Dibangun 1922, dari Bandara Cikembar pasukan Jepang menguasai Sukabumi

7 Maret 1942, pasukan darat Jepang menguasai satu persatu wilayah Sukabumi, termasuk Lapangan Terbang Cikembar.

Hai, Gaess, sudah pada tahu kan kalau di Sukabumi akan dibangun bandar udara atau biasa disingkat bandara? Meskipun bandara perintis yang dikelola oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kementerian Perhubungan, tetapi lumayan ya bisa menambah khasanah moda transportasi di Sukabumi.

Betewe, gen XYZ Sukabumi sudah pada tahu belum, sejak era penjajahan Walanda di Sukabumi sudah dibangun bandara? Dulu memang istilahnya bukan bandara, tapi lapangan terbang saja. Lokasi lapangan terbang ini gak jauh lho dari lokasi rencana pembangunan Bandara Cikembar.

Pengen tahu lebih lanjut biar gak mati gentayangan kan? Hehehe… Simak yuk lima catatan bersejarahnya.

BACA JUGA: Keren Gaess, telan biaya Rp400 miliar, ini 5 fakta Bandara Sukabumi

[1] Lapangan Terbang Cikembar untuk menunjang industri penerbangan

Dalam sejarah penerbangan dunia tentu kita tahu Oliver Wright dan Wilbur Wright alias Wright bersaudara yang pertama kali menerbangkan pesawat di dunia, pada Desember 1903, sekaligus dikenal sebagai penemu pesawat terbang. Namun, selang satu tahun setelah uji coba penerbangan mereka, dilakukan sebuah penerbangan eksperimental di Sukabumi, walaupun tidak tercatat dalam sejarah penerbangan dunia. So, bisa dibilang perkembangan industri penerbangan nasional tidak lepas dari Sukabumi.

Hal menarik dari pesawat yang diujicobakan di Sukabumi adalah penemuannya yang orisinil, bukan menjiplak konsep Wright bersaudara karena konsep Wright pada saat itu masih diproteksi, alias belum dipublikasikan. Yang mengagetkan, ternyata pesawat Sukabumi ini dibuat enam tahun sebelum Samuel F. Cody, yang digadang-gadang sebagai penemu pesawat terbang, menerbangkan pesawat sederhananya di Lapangan Terbang Fanborough, Inggris pada 1910.

Pesawat uji coba di Sukabumi dibuat oleh seorang insinyur berkebangsaan Belanda bernama Onnen. Pada awalnya, ia membuat pesawat eksperimental dari bambu pada 1904, kemudin dimodifikasi dengan kulit kerbau. Walaupun material kulit kerbau ini memiliki bobot lebih berat, namun Onnen mampu menerbangkannya lebih lama dari Wright bersaudara yang hanya 12 detik.

Pesawat rancangan Onnen ini kemudian ditawarkan kepada Markas Militer Udara Hindia Belanda di Bandung, namun ditolak. Tidak putus asa, Onnen kemudian melakukan percobaan di Surabaya, selang beberapa tahun setelah penerbangan pertamanya di Sukabumi. Produksi pesawat Onnen ini kemudian dilanjutkan di Jawa Timur.

Pada 1914, Pemerintah Hindia Belanda membuat lembaga khusus untuk membuat ekseperimen percobaan penerbangan dengan nama Proef Vlieg Afdeling. Lembaga ini memiliki tujuan memproduksi pesawat terbang yang nantinya akan beroperasi di wilayah Hindia Belanda dan Asia.

Sebagai penunjangnya, Belanda membangun beberapa bandara perintis di antaranya di Kalijati, Subang pada 1914. Seiring perkembangan industri penerbangan, dibangun pula lapangan terbang lain seperti di Darmo, Surabaya tahun 1921. Belanda kemudian mempertimbangkan pembangunan lapangan terbang di selatan Pulau Jawa untuk mendukung aktivitas militer di pantai selatan sebagai basis yang aman dari jangkauan musuh.

Kemudian, dipilihlah area sekitar wilayah Cikembar, tidak jauh dari pertigaan Cikembar arah Padabeunghar, Kabupaten Sukabumi. Lokasi ini dirasa ideal untuk menjangkau pantai selatan, yakni di sekitar lapangan tembak Batalyon Infanteri (Yonif) 310.

Selain untuk transit pesawat, lapangan terbang ini juga dimaksudkan sebagai pemusatan latihan pesawat, mengingat daya jangkau pesawat pada saat itu belum sejauh seperti sekarang.

[2] Batal diresmikan karena hujan lebat

Pemilihan Cikembar saat itu memang beralasan karena dekatnya daya jangkau ke pesisir selatan hingga Samudera Hindia, ke barat hingga Bogor dan Jakarta, kemudian ke timur hingga Cianjur.

Dibangunlah runway sepanjang 700 meter dalam garis lurus termasuk hanggar pesawat, dan area fungsional lainnya dengan koordinat 106.783E 6.967S. Namun, jangan dikira landasan runway-nya seperti sekarang, diaspal rata atau dicor ya, Gaess. Pada saat itu, runway pesawat hanyalah berupa tanah yang diratakan dan diperkeras.

Kondisi tersebut tentunya akan selalu menimbulkan masalah jika turun hujan karena tanahnya akan lembek dan licin sehingga berisiko pesawat akan tergelincir dari lintasan. Hal ini kemudian juga menjadi kendala saat lapangan terbang tersebut akan diresmikan pada 13 Februari 1922. Padahal, rencananya peresmian Lapangan Terbang Cikembar tersebut akan dilakukan dengan pendaratan beberapa pesawat yang terbang dari Bandung.

Ketika itu, masyarakat berbondong-bondong datang hendak menyaksikan pendaratan pesawat. Begitupun dengan Wedana Cikembar Mas Djajadisastra, sudah siap meresmikan dan turut menyaksikan kedatangan pesawat dari Sukamiskin (Bandung) yang baru diresmikan setahun sebelumnya. Sayangnya, akibat hujan deras yang disertai petir, penerbangan tersebut pun akhirnya dibatalkan.

Pengelolaan Lapangan Terbang Cikembar berada langsung di bawah Komando Angkatan Udara Hindia Belanda (Militaire Luchtvaart van het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, ML-KNIL) dengan kode Reconaissance Verkenningsafdeling 1 (VKA1) Gest. – Verkenningsafdeling 1 (VkA-1). Masyarakat sekitar menyebut lapangan terbang tersebut sebagai Pangapungan alias lokasi untuk menerbangkan.

Pemerintah Hindia Belanda terus menggenjot industri penerbangan dengan mendirikan Technische Dienst Luchtvaart Afdeling di daerah Sukamiskin pada 1923, sebagai cikal bakal dari perusahaan industri pesawat terbang di Indonesia. Tahun 1924, lembaga ini dipindahkan ke Lapangan Udara Andir (Husein Sastranegara sekarang).

[3] Kecelakaan pesawat dan mitos makam Mbah Dalem

Menurut catatan, di Lapangan Terbang Cikembar pernah terjadi beberapa kali kecelakaan pesawat, baik ringan maupun serius. 12 Oktober 1927, pesawat yang diterbangkan Letnan Pilot Pertama C. Terluin dari Wijnkoopsbaai mengalami kendala teknis, sehingga diperintahkan Departemen Penerbangan di Bandung untuk mencari lokasi pendaratan darurat di Cikembar.

Sayangnya, sang pilot tidak mengenali kondisi landasan yang kurang rata. Pesawat pun tergelincir dan terbalik saat mendarat, mengakibatkan beberapa bagian mesin pesawat hancur. Akibat kejadian tersebut, tangan kiri Terluin terluka dan robek di pipi kanan karena terbentur ke dashboard pesawat.

Terluin kemudian meminta Wedana Cikembar untuk mencari bantuan, hingga kemudian bisa tersambung ke Bandung. Pesawat bantuan pun akhirnya tiba beberapa jam setelah kejadian. Sang pilot dibawa ke Sukabumi untuk dirawat di rumah sakit oleh Dr. Bonnet, sementara pesawatnya langsung diperbaiki.

15 Januari 1930, terjadi lagi kecelakaan pesawat saat sebuah Fokker C34 yang datang dari arah Palabuhanratu, dikemudikan Letnan J.J. Zomer mendarat darurat di Cikembar karena mengalami kerusakan mesin. Sehari kemudian, 16 Januari 1930, pesawat bantuan Fokker C433 dari Bandung dipiloti Letnan De Roller dan rekannya, mekanik mesin Letnan Waarts, dikirim ke Cikembar.

Nahas, pesawat bantuan Fokker C433 malah menabrak tanah saat pendaratan. Walaupun pilot dan rekannya selamat, namun tak ayal pesawat tersebut mengalami kerusakan sangat serius.

Dua tahun kemudian, 24 Mei 1932, juga terjadi kecelakaan pesawat di Lapangan Terbang Cikembar, ketika pesawat yang dipiloti Mr. Cranenburg dengan kode penerbangan FC.VE.441 mendarat darurat di Cikembar. Namun sayangnya, pesawat gagal landing dan justru meluncur ke samping runway.

Selain pesawat mengalami kerusakan cukup parah, sang pilot juga mengalami luka di bagian kepala. Kecelakaan, menurut rumor warga sekitar, karena keberadaan makam keramat tempat seorang menak bernama Mbah Dalem dikebumikan, tidak jauh dari lokasi lapangan terbang. Bahkan konon, setiap pesawat yang terbang tepat di atas kuburannya, akan kehilangan tenaga dan jatuh.

BACA JUGA:

The leading actress at Sri Asih, a small sandiwara troupe in Sukabumi

Djomhari, sang penakluk joki Eropa di arena pacuan kuda Sukabumi yang tewas misterius

[4] Lapangan Terbang Cikembar untuk penerbangan sipil

Selain untuk keperluan militer, Lapangan Terbang Cikembar juga digunakan untuk kepentingan sipil terbatas, terutama yang sifatnya mendesak dan tertentu.

30 Desember 1926, terjadi pendaratan pesawat di Cikembar yang dipiloti Letnan Wegner. Pesawat ini terbang dari Bandung menuju Sukabumi untuk memberikan salam dan hormat tahun baru kepada masyarakat Sukabumi. Rute pesawat melalui Palabuhanratu, Bogor, kemudian mendarat di Cikembar.

Lapangan Terbang Cikembar juga pernah menjadi tempat penyelamatan seorang wanita yang sedang sakit di wilayah selatan Cianjur, pada 20 Februari 1930. Saat itu, Dr. F. Gunneck di Sukabumi menerima telpon dari Agrabinta bahwa ada wanita sakit parah di perkebunan dan memerlukan bantuan segera.

Agrabinta sangat sulit dijangkau melalui jalur darat, sementara lokasi rumah sakit yang layak hanya ada di Sukabumi yang jaraknya 12 km ke perbatasan Sukabumi. Dr. F. Gruneck memiliki ide untuk menggunakan pesawat terbang dan melakukan pendaratan di Cikembar, tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Gruneck menyarankan administratur perkebunan meminta bantuan Departemen Penerbangan di Bandung untuk mengangkut wanita tersebut menggunakan pesawat terbang.

Sebuah pesawat pun kemudian berangkat pukul 10.00 WIB dari Lapangan Terbang Andir, dipiloti Letnan Aviator C. J. J. M. Waltmann dengan didampingi Dr. J. Ch. Hubach. Pesawat mendarat di Lapang Salatri yang baru dibangun, berjarak 2 km dari Agrabinta. Wanita yang sakit tersebut berhasil dievakuasi dengan pesawat menuju Cikembar, dan mendarat 50 menit kemudian.

Dr. Gunneck yang sudah siaga di Cikembar, segera membawa pasien menggunakan ambulan menuju rumah sakit untuk melakukan tindakan medis. Setengah jam kemudian, nyawa wanita tersebut akhirnya berhasil diselamatkan.

Selain itu, Lapangan Terbang Cikembar juga pernah menjadi lokasi demonstrasi pesawat milik Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), sebuah maskapai penerbangan Hindia Belanda yang didirikan pada 16 Juli 1928. Demonstrasi dilaksanakan pada 22 Mei 1931, dan memberi kesempatan sebagian masyarakat untuk menikmati joy flight.

Nahas, pesawat mengalami kecelakaan saat akan landing. Pilot Watrin gagal mengendalikan pesawat, dan akhirnya tergelincir akibat landasan lembek setelah diguyur hujan pada malam sebelumnya. Akibatnya, pesawat mengalami kerusakan pada bagian sayap kanan di bagian ekor. Petugas pun segera melaporkan peristiwa tersebut ke Bandung. Penerbangan hari itu tidak berlanjut, dan dilakukan lagi pada keesokan harinya.

KNILM mengadakan demosntrasi serupa pada 4 Mei 1939, menggunakan pesawat Fokker dengan menawarkan delapan orang untuk ikut terbang. Wedana Cibadak Mr. R. Oetarjo, sangat antusias mengikuti penerbangan tersebut karena dia bisa menyaksikan wilayah yang dipimpinnya dari ketinggian. Penerbangan tersebut bertarif 5 Gulden per orang untuk warga di sekitar bandara, dan 10 Gulden untuk penerbangan ke wilayah Gunung Gede.

Para pemilik perkebunan, memilih mengikuti paket penerbangan ke Gunung Gede agar bisa melihat perkebunan milik mereka. Demonstrasi penerbangan berlangsung selama empat hari, dan menjadi pertimbangan pihak KNILM untuk kemungkinan membuka rute penerbangan sipil ke Cikembar.

[5] Menjadi markas AU Sekutu di Asia Tenggara dan saksi kehancurannya

Namun sayangnya, pengkajian untuk keperluan penerbangan sipil harus dihentikan akibat pecah perang Pasifik, Lapangan Terbang Cikembar pun langsung difungsikan sebagai dukungan tempur udara. 12 pesawat jenis Curtis CW 22 dan 1 pesawat Fokker CX langsung ditempatkan untuk menghadang pasukan Jepang, di bawah komando Letnan KNIL Ports.

7 Desember 1941, ML-KNIL meminta tambahan 23 Falcons untuk pertempuran udara, kemudian 12 dari pesawat tersebut pun ditempakan di VKA-1 (Reconnaissance Squadron 1) Cikembar. Dari Cikembar, beberapa pesawat diterbangkan untuk menghadang pesawat Jepang yang datang dari arah utara. Namun, kepiawaian pilot-pilot Jepang menyebabkan kekalahan pesawat-pesawat Belanda, bahkan pesawat Jepang terus mengejar hingga memasuki wilayah Sukabumi.

Pada 16 Januari 1941, sebuah pesawat Falcon Belanda ditembak jatuh oleh pesawat Jepang di atas udara Cikembar dan menewaskan dua pilotnya, Sotebeer dan Kern. Pesawat-pesawat Belanda benar-benar dibuat kocar kacir, dihajar pesawat-peswat Jepang yang berani melakukan kamikaze (bunuh diri). Angkatan Udara Sekutu yang sudah terdesak, mencari tempat yang relatif aman untuk dijadikan markas.

Sejak 14 Februari 1942, Paul Maltby, Komandan RAF di Jawa membawa tim intinya ke Sukabumi, dan membuat markas Angkatan Udara Sekutu se-Asia Tenggara di Lapangan Terbang Cikembar. Dia membangun kembali angkatan udara yang sudah babak belur, dan membangun pertahanan udara dengan segelintir pesawat usang.

Sesudah beberapa minggu di Cikembar, Paul kemudian mengambilalih Lapangan Terbang Andir pada 23 Februari 1942, dan berencana mengalihkan markas komando ke Bandung.

Akibat kepanikan di Bandung, pada 1 hingga 8 Maret 1942, satu skuadron RAF (Skuadron 36 TB) terdiri dari lima pesawat Vildebeested yang empat diantaranya harus diperbaiki, kembali pindah ke Cikembar. Skuadron tersebut dipimpin Captain Nichollets dan memimpin grupnya untuk bertempur melawan pesawat Jepang dari Cikembar (Grehan, Mace: 2015).

Beberapa pesawat dari Cikembar yaitu Curtiss-Wright 22, perangkat Falcon yang diterbangkan Rudy Cate, ditugaskan melakukan pengintaian dari Cikembar. Satu unit pesawat pengintai diterbangkan pada pagi hari, 3 Maret 1942, oleh Sersan Kite R. Cate, dengan mesin-penembak Sersan mekanik CW Bilderbeek.

Malangnya, pesawat tersebut rusak dihajar meriam Jepang di Batavia. Pesawat tertembak di bagian ekor dan harus melakukan pendaratan darurat di Lapangan Terbang Kemayoran, sekitar pukul 11.00 WIB. Cate kemudian dilarikan ambulan ke rumah sakit militer di Batavia, sementara Bilderbeek dijemput pada pukul 16.00 WIB dengan pesawat CW-22 lainnya dari Cikembar.

Sementara itu, 5 Maret 1942, pasukan darat Jepang sudah mulai merangsek memasuki Cibadak untuk menunggu situasi. Beberapa pesawat dari Cikembar yang masih bisa terbang, membawa serta beberapa pasukan ke Bandung. Sehari kemudian, 6 Maret 1942, pesawat-pesawat Jepang mulai membumihanguskan Kota Sukabumi selama beberapa jam. Hingga pada keesokan harinya, pasukan darat Jepang menguasai satu persatu wilayah Sukabumi, termasuk Lapangan Terbang Cikembar.

Nah, Gengs, saat ini Lapangan Terbang Cikembar memang sudah tidak ada. Padahal, saat perang kemerdekaan, lapangan terbang ini masih ada dan digunakan oleh pesawat kecil Belanda untuk mengangkut penumpang.

Sesudah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, Lapangan Terbang Cikembar tidak difungsikan lagi. Sebagian lahannya dikuasai masyarakat, hingga akhirnya TNI mempergunakannya sebagai markas.

Namun, sekarang warga Sukabumi akan mendapatkan ganti lapangan terbang baru yang disebut Bandara Cikembar, mudah-mudahan nantinya menjadi saksi kejayaan masyarakat Sukabumi ya, Gaess. Baca beritanya, Bandara Sukabumi ditargetkan operasional 2020, ini 5 faktanya Gaess

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *