PVMBG: longsor dan banjir bandang ancam Sukabumi, 5 info gen XYZ mesti aware

PVMBG sebut semua kecamatan di Sukabumi rawan pergerakan tanah.

Tahun 2018 yang baru saja berlalu ditandai oleh duka bagi warga Sukabumi. Bencana longsor menimbun puluhan rumah di Kampung Garehong, Dusun Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi, Senin (31 Desember 2018) lalu. Sampai tulisan ini dibuat, 16 warga desa Cimapag tewas dan 19 lainnya masih dicari. Sukabumi pun berduka!

FYI Gaess, sebelumnya Jumat (28 Desember 2018) longsor juga terjadi di akses jalan utama Palabuhanratu-Kiara Dua. Longsoran tanah sepanjang 10 meter menutup akses jalan tersbeut dan lebih dari 10 jam jalan tersebut tak bisa dilalui. Titik longsoran terjadi di Kampung Cimapag RT 03/09, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Perhatikan Gaess, kedua longsoran terjadi di kampung dengan nama yang sama, Cimapag. Bedanya yang satu berada di Kecamatan Cisolok, satunya lagi di Kecamatan Simpenan. Itu hanya kebetulan saja, Gaess, yang tidak kebetulan adalah fakta bahwa Sukabumi rawan bencana, dan menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi berpotensi terjadi longsor dan banjir bandang.

Ingin tahu detilnya? Simak lima info penting di bawah ini!

1. Sukabumi rawan longsor dan banjir bandang

Seluruh 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi dinyatakan rawan terjadi pergerakan tanah (longsor) dan banjir bandang. Tingkat kerawanannya, merujuk data Desember 2018 itu, bervariatif dari menengah hingga tinggi. Demikian diungkapkan oleh Badan Geologi PVMBG.

PVMBG menegaskan sebagai contoh adalah longsor yang baru saja terjadi di Kampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, di mana daerah tersebut masuk zona menengah hingga tinggi untuk kerawanan pergerakan tanah atau longsor.

2. Tingkat kerawanan longsor

PVMBG menyebut, daerah dengan tingkat kerawanan (longsor) menengah adalah daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Sementara itu, untuk tingkat kerawanan tinggi dinyatakan daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

BACA JUGA:

Masuk musim penghujan Sukabumi waspadai banjir dan longsor, ini 5 infonya

Pakar ITB: Sukabumi berpotensi gempa-tsunami besar, ini 5 penjelasan agar kita waspada

DVAAC Australia: Kabar Gunung Salak erupsi, 5 fakta warga Sukabumi mesti aware

3. Tiga faktor penyebab longsor

Kepala PVMBG Kasbani menyatakan, ada tiga faktor yang bisa menyebabkan longsor di Sukabumi, termasuk yang baru-baru saja terjadi di Cimapag, Cisolok. Tiga faktor tersebut, yaitu hujan dengan intensitas tinggi, kemiringan lereng yang terjal dan material penyusun lereng yang bersifat poros dan mudah menyerap air.

Lokasi longsor di daerah Cisolok sendiri merupakan perbukitan dengan dengan kemiringan lebih dari 30 derajat atau termasuk lereng terjal hingga sangat terjal. Lokasi bencana berada pada ketinggian lebih dari 650 – 800 meter di atas permukaan laut. Di sebelahnya terdapat alur sungai kecil. Daerah ini termasuk kategori kerawanan tinggi, karena dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal.

4. Tanah gembur mudah longsor

Sementara itu, ahli dan peneliti longsor dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Bandung Adrin Tohari mengatakan, longsoran yang terjadi di Cimapag, Cisolok bertipe luncuran yang berubah menjadi aliran karena tanah sangat jenuh air akibat hujan lebat. “Kecepatan longsoran tipe aliran bisa mencapai 50 kilometer per jam,” ujar Adrin seperti dikutip dari Antara.

Longsoran terjadi pada lereng planar yang dikontrol oleh lapisan tanah keras dan membentuk cekungan di bawah permukaan tanah. Bentuk cekungan ini mengontrol aliran air bawah permukaan yang akan meningkat naik dan menjenuhkan lapisan tanah ketika hujan deras. “Kondisi tanah yang gembur mengakibatkan bagian lereng tersebut kemudian longsor,” tandasnya.

5. Daftar kecamatan di Sukabumi yang masuk daerah rawan pergerakan tanah

Selain rawan longsor, beberapa kecematan di Sukabumi juga rawan banjir bandang. Di antara kecamatan-kecamatan yang rawan longsor dan banjir bandang adalah Bojonggenteng, Cicurug, Cidahu, Cisaat, Gunungguruh, Kadudampit, Kebonpedes, Parungkuda, Sukabumi, Sukalarang, dan Sukaraja.

Lalu ada kecamatan-kecamatan dengan tingkat kerawanan longsor menengah-tinggi, yaitu Bantargadung, Bojonggenteng, Caringin, Tegalbuleud, Waluran, Warungkiara, Ciambar, Cibadak, Cibitung, Cicantayan, Cicurug, Cidadap, Cidahu, Ciemas, Cikakak, Cikembar, Cikidang, Cimanggu, Ciracap, Cireunghas, Cisaat, Cisolok, Curugkembar, Gegerbitung, Gunungguruh, Jampang Kulon, Jampang Tengah, Kabandungan, Kadudampit, Kalapanunggal, Kalibunder, Kebonpedes, Lengkong, Nagrak, Nyalindung, Pabuaran, Parakansalak, Parungkuda, Pelabuhanratu, Purabaya, Sagaranten, Simpenan, Sukabumi, Sukalarang, Sukaraja, dan Surade.

Satu-satunya kecamatan yang dinilai sangat rawan longsor atau status tinggi adalah Cidolog. Well gaess, hati-hati dan waspada selalu ya! (dari berbagai sumber)

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *