DVAAC Australia: Kabar Gunung Salak erupsi, 5 fakta warga Sukabumi mesti aware

Kabar Gunung Salak erupsi berasal dari lembaga internasional yang berbasis di Australia, Darwin VAAC, namun dikoreksi.

Rabu kemarin, 10 Oktober 2018, Gunung Salak dikabarkan mengalami erupsi alias letusan. Tentunya kabar ini akan sangat mengejutkan dan membuat heboh masyarakat di sekitar Gunung Salak seperti Sukabumi (selain juga Bogor, Lebak dan lainnya). Apalagi yang memberi kabar itu lembaga internasional. Waduh!

Namun ternyata kabar itu hanya false alarm (alarm palsu) yang kemudian dibantah oleh pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan dikoreksi kembali oleh lembaga internasional yang pertama-tama menyampaikan kabar tersebut.

Ingin tahu lengkap infonya? Ini dia lima info terkait false alarm Gunung Salak erupsi.

1. Darwin VAAC kabarkan erupsi Gunung Salak

Kabar Gunung Salak meletus disampaikan oleh lembaga internasional pemantau aktivitas vulkanik yang berbasis di Australia bernama Darwin Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) alias Darwin VAAC. Darwin VAAC merilis peringatan soal erupsi Gunung Salak pada Rabu (10/10/2018). Laporan VAAC Darwin itu diklaim berdasarkan berdasarkan pantauan satelit Himawari.Menurut mereka, tanda erupsi itu berupa asap setinggi 50.000 kaki dari puncak.

Namun demikian, lembaga itu juga menyertakan catatan bahwa apa yang mereka deteksi mungkin bisa false alarm (alarm palsu). Setelah ada kepastian tidak ada erupsi di Gunung Salak, Darwin VAAC lalu mengoreksi pengumuman mereka.

2. Lembaga apakah Darwin VAAC itu?

Untuk diketahui, Darwin VAAC alias Darwin Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) adalah salah satu dari sembilan Pusat Penasehat Abu Vulkanik yanga da di dunia. VAAC beroperasi di bawah lembaga Pengawas Vulkanik Penerbangan Internasional alias International Airways Volcano Watch.

Darwin VAAC bertanggung jawab mengawasi wilayah-wilayah dengan gunung berapi aktif di Indonesia, Papua Nugini dan selatan Filipina. Darwin VAAC menyediakan advis bagi industri penerbangan tentang lokasi dan pergerakan abu vulkanik yang bisa membahayakan penerbangan.

BACA JUGA:

Orang Jerman pendaki pertama Gunung Gede, ini 5 fakta milenial Sukabumi udah tahu?

Gaess, ini lho 5 fakta dan mitos Gunung Salak Sukabumi yang wajib kamu tahu

5 fakta legenda Embah Salak buat millenial Sukabumi yang suka naik gunung

3. Bantahan PVMBG

Menyikapi kabar yang dirilis Darwin VAAC, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral langsung memberikan bantahan. Dijelaskan bahwa saat ini Gunung Salak tidak mengalami erupsi. “Bahwa hingga saat ini Gunung Salak tidak mengalami erupsi. Gunung Salak saat ini masih berada pada tingkat aktivitas Level I (Normal),” tulis PVMBG dalam situsnya, Rabu (10/10/2018).

Bantahan juga disampaikan oleh Humas Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) Erlan yang melakukan pengamatan di lapangan, dan menyatakan tidak ditemukan adanya tanda-tanda atau aktivitas yang signifikan di Gunung Salak. “Nggak ada kabar soal itu. Biasanya BMKG juga ngasih kontak kalau ada aktifitas. Jangankan aktivitas meletus, aktivitas cuaca ekstrem saja ngasih kabar,” ucap Erlan.

4. Hasil pemantauan Gunung Salak

Pengamatan visual Gunungapi Salak dari periode Oktober 2018 pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, angin Lemah ke arah selatan dan utara. Suhu udara sekitar 22 – 29°C. Kelembaban 92%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap nihil. Pemantauan visual pada sore hari hingga saat ini Gunung Salak umumnya tertutup kabut dan cuaca hujan.

Terekam 23 kali gempa Tornillo dengan amplitudo 5 – 10 mm dan lama gempa 4.5 – 25 detik. 9 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 4 – 7 mm dan lama gempa 4 – 10 detik. 10 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 7 – 12 mm, S-P 0.5 – 2 detik dan lama gempa 6 – 10 detik. 12 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 6 – 12 mm, S-P 5 – 8 detik dan lama gempa 20 – 47 detik. 7 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 7 – 11 mm, S-P 11 – 14 detik dan lama gempa 22 – 97 detik. Rekaman gempa pada tanggal 10 Oktober 2018 hingga pukul 20:00 WIB tidak teramati peningkatan kegempaan di Gunung Salak.

Hasil observasi lapangan yang dilakukan secara langsung oleh pengamat Gunung Salak hingga pukul 20:00 WIB tidak teramati adanya jatuhan/hujan abu vulkanik dan tidak terdengar suara dentuman baik di wilayah puncak Gunung Salak maupun di sekitar lerengnya seperti di wilayah Taman Nasional Cidahu.

5. Masyarakat diminta tak terpancing isu dan tetap tenang

Di akhir pernyataannya, pihak PVMG meminta masyarakat sekitar Gunung Salak tetap tenang. Selain itu, masyarakat diminta tidak terpancing isu terkait erupsi gunung. “Masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya,” kata PVMBG.

Nah, demikianlah warga Sukabumi, banyaknya bencana di berbagai daerah memang membuat kita khawatir. Namun jangan sampai kita termakan isu yang tidak jelas. Caranya, tetaplah mencari kabar yang bisa dipertanggungjawabkan dari sumber yang resmi. (dari berbagai sumber)

  • 44
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *