Freemasonry dan Illuminati: Menyingkap sejarah organisasi rahasia di Sukabumi

Eduard Douwes Dekker (pengarang Max Havelaar) yang pernah tinggal di Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, adalah anggota Freemasonry.

Hai, Gaess, akhir-akhir ini netizen lagi rame membahas desain mesjid di Jawa Barat yang dihubungkan dengan simbol Illuminati. Isu Illuminati ini memang sempat ramai di kalangan pemerhati teori konspirasi saat membahas desain dan bangunan kontemporer. Bahasan Illuminati ini juga seringkali dikaitkan dengan Freemasonry yang pernah ada di Indonesia, bahkan di Sukabumi.

Konon, riwayat Fremasonry dan Illuminati ini sangat panjang dan menorehkan jejaknya di banyak peristiwa besar dunia. Namun, secara umum ataupun khusus, sudah banyak dibahas di berbagai media. Nah, kita mah di sini lebih asyik kalau membahas sejarahnya yang di Sukabumi aja ya, Gaess.

Simak kuy satu persatu dari lima info berikut.

[1] Illuminati dan Freemasonary di Hindia Belanda

Secara bahasa, Illuminati berarti “tercerahkan”. Namun walaupun kerap dikait-kaitkan, Illuminati dan Freemasonry adalah organisasi yang berbeda karena masa pendiriannya pun memang. Di Indonesia, banyak yang menganggap Illuminati adalah kelanjutan Freemasonry karena adanya beberapa kesamaan.

Freemasonry atau disebut juga Vrijmetselarij atau “Tarekat Mason Bebas”, sudah ada di Indonesia sebelum Illuminati didirikan. Organisasi ini semacam perkumpulan kaum elit dengan tujuan persaudaraan rahasia (secret society) yang mengedepankan kemanusiaan atau humanisme sekuler.

Istilah mason memang cocok, karena selain sejarah awalnya berkaitan dengan mason (tukang bangunan), juga banyak dari mereka merupakan ahli bangunan yang turut membangun Kota Batavia pada awal masa VOC. Bahkan, lambang VOC ditengarai sebagai transformasi dari simbol hexagram Freemasonry yang juga disebut The Sacred Seal of Solomon.

Tempat berkumpul mereka disebut loji, logge, atau lodge, yang hanya terbuka untuk anggotanya saja. Bahkan, di Batavia sudah dibangun loji pertama pada 1761 bernama Loji La Choisie (Loji bagi kaum terpilih) dan dianggap sebagai loji tertua di Asia.

Sementara itu, Illuminati baru lahir 15 tahun kemudian di Bavaria, tepatnya pada 1 Mei 1776. Kelompok ini memiliki visi menguaai dunia yang sepenuhnya sekuler melalui pemerintahan dan ekonomi sehingga bisa mengubah dunia dengan menawarkan konsep tatanan dunia baru yang sekuler (novus ordo seclorum).

Pada prakteknya, kedua organisasi rahasia yang kerap menggunakan simbol ini hampir sulit dibedakan karena menggunakan cara yang sama, yaitu ritual dan simbol. Freemasonry yang pada awalnya cenderung sekuler bebas dari keyakinan, ternyata berkembang menjadi semacam theosifisme di Indonesia karena menggunakan ritus yang juga digunakan oleh kaum Illuminati. Bahkan konsep ordo Illuminati digunakan oleh kaum Freemasonry di Indonesia dalam proses ritualnya, sehingga banyak yang menilai sebagai praktek pemujaan terhadap setan.

Para elit Eropa di Hindia Belanda rata-rata menjadi anggota organisasi ini meskipun tidak semuanya. Tokoh-tokoh pentng seperti Daendels, Raffles, Nicolas Engelhardt, Johannes van Bosch (pencetus tanam paksa), van Heutz (panglima perang di Aceh), dan belakangan saat revolusi kemerdekaan, turut gabung Van Mook, dan lainnya.

Karena sifatnya yang theosofis selaras dengan kejawen, maka banyak tokoh elit pribumi yang bergabung. Pelukis Raden Saleh, Pangeran Ario Suryodilogo, Paku Alam VI, Pangeran Arionotodirojo (Ketua Budi Utomo 1911-1914), Bupati Karanganyar (Tiro Koesoemo), dan Rajiman Wedyodiningrat (BPUPKI) adalah beberapa di antaranya.

[2] Keberadaan Freemasonry di Sukabumi

Diperkirakan sejak masuknya bangsa Eropa, sudah banyak warga Eropa di Sukabumi menjadi anggota Freemasonry. Namun, keberadaan loji baru pertama kali dibangun tahun 1907 dengan nama Fiat Flux. Para mason bebas berkumpul secara teratur, namun karena promotornya meninggalkan Sukabumi, aktivitas itu terhenti.

Meski begitu, pertemuan tetap berlanjut oleh para anggotanya sehingga pada 1926 mendapatkan pengakuan dari loji pusat. Kemudian pada 1932 para mason tersebut mengajukan untuk menjadi loji “dalam lingkungan kerja terbatas” dengan nama “De Hoeksteen” yang berarti “batu penjuru atau batu kunci” yang sifat organisasinya lebih formal dibandingkan sebelumnya. Permohonan dikabulkan, pada 4 Maret 1933 Loji “De Hoeksteen” diresmikan.

Peresmian dipimpin oleh pejabat Wakil Suhu Agung dan dihadiri oleh seratusan mason bebas dari loji-loji lain. Pada pidato pelantikan ketua pertama, dinyatakan bahwa loji didirikan dalam masa sulit, khususnya di Eropa disebut kurang menguntungkan. Hal ini diduga berkaitan dengan kurangnya peminat di wilayah Sukabumi, sehingga secara finansial loji ini tidak memiliki dana cukup, sehingga penyajian makanan pun terbilang sederhana.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan loji-loji yang memiliki dana melimpah dari donasi para anggotanya. Meskipun dengan pendanaan terbatas, loji ini mampu bertahan hingga sebelum pecah Perang Dunia II.

Di beberapa tempat termasuk di Sukabumi, loji-loji tersebut juga mendirikan tempat hiburan. Tempat tersebut berada di daerah pegunungan yang beriklim sejuk, sehingga menjadi tempat peristirahatan bagi para mason dan keluarga dari kota-kota yang berhawa panas. Di Sukabumi juga didirikan tempat peristirahatan di Selabintana yang dikelola Loji Batavia.

Dalam pertemuan Loji de Hoeksteen Sukabumi pada 26 Maret 1936 dinyatakan, hubungan Freemasonry dengan aparat NLSB, serta menegaskan keinginan untuk menjadi gerakan yang didasarkan atas religiusitas dan membawa manusia ke tingkat moral tertinggi. Perkumpulan ini sendiri berhubungan erat dengan Rotary Club Sukabumi, bahkan disebut sebagai Vrijmetselarij Rotaria Indie dengan ketuanya di Sukabumi tahun 1939 dijabat H. Munthe.

[3] Loji dan Simbol Iluminati di Sukabumi

Tempat berkumpul para mason di Sukabumi ditengarai berada di jalan yang disebut Lodjiweg atau Jalan Loji (sekarang bernama Jalan Julius Usman), sesuai nama jalannya. Bangunannya kira-kira disebelah Kantor Pemadam Kebakaran di samping Pendopo.

Seperti umumya, loji dibangun dekat dengan pusat pemerintahan. Bangunan tersebut sampai saat ini tinggal tembok yang menyisakan profil berlambang lengkung mason seperti yang umum berada pada bangunan mason lainnya di Indonesia.

Simbol lengkung merupakan simbol kekuasaan Illuminati yang melambangkan feminitas berupa vulva (organ kemaluan) wanita yang memengaruhi simbol goth. Simbol ini merupakan bentuk lain dari simbolisasi mawar, yang digunakan kaum alkemis dan trobador sebagai anagram dari eros atau nafsu seksual, sebagaimana isythar dalam legenda Yunani.

Secara umum, semua simbol maskulinitas memang baru bisa eksis jika diwadahi oleh simbol feminitas. Seperti halnya sebutan untuk kota-kota utama atau pusat administrasi, lazim disebut sebagai ibukota, bukan bapak kota. Tanah air pun disebut sebagai motherland bukan fatherland.

Selain ahli bangunan, para mason ini ahli menyembunyikan simbol-simbol dalam hasil karyanya. Para mason merupkan arsitek luar biasa, mereka disebut juga gheometrian karena kegemarannya pada angka-angka. George Washington, anggota Freemasonry nomor 33 yang juga Presiden Amerika Serikat menyatakan, “Cara terbaik menyembunyikan rahasia adalah meletakannya di tempat umum.”

Simbol seperti ini juga muncul dan masih tersisa di Societeit Soekamanah (Gedung Juang 45) dan Gemeentehuis (Balai Kota Sukabumi). Dalam sebuah foto bangunan Sukabumi tempo dulu, simbol lain seperti jangka dan penggaris busur juga muncul di gedung Gemeentewerken (Kantor Pekerjaan Umum).

Dalam buku Moral and Dogma karya Albert Pike yang dianggap sebagai “kitab suci”nya kaum freemason, lambang jangka berarti “ketuhanan yang kreatif”, sementara penggaris busur berarti “bumi produktif alam semesta”.

Selain itu, keberadaan Tugu Jam di depan Balaikota Sukabumi yang menyerupai Tugu Obelisk, dianggap sebagai peninggalan kaum Illuminati. Tugu Jam Obelisk yang sudah tiada ini, dianggap sebagai simbol utama ritual kaum Osirian pada era Mesir kuno.

Selain itu, simbol Illuminati juga muncul di pekuburan Kerkhof yang dulu disebut graff der hollanders atau kuburan orang-orang Belanda, yaitu sebuah kubah hexagonal bangunan khas templar. Jika masih banyak bangunan lama yang tersisa, bisa jadi kita akan menemukan simbol-simbol tersebut tersebar di seantero Sukabumi ya, Gengs.

Editor’s Picks:

Mengungkap tuduhan radikal dan ketakutan terhadap Muslim Sukabumi masa kolonial Belanda

Memahami ideologi politik serikat buruh di Sukabumi pasca kemerdekaan

[4] Tokoh Freemasonry di Sukabumi

Banyak tokoh-tokoh penting masa lalu menjadi anggota Freemasonry, sebutlah Andries De Wilde yang dianggap sebagai pencetus nama Sukabumi, adalah anggota kehormatan Freemasonry dengan gelar Prince Frederick of Oranje. Kemudian Eduard Douwes Dekker (pengarang Max Havelaar) yang pernah tinggal di Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, adalah anggota Freemasonry. Serta Suhu Agung Freemasonry Indonesia Soemitro Kolopaking, disebut-sebut sebagai Bapak Freemasonry Indonesia, juga pernah tinggal di Sukabumi.

Soemitro sebelumnya pernah menjabat Bupati Banjarnegara pada 1926 dan mendirikan Loji Serajudal di Purwokerto, serta beberapa loji lain di Jakarta, Bandung, dan Surabaya pada pasca kemerdekaan Indonesia. Soemitro sudah menyerap Freemasonry saat bekerja selama delapan tahun di perusahaan tambang batu bara “Gewerkschaft Deutscher Kaiser, Jerman tahun 1908.

Kemudian tahun 1911, Soemitro bekerja di penggergajian kayu di Latvia dan di Swedia, sekaligus kuliah di Kota Leiden, Belanda. Soemitro kemudian pulang ke Hindia Belanda pada 1916 dan bekerja di sebuah rumah gadai. Ia juga sempat bekerja di Pabrik Teh dan Kina Pandjang Estate di lereng Gunung Pangrango, Sukabumi.

Selain itu, dari kalangan menak lokal di Cianjur, juga ada yang tercatat anggota Freemasonry, yaitu RAA. Wiranatakoesoema yang pernah menjabat Bupati Cianjur pada 1912-1920.

Raden Said Sukanto, Kepala Polisi Pertama Indonesia, sebelumnya menjabat sebagai Kepala Sekolah Polisi Sukabumi, juga aktif menjabat sebagai Suhu Agung Federasi Nasional Suhu Agung Indonesia. Soekanto mengepalai Yayasan Raden Saleh dan Loji Indonesia Purwo Daksina.

Saat kunjungan Suhu Agung Belanda, Van Tongeren ke Loji De Hoeksteen di Sukabumi, tercatat beberapa tokoh yang menjadi anggota loji turut menyambutnya. Mereka di antaranya Van Tongeren dan A.I.A Van Unen (walikota Sukabumi), A. Poutsma, AJG. Jappe Alberts, A. Meyer, EP. Wright, J. Van Leeuwen, Ch. Sim Zacha, CF. Wenckebach, dan P. Glavimans.

Hadir juga CJP. Suverkropp, JR. Kessler, J.J. Snor (kepala sekolah HCS), G. Lenne (pemilik Selabintana), CH. Van Dooren, AWI. Brantz, MJ. Viebeg dan W.B.F. Bangert, serta seorang pengusaha pribumi keturunan Cina, Lauw Sim Zecha yang secara resmi tercatat sebagai anggota Freemasonry dari kalangan lokal. Bahkan anak Zecha, Adriaan Zecha, seorang pengusaha media dan hotel internasional yang lahir di Sukabumi, merupakan anggota Rotary Club, sebuah organisasi yang menjadi underbouw Freemasonry.

[5] Anggotanya menyusut hingga habis

Keanggotaan De Hoeksteen dari tahun ke tahun tidak mengalami peningkatan signifikan, jumlah anggotanya tahun 1934 berjumlah 28 orang, 1935 turun menjadi 31 orang, 1936 naik jadi 32 orang, 1937 turun lagi menjadi 30 orang, 1938 turun lagi (28 orang), 1939 naik kembali menjadi 34 orang, dan 1940 kembali turun menjadi 30 orang saja.

Saat Jepang masuk ke Sukabumi, organisasi ini bubar dengan sendirinya. Bahkan Jepang memburu anggotanya karena dianggap tidak sejalan dengan faham pendudukan Dai Nippon. Namun, kegiatan ritual organisasi ini masih tetap berjalan, contoh seperti dikisahkan seorang anggota Freemasonry Sukabumi bernama J. Van Leeuwen, seorang insinyur teknik elektro yang ditangkap pada zaman pendudukan Jepang dan ditempatkan di sebuah rumah sakit di Cimahi.

Dia membantu van der Plaats dan melakukan ritual pemujaan di ruang rontgen. Selepas Indonesia merdeka, kelompok ini kembali menggeliat dan melakukan konsolidasi. Pada 1951 dilakukan musyawarah dihadiri utusan-utusan dari 10 loji, salah satunya adalah De Hoeksteen dari Sukabumi dengan anggota yang semakin sedikit. De Hoeksteen di Sukabumi yang didirikan kembali pada 1 Oktober 1950 dan memiliki lima anggota, laporannya sangat singkat. Hampir semua anggota pergi, perkumpulan ini sepertinya sudah siap-siap gulung tikar.

Entah kapan organisasi ini bubar, namun diperkirakan ketika banyak nasionalisasi perkebunan di Sukabumi, dan orang-orang Belanda sebagai mayoritas anggota de Hoeksteen Sukabumi, pulang ke negeri asalnya. Pada pertemuan loji seluruh Indonesia tahun 1957, tidak ada lagi utusan dari de Hoeksteen Sukabumi yang hadir.

Hingga pada akhirnya, Bung Karno secara resmi melarang dan membubarkan Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia), Moral re-Armament Movement (Armoc), melalui Lembaran Negara RI Nomor 18./1961 pada tanggal 27 februari 1961. Setahun kemudian pembubaran ini dipertegas dengan keluarnya Keppres Nomor 264/1962 yang melarang sekaligus penyitaan aset.

Kembali dengan Rotary Club karena organisasi inilah yang kemudian berkembang dengan anggota para elit lokal di indonesia. Hingga kini, kisah Illuminati masih misteri karena ketidakjelasannya, Gaess. Sejarah tentang mereka seperti gelap tertutup kabut. Namun demikian, banyak yang masih mempercayai keberadaan mereka lewat bahasa simbol. Bisa jadi di sekitar kita masih banyak simbol-simbol yang tidak diketahui keberadaannya, karena disembunyikan di ruang publik.

Hmmm… Disembunyikan melalui desain atau ornamen-ornamen yang lazim kita lihat di tempat-tempat ibadah misalnya? Bukan mustahil, Gaess.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *