Memahami ideologi politik serikat buruh di Sukabumi pasca kemerdekaan

Peraturan Menteri Perburuhan No. 90 tahun 1955 tentang Pendaftaran Serikat Buruh mendorong tumbuhnya beragam serikat buruh di tanah air.

Halo, Gaess, setiap 1 Mei kita menikmati libur sebagai Hari Buruh Internasional atau Mayday. Secara umum buruh berarti orang yang bekerja pada majikan dan mendapatkan upah, secara khususnya tentu lebih spesifik ya, Gaess, ada hak-hak dan kewajiban yang meliputi setiap pekerjaan yang diperjanjikan.

Istilah buruh yang sekarang umum disebut karyawan ini sejak dulu sudah ada, Gaess. Bahkan, berproses menjadi gerakan persatuan yang melindungi hak-hak mereka. Melanjutkan tulisan #Mayday: Wajah serikat buruh di Sukabumi pada masa kolonial, tulisan ini dimuat selagi masih momentum Mei, memeringati Hari Buruh Internasional ya, Gengs.

Simak yuk, bagaimana sejarah buruh di Sukabumi sejak masa kolonial hingga saat ini.

[1] Bergabung dengan pejuang di hutan

Pasca proklamasi para buruh di Sukabumi banyak yang bergabung dengan para pejuang, mereka melakukan aksi pengambilalihan kekuasaan. Situasi yang masih darurat dengan masuknya pasukan asing ke Sukabumi menyebabkan mereka harus terus berjibaku dalam peperangan dan meninggalkan kegiatannya diperkebunan dan pabrik-pabrik.

Pasca Agresi Militer Belanda Juli 1947, praktis sebagian besar pekerja meninggalkan pekerjaannya dan masuk ke hutan-hutan untuk bergabung dengan para pejuang lainnya. Hanya sebagian kecil yang masih mau membantu pasukan pendudukan mengoperasikan beberapa perusahaan, itupun dengan dihantui rasa takut dicap pengkhianat atau dibunuh kaum Republikan.

[2[ Serikat buruh menjadi underbouw partai politik

Pasca berakhirnya perang, kaum buruh mulai kembali bekerja dengan nuansa nasionalisme yang kental. Sesudah perang berakhir, banyak berdiri partai politik yang tumbuh bak jamur di musim penghujan. Di bawah sistem liberalisme, mereka juga membentuk serikat-serikat buruh sendiri yang menjadi underbouw partai.

BACA JUGA:

Satu hari di PT CDB Cidahu Sukabumi, ini 5 fakta kerja di pabrik garmen itu menyenangkan

9 PT hengkang dan 5.000 buruh di-PHK, 5 fakta investasi di Kabupaten Sukabumi kocar-kacir

[3] Ideologi serikat buruh

Celakanya persoalan ideologis antar partai politik ternyata menyeret korban di kalangan buruh, misalnya perseteruan Masyumi yang mempunyai organisasi buruh Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) kontra Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan serikat buruh BTI dan Sarbupri-nya.

Perseteruan ideologis kedua partai pada akhirnya juga menyebabkan terjadinya gesekan dan bentrokan massa antara anggota SBII dan Sarbupri di Perkebunan Parakansalak pada 1951.

[4] Terlibat pengambilalihan aset perusahaan

Pada sisi lain, Peraturan Menteri Perburuhan No. 90 tahun 1955 tentang Pendaftaran Serikat Buruh mendorong tumbuhnya beragam serikat buruh di tanah air. Hal ini terjadi karna syarat mendirikan serikat buruh cukup memiliki anggaran dasar, dan daftar nama-nama anggota tanpa ditetapkan jumlah minimumnya.

Serikat-serikat buruh tersebut kemudian melibatkan diri dalam pengambilalihan beberapa perusahaan milik asing, diantaranya Power Station Ubrug, Perkebunan Ganessa, Perkebunan Parakansalak, Perkebunan Teh/Karet Tjisalak, Perkebunan Pasir Telaga, Perusahaan Mineraal Water Fabriek, dan Apotik De Gedeh.

Di ujung masa pergolakan politik, sebagian buruh yang berada di bawah naungan PKI mengalami peristiwa tragis. Banyak anggota mereka yang ditangkap, dan sebagian lainnya bahkan dibunuh. Hal ini sebagai akibat dari upaya kudet oleh PKI pada September 1965.

[5] Upaya PKI untuk menguasai Sekolah polisi Sukabumi

Arsip Serikat Buruh Kementrian Pertahanan (SBKP) bahkan menunjukkan upaya PKI untuk menguasai Sekolah polisi Sukabumi pada saat melakukan kudeta. Tanggal 15 Oktober 1965 pimpinan PKI Kota Sukabumi dan Kabupaten serta beberapa organisasi underbouw PKI di Sukabumi seperti SOBSI, SBPP, Serikat Buruh Kereta Api, dan lain-lain, menyatakan tidak terlibat dalam pemberontakan G30S/PKI di Jakarta.

Mereka bahkan merasa ditipu oleh para petinggi PKI dan menyatakan membubarkan organisasinya. Sayangnya, hal tersebut tidak membendung terjadinya pengadilan massa karena pada 31 Oktober 1965, sebanyak 20 orang pentolan PKI yang dilatih di Lubang Buaya ditangkap di Sukabumi beserta dokumen yang menyebutkan rencana pemberontakan.

Tak ayal kemudian banyak pentolan PKI disukabumi dihabisi, diantaranya Ketua BTI Cisarua Baros yang tewas setelah dimassa.

Ngeri ya, Gaess. kalau buruh sudah menjadi alat permainan politik. Aktivis dan serikat buruh memang sebaiknya hanya fokus dengan gerakan buruh murni yang memperjuangkan hak-hak pekerja. Walaupun saat ini buruh lebih leluasa dalam melakukan pergerakannya, namun nasibnya masih harus terus diperjuangkan.

#Mayday.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *