Membuka catatan kelam DI/TII di Sukabumi, benarkah dilatarbelakangi persoalan agama?

Banyak pengamat berpendapat bahwa pemberontakan DI/TII bukanlah perjuangan agama mengingat cara yang mereka lakukan dinilai kejam.

Halo, Gaess, pernahkah kamu mendengar istilah gorombolan? Jika saat ini istilah gerombolan identik dengan sekelompok pelajar atau orang yang akan melakukan tawuran massal, maka pada zaman dulu istilah gerombolan identik dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang pernah melakukan pemberontakan dan mengacaukan wilayah Sukabumi dan Jawa Barat.

Pemberontakan DI/TII ini sering dikaitkan dengan radikalisme agama lho, Gaess. Bahkan, salah seorang tokoh nasional mengidentikkan kekuatan masyarakat Sunda dalam memegang prinsip hidup sebagai akibat dari wilayah Jawa Barat yang pernah dijadikan ladang pemberontakan DI/TII, Gengs. Beuhhh, sungguh terlalu ya.

Nah, biar gak gagal paham, kita coba intip lembaran sejarahnya kuy. Bagaimana sih sebenarnya asal muasal samapai mereka nekad melakukan aksi pemberontakan? Benarkah dilatarbelakangi persoalan agama?

[1] Benarkah dilatarbelakangi persoalan agama?

Pasca Kemerdekaan RI, warga Sukabumi dan Jawa Barat pada umumnya belum merasakan aman secara penuh. Pasukan Belanda melakukan Agresi Militer pada Juli 1947 yang mengakibatkan para pejuang mundur ke hutan dan desa terpencil. Selama proses diplomatik pemerintah malah menyetujui ditariknya TNI dan para pejuang dari basis-basis perjuangan di wilayah Jawa Barat, dan diminta pindah ke wilayah Jawa Tengah sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Renville.

Banyak pejuang yang kecewa, diantaranya adalah Soekarmadji Maridjan Kartosuwiryo bersama 4.000 pasukan Hizbullah-nya yang menganggap pemerintah terlalu lunak terhadap pihak Belanda. Selain itu, ada pula pasukan bambu runcing pimpinan Cece Subrata yang kemudian sama-sama menolak untuk mematuhi perjanjian Renville.

Sebulan sesudah pasukan TNI dihijrahkan, maret 1948, Katosuwirjo membentuk Gerakan Darul Islam (DI). Dia mengangkat dirinya sebagai Imam Darul Islam pada 7 Agustus 1949, serta menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) serta membentuk Tentara Islam Indonesia (TII). Pasukan DI/TII inilah yang terus bertempur melawan Belanda, bahkan melanjutkan pertempuran meskipun pasukan TNI sudah kembali ke Jawa Barat.

Konflik ini menjadi membingungkan karena pasukan TNI menghadapi dua musuh sekaligus yaitu pihak Belanda dan DI/TII. Pemberontakkan ini sulit dipadamkan karena basis mereka di pegunungan dan menguasai medan. Mereka juga berhasil memengaruhi sebagian masyarakat karena mengatasnamakan Islam dalam perjuangannya.

Bahkan, pada awalnya KH. Ahmad Sanusi dari Cantayan sempat dicalonkan menjadi Imam NII meskipun tidak berafilisai dengan mereka. Meskipun konsepnya mau mendirikan Negara Islam yang menerapkan syariat Islam, namun banyak pengamat sejarah menilai bahwa tindakannya hanya dilatarbelakangi kekecewaan terhadap Perjanjian Renville serta ambisi Kartosuwirjo sebagai pemimpin.

Perjuangan yang dilakukan DI/TII di wilayah Sukabumi berpusat di beberapa pegunungan seperti Gunung Gede, Gunung Rosa, Tenjojaya, Pajampangan, Gunung Salak, dan sebagian Gunung Walat. Mereka tidak segan memaksa para petani untuk menyerahkan hasil bumi seperti padi, dan biasanya beraksi malam hari. Tidak jarang mereka juga melakukan perampokan terhadap perkebunan serta pabrik-pabrik di wilayah Sukabumi.

Wajar jika banyak pengamat menduga pemberontakan mereka bukanlah perjuangan agama mengingat cara-cara yang mereka lakukan dinilainya cukup kejam. Bahkan, konon pemberontakkan DI/TII sebenarnya sudah disusupi komunis dan sering disebut PKI Putih. Hal ini terungkap saat digelar Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dari seorang tokoh PKI bahwa TNI Angkatan Darat pernah menyusupkan anggotanya ke pemberontak DI/TII. Mereka juga dikabarkan sempat bekerjasama dengan tentara Belanda untuk bersama-sama memerangi TNI.

[2] Mengacaukan hampir seluruh wilayah Sukabumi

Posisi masyarakat terjepit karena leluasanya DI/TII masuk ke kampung-kampung dan mengumpulkan ghonimah (harta rampasan perang). Hal ini membuat masyarakat menjadi dilematis, karena jika tidak mau membantu DI/TII maka masyarakat akan dibunuh. Namun, jika ketahuan membantu DI/TII, mereka akan diincar pasukan TNI.

Desas-desus menyebutkan jika mereka juga menciduk tokoh yang terlibat PKI, misalnya Sarodin tokoh DI/TII yang konon tidak tembus peluru, dia menciduk dua orang tokoh PKI di daerah Parungseah. Sang korban pada tengah malam dibawa ke tengah sawah dan disembelih menggunakan kaleng sarden. Tahun 1950-an, kegiatan DI/TII di Sukabumi semakin merajalela, bahkan dikabarkan, seorang lurah bernama Neneng tewas dibunuh.

22 September-25 Oktober 1951, terjadi perampokan pabrik karet di Sukabumi oleh gerombolan DI/ TII. Pasukan TNI pun mencoba melakukan penumpasan DI/TII di wilayah Sukabumi, namun karena penguasaan mereka akan medan gunung cukup baik, mereka pun seringkali berhasil meloloskan diri dari kejaran TNI.

Masih pada 1951, wilayah Jampang Kulon, Jampang Tengah, dan Palabuhanratu, tidak luput dari sasaran pengacauan DI/TII. Peristiwa paling tragis, penduduk Kampung Ciparigi, dibunuh dan dibakar oleh pemberontak DI/TII. Kemudian pada April 1952, Direktur Tea Onderneming Mandaling, Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar, GE. van Beekom, dirampok saat dalam perjalanan menuju Palabuhanratu. Ia diberondong senapan di sekitar Pasirgabig hingga tewas mengenaskan.

Melihat keganasan pasukan DI/TII, pemerintah RI mulai intensif melakukan penumpasan. 20 Oktober 1952, Presiden Soekarno datang ke Sukabumi dan berpidato mengajak rakyat Jawa Barat supaya tidak mendukung DI/TII. Memasuki tahun 1953, situasi di bidang militer mulai banyak menguntungkan gerakan Darul Islam. Pada waktu itu seringkali terjadi pertempuran antara TNI dengan TII, rata-rata setiap hari ada seorang korban tewas di pihak TNI.

Akibatnya, pada 1953, kerugian yang harus ditanggung oleh pemerintah RI diperkirakan mencapai Rp115.000 setiap harinya. Hal tersebut berlanjut terus hingga 1954 dengan korban yang terus berguguran.

Awal 1953, terjadi tembak menembak antara TNI dengan DI/TII di daerah Bojongmanik. 4 Juli 1953, sebuah kampung di Sagaranten juga dibakar DI/TII. Kemudian pada 3 Januari 1953, seorang sopir Perkebunan Sindu Agung bernama Entjang diculik gerombolan bersenjata dan dibunuh, sedangkan truknya dibakar.

BACA JUGA:

A.H. Nasution, desertir KNIL yang bolak-balik Sukabumi demi kelabui Belanda

Dibangun 1922, dari Bandara Cikembar pasukan Jepang menguasai Sukabumi

#Mayday: Wajah serikat buruh di Sukabumi pada masa kolonial

[3] Sulit diditumpas akibat strategi yang keliru

Pasukan TNI terus melakukan upaya penumpasan, tahun 1954 Batalion 329 melakukan pembersihan di Sukaraja dan terlibat bentrok dengan pasukan DI/TII, bahkan pasukan TNI menemukan persediaan granat tangan saat melakukan penggerebekan di Sukamandi, Cimalati. Mereka juga merampas karabin serta ransel makanan dan pakaian.

Pada 26 April 1954, pasukan TNI berhasil menembak Mualim Mukri, seorang tokoh DI/TII hingga tewas di Cibadak. Kemudian Batalion 320 berhasil memukul mundur gerombolan di Kampung Garuda, Desa Cipetir, 25 km dari Kota Sukabumi. Hasilnya 50 gerombolan tewas dan seorang TNI tewas. Keesokan harinya, sembilan anggota gerombolan yang kelaparan menyerah.

Pasukan DI/TII kemudian mulai melakukan aksi balasan, mereka menyerang Kampung Cimanggu, Jampang Kulon, dan membakar 37 rumah penduduk. Mereka juga membakar sebuah mesjid di Kampung Cikawunggirang, Nagrak, pada 17 Agustus 1954. Pada Juni 1957, tercatat gerombolan DI/TII membajak Kereta Api Sukabumi-Cianjur, kemudian 30 orang bersenjata menyerang Desa Selaawi, Pasekon, dan Sukaraja, kemudian membakar sembilan rumah.

Hingga 1957, pelaksanaan operasi penumpasan gerombolan DI/TII masih belum berjalan sempurna. Rapat bulanan OBDM dan PDM beserta OKD di Pelabuanratu dilakukan untuk mencari cara efektif menumpas pasukan DI/TII. Dari hasil analisa diketahui bahwa belum adanya mobilitas dari pasukan TNI.

Gerakan operasi oleh TNI dinilai masih bersifat pasif-defensif, yakni masih menggunakan pos-pos penjagaan yang sifatnya menetap. TNI Pada awalnya melakukan penumpasan para pemberontak secara statis dengan dipusatkan di pos, dan baru bergerak jika ada serangan DI/TII, atau jika ada info mengenai keberadaaan DI/TII di suatu desa. Strategi ini malah menguntungkan pihak DI/TII yang mempunyai taktik diversi, yaitu mengalihkan perhatian TNI ke wilayah lain dengan mengacaukan konsentrasi TNI.

September 1958, DI/TII masih mengacau daerah Gegerbitung dengan menurunkan 150 gerombolan. Tahun yang sama, Kampung Sudajaya Girang, Desa Limbangan, Sukaraja, juga dibakar dan warganya dibunuh. Sampai awal 1959 operasi penumpasan terhadap TII belum dapat terkoordinasi dengan baik. Hingga pada 13 Desember 1959, jam 20.00 WIB, sebuah truk T.O. Cianjur dicegat dan dibakar di daerah Gekbrong Sukabumi.

[4] Dihancurkan melalui Strategi Pagar Betis

Sementara operasi penumpasan terus berlangsung, gerombolan DI/TII membentuk semacam pemerintahan bayangan dengan merekrut tokoh-tokoh lokal, seperti Noar Bajo Siregar yang menjabat sebagai Bupati Militer Kabupaten Sukabumi berpangkat Letnan I. Kemudian ada Ahmad Sungkawa, Komandan Resimen Wilayah Sukabumi berpangkat Letkol. Mereka juga merekrut tokoh di tingkat bawah, seperti di Kampung Pameungpeuk, Desa Citamiang II, Kecamatan Cisaat, tokoh DI/TII yang terkenal diantaranya Kosasih Harsono, H. Komar, Sarhadi, Tamilho, Srodin, Mualim Mukri dan Mamad Setiawan (foto utama tulisan ini).

Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat berlangsung cukup lama dan mengakibatkan kerusakan berat. Produksi pertanian menurun tajam, penduduk desa banyak yang mengungsi ke wilayah lain, sehingga terjadi kepadatan penduduk di perkotaan. Korban dari pihak TNI, DI/TII, maupun masyarakat pun terus berjatuhan. Bahlan, data yang diperoleh selama proses persidangan para pemberontak tercatat sejak 1953-1960 ada 22.895 orang tewas, 115.822 rumah musnah, dengan kerugian mencapai Rp650 juta.

Para ahli strategi perang Divisi Siliwangi kemudian menciptakan taktik antigerilya, yaitu dengan membatasi kemampuan bergerak lawan, sehingga lawan terdorong ke dalam wilayah-wilayah tertentu untuk selanjutnya diselesaikan per wilayah. Oleh karena itu, di wilayah target dilakukan isolasi total yang dikenal dengan strategi “Pagar Betis.” Taktik ini diterapkan dalam usaha pengisolasian gerakan DI/TII, dan bertujuan mendesak gerombolan terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Setelah gerombolan DI/TII terdesak di suatu wilayah tertentu, maka daerah tersebut kemudian dilingkari dengan garis pertahanan “Pagar Betis.” Setiap lima meter terdapat satu saung pos rakyat yang terdiri dari lima orang tidak bersenjata. Kemudian di setiap lima sampai sepuluh saung pos rakyat, atau setiap 20-40 meter, terdapat satu pos militer berkekuatan tiga pucuk senjata. Antara satu saung dengan saung lainnya, dipasang rintangan berupa tali digantungi kaleng-kaleng kosong berisi bebatuan dan dipasang setinggi betis.

Dengan kaleng ini maka akan timbul bunyi manakala tali itu tersentuh. Selain itu, dipasang lagi satu tali setinggi pinggang yang dimaksudkan sebagai alarm yang dapat ditarik pada saat terdapat bahaya menurut kode-kode tarikan yang sebelumnya telah ditetapkan.

Saung-saung pos rakyat tersebut diamankan oleh sejumlah satuan tempur yang secara terus menerus bergerak dalam rangka mencari kontak dengan lawan, untuk kemudian menghancurkannya.

[5] Penumpasan DI/TII di Sukabumi

Dalam operasi penumpasan gerombolan DI/TII di Sukabumi dan Jawa Barat, dilakukan sistem isolasi total sehingga dibutuhkan partisipasi aktif rakyat. Untuk itu, sejak awal operasi digelar, dikeluarkanlah instruksi untuk setiap anggota TNI agar tidak menyinggung hati rakyat setempat atau melakukan tindakan yang dapat menimbulkan kerugian pada rakyat.

Masing-masing komandan militer mengunjungi secara teratur para alim ulama di wilayah Jawa Barat dalam rangka mempererat hubungan dan menciptakan rasa saling pengertian. Dengan adanya tindakan positif dan disiplin anggota TNI terhadap peraturan-peraturan yang telah digariskan, TNI berhasil mengambil hati rakyat sehingga akhirnya berpihak kepada TNI.

Operasi yang dilakukan dengan menggunakan sistem “Pagar Betis” ternyata merupakan cara tepat menumpas gerombolan DI/TII. Dalam operasi yang dilakukan di Gunung Gede dan Gunung Pangrango, dengan menggunakan taktik isolasi total telah terbukti berhasil. Pada operasi tersebut, seorang tokoh DI/TII bernama Zaenal Abidin alias Heru Cokro, akhirnya memberi masukan tentang efektivitas taktik isolasi total ini.

Perkampungan yang letaknya di belakang pos-pos “Pagar Betis” tidak sedikit yang dibakar dan dihancurkan. Seluruh penduduk kampung-kampung tersebut diungsikan ke kota-kota, sehingga otomatis komunikasi dengan rakyat pendukung DI/TII putus total.

Strategi lain yang digunakan untuk memaksa anggota satuan TII menyerah, yaitu dengan menduduki sawah yang dimiliki atau dikerjakan oleh kerabat TII sehingga hasil panennya ini tidak digunakan untuk memberi makan anggota satuan TII. Pada 1960, Kompi Ranger pimpinan AKP Anton Soedjarwo berhasil menangkap 47 anggota DI/TII di daerah Cidahu.

Penumpasan terus dilakukan, pada 1 april 1962 dilancarkan operasi Bharatayuda I dan II, dan berhasil menangkap 1.808 dan 3.278 anggota DI/TII beserta ratusan pucuk senjata di bawah pimpinan KP II Mursaid dengan Yon 208 nya. Kemudian Bupati Militer DI/TII Noar Bajo Siregar berhasil ditangkap di Cipelang, pada 7 September 1961.

Lambat laun terlihat keberhasilan operasi tersebut, gerombolan DI/TII di Gunung Salak pimpinan Palar menyerah dan turun ke Kota Bogor didampingi Mayor Oking. Akhirnya pemberontakan usai setelah pimpinan DI/TII yaitu SM Kartosuwiryo dibekuk di Gubung Geber, Majalaya, pada 4 Juni 1962.

Duh, ternyata kacau juga ya, Gaess. Pemberontakan tersebut mampu melumpuhkan aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat, padahal hanya karena rasa kecewa saja.

Semoga ke depannya tidak ada lagi persoalan-persoalan yang memicu pemberontakan, karena pada dasarnya semua bisa dikomunikasikan dan dicari solusi untuk kebaikan bersama.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

2 thoughts on “Membuka catatan kelam DI/TII di Sukabumi, benarkah dilatarbelakangi persoalan agama?

  • Avatar
    30 September 2020 at 10:34
    Permalink

    Semestinya dijelasin juga dong apa itu perjanjian renville, dan apa status jawa barat bagi indonesia setelah disetujuinya perjanjian renville. Saya rasa ini harus dijelaskan, supaya kita tahu, jawabarat itu seperti apa.

    Reply
  • Avatar
    30 September 2020 at 10:42
    Permalink

    Konflik ini menjadi membingungkan karena pasukan TNI menghadapi dua musuh sekaligus yaitu pihak Belanda dan DI/TII. << Kok TNI menganggap DI/TII musuh? Khan DI/TII membangun NII dan berperang dengan belanda di tanah jawabarat yang mana tanah jawabarat udah diberikan indoensia kepada belanda seperti yang tertuang di perjanjian renvile??

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *