Djomhari, sang penakluk joki Eropa di arena pacuan kuda Sukabumi yang tewas misterius

Arena pacuan kuda pada awalnya dibangun oleh para juragan perkebunan, hal ini karena sistem erpfacht memungkinkan mereka menyewa lahan sangat luas.

Halo, Gaess, sering kan melihat kuda Sukabumi? Ya, sejak dulu hingga sekarang kuda memang menjadi alat transportasi di Sukabumi, yaitu berupa sado yang banyak mangkal di Kota Sukabumi, atau juga nayor di Cibadak.

Tapi mungkin hanya sebagian yang tahu bahwa dulu, di Sukabumi, terdapat arena pacuan kuda serta joki-joki kuda terkenal karena mampu mengalahkan joki-joki dari Eropa di arena pacuan. Ya, di Sukabumi, selain digunakan sebagai hewan penarik sarana transportasi publik dan bajak di sawah, kuda juga sebagai tunggangan di arena pacuan.

Pengen tahu kisahnya kan? Ayo kita simak bersama.

[1] Olahraga berkuda di Sukabumi

Cikal bakal olahraga ketangkasan berkuda pada awalnya adalah dari perburuan, dimana masyarakat zaman dulu menunggang kuda sambil berburu di hutan-hutan. Kegiatan ini kemudian menjadi olahraga ketangkasan bagi prajurit kerajaan di pelbagai negara Eropa dan koloninya.

Konon, wilayah Pajampangan adalah tempat penggeblengan prajurit kerajaan Sunda atau Pajajaran. Kegiatan berburu dan ketangkasan ini terus berlanjut hingga masuknya kolonialisme ke Sukabumi, para pejabat lokal dan kaum ningrat serta Eropa, rutin melakukan kegiatan berburu di wilayah selatan Sukabumi.

Aksi ketangkasan menunggang kuda ini kemudian dilanjutkan oleh pasukan kavaleri Belanda yang menjadikan kuda sebagai peralatan tempur. Mereka juga biasa melakukan atraksi menunggang kuda pada kegiatan-kegiatan tertentu, seperti memeringati hari lahir Ratu Belanda, sekaligus hiburan warga.

Ketika orang-orang Eropa mulai menguasai perkebunan-perkebunan di wilayah Sukabumi, mereka tetap memelihara kebiasaannya beradu ketangkasan di arena pacuan kuda. Sudah bisa dipastikan bahwa semua pemilik perkebunan memiliki kuda peliharaan. Sehingga tidak mengherankan jika sebagian pemilik perkebunan membuat arena pacuan kuda sendiri untuk berlatih.

Seperti halnya Andries de Wilde, yang merupakan pemilik perkebunan swasta pertama di Sukabumi. Ia ditetapkan Gubernur Raffles sebagai pemenang tender pengelolaan perkebunan di wilayah Sukabumi, hal ini karena Raffles tertarik dengan ide de Wilde untuk mengembangkan peternakan kuda dan lembu didaerah Gunung Parang. Bahkan, dalam masa pengelolaannya, de Wilde tercatat memiliki 140 ekor kuda jenis unggul.


Andries de Wilde adalah pemilik perkebunan swasta pertama di Sukabumi.

Selain itu, salah satu pemilik perkebunan yang juga pecinta kuda adalah Eduard Julius Kerhoven dari Sinagar yang memiliki puluhan ekor kuda terbaik. Dia juga dikenal sebagai pemilik kuda pacu yang kerap memenangkan perlombaan.

Dominasi warga Eropa dalam hobi menunggang kuda, membuat para pejabat dan pemilik perkebunan asal Belanda mengorganisasikan kesamaan hobi ini melalui Batavia Wedloop Society (BPS) yang terbentuk sekitar 1834. Menyusul kemudian para pejabat dan pemilik perkebunan di wilayah Priangan membentuk Preanger Wedloop Society (WPS) pada 1853 di Cianjur. Bersamaan dengan itu, dibentuk pula Buitenzorg Wedloop Society (BWS) di Bogor oleh van Mothman.

Karena belum memiliki organisasi sendiri, para pemilik perkebunan di Sukabumi akhirnya sering mengikuti perlombaan yang diadakan kelompok-kelompok tersebut di luar kota.

[2] Terbentuknya West Preanger Wedloop Societeit di Sukabumi

Pasca keluarnya Undang-undang Agraria tahun 1870, muncullah kelas orang kaya baru di Sukabumi, mereka mendapat keuntungan berlipat dari hasil bumi di Sukabumi yang memiliki tanah subur. Karena kekayaannya, mereka dijuluki koffie boeren (petani kopi kaya), thee konkeers (bangsawan teh), atau gelar pujaan kina baron (raja kina).

Pada setiap akhir pekan, pemilik perkebunan Sukabumi memilih naar boveden atau turun ke Bandung untuk shopping, membuat mereka begitu dihormati di luar daerah. Bahkan, beberapa pasang meja kursi di lobi Hotel Savoy Homann, Preanger, Societeit Concordia, dan Restoran Maison Bogerijen di Jalan Braga, selalu tersedia untuk mereka tanpa seorangpun berani mendudukinya.

Mereka juga membentuk Soekaboemishce Landbouw Vereeniging (SLV) pada 1881, sebuah perkumpulan para pekebun di tatar Priangan, yang aktif membangun sekolah-sekolah rakyat dan kursus perkebunan.

Munculnya kelas baru ini juga menimbulkan prestise bagi para pemilik perkebunan di Sukabumi, sehingga arena pacuan kuda yang mereka ikuti di luar kota, bukan lagi sekadar ajang berolahraga dan hiburan, tetapi menjadi ajang memamerkan kekayaan. Bahkan, tak sedikit yang tergoda wanita lain, usai mabuk-mabukan usai berlomba di pacuan kuda.

Para pemilik perkebunan yang mulai naik gengsi itu juga mendirikan organisasi sendiri agar tidak bergantung kepada organisasi di luar daerah, dengan mendirikan komunitas elit Societeit Soekamanah, seperti halnya Societeit Concordia di Bandung atau Societeit Harmoni di Batavia.

Untuk mewadahi hobi berkuda, dibentuklah West Preanger Wedloop Societeit (WPWS) pada 16 Juli 1892. WPWS kemudian membuat anggaran dasar dan program kegiatan berkuda di wilayah Sukabumi dan sekitarnya.

BACA JUGA:

Meluruskan benang kusut sejarah Hiroshima 2 di Sukabumi

Akhir tragis Si Tuku, kisah gajah yang pernah dipelihara di Sukabumi

[3] Pembangunan Pacuan Kuda di Sukabumi


Arena pacuan kuda di Sukabumi.

Arena pacuan kuda di Sukabumi pada awalnya dibangun oleh para juragan kebun di area perkebunan masing-masing, hal ini karena sistem sewa erpfacht memungkinkan mereka menyewa lahan sangat luas. Tak hanya itu, para menak Sunda pada era itupun banyak yang memiliki tempat untuk berlatih kuda sekaligus sarana latihan ketangkasan untuk berburu.

Bupati Cianjur, saat itu Sukabumi masih masuk wilayah Cianjur, mempunyai tempat berkuda sekaligus area berburu di wilayah Panumbangan dan Cikembar. Seiring terbentuknya WPWS, dibangunlah arena pacuan kuda resmi di dua tempat yaitu di Soenia Wenang (Sundawenang, sekarang wilayah Parungkuda), dan Cibolang, Cisaat.

Lokasi arena pacuan kuda sengaja dibangun di dekat rel kereta api (KA), untuk memudahkan transportasi peralatan pacuan kuda termasuk mengangkut kuda dan joki dari luar Sukabumi.

Arena Pacuan Kuda Soenia Wenang dibangun di tanah milik Cultuurmaschapij Pandan Aroem, atau di sekitar pabrik PT Daihan Global dan PT L&B Indonesia, atau dekat gardu PLN sekarang, dengan pemiliknya Mr van Massink yang merupakan ahli tanaman kina dan administratur perkebunan Pandan Aroem.

van Massink sebelumnya juga sudah membangun gudang hasil perkebunan di Soenia Wenang, dengan pertimbangan kedekatan jarak dari area perkebunan milikinya. Bekas gudang tersebut kemudian disulap menjadi pacuan kuda untuk mengakomodir hobi para pemilik perkebunan.

20 Oktober 1895, sebuah event digelar sebagai pembuka, dihadiri para pejabat lokal dengan mengundang banyak tamu dan joki dari luar Sukabumi.

Sedangkan arena Pacuan Kuda Cibolang, dibangun di atas lahan bekas pesawahan di Kampung Cibolang, dekat rel KA menuju Stasiun Cisaat, atau sekarang di sekitar Masjid Raudhatul Irfan. Pacuan kuda ini dibangun sekira tahun 1900 dan diresmikan 26 September 1901, seiring berpindahnya markas kegiatan pacuan kuda ke Cibolang. Selain itu, di sekitar arena, hotel-hotel menyediakan area berkuda, baik untuk olahraga maupun hiburan. Selain tentunya fasilitas kolam renang, golf, dan tenis lapangan, seperti di Grand Hotel Selabintana.

Sementara itu, Alun-alun Sukabumi dijadikan sebagai tempat atraksi berkuda saat kegiatan besar seperti perayaan hari lahir Ratu Belanda atau penobatan Regent Soekaboemi dihelat.

[4] Persaingan antar ras dalam pacuan kuda

Selain orang-orang Eropa, berkuda juga menjadi kegiatan yang disukai masyarakat Sunda, terutama para pejabat dan menak. Mereka bernaung di bawah perkumpulan pecinta pacuan kuda Renvereeniging Katoeranggan Soekaboemi (RKS) yang bermarkas di Soenia Wenang. Salah satu pendukungnya adalah masyarakat Pamitran (Pamitran Societeit), sebagai ajang berkumpul para menak Sukabumi, dengan Patih Sukabumi Aria Soeria Nata Legawa sebagai Ketua Kehormatan.

Ketika itu, masing-masing pejabat mempunyai kuda jagoan dengan julukan masing-masing, misalnya Kuda Barat milik Wedana Soekaboemi, Beuntjeuh milik Wedana Tjimahi, Rentang dan Walada milik Wedana Djampang Tengah, dan Gondang milik Tjamat Sagaranten.

Selain itu, ada Maruti milik Patih Sukabumi, Walet milik Naib dari Tjimahi, Liaua miliki Raden Adiwidjaja, Semnat milik wedana Tjitjoeroeg, Neli Jana milik Wedana Ciheulang, Raja milik Wedana Kalapanunggal, dan lain sebagainya.

Kuda-kuda milik menak Sunda itu bersaing dengan kuda-kuda milik warga Eropa dalam setiap pertandingan dengan nama-nama lebih unik, misalnya Rubina milik tuan Boreel dari Parakanlasak, baca kisahnya Cinta sejati untuk Ameri: Gadis Sukabumi tak sempurna yang membutakan hati pria bermata biru.

Kemudian ada Mori, Ragen, Aladin, Mimer, Little Shamrock dan Letter Pat, bahkan ada yang dinamai dengan nama perkebunan seperti Panoembangan milik ARW Kerkhoven.

Para pesohor Sunda dan Eropa memiliki kuda dan joki jagoan masing-masing, misalnya Denok milik Lurah Tjibatoe dengan Joki Moakrim, Signora miliki Wedana Tjitjoeroeg dengan joki Kasim, Oetari milik Raden Adiwidjaja dengan joki Raisam, Kewêr milik Lurah Parakansalak, joki Entong yang menunggangi kuda Lomok milik Tjamat Benda, dan joki Sahari penunggang kuda Lendjang milik Lurah Pakemitan Tjitjoeroeg.

Uniknya, nama-nama kudanya jauh lebih dikenal dibanding jokinya. Padahal, banyak joki-joki Sunda yang andal, seperti Poengoet, Ojo, Moakrim, Muslim, Djaojid, Kasim, Raisam, Sahari, Oedjang, Walet, Djomhari, dan lainnya. Sementara joki Eropa yang terkenal saat itu di antaranya adalah Öhlenslager, Stortenbeker dan Ms. Kerkhoven.

Sejurus kemudian persainganpun akhirnya muncul, tak hanya antar-kuda, bahkan antar-joki pun terasa begitu sengit akibat adanya perasaan perbedaan ras. Tidak mengherankan jika joki-joki lokal kerap didiskriminasi oleh joki-joki Eropa. Meskipun sebagai joki dalam setiap perlombaan, tetapi mereka kerap lebih diperlakukan layaknya tukang kuda ketimbang joki yang dipuja.

[5] Pahit getir nasib joki Djomhari

Dalam arsip pacuan kuda Sukabumi yang dicatat Batavia Nieuwsblaad, isu persaingan antarras di arena pacuan kuda Sukabumi ternyata pernah memakan korban dan menorehkan kisah tragis seorang joki Sukabumi bernama Djomhari, ia tewas secara misterius.

Dikutip dari Bataviasch Nieuwsblaad pada Oktober 1934, Djomhari merupakan joki asli Sukabumi yang terkenal sering mengalahkan lawan-lawannya baik dari dalam maupun luar negeri. Sejak kecil, Djomhari memang sudah sangat familiar dengan kuda, dari mulai kuda jenis loerah (kuda kacang) yang terkenal bertubuh kecil namun sanggup berlari kencang, hingga kuda berukuran besar.

Bagi Djomhari, kuda sudah seperti istrinya sendiri yang selalu dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Ketekunannya ini membuahkan hasil, dia dihormati pejoki lain. Bahkan, di Priangan barat, dia disebut-sebut sebagai joki terbaik.

Sayangnya, karena persoalan kecemburuan, dia terlibat perselisihan dengan joki asal India Inggris (saat itu India dijajah Inggris), sehingga timbul percekcokan dan perkelahian.

Persoalan ternyata tidak selesai sampai di situ, pada suatu saat, sebelum pertandingan besar digelar, sang joki India Inggris tersebut ditemukan tewas dengan mulut mengeluarkan busa seperti diracun. Akibatnya, Djomhari yang dinilai memiliki motif untuk melakukannya, harus pasrah ketika dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana.

Djomhari menolak semua tuduhan karena dia merasa tidak melakukannya, iapun mencoba memberikan bukti-bukti serta alibi sehingga akhirnya dilepas karena kurangnya bukti. Sayangnya, sekeluarnya dari penjara, Djomhari tidak diterima lagi di arena pacuan kuda dan diusir oleh tuan-tuan Eropa.

Djomhari sakit hati dan merasa telah didiskriminasi, sehingga memutuskan untuk pergi meninggalkan Sukabumi menuju Bogor sambil meratapi nasibnya. Namun begitu, kecintaannya terhadap kuda tidak pernah benar-benar hilang. Sampai pada suatu ketika, bekas majikan memanggilnya kembali berlaga di arena pacuan.

Djomhari sangat senang, kemudian iapun berlatih keras, untuk kembali menunjukkan kepiawaiannya menunggang kuda balap. Dan akhirnya ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan telak, dan bisa turun dari kuda tunggangan dengan penuh rasa bangga.

Namun, rupanya itu merupakan lomba terakhir yang ia ikuti. Dua jam usai memenangi laga, Djomhari ditemukan tewas di tempat tidurnya. Tidak diketahui apakah ia tewas karena dibunuh akibat persaingan antarjoki, atau persoalan diskiriminasi ras? Entahlah.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *