bahan-bahan referensi yang sudah disapkan oleh tim.

Situs ini pada awalnya ditemukan tanpa sengaja oleh seorang warga negara Belanda bernama AG Voderman pada 1885, ia merupakan anggota Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Dalam ‘Verslag van een tocht naar de Wijnkoopersbaai in Juni 1885′, ia mencatat temuan di wilayah Cengkuk, Ciarca, dan Salakdatar.

  • AG Voderman adalah seorang naturalis dan peneliti, dialah yang melakukan penelitian tentang penyakit beri-beri dengan percobaan kepada narapidana di penjara-penjara atas rekomendasi Ejikman.

Perjalanan ke Cengkuk dilakukan Voderman pada Juni 1885 dengan tujuan awalnya untuk meneliti fauna, dan ia berhasil menemukan 86 spesies baru burung. Perjalanan dimulai dari Karang Tengah, Cibadak, dibantu tujuh orang kuli yang disiapkan oleh Wedana. Kemudian, barulah dilakukan penelitian oleh Dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda dan dicatat dalam inventaris Oudheidkundige Dienst pada 1914. Catatan itu menyebut, keberadaan menhir, lumpang batu, arca polinesia, dan bangunan berundak. Selepas Indonesia merdeka, baru ada penelitian kembali pada 1976.

Editor’s Picks:

[2] Kemungkinan dikunjungi Fa Hien pada masa Tarumanegara?

Salah satu ketertarikan REK untuk melakukan eksplorasi ke wilayah ini adalah adanya teka-teki sejarah yang berkaitan Menurut Abek Risnandar, perwakilan dari Museum Antik Kipahare, dari toponimi Cengkuk, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa  Cengkuk ini berasal dari nama Chun-Guk/Chun Gok/Chun Kuk yang artinya bangsa Cina atau Tiongkok.

Beberapa temuan ternyata memang ada hubungannya dengan bangsa Cina, seperti penemuan keramik dan gerabah berbentuk vas bunga, guci, cepuk, dan mangkuk. Bahkan, yang lebih menarik lagi, muncul dugaan mengenai terdamparnya Fa-Hien, seorang pendeta Buddha Samulangnati India yang berlayar dan tersesat ke pesisir selatan.

Konon dia berlabuh disebuah pulau yang disebut Ya-Va dan tinggal selama lima bulan. Dia terdampar pada 14 April 414 M dan menceritakan tentang sebuah negeri besar dan indah bernama To-Lo-Mo (diduga istilah untuk Tarumanegara). Namun, agama yang dianut penduduknya bukan Buddha, dia menyebutnya agama kotor. Kurang jelas ya, Gaess, apakah yang dia maksud agama kotor itu merujuk pada animisme, atau Sunda Wiwitan yang memang berbeda dengan Buddha.

Pendaratan Fa-Hien ini menyisakan misteri, dimanakah dia berlabuh, karena hanya disebut pesisir pantai selatan. Ada pendapat bahwa dia mendarat di Pelabuhanratu, kemudian mengunjungi Situs Tugu Gede Cengkuk. Namun, dugaan ini memang belum didukung bukti kuat mengingat keramik dan gerabah yang ditemukan ternyata berasal dari Dinasti Sung dan Ming yang memerintah sekira abad 14-15 M, rentang yang sangat jauh dengan Fa Hien.

Selain itu, Abah Jaya mempunyai definisi sendiri mengenai arti Cengkuk. Menurutnya, Cengkuk berasal dari kata leceng yang artinya lari, dan kuk dari kata ngaringkuk alias meringkuk. Toponimi ini berkaitan dengan larinya Prabu Siliwangi dari Batu Tulis Bogor Ngaringkuk di Situs Tugu Gede.  

[3] Mesin waktu yang membawa kembali ke masa lalu

Jika melihat peninggalan-peninggalan yang ditemukan di Situs Tugu Gede Cengkuk, patut diduga situs ini digunakan orang-orang terdahulu dalam rentang waktu panjang. Wakil Ketua REK, Heri Sake menjelaskan, dari temuan yang dipajang di Museum Cengkuk, situs ini seolah mesin waktu yang membawa pengunjung ke zaman yang tak pernah dilaluinya.

Kebudayaan megalitik diduga berkembang sesudah meluasnya budaya bercocok tanam, konon budaya ini berkembang luas sejak zaman neolitik hingga zaman perunggu. Dari sebaran benda-bendanya, diduga situs ini digunakan sebagai tempat upacara keagamaan dan ritual penguburan. Temuannya memang cukup beragam, ada arca polinesia, cangklong yang jadi bagian arca yang telah rusak, beliung persegi, mata tumbak, batu asah, (alat batu), alat logam pegangan genta perunggu, bandul genta, keramik tempayan berglasir, dan gerabah.

So, berdasarkan tinggalan budayanya, kemungkinan besar situs ini merupakan lokasi tempat beraktivitas manusia semenjak masa prasejarah hingga masa sejarah. Hasil penggalian para peneliti menunjukkan keragaman jenis dan bentuk tinggalan budaya. Identifikasi temuan menunjukkan ada tinggalan tembikar, keramik, benda logam, alat batu, monumen batu, tembikar berupa pasu, periuk, cawan, cawan berkaki, tempayan, pedupaan, kendi, dan cobek.

Sedangkan keramik yang ditemukan berupa mangkuk, guci, botol, piring, vas, dan cepuk. Kemudian ada pula benda logam berupa genta, bagian bandul genta, dan dan seperti kaki sebuah wadah. Selain itu ada pula alat batu berupa batu giling, lumpang batu, pipisan, mata tombak, beliung, dan alat serut.

Bisa jadi Cengkuk digunakan oleh manusia untuk menembus waktu, mulai zaman perundagian hingga masuknya agama Hindu dan Budha di Sukabumi ya, Gengs.

[4] Lebih menarik dibandingkan Situs Gunung Padang

Melihat sebaran serta temuannya, situs ini sangat menarik untuk diteliti. Saeful Ikhayat (Iful) Kepala Divisi Explorer REK bahkan menyebut, jika dibandingkan dengan Situs Gunung Padang, Tugu Gede Cengkuk jauh lebih menarik karena benda-benda yang ditemukan kebanyakan hasil buatan manusia, baik untuk ritual maupun perkakas sehari-hari, semuanya menunjukan peradaban tinggi pada masanya.

Pendapat bahwa situs ini mencerminkan peradaban tinggi masa lalu, bisa jadi benar, mengingat situs dibangun manusia yang sudah mengenal pahat batu maupun logam. Sedangkan di Situs Gunung Padang, lebih banyak benda buatan alam (hexagonal stones) yang biasa digunakan manusia purba sebagai media ritual.

Di situs inipun temuan peradaban sangat beragam, ada menhir besar setinggi 3,7 m dan lebar sekira satu meter. Kemudian ada jolang batu, teras, kursi, batu gores, batu dakon, sebaran batu datar, dan batu-batu monolit lainnya, seperti sarkofagus yang merupakan peninggalan budaya pelaut Pelabuhanratu. Konon, masyarakat pesisir pada masa lampau menggunakan perahu sebagai media penguburan. Tradisi ini dilanjutkan dengan menggunakan wadah mirip perahu sebagai bagian dari upacara.

Selain itu, batu yang dipahat mirip kursi, juga merupakan bagian dari ritual upacara penguburan penting pada masa itu. Kemudian ada batu dakon yang merupakan tempat menumbuk sesuatu dan di sebagian kawasan lain menjadi alat untuk menghitung bulan.

Jika ada penelitian lebih lanjut, bisa jadi akan diperoleh temuan lainnya, mengingat situs ini berada di lembah seluas kurang lebih 130 hektar. Sebaran kompleks utama yang sekarang sudah diketahui dan terlihat hanya ada pada lembah yang memanjang sekira dua hektar dari utara ke selatan. Sementara Situs Gunung Padang, luas kompleks utamanya hanya sekira 900 meter persegi saja.

Nah, Gaess, sekadar gambaran buat Gen XYZ Sukabumi yang mau mengunjungi Situs Tugu Gede Cengkuk, lokasi situs ini konturnya mirip mangkuk yang memungkinkan berkumpulnya air, salah satunya adalah mata air Citugu yang mengaliri kompleks situs. Sementara itu, sekira 500 meter ke arah barat, dialiri Sungai Cimaja. Mata air ini diduga sebagai sarana penyucian saat upacara ritual.

Sumber batuan juga relatif mudah teridentifikasi, terdapat batuan andesit di pegunungan yang disebut gudang batu, jenis batuannya sama persis. Tidak jauh dari Situs Tugu Gede Cengkuk juga terdapat situs lain, Gengs, di antaranya Situs Ciarca, Situs Pangguyangan, dan Situs Salakdatar.

Gak berlebihan ya, jika lokasi ini diduga kuat pada masa dahulu merupakan wilayah yang dihuni banyak manusia dan memiliki tempat ritual sendiri.

Editor’s Picks:

Menggali serpihan sejarah Pabrik Teh Goalpara Sukabumi yang terbakar

Freemasonry dan Illuminati: Menyingkap sejarah organisasi rahasia di Sukabumi

Menelisik kehidupan leluhur penduduk Sukabumi di Menhir Kampung Tugu

[5] Butuh perhatian pemerintah

Seperti kebanyakan situs purbakala, Gaess, kebanyakan lokasinya berada di dataran tinggi, yang memang memiliki nilai khusus dalam ritus masyarakat Sunda masa lampau. Karenanya, situs-situs bersejarah seperti halnya Cengkuk, sulit dijangkau pengunjung kecuali dengan persiapan khusus.

Bayangin aja, Gaess, lokasi Situs Cengkuk ini berada sekitar 11 kilometer dari persimpangan Cikakak, atau sekira satu jam perjalanan dengan kendaraan roda dua. Sejauh ini situs masih aman untuk dikunjungi wanita dan anak-anak dengan menggunakan sepeda motor. Untuk kendaraan roda empat, memang agak sulit kecuali mobil dengan spesifikasi offroad. Tak heran jika kendaraan roda empat, rata-rata diparkir di Kampung Marinjung, sisanya lebih nyaman dijangkau dengan sepeda motor.

Hal ini tentunya patut menjadi perhatian pemerintah jika ingin situs ini lebih dikenal. Berkaca dari Situs Gunung Padang yang mendapat perhatian dari pemerintah pusat, sehingga infrastruktur jalan menuju lokasinya diperbaiki, maka akses pun menjadi lebih mudah dan nyaman.

Kamu tahu dong, Gengs, Palabuhanratu sendiri saat ini merupakan kawasan terintegrasi dari Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu. Nah, seyogyanya pemerintah memberi perhatian khusus terhadap situs ini. So, pembangunan jalan tentunya akan memberi dampak positif baik untuk warga maupun para pengunjung karena mendapat sajian destinasi bersejarah yang integratif.

Keberadaan situs-situs lainnya yang bisa dituju dalam sekali perjalanan akan menjadi paket menarik. Misalnya Situs Salak Datar yang juga Batu Dakon yang memiliki tujuh lubang, serta kompleks menhir. Selain itu ada punden berundak di Pangguyangan dan Lumpang Batu di Ciarca.

Nah, Gaess, mengelola situs bersejarah ini tentu bukan hal mudah, perlu perhatian dan penanganan khusus. Peningkatan infrastruktur secara langsung dapat menaikan jumlah pengunjung ke sebuah situs, dan dampak positifnya akan mudah didapatkan. Selain itu, masyarakat akan lebih memperhatikan dan menjaga situs karena akan dianggap sebagai aset berharga yang dapat mendorong peningkatan kesejateraannya.

So, harapannya ke depan, akan terbentuk pola sustainable preservation atau pelestarian yang berkesinambungan.

Wah, ternyata Sukabumi memiliki masa lalu yang keren ya, Gengs, bukan cuma alamnya yang indah, bahkan peradaban masa lalunya pun, begitu memesona untuk selalu diingat dan dikenang.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Satu tanggapan untuk “Mengintip pesona peradaban masyarakat purba Sukabumi di Palabuhanratu

  • 9 Juli 2019 pada 07:11
    Permalink

    Mantaf! Sungguh luar biasa, explorer REK. Paparan sejarah yg keren,sebuah informasi penting yg berasal dari peradaban kuno bisa tergali informasinya lengkap dengan tatabahasa yg mengalir lembut tp tak terbendung😁.
    Keren kang Irman, informasi yang masih hangat dari tim REK dilapangan langsung di blow up ka publik ditambah referensi yg akurat, hebat dan kuat.
    Bravo REK, bravo YDK,Bravo kang Irman! 👍👍👏👏

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *