Meluruskan benang kusut sejarah Hiroshima 2 di Sukabumi

Mengenai keterangan lainnya, tentang tempat pembuatan senjata, uang, dan lainnya, belum bisa dikonfirmasi oleh sumber-sumer valid.

Sobat Sukabumi XYZ, pernah mendengar cerita tentang Kota Hiroshima 2 di Sukabumi? Sisa-sisa puing bangunan yang disebut Kota Hiroshima 2 itu masih ada lho di area persawahan milik warga. Kisah sejarah mengenai situs ini memang masih simpang siur, Gaess. Ada yang bilang dulunya Hiroshima 2 ini adalah sebuah kota, namun ada pula yang menyebutnya hanya sebuah kompleks militer.

Nah, Gengs, kamu tahu dong kalau Hiroshima adalah nama sebuah kota di Jepang yang pernah diporakporandakan bom atom bersama Kota Nagasaki, sehingga membuat Jepang menyerah kepada sekutu.

Tim Reenactor Explore Kipahare (REK) Sukabumi mencoba menelusuri dan meluruskan benang kusut kronik sejarah mengenai keberadaan situs tersebut. Kunjungan REK kali ini sekaligus untuk meninjau keseluruhan lokasi sekaligus mengidentifikasi kompleks tesebut berdasarkan fakta sejarahnya yang mereka miliki.

Seperti apa sih catatan sejarah situs Hiroshima 2 menurut REK ini? Simak kuy lima catatannya.

[1] Situs Hiroshima 2, benarkan sebuah Kota?

Rasa penasaran tim REK yang digawangi Irwan Irhas Nurly, Alif Rafik Khan, Heri Sake, dan Iful, memaksa kaki mereka menyusuri jalan menuju situs yang konon adalah sebuah kota itu. Situs yang berlokasi di kampung Pojok, Tegal Panjang, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, ini sempat menghebohkan warga lho, Gengs, karena dijuluki Hiroshima 2.

Jalan yang dilalui sangat menarik karena melewati sebuah menhir di Kampung Tugu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Informasi mengenai Hiroshima 2 ini berasal dari keterangan Tedi Ginanjar, anggota Penyuluh Kehutanan Swadaya (PKSM) Jawa Barat yang juga Ketua Yayasan Cagar Budaya Kota Jepang Pojok Gunung Kekenceng (Hiroshima 2).

Dalam keterangannya di beberapa media, Tedi menyebutkan bahwa julukan Hiroshima 2 tersebut didapatkan dari wawancara saksi hidup. Tedi juga mengaku telah melakukan penelusuran selama lebih dari empat tahun, dan menyimpulkan bahwa upaya pembangunan besar-besaran ini juga berkaitan dengan keinginan Jepang untuk memindahkan ibukota Indonesia ke Tegalpanjang.

Tetapi jangan bayangkan bahwa lokasinya seperti kota lho, Gaess. Hasil penelusuran REK, dari luasannya mungkin lebih cocok disebut kompleks industri atau pangkalan militer. Lokasi Kampung Pojok memang strategis bagi tentara Jepang untuk dibuat pangkalan militer karena dikelilingi perbukitan yang membentuk tapal kuda, dimana di sebelah utara terdapat Gunung Malang, dan Gunung Manglayang di selatan.

Dari keterangan Tedi, di tempat seluas 10 hektar ini pihak Jepang kemudian membangun pabrik kaca, pabrik kain katun, pabrik beras (penggilingan), pabrik baja untuk membuat pesenjataan dan mesiu, serta bengkel. Menurutnya pula, untuk penunjang transportasinya dibangunlah rel kereta, akses jalan besar, bahkan hingga landasan untuk pesawat terbang.

Di Jepang sendiri, Hirohima merupakan sebuah kota industri yang cukup besar, luasnya saja mencapai 741,75 km persegi dan terdiri dari 8 distrik yang masing-masing menjadi pusat industri dari mulai tekstil, karet, trem, hingga industri berat dan militer yang mensuplai pasukannya di Asia Timur Raya.

Jika dibandingkan dengan situs ini maka agak sulit jika disebut sebagai kota, apalagi kelengkapan kota seperti lapangan terbang minimal memerlukan 800 meter untuk runway serta area fungsional lainnya.

Jadi, apa sebenarnya situs ini?

[2] Pabrik Kina Tegal Panjang, pembangunan infrastruktur Jepang di Sukabumi

Dari pantauan REK, terdapat beberapa bekas fondasi bangunan di tengah hamparan sawah, yang terlihat sebagian masih utuh adalah bekas kolam di tengah sawah. Beberapa petani yang pernah mendengar dari orangtuanya dulu mengatakan bahwa di sana dibangun Pabrik Kina untuk obat para prajurit, gudang makanan dan hasil bumi, gudang amunisi, serta bengkel kendaraan perang. Kompleks ini juga sudah dilengkapi aliran listrik dan telepon.

Hasil penelusuran Litbang Kipahare menyimpulkan bahwa pembangunan kompleks ini cukup unik, mengingat Jepang sangat sedikit melakukan pembangunan di Indonesia akibat kondisi perang dan kekuasaannya yang hanya seumur jagung. Dalam situasi perang Asia Timur Raya, Jepang berfokus kepada upaya mendukung balatentaranya dalam usaha memenangkan perang.

Praktis pembangunan yang dilakukan di Sukabumi hanyalah untuk keperluan perang, misalnya membuat sejumlah pos pertahanan di pesisir Selatan untuk mengantisipasi serangan sekutu Amerika, yaitu Australia. Jepang pun membuat dua bunker militer di Ciemas dan Pelabuhanratu. Pembangunan infrastrutur mulai dilakukan di Sukabumi setahun sesudah Jepang menguasai Sukabumi, terutama setelah Jepang berhasil mengontrol keamanan dan administrasi.

Beberapa pabrik didirikan di Sukabumi, misalnya pabrik kancing di Ciseureuh yang dibuat dari tulang iga kerbau atau sapi. Produksinya sekitar 1.000 kancing per hari dengan membuat empat macam kancing, yaitu kancing baju, tangan jas, celana, dan kemeja. Jepang juga membantu pembangunan perusahaaan sikat gigi milik Tuan Muhtar di Cibadak. Sikat gigi ini memiliki kualitas baik dari bahan ijuk dan bulu sapi.

Ijuk yang warnanya hitam dibuat menjadi putih, dengan batang terbuat dari tulang. Pabrik ini bisa memproduksi 1.000 sikat gigi sehari dengan mempekerjakan 200 orang, dan dijual dengan harga 30 sen di pasar-pasar.   Ssehingga Hiroshima 2 ini pun merupakan bagian dari program pembangunan infrastruktur penunjang perang Jepang di Sukabumi.

Dalam Leeuwarder Courant: hoofdblad van Friesland pada Agustus 1947 disebutkan, Jepang telah mendirikan beberapa pabrik di Sukabumi di antaranya pabrik kertas di Sukaraja dan Cibadak, kemudian pabrik besar termasuk kina dibangun di Tegal Panjang. Pabrik-pabrik tersebut utamanya digunakan untuk menunjang kebutuhan kina bagi para prajurit Jepang. Pasca kekalahan Jepang, pabrik ini rencananya akan dikelola pihak Belanda.

[3] Klinik Tentara di Kampung Bandang terkait suplai obat untuk pasukan Jepang

Viral di media sosial beberapa waktu lalu, di sekitar jalan, sebelah utara Tegal Panjang terdapat bekas jembatan yang sempat dikabarkan akan digunakan sebagai jalan eksploitas tambang. Padahal, jembatan tersebut ternyata menghubungkan jalan ke lokasi lain yang dipenuhi bekas fondasi dan sebuah kolam yaitu kampung Bandang.

Menurut keterangan penduduk setempat, di Kampung Bandang dibangun pula asrama dan klinik tentara Jepang yang dilengkapi dengan kolam penampungan air. Sebagai akses menuju lokasi, dibangunlah rel lori dari Kampung Pojok hingga Bandang. Konon akan dibangun pula rel menuju Stasiun Cireunghas, namun upaya ini batal karena Jepang telah dikalahkan pasukan Sekutu.

Cukup masuk akal jika area yang disebut Hiroshima 2 ini menjadi kompleks militer integratif mengingat terdapat kompleks industri penunjang perang yang dilengkapi klinik prajurit. Klinik ini tentunya menjadi tempat para prajurit berobat yang sangat dekat dengan tempat produksi obat kinanya. Keberadaan klinik ini sempat terekam saat Belanda menduduki Sukabumi karena digunakan sebagai tempat pengobatan masyarakat.

Dalam Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, Oktober 1947, disebutkan mengenai upaya pasukan Belanda memerangi penyakit kekurangan gizi masyarakat Sukabumi dengan mengadakan pelayanan rawat jalan di klinik Tegal Panjang. Sebuah upaya pencitraan pasukan Belanda yang melibatkan UNRRA dan Palang Merah Internasional.

UNRRA juga melakukan aksi sosial dengan melakukan pembagian pakaian dibantu oleh H. A. Wicherts, Presiden Departemen Palang Merah. Sementara Direktur Institute for Public Nutrition, Dr. S. Postmus, memberikan masukan-masukan mengenai perbaikan gizi.

Adapun mengenai keterangan dari warga yang lain, seperti tentang tempat pembuatan senjata, uang, dan lainnya, belum bisa dikonfirmasi oleh sumber-sumer valid. Yang jelas data yang diperoleh Litbang Kipahare bahwa tempat ini adalah pabrik kina skala besar yang dibangun Jepang di Sukabumi.

BACA JUGA:

Cinta sejati untuk Ameri: Gadis Sukabumi tak sempurna yang membutakan hati pria bermata biru

Wisma Wisnuwardani Sukabumi dan kisah tragis sang notaris

[4] Selesai dibangun sebulan sebelum Jepang Menyerah

Dalam Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, Juli 1946, ternyata Belanda sudah mengincar pabrik peninggalan Jepang yang besar ini. Pada masa Hindia Belanda hanya ada satu Pabrik Kina di Jawa Barat, yaitu di Bandung yang bernama Bandoengsche Kinine Fabriek NV.

Tanaman yang dibawa oleh Junghunn ini juga tersebar di Sukabumi dan memasok 90% kebutuhan kina dunia melalui Bandung. Jepang yang memiliki kebutuhan tinggi akan kina melihat potensi ini di dua wilayah yaitu Sukabumi dan Garut.

Desentralisasi produksi kina ini juga menghindarkan risiko pemboman sekutu terhadap Pabrik Kina di Bandung. Akhirnya dua pabrik baru pun dibangun, yaitu di Tegal Panjang, Kabupaten Sukabumi dan di Cikembang, Kabupaten Garut.

Keberadaan perkebunan kina di Sukabumi memang sudah lama, Perkebunan Sinagar di Distrik Ciheulang sudah menanam komoditas ini sejak 1893. Semenjak itu, setidaknya ada lima perkebunan yang menanam kina di Sukabumi, tersebar di Distrik Cicurug, Jampang Tengah, dan Gunung Parang di antaranya Pandjang Estate di lereng Gunung Pangrango. Kemudian Perkebunan Pasir Telaga di Nyalindung, Perkebunan Pandan Aroem, Perkebunan Jayanegara di Kabandungan, dan Perkebunan Ciwangi di Cireunghas.

Bisa jadi kedekatan dengan Cireunghas yang menjatuhkan pilihan Jepang untuk membangun pabrik kina di Tegal Panjang di samping lokasinya yang tersembunyi dari pantauan pesawat sekutu. Pabrik ini dibangun pada September 1943 dengan biaya 4.500.000 Gulden (NLG), sementara di garut dibangun sebulan setelahnya dengan biaya dua kali lipat, 9.500.000 NLG.

Pembangunan pabrik yang disebut sebagai Rikuyun Kinine Seizoysho ini tidak bisa cepat, mengingat konsentrasi Jepang terpecah dengan peperangan yang semakin membuatnya terdesak ke ambang kekalahan. Pada akhirnya, pembangunan pabrik dapat diselesaikan sepenuhnya pada Juli 1945, meskipun hanya mampu memproduksi 90% dari kapasitas yang diproyeksikan yaitu 115 ton, dan 100 kina sulfur untuk Sukabumi dan Garut.

Sayangnya, Jepang keburu menyerah kepada pasukan sekutu pada 14 Agustus 1945, sehingga pabrik yang baru dijalankan itupun berhenti total beroperasi.

Pada saat penyerahan, stok gudang kina di Tegal Panjang mencapai 161 ton, namun kemudian terjadi penjarahan sehingga sisa stok di tinggal 2.000 kilogram saja.

Nampaknya temuan ini paralel dengan keterangan masyarakat bahwa sebagian infrastruktur belum selesai dibuat seperti jalur kereta lori menuju Stasiun Cireunghas. Pantauan tim REK ke Stasiun Cireunghas juga tak menemukan tanda-tanda bekas lintasan rel, selain jalur utama Sukabumi-Ciajur.

[5] Pengambilalihan Pabrik Kina dan pengrusakan awal

Keberadaan pabrik ini memang menyisakan pedih bagi masyarakat sekitar. Konon, warga yang tinggal di situ diminta pergi oleh tentara Jepang tanpa uang pembebasan lahan, para pekerja pun diperlakukan dengan sistem romusha atau kerja paksa, sehingga banyak pekerja bangunan yang terbunuh di tangan Jendral Saptuji, pimpinan tentara Jepang.

Aoh Kartamihardja menyebutkan dalam bukunya berjudul Manusia dan Tanahnya, masyarakat Tegal Panjang dan Cipriangan banyak yang tewas akibat romusha baik dalam pembuatan jalan maupun Pabrik Kina tersebut. Hal ini tentunya menimbulkan dendam masyarakat terhadap keberadaan kompleks ini.

Dalam buku Sejarah Sukabumi yang disusun Ruyatna Jaya disebutkan, pabrik ini kemudian diambil alih para pejuang saat hari kedua pengambilalihan kekuasaan di Sukabumi. M Kosasih yang memimpin pengambilalihan kekuasaan di Sukaraja membagi dua jurusan, yaitu Jurusan Tegal Panjang meliputi pengambilalihan Pabrik Kina dan Gedurahayu, Pabrik Teras di Cireunghas, dan Pabrik Tegel di Tegal Panjang yang dipimpin H. Abdullah, Acep Basarah, Uyeh, Muhyidin, dan Ahromi.

Namun kemudian saat agresi militer Belanda Juli 1947, pabrik ini ditinggalkan. Dalam laporan Nieuwe Courant dan Algemeen Indisch Dagblad, Agustus 1947, para pejuang melakukan politik bumi hangus dengan menghancurkan banyak pabrik, toko, dan gudang-gudang. Pabrik Tekstil Tjiboenar yang berkapasitas produksi satu juta meter per bulan pun ikut dibakar, meski sebagian mesin selamat karena hujan lebat. Baca catatannya Menjahit catatan sejarah sisa amuk massa di Pabrik Tekstil Tjiboenar Kadudampit Sukabumi

Dua percetakan rusak parah karena dibakar, Pabrik Tekstil Oey juga rusak, namun penggilingan padi di Karang Tengah serta Pabrik Kina di Tegal Panjang dikabarkan selamat dari aksi pembakaran. Dimungkinkan perusakan terjadi sedikit demi sedikit oleh masyarakat pasca agresi militer tersebut karena tidak adanya penguasaan pasukan Belanda terhadap kompleks tersebut.

Dua tahun sesudah agresi Belanda, Princen (tentara Belanda yang bergabung dengan tentara Siliwangi) yang memasuki Tegal Panjang, menyebutkan bahwa tempat yang terkenal dengan sebutan Pabrik Kina itu kondisinya sudah rusak parah. Hanya tersisa puing dengan rumput dan ilalang yang tinggi.

Pada 1952, Bung Karno berkunjung ke Sukabumi dan memberi kesempatan masyarakat yang mengklaim tanah bekas Jepang untuk disahkan, akhirnya masyarakat berbondong-bondong menguasai kompleks Pabrik Kina tersebut. Sisa-sisa bangunannya dihancurkan dalam proses yang panjang karena temboknya yang sangat kokoh.

Konon, sampai akhir 1970-an masih terdapat sisa turbin dan piano di bangunan tersebut, namun akhirnya dirusak dan dijadikan kayu bakar, dan kawatnya dibawa oleh warga. Sisa bangunan pabrik yang utuh terlihat adalah bekas dudukan mesin dan tembok besar dengan dua terowongan.

Isu mengenai adanya harta karun berupa emas juga menyebabkan penggalian liar oleh penduduk, sehingga akhirnya harus merusak struktur bangunan. Akhirnya yang tersisa hanyalah puing dan sisa pondasi di antara hamparan sawah belaka.

Sayang banget ya, Gaess, bangunan ini tak bisa diselamatkan bahkan kisahnya pun sempat simpang siur.

Sejarah memang perlu diluruskan, karena sejarah merupakan peristiwa masa lalu atau rekaman peristiwa masa lalu yang serpihannya disatukan membentuk gambar sejarah.

Meskipun imajinasi diperlukan oleh sejarawan untuk merangkai dan membayangkan bagaimana suasana dan keadaan dalam suatu peristiwa dalam sejarah tersebut, namun sejarah membutuhkan bukti-bukti kongkrit untuk membuktikan rangkaian kisahnya, karena  sejarah bukanlah fantasi.

Di sisi lain, belajar dari kasus penghancuran situs ini, kita menyadari bahwa meskipun pelabelan Hiroshima 2 ini kurang pas, namun bisa jadi memiliki peran khusus dalam menarik perhatian masyarakat untuk turut melestarikan situs ini. Seperti halnya julukan di tempat lain misalnya Parijs van Java dan Switzerland van Java yang sebenarnya hanya gambaran dan bukan perbandingan sesungguhnya, namun menjadi penarik minat traveller untuk mengunjunginya.

Tanpa julukan Hiroshima 2, mungkin orang tak peduli dan situspun akan hilang selamanya. Biarlah julukan ini menjaga kelestarian situs, supaya sejarahnya tetap bisa digali.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *