Menggali serpihan sejarah Pabrik Teh Goalpara Sukabumi yang terbakar

Pabrik Teh Goalpara sangat penting karena berkaitan erat dengan peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pascakemerdekaan, pabrik ini menjadi salah satu aset yang diambil alih para pejuang kemerdekaan pada 2 Oktober 1945.

Pabrik teh Goalpara kebakaran, Gaess.

Menyedihkan pabrik bersejarah tersebut dilalap si jago merah. Denger-denger hanya bagian dalamnya saja yang terbakar, sedangkan sebagian luarnya masih bisa diselamatkan. Tetapi tetap saja kita khawatir ada benda bersejarah yang hancur, seperti mesin-mesinnya. Mengingat Goalpara sejak dulu menjadi tempat penampungan mesin-mesin dari pabrik Parakansalak dan Bunga Mur yang ditutup.

Nah, Gengs, buat Gen XYZ Sukabumi yang penasaran, bagaimana sih sejarah Pabrik Teh Goalpara dan potret keselamatan aset sejarah perkebunan ini. Kita simak yuk lima info berikut.

[1] Goalpara dalam sejarah perkebunan teh

Sayang banget jika pabrik ini musnah akibat terbakar karena memiliki catatan panjang ihwal sejarah teh nasional. Asal usul nama Goalpara sendiri terbilang unik, Gaess, karena berasal dari sebuah distrik di negara bagian India. Seperti juga beberapa perkebunan yang namanya diambil dari India, misalnya Malabar. Konon Goalpara awalnya berasal dari kata Gwaltippika yang berarti “desa para penghasil susu”.

Distrik tersebut banyak ditumbuhi pohon teh jenis assam berkualitas tinggi dan kemudian ditanam di Indonesia. Nama tersebut kemudian digunakan di Goalpara, Kabupaten Sukabumi saat teh jenis tersebut pertamakali ditanam.

Pada awalnya, perkebunan yang pertamakali dibuka adalah Perbawati yang didirikan pada 6 Februari 1886 oleh Cultuur Maschapij Batavia. Barulah pada 1892, perusahaan Cultuur Maatschappij Goalpara di Batavia mengeluarkan prospektus penjualan 400 saham dengan harga 500 Gulden (NLG) per saham.

Hal ini menandai terbentuknya perkebunan baru yang kemudian dikelola Polanen Petel. Pabrik tehnya sendiri mulai beroperasi pada 1908 dan cukup maju, sehingga pada 1933 dilakukan perluasan sewa lahan sekitar 80 hektar. Posisi pabrik teh Goalpara sangat penting karena bagian dari trio perkebunan, yakni Perbawati, Goalpara dan Gedeh.

Ketiga pabrik ini saling membantu, misalnya saat Pabrik Gedeh terbakar pada 1923, semua pegolahan tehnya dilakukan di Pabrik Teh Goalpara. Pabrik teh ini sempat tutup pada zaman pendudukan Jepang, malah sempat dijadikan tempat penampungan perempuan yang disebut Jugun Ianfu sebelum dikirim ke Kota Sukabumi. Bahkan, sebagian bangunan rusak pasca aksi bumi hangus.

Pabrik ini kemudian direnovasi oleh Geo Wehry & Co pada 1949. Kemudian pada 1958, Perkebunan Goalpara dinasionalisasi menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Perkebunan Goalpara, dan selanjutnya menjadi salah satu kebun di lingkungan PT Perkebunan (PTP) XII yang berpusat di Jl. Cikapundung Barat No 1 Bandung.

Pada 1982, Kebun Bungamelur dan Kebun Goalpara bergabung menjadi Perkebunan Goalpara. Setelah terjadi penggabungan, PTP XI, XII dan XIII pada 1996, Perkebunan Goalpara menjadi salah satu kebun di bawah pengelolaaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, dengan Kantor Pusat di Jl. Sindang Sirna No. 4, Bandung.

[2] Terkenal dengan produk dan kejayaannya

Kita tentu tidak berharap Pabrik Teh Goalpara ini berhenti beroperasi karena terbakar ya, Gaess. Bukan sebab sejarah keberadaannya yang turut mewarnai perjalan Sukabumi dari masa ke masa, tetapi produk tehnya sangat terkenal hingga ke Benua biru, Eropa. Iklan-iklannya sering tampil di majalah-majalah dan koran Eropa saat itu. Produknya yang terpilih dan kemasannya yang spesial menjadikannya sebagai produk teh unggulan di Eropa. Bahkan, dibuat cenderamata semacam penyaring teh yang hingga kini dimiliki para kolektor benda antik.

Goalpara menghadirkan perpaduan perusahaan khusus yang dipilih secara khusus untuk konsumsi detail dalam paket yang dipatri dengan ketat. Rasa dan aromanya sangat berbeda, lebih higienis dibanding produk teh lainnya. Produk yang sering diikutkan pameran ini, dijamin keaslian kualitasnya, sehingga harganya selalu kompetitif.

Goalpara juga terkenal karena keberhasilannya mengelola area perkebunan. Semenjak Agustus 1930, Goalpara sudah melakukan elektrifikasi dalam mengoperasikan pabriknya. Listrik sudah digunakan di area pabrik, bekerjasama dengan GEBEO. Sebuah konduktor berukuran besar di pasang di dekat area pabrik untuk menghantarkan listrik, mesin teh dimodernisasi terutama untuk proses pengeringan. Goalpara juga sempat akan menjadi percontohan pribumisasi perkebunan yang diajukan oleh Moh. Thamrin di Volksraad pada Desember 1932.

Sebelumnya, Januari 1922, didirikan Asosiasi Teknologi di Goalpara yang salah satu programnya adalah pebiakan anjing ras impor. Saat terjadi wabah anjing Rabies, Goalpara kemudian mengundang para peneliti dari Institut Pasteur, Bandung. Karena kemajuannya, Goalpara banyak melakukan kegiatan amal seperti membiayai kompetisi tenis yang pernah dilakukan pada Juli 1928, memperebutkan Piala Goalpara.

Perkebunan Teh Goalpara juga dikenal sangat memanjakan karyawan yang dinilai berprestasi, misalnya merayakan ulang tahun karyawan yang pernah dialami Van Eenschoten yang sudah bekerja selama 25 tahun. Perayaan dilakukan dengan resepsi dan makan-makan bersama seluruh karyawan. Bahkan, tokoh teh Goalpara bernama Ballot, dibuatkan masoulemnya karya desainer G. Racina dari pabrik marmer terkenal di Surabaya.

Dari Goalpara juga ada administratur yang menjadi anggota Dewan Kabupaten yaitu J.A. Mencium, dia diangkat pada September 1933. Para administratur juga banyak yang terkenal, seperti Meneer Merkelbach yang merupakan ayah dari rocker era 70an, Micky Merkelbach. Selain itu, ada Dhr J Boreel, putra dari W Th. Boreel sang pemburu dari Parakansalak. Baca kisahnya Cinta sejati untuk Ameri: Gadis Sukabumi tak sempurna yang membutakan hati pria bermata biru

Editor’s Picks:

[3] Menjadi ajang perjuangan kemerdekaan

Pabrik Teh Goalpara sangat penting karena berkaitan erat dengan peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pascakemerdekaan, pabrik ini menjadi salah satu aset yang diambil alih para pejuang kemerdekaan pada 2 Oktober 1945. Sekitar Goalpara kemudian menjadi sarang pejuang karena akses yang mudah untuk melarikan diri ke Gunung Gede.

Agustus 1946, pabrik ini sempat dirusak sebagian sehingga tidak bisa dioperasikan, aset perkebunan sekitar 100 hektar jadi terbengkalai. Pabrik dan kompleks perumahannya kemudian diduduki pasukan Belanda saat terjadi Agresi Militer Belanda pada Juli 1947. Namun, para pejuang terus melakukan penyerangan ke pabrik ini dan berupaya mengusir tentara Belanda. Pabrik ini direncanakan Belanda untuk dijalankan kembali dan memerlukan sekitar 350.000 Gulden untuk membangun kembali.

Pemanenan teh masih dilakukan dan dikirim ke Pabrik Gedeh di Cianjur. Pada 13 Juni 1949 pabrik kembali dioperasikan, namun pada 20 Juli 1948 Perkebunan Goalpara diserang oleh gerilyawan yang hendak melucuti pengawal perkebunan. Para gerilyawan dipimpin Letnan Soetisna, tokoh bambu runcing terkenal dengan tentengan pistolnya, sudah memberikan ultimatum sejak lima hari sebelumnya. Namun, pihak perkebunan yang dipimpin CD Luining malah memperkuat penjagaan.  

Akibatnya, para pejuang yang berkekuatan 30 orang kemudian melakukan serangan, beberapa anggota keamanan perkebunan malah membelot dan mendukung para pejuang. CD Luining akhirnya tewas di tangan para pejuang, namun Letnan Soetisna juga terbunuh dalam baku tembak. Selain itu, terjadi perampokan kepada Hassan, salah seorang karyawan perkebunan sehingga dia tewas. Agustus 1948 karyawan Pabrik Teh Goalpara yang masih jomblo bernama Van Ooyen juga ditemukan terbunuh.

November 1948, muncul isu penyerangan terhadap Administratur Goalpara Mr Beidemann, namun dia lolos dalam kegelapan malam, meskipun harus meninggalkan sejumlah besar uang. Pada 11 April 1949, akibat kekecewaan terhadap perjanjian Roem Royen, para pejuang menyerang pabrik dan membunuh komandan penjaga, Schooleman, dan 11 anak buahnya serta dan beberapa wanita.

Hingga 1950 masih sering terjadi gangguan, misalnya Oktober 1950, Wittev dan karyawan Perkebunan Goalpara dikepung gerombolan dan dibawa pergi. Namun ia berhasil melarikan diri dan mencapai kantor, setelah kehilangan beberapa harta miliknya.

[4] Dinasionalisasi tahun 1958

Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia, pemerintah Belanda masih melindungi kepentingan warganya di Indonesia termasuk para pemilik perkebunan. Keputusan Januari 1950 menyebutkan, perusahaan Belanda di Indonesia, salah satunya adalah Goalpara Cuulturmij, dipulihkan hak-hak hukumnya.

Bahkan, Menteri Perekonomian Belanda Prof. dr. van den Brink, menteri tanpa portofolio, Bp. Goetzen dan Komisaris Tinggi Belanda di Indonesia Dr. Hirschfeld, mengunjungi sejumlah perkebunan di daerah Bogor dan Sukabumi, salah satunya adalah perkebunan Goalpara. Kunjungan dilakukan Maret 1950, oleh Ketua General Agricultural Syndicate, Mr. J.G. Oever.

Atas nama Kementerian Kemakmuran, R.I.S. H. van Lennep, Direktur Perusahaan Pertanian, dan Dewan Pemerintah Usmanshah Sastrawinangun turut dalam kunjungan ini. Goalpara sendiri performanya terus meningkat, menurut laporan tahun 1952 dari N.V. Cultuur Mij. Goalpara mengambil langkah-langkah yang menghasilkan profit memuaskan dan panen terus meningkat signifikan pada 1953.

Penambahan fasilitas pun dilakukan, misalnya instalasi uap baru untuk pengeringan dan jembatan baru dalam rute drainase. Ketika banyak terjadi perampokan, pada masa pemberontakan DI/TII, pabrik Perbawati ditutup dan proses pengolahan teh dialihkan ke Goalpara. Baca Membuka catatan kelam DI/TII di Sukabumi, benarkah dilatarbelakangi persoalan agama?

Kemudian muncul gerakan nasionalisasi di Sukabumi yang banyak menimpa perkebunan-perkebunan yang saat itu masih dimiliki warga Belanda. Pemerintah mulai melirik kepemilikan perkebunan ini semenjak Persatuan Bekas Pejuang Seluruh Indonesia (Perbepsi) menemui Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata. Tim dipimpin S. Mustaman guna membicarakan nasib bekas pejuang yang menganggur melalui pengelolaan tanah perkebunan.

Mustaman menyatakan, gubernur menyetujui dan sanggup membantu prinsip-prinsip yang dikemukakan Perbepsi tentang pemberian tanah-tanah erfpacht dan akan lepas erfpacht-nya. Isu ini kemudian bercampur dengan kondisi politik negara yang ditandai dengan jatuh bangunnya pemerintahan akibat Demokrasi Parlementer.

Pada 29 November 1957, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gagal mengesahkan suatu resolusi yang menghimbau agar Belanda merundingkan suatu penyelesaian mengenai masalah Irian Barat. Gagalnya resolusi masalah Irian Barat di PBB mengakibatkan kemarahan Bung Karno disusul terjadinya ledakan radikalisme anti-Belanda.

Pada akhir 1957, Kurnadi Syarif Iskandar, Pandji Natadikara, Max Isak Salhuteru, dan Djuhana Sastrawinata, ditugaskan untuk melaksanakan nasionalisasi perkebunan–perkebunan di wilayah Jawa Barat yang saat ini kita kenal dengan nama PTPN. Melalui  Undang-undang No. 86 Tahun 1958 jo Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1959, perkebunan di Sukabumi menjadi objek nasionalisasi Perusahaan Milik Asing, diantaranya NV. Cultuur Mij Goal Para dan NV. Cultuur Perbawati.

[5] Kebakaran dan prosedur keselamatan di pabrik teh

Sangat disayangkan pabrik ini kemudian dilalap si jago merah, menurut informasi hal ini disebabkan konsleting listrik yang memercikan api. Listrik memang salah satu potensi bahaya di pabrik teh mengingat hampir seluruh proses pengolahan teh menggunakan listrik. Seharusnya ada kesadaran meningkat dalam penanganan pabrik yang juga menjadi aset sejarah. Diperlukan sistem pencegahan yang efektif yang menerapkan prosedur keselamatan kebakaran.

Sudah umum diketahui bahwa saat ini manajemen pabrik di perkebunan mengalami kelesuan. Hal ini terjadi karena penurunan produksi dan menurunnya permintaan pasar, sehingga banyak perkebunan melakukan diferensiasi komoditas.

Bukan hal aneh pula jika terjadi efisiensi habis-habisan di pabrik yang salah satunya dapat berimbas pada keselamatan operasional. Meskipun begitu, wajib hukumnya untuk melakukan pencegahan dini dengan mengidentifikasi bahaya yang mungkin dapat menyebabkan kebakaran. Proses pengolahan teh mulai dari pelayuan, pengeringan, penyortiran hingga pengepakan memerlukan mesin-mesin yang berhubungan erat dengan tenaga listrik.

Ada bahaya api yang juga berhubungan dengan hawa panas dan musim kemarau. Tentunya diperlukan personel keselamatan yang cukup serta tim tanggap darurat yang memadai dalam kasus-kasus yang bersifat force majeur. Peralatan pemadam kebakaran juga harus lengkap dan berfungsi, seperti hydrant, alat pemadam portabel, dan permanen lainnya. Selain itu, juga harus ada peringatan dini seperti sirine dan sprinkle yang dipasang di pabrik.

Tim Tanggap darurat harus melakukan latihan kebakaran serta membuat jalur evakuasi yang sudah disosialisasikan. Melakukan perawatan alat dan mesin serta merapikan jalur-jalur instalasi listrik dan secara rutin memeriksanya. Kadangkala semua kelengkapan itu ada tapi lemah dalam penerapan prosedur darurat, sehingga bahaya tidak bisa cepat diantisipasi.

Sayang sekali ya, Gaess, sangat penting bagi setiap perkebunan untuk menerapkan prosedur keselamatan kebakaran dengan baik. Jangan sampai karena merasa telah aman dari risiko kebakaran, mereka tidak memiliki perhatian khusus adanya potensi kebakaran.

Padahal, kebakaran di tempat kerja bisa terjadi di mana pun, kapan pun, dan mengakibatkan kerugian material maupun imaterial, termasuk aset yang sangat bersejarah.

Semoga menjadi perhatian semua pihak.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *