Kalah kok janjian! 5 fakta MU-Arsenal terjungkal di pekan 34 EPL

Kekalahan Manchester United dari Everton dan Arsenal dari Crystal Palace, membuat peluang finish big four mereka semakin sulit.

Pertandingan liga Inggris memasuki pekan ke 34, artinya tersisa 4 pertandingan lagi. Persaingan sengit tak hanya terjadi di puncak antara Liverpool dengan Manchester City, tetapi juga di big four (empat besar). Nahas bagi Manchester United dan Arsenal, mereka malah menderita kekalahan di partai “harus” menang melawan Everton dan Crystal Palace.

Walhasil, MU menjadi klub yang paling sulit finish di big four mengingat mereka saat ini masih berada di posisi 6 dengan poin 64, sedangkan masih menyisakan laga berat melawan City dan Chelsea. Arsenal bernasih lebih baik karena hanya melawan empat tim medioker di sisi laga. Namun demikian, The Gunners tak boleh pandang sebelah mata, buktinya Mesut Ozil dkk juga kalah oleh Crystal Palace.

Mau tahu lebih banyak tentang perseteruan jelang akhir musim Liga Inggris? Berikut lima drama yang dirangkum sukabumiXYZ.com dari berbagai sumber.

[1] Ole: memalukan!

Bagi Ole Gunnar Solskjaer, kekalahan dari Everton dengan skor 0-4 merupakan hasil yang memalukan. Ole pun mengkritik timnya usai kalah telak dari Everton. Paul Pogba dkk dinilai gagal menunjukkan jadi diri sebagai penggawa Manchester United. Ole pun menyebut para pemain mestinya malu karena memakai seragam Setan Merah.

“Tidak ada tempat untuk bersembunyi di lapangan saat memakai seragam ini (Manchester United), dan kami tidak cukup baik. Kami tak pantas menjadi Manchester United,” ujar sang manajer.

Ole pun tak sanggup menutupi rasa kecewanya dan meminta maaf kepada fans. “Kami harus meminta maaf, atas nama klub, kepada fans karena mereka satu-satunya yang memakai logo ini dengan kepala terangkat dan mengatakan kalau mereka adalah Manchester United,” tuntas Solskjaer.

MEngapa Ole sampai harus minta maaf? Rupanya, menurut statistik kekalahan atas Everton itu merupakan yang terbesar sejak musim 1984/1985. Saat itu, The Red Devils kalah 0-5. Pantas saja Ole malu ya, Gaess!

[2] MU: goodbye Liga Champions?

Apakah ini waktunya MU mengucapkan selamat tinggal kepada Liga Champions musim depan? Bias jadi, karena faktanya saat ini mereka masih berkutat di posisi 6 klasemen dengan poin 64, selisih 2 poin dari Arsenal di posisi 4. Tapi kan segala kemungkinan masih bias terjadi? Masih ada 4 laga lagi.

Well, secara hitungan peluang MU paling berat untuk finish di big four sebagai ambang batas masuk zona Liga Champions. MU masih harus menghadapi dua laga berat melawan City dan Chelsea. MU akan menjamu Manchester City pada hari Kamis (24/4/2019) dan Chelsea pada Minggu (28/4/2019). Jika di kedua laga itu Pogba dkk kalah, maka sudah pasti mereka hanya akan berlaga di Liga Europa musim depan.

BACA JUGA:

Duo striker Muslim ‘si Merah’ bungkam ‘si Biru,’ 5 fakta #LiverpoolVsChelsea

Hazard menggila Madrid kesemsem, 5 fakta bikin the Blues Sukabumi gundah gulana

Pep terjongkok dikangkangi Poch, 5 drama di balik Liga Champions 18/19

[3] Unai Emery masih punya amunisi alasan

Berbeda dengan Solskjaer yang menyatakan minta maaf kepada fans, manajer Arsenal Unai Emery masih menemukan alasan untuk menutupi kekalahan timnya atas Crystal Palace (skor 2-3). Unai Emery menyebut tidak ada masalah dalam konsistensi meski Arsenal kalah.

“Kami sebenarnya konsisten, tapi sulit bermain di level tertinggi di tiap momen. Hasil hari ini benar-benar mengecewakan. Kami akan menganalisis kembali laga ini,” tutur manajer asal Spanyol itu.

Well, setidaknya Arsenal “hanya” akan melawan empat tim medioker di sisa laga EPL, yaitu Wolves, Leicester, Brighton, dan Burnley. Tapi jangan menganggap remeh. Wolves musim ini dikenal sebagai “pembunuh raksasa.” Leicester sedang bangkit di bawah manajer anyar Brendan Rodgers. Brighton sudah terdegradasi, maka akan bermain lepas. Dan Burnley, jangan pernah remehkan klub dengan gaya tradisional Inggris besutan Sean Dyce ini!

[4] Seteru Tottenham dan Chelsea

Dua klub lagi yang bersaing di big four adalah Tottenham Hotspur dan Chelsea. Walaupun baru saja kalah dari Manchester City 0-1, Tottenham masih bertengger di posisi tiga dengan poin 67. Di sisa empat laga juga Son Heung-min dkk juga relatif melawan tim yang medioker. Masalah satu-satunya mereka adalah mesti membagi konsentrasi dengan Liga Champions di mana mereka lolos ke semifinal dan ditunggu tim kejutan, Ajax Amsterdam.

Lalu ada Chelsea yang saat ini di posisi lima dengan poin sama dengan Arsenal di posisi empat, 66 poin. Chelsea juga harus berbagai konsentrasi dengan Liga Europa di mana mereka ditantang Eintracht Frankfurt di babak semifinal. Chelsea juga masih harus menghadapi Manchester United di empat laga sisa EPL.

Siapakah di antara empat tim (Tottenham, Arsenal, Chelsea, MU) yang akan mendapat jatah LIga Champions? Masih akan seru untuk disimak ya para pecinta LIga Inggris!

[5] Psywar Guardiola terhadap Liverpool

Nah, di puncak klasemen, dua klub bertarung memperebutkan juara EPL musim ini. Liverpool saat ini memimpin klasemen dengan raihan 88 poin, sedangkan Manchester City di posisi dua dengan 86 poin. Dari sisi jumlah laga, City diuntungkan karena Liverpool sudah bermain 35 kali, sedangkan anak asuh Pep Guardiola baru 34 laga. City juga lebih berkonsetrasi di EPL karena sudah terjungkal dari Liga Champions.

Kendalanya, City masih harus menjalani laga berat pada derby melawan Man. United. Sementara Liverpool di sisa 3 laga relatif hanya melawan tim medioker (Huddersfield, Newcastle, Wolves). Masalahnya bagi anak asuh Juergen Klopp, mereka akan terkuras tenaga dan konsentrasi di semifinal Liga Champions melawan Barcelona.

Nah, Pep punya senjata non-teknis guna mengalahkan Liverpool dalam kerja-kejaran menuju juara EPL. Pep melontarkan strategi psywar (perang psikologi) terhadap Liverpool. Serangan psywar itu dilancarkan Pep dengan cara “memuji” Liverpool sebagai “ÿang terbaik sepanjang masa.”

“Terutama setelah 100 poin pada musim lalu, kita memiliki Liverpool terbaik sepanjang masa, dan salah satu tim terbaik yang pernah saya lawan secara ofensif,” Guardiola mengatakan dikutip Mirror. Pujian Pep tak mungkin dimaksudkan tulus. Pep ingin Liverpool tersanjung lalu lengah.

Jadi, gak usah geer ya para Kopites Sukabumi!

[dari berbagai sumber]

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *