Menelisik kehidupan leluhur penduduk Sukabumi di Menhir Kampung Tugu

Nama Kampung Tugu, secara toponimi tentunya tidak akan lepas dari keberadaan tugu (menhir) tersebut.

Situs Tugu Sukaraja terletak tidak jauh dari Jalan Raya Sukabumi-Cianjur, dari dekat jembatan masuk ke arah timur menuju Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Menhir ini termasuk Cagar Budaya Tingkat Provinsi dan dilindungi oleh UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dan terdaftar di Dinas  Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Nama Kampung Tugu, secara toponimi tentunya tidak akan lepas dari keberadaan tugu (menhir) tersebut. Komunitas Reenactor Explore Kipahare (REK) mencoba menelusuri keberadaan situs ini termasuk kisah unik dan mistiknya.

Penasaran kan, bagaimana sih kehidupan penduduk purba Sukabumi? Simak kuy, Gaess.

[1] Terdapat tiga menhir

Menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang dipahat seperlunya sehingga membentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik, dari kata men (batu) dan hir (panjang) yang berarti adalah batu panjang. Dalam masyarakat Sunda, menhir disebut juga sebagai batu nangtung (batu berdiri).

Menhir Kampung Tugu Sukaraja yang paling besar terbuat dari batu andesit dengan tinggi 230 centimeter dan terletak di pinggir jalan, di atas tanah seluas 7×7 m. Namun, setelah dibatasi pagar, menciut menjadi sekira 4×4 m persegi saja. Menhir ini berada di tanah H. Deden dengan koordinat 106° 97′ 59,1” LS dan 06° 91′ 71,2” BT.

Menhir yang berupa tiang atau tugu terbuat dari batu, dijadikan sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang, sehingga menjadi benda pujaan yang ditempatkan pada suatu tempat. Konon fungsi menhir adalah sebagai sarana pemujaan terhadap arwah nenek moyang, sebagai tempat memperingati seseorang (kepala suku) yang telah meninggal, sekaligus sebagai tempat menampung kedatangan roh. Menhir ini merupakan tinggalan budaya manusia dari tradsisi megalitik pada masa prasejarah.

Menhir ini tidak tegak lurus namun miring ke arah utara yaitu ke arah Gunung Gede. Sekitar 50 m ke arah selatan dari Tugu Sukaraja terdapat pula dua menhir berukuran lebih kecil. Sekira tahun 1914-1915, menhir ini ditetapkan sebagai temuan arkeologi Hindia Belanda, sayangnya hanya sedikit catatan mengenai batu menhir tersebut, namun dari catatan penelitian Belanda, diprediksi usianya telah mendekati 2000 tahun.

[2] Disebut Tugu Embah Demang

Masyarakat setempat menyebut menhir ini dengan nama Tugu Embah demang, karena konon seorang demang sakti pernah ngageugeuh (berkuasa) di tempat itu. Alkisah, karena kesaktiannya, saat sudah meninggalpun, seorang tentara Jepang menjadi gila setelah petantang petenteng di lokasi tugu tersebut.

Keberadaan menhir ini juga pernah diulas oleh Junghunn dalam bukunya pada 1837, walapun secara resmi dilaporkan ditemukan oleh peneliti Belanda pada 1885. Pada masa tersebut, wilayah Sukabumi diperintah oleh seorang patih yang sebagian bergelar demang, dari nama sang demang inilah konon sebutan Tugu Embah Demang ini berasal.

Terdapat perbedaan data mengenai masa patih dimaksud, informasi berkembang di masyarakat bahwa sang patih ernama Raden Demang Soerianingrat (bukan Soeria Danoeningrat). Namun, menurut data yang tercatat, Raden Demang Soerianingrat baru menjabat patih sejak 1916, sementara pada 1885 patih yang menjabat di Sukabumi adalah Raden Rangga Kartadjoemena yang menjabat sejak 1883. Sebelumnya, patih lain yang bergelar demang adalah Raden Demang Wangsa Redja yang menjabat sejak 1874.

Belum diketahui pasti apakah tahunnya yang keliru atau patih dengan gelar demang. Seandainya benar bahwa penemunya Demang Soerianingrat maka sebenarnya jauh dari gambaran mistis, sakti dan angker, karena demang tersebut adaah pejabat yang digaji belanda yang ditugaskan di Sukabumi setelah sebelumnya bertugas sebagai Patih Limbangan Garut.

Pada masanya, kebesaran para pejabat ditopang oleh kepercayaan masyarakat akan kesaktian, kedigjayaan, maupun keangkeran seseorang. Menurut penduduk sekitar Tugu Sukaraja, ini digunakan sebagai arena pacuan kuda para kasatria.

Bila kita berjalan lurus dari tugu ini maka akan menemui tugu-tugu batu selanjutnya membentuk garis lurus. Kemiringan Tugu ini bisa diakibatkan kesengajaan ataupula akibat Gempa Dahsyat di Sukabumi tahun 1884 serta meletusnya Gunung Gede tahun 1747/1748 disusul dengan letusan lainnya tahun 1761, 1780, dan 1832. Namun banyak yang menduga bahwa kemiringan tugu selalu tertuju pada pusat kosmos masyarakat Sunda saat itu, yaitu Gunung Ageung atau Gunung Gede.

Editor’s Picks:

Mengungkap catatan sejarah dan suka duka pembangunan jalur KA Buitenzorg-Soekaboemi

Freemasonry dan Illuminati: Menyingkap sejarah organisasi rahasia di Sukabumi

[3] Perantara roh para pemimpin dan kelompok pemukim.

Dalam memilih pemimpin suku, leluhur kita di zaman megalitikum menunjuk seseorang diantara yang paling berada secara materi, paling kuat tubuhnya, dan terutama rohnya. Kebaikan rohnya menentukan posisi yang terhormat dalam kelompok. Karena roh seseorang dianggap menjamin hubungan kelompoknya dengan ilahi. Jika pemimpinnya meninggal dunia, maka rohnya tersebutlah yang akan menjaga kebaikan, keamanan, dan kedamaian sukunya.

Mereka mendirikan batu menhir sebagai tanda sekaligus media untuk memanggil roh tersebut. Pemukiman sudah mulai ada sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan lebih lanjut (mesolitikum). Namun pemukan tersebut tidak tinggal dalam waktu lama (masih sedenter) karena ketergantungan manusia terhadap alam sangat tinggi. Pada masa neolitik, barulah para pengembara mulai menetap.

Jika menilik temuan sejarah, masyarakat Sukabumi mempunyai penduduk asli, mengingat beberapa artefak megalitikum bisa ditemukan di perbatasan barat, utara, timur, dan selatan kota. Artefak-artefak tersebut diantaranya Batu Kabayan di Cisaat, perkakas batu di Perbawati, menhir di Sukaraja, dan artefak Gunung Susuru dan Pasir Bedil di selatan, bahkan sebenarnya keberadaan nama kampung tugu yang biasanya pada masa lalu terdapat menhir yang disebut masyarakat sebagai tugu.

Masyarakat Sunda sendiri mengenal konsep babalaian sebagai tempat ibadah yang terletak di atas perbukitan atau di gunung, mereka percaya bahwa roh harus ditempatkan di tepat yang paling tinggi, dilengkapi artefak sebagai perantara pemuja kepada roh di sekitarnya.

Jika mengenal pola ini, maka wilayah dataran rendahnya adalah hunian manusia di area peribadatan tersebut. Wilayah Sukaraja merupakan wilayah lereng yang landai, dan dialiri banyak sungai kecil sehingga menjadi tempat ideal untuk menetap.

[4] Batas wilayah masa lampau

Selain sebagai batu peringatan roh leluhur, menhir juga menjadi batas wilayah pada masa lampau. Jika saat ini kita mengenal batas wilayah dengan batas alam seperti sungai, bukit, gunung dan lain-lain, berbeda dengan pada masa lampau terutama zaman megalitikum. Pada masa itu, wilayah entitas ini ditandai dengan menhir yang diinterpretasikan sebagai perkawinan langit dan bumi, dan memungkinkan tempat tinggal manusia bisa dibangun. Keberadaan menhir memberi petunjuk kepada orang asing bahwa wilayah sekitarnya telah bertuan (Wiryomartono;1995).

Dalam skup lebih kecil, terutama saat menandai pembukaan sebuah kampung, budaya ini disebut ungkal biang (semacam peletakan batu pertama). Jika kita mencoba memetakan batas entitas ini di masa megalitikum, maka terdapat kesamaan relatif dengan batas Distrik Soekaboemi pada masa Hindia Belanda yang membentang mulai dari Sukaraja hingga Cisaat.

Bisa kita temukan di sebelah barat, Cisaat, terdapat peninggalan Menhir Batu Kabayan, dan di timur (Sukaraja) ada Menhir Kampung Tugu. Sementara di selatan ada Kampung Tugu di Baros, meskipun menhirnya belum ditemukan, tetapi secara toponimi menunjukan keberadaan menhir. Sedangkan di utara belum ditemukan menhir sejenis, namun kita bisa menduga wilayah ini sudah dihuni dan ditandai sejak masa lampau.

[5] Kisah tentang kedalaman tugu, batas demarkasi, dan jodoh

Banyak kisah beredar di masyarakat mengenai Menhir, namun juga sulit menjelaskan kedalaman Menhir ini. Konon, menurut penduduk setempat, pada zaman dahulu pernah ada seorang sakti mandraguna mencoba mencari tahu kedalamannya, namun gagal.

Kisah lainnya, jika dihubungkan dengan fungsinya sebagai batas wilayah, pada masa sekitar Proklamasi Kemerdekaan, Menhir Kampung Tugu pernah menjadi batas demarkasi antara tanah jajahan dan tanah yang dikuasai Republik Indonesia. Belum diketahui pasti validitas kisah ini karena memang garis demarkasi pada masa perjuangan yang disebut garis Van Mook tidak berada disini.

Perbatasan ini diciptakan setelah Perjanjian Renville pada Januari 1948, yang mengakhiri aksi polisionil Agresi Militer Belanda I dengan batas sebelah barat adalah Banten, serta Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah di timur. Yang paling memungkinkan mengenai kisah batas demarkasi ini mungkin adalah batas yang dibuat oleh para pejuang saat terjadi Agresi Militer Belanda ke Sukabumi pada Juli 1947.

Saat itu, para pejuang mengundurkan diri ke pedalaman Sukabumi dan membuat pos penjagaan di perbatasan yang diperkirakan akan dimasuki oleh pasukan NICA. Dimungkinkan jika wilayah Kampung Tugu ini menjadi batas wilayah perjuangan TKR saat bergerilya melawan pasukan Belanda, karena batas sejenis juga terdapat di Jembatan Leuwi Lisung, Baros, Kota Sukabumi.

Menurut cerita lain, Menhir didirikan oleh dua orang patih yang datang dari Mataram untuk mendirikan pondok pesantren pada 1623. Kedua patih tersebut bernama Mbah Nasikin dan Mbah Tinggi yang terkenal memiliki kedalaman dan kesaktian ilmu berbeda. Mbah Nasikin mengajarkan agama Islam, sedangkan Mbah Tinggi mengajarkan ilmu kadugalan (kesaktian). Kedua mbah tersebut kemudian mendirikan tugu menki sehingga kemudian disebut Kampung Tugu.

Kisah lain yang berkembang juga memercayai bahwa Tugu Sukaraja bisa mendatangkan jodoh bila kita menyentuhnya. Menhir yang berdiri tegak meraja ini seolah menyambungkan pula roh para pecinta untuk menemui pasangannya. Nah, kalau untuk urusan yang satu ini, Gen XYZ Sukabumi yang lagi menjomblo bisa mencoba menyentuh Menhir Kampung Tugu ini. Siapa tahu segera mendapat jodoh, atau jodohnya orang kampung tugu. Hehehe.

Nah, Gaess, sejarah memang terasa seperti ruang gelap dan jauh jika kita belum tahu waktu yang pasti dan kondisi umumnya. Sebuah benda, bangunan, atau tempat yang mempunyai kisah akan terasa sangat tua dan tak terukur jika hanya dijelaskan dengan narasi ala baheula pisan, karuhun, ceuk kolot baheula, apalagi ditambah dengan mistik, kesaktian, telaah ilmu gaib, dan hal-hal tak logis lainnya.

Tetapi sejarah juga akan terasa dekat, seperti baru saja terjadi dan terang benderang jika memiliki data akurat mengenai kapan kejadian, termasuk tanggal bulan tahun dan waktu, dan bagaimana kejadiannya, serta siapa saja yang terlibat. Idealnya, gambaran sejarah memang harus detail ya, Gaess. Sejarah harus mencerahkan, bukan menggelapkan. Karenanya, sejarah bisa digali dengan penuh kebahagiaan untuk memuaskan rasa penasaran.

Itulah pentingnya explorasi dan riset dilakukan sambil rekreasi dan dengan riang gembira, untuk kemudian disajikan kepada publik dengan gaya kekinian. Nah, Gaess, buat kalian yang ingin menelusuri lokasi-lokasi bersejarah di Sukabumi secara terang benderang? Gabung kuy bersama REK (Reenactor Explore Kipahare).

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *