Wisma Wisnuwardani Sukabumi dan kisah tragis sang notaris


Irman Sufi Firmansyah

Writed by: Irman Sufi Firmansyah
Editor by: Feryawi
12 Apr 2019 | 4:55 WIB


Sebagai tokoh masyarakat yang disegani, Beijen juga dikenal karena memperjuangkan hak-hak pekerja Sukabumi dengan usulan peninjauan upah.

Hai gen XYZ Sukabumi, jika kalian menyusuri Jalan Suryakencana kemudian berbelok menuju Jalan Bhayangkara, pandangan kita akan tertuju pada sebuah gedung tua yang megah tidak jauh dari pertigaan jalan. Bangunan tersebut bergaya kolonial dan berdiri kokoh, dan populer disebut Wisma Wisnuwardani. Satu sisinya nampak dihiasi bentuk menara unik, diantara bangunan di sekitarnya yang sudah modern, bangunan ini seolah menyendiri di Jalan Bhayangkara no. 129.

Bangunan ini seolah menjadi saksi kisah masa silam yang terkubur di balik lantai, pintu dan jendela-jendelanya yang tinggi. Namun, kisah para penghuni Wisma Wisnuwardani hingga kini masih menyisakan misteri.

Sebelum terkoyak masa dan tergerus oleh zaman, sekelompok pria tergabung dalam Reenactor Explore Kipahare (REK) dan Front Bekassi mencoba menggali lebih dalam butiran-butiran kisah yang terpendam di langit-langit sunyi Wisma Wisnuwardani.

Nah, Gengs, mulailah menyiapkan konsentrasimu, kita mulai ikuti penjelajahan ini kuy.

[1] Lebih tua dari bangunan lain di Setukpa Polri

Minggu pagi yang cerah, 7 April 2019 lalu, sekelompok pria yang mengenakan kostum ala pejuang tersebut memasuki pelataran Wisma Wisnuwardani.

Dari pintu gerbang nampak bangunan tua tersebut berdiri gagah. Namun, lumut-lumut di kaki-kaki rumahnya menjadi pertanda usianya yang tak lagi muda.

Ruas jalan masuk yang dulu menjadi lalu lalang para tamu, nampak agak basah seolah menyisakan butiran-butiran embun kenangan. Warna kecoklatan pada bagian bangunan menghiasi langkah para penjelajah sejarah tersebut saat memasuki bangunan.

Kemudian sudut-sudut yang masih menyisakan kemegahan, diabadikan oleh Heri Sake dari REK, dibantu rekannya Saeful Ikhayat dan Abek Risnandar dengan menampilkan beberapa foto lama yang memuat keterangan Woning van notaris H Schotel te Vogelweg nummer 6. Foto-foto tersebut kemudian dibuat reka ulangnya dengan menggunakan kostum masa perjuangan.

Bangunan tersebut berdenah asimetris seperti yang tampak pada bangunan induk. Sementara pada bagian belakang, ada pelataran diapit lorong panjang yang sebagian sudah terlihat baru, hanya sisi kiri yang nampak masih asli. Bangunan induk ditopang batu setinggi satu meter dengan tujuh anak tangga.

Atap yang digunakan dalam  bangunan ini adalah limasan, sementara atap belakang berbentuk seperempat lingkaran mengikuti ruangan yang mungkin diperuntukan untuk pertemuan. Pada sisi depan, terdapat lukarne (jendela angin) dengan menggunakan dua buah daun pintu.

“Wisma ini terlihat lebih tua dari bangunan-bangunan yang dimiliki Setukpa (Sekolah Pembentukan Perwira) Polisi lainnya,” ungkap Beny Rusmawan dari Komunitas Front Bekassi. “Melihat gayanya, nampak berbeda dengan rumah yang ada di sekitar sekolah polisi yang kebanyakan menggunakan tulangan dan sistem gebyok,” imbuhnya.

Sementara, Randy Wirayudha menyayangkan di bagian barat bangunan terutama bagian atap, sudah keropos dan hancur akibat guyuran air hujan. “Disayangkan keberadaan kedai di sampingnya tidak mengikuti model arsitektur rumah tersebut, sehingga kelihatan “numpang dan jomplang” serta jauh dari nilai-nilai estetis.

Para pegiat pelestari cagar bangunan bersejarah ini bertekad untuk menyelamatkan dan mengangkat kembali sejarah bangunan ini melalui sebuah kerjasama, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara bangunan bersejarah ini.

[2] Rumah milik anggota dewan kota

Entah kapan tepatnya rumah ini dibangun, namun saat membuka satu per satu jendela wisma ini, terbayang aktvitas dan kesibukan pada masa lalu di rumah ini. Namun, berdasarkan berita koran pada masa itu, sang pemilik rumah bernama P. Beijen, seorang Eropa yang disebut sebagai warga tua terhormat di Sukabumi.

Sungguh menarik menelisik bagaimana Beijen mengatur waktu jika melihat kiprahnya di pelbagai bidang. Beijen adalah sosok yang disegani di Sukabumi karena selain berbisnis, ia juga aktif di pemerintahan dan komunitas-komunitas Eropa. Salah dua aktivitas bisnisnya adalah menjadi agen perusahaan asuransi jiwa bernama “Dordrect”, dan menjadi direktur NV Vraagen en Aanbod.

Di lembaga pemerintahan, Beijen tercatat pernah menjadi anggota Dewan Kota Sukabumi dan Dewan Kabupaten Sukabumi. Ia juga menjadi  Ketua Divisi Uni Indo Europeanesch (Indo Europeeesch Verbond/IEV) dan aktif di gereja Katolik. Kesibukannya masih ditambah dengan hobinya memainkan piano, dan kerap tampil dalam aktivitas pertemuan komunitas atau keagamaan mewakili Sukabumi.

Sebagai tokoh masyarakat yang disegani, Beijen juga dikenal karena memperjuangkan hak-hak pekerja Sukabumi dengan usulan peninjauan upah. Selain itu, ia juga memrakarsai peningkatan sumber daya manusia di Departemen Sosial dan pernah mengkritisi model pengajaran di Sukabumi.

Sementara itu, sang istri aktif berkegiatan mendukung suaminya, seperti menjadi Ketua IEEVO, sebuah perkumpulan kerajinan tangan yang rutin mengadakan pelatihan seminggu dua kali di Alun-alun Kota Sukabumi. Keduanya dinilai pasangan dermawan karena sering menjamu tamu yang mengunjunginya di Sukabumi, termasuk suka mendonasikan uangnya untuk penyelenggaraan acara hiburan dan musik.

Pasca meninggalnya Beijen pada 6 Mei 1930 dalam usia 61 tahun, keluarganya membuat pengumuman penjualan rumah tersebut. Penjualan dilakukan melalui Bataviaasch Nieuwsblaad yang disebutkan sebagai bangunan indah, berisi beberapa paviliun di sebelah bangunan utama yang akan dijual kepada publik pada 1 Agustus 1931 itu.

BACA JUGA:

Kisah perdebatan Nyai Roro Kidul yang ingin hidup sampai kiamat, netizen Sukabumi tahu?

Wanita Sukabumi (Part 4): Kartiwi kekasih Lettu Bakrie dari Cibadak, kisah pilu masa perjuangan

Petaka cinta segi tiga di Kalapanunggal Sukabumi menjadi headlines media Eropa

[3] Sibuknya rumah melayani orang-orang yang bermasalah dengan hukum

Dalam perkembangan Kota maupun Kabupaten Sukabumi, wisma pernah dihuni notaris Hendrik (Harry) Schotel yang sebelumnya berpraktek di Batavia sangat berperan terutama dalam sejarah kepemilikan tanah serta perjanjian-perjanjian hukum lainnya. Schotel menggantikan notaris sebelumnya yaitu H. Tollens sebagai notaris hukum sipil dan mastervendum pada awal Desember 1922. Tollens sendiri kemudian diangkat menjadi notaris Bandung menggantikan Tellema hingga meninggal pada Mei 1926.

Pergi meninggalkan Batavia menuju Sukabumi dengan segenggam harapan, Schotel menemukan sebuah bangunan strategis yang cocok untuk urusan kenotariatan. Lokasinya tidak jauh dari sekolah polisi dan berada di sebelah utara grote postweg sehingga mudah diakses dari Selabatoeweg.

Bisa dibayangkan ya, Gengs, dari mulai aktivitas jual beli, beralihnya kepemilikan tanah, bangunan, hingga akte kelahiran, ia urus. Nelum lagi dari perkebunan yang membentang dari perbatasan Cianjur hingga perbatasan Bogor. Belum lagi dokumen-dokumen hukum dari kaki Gunung Gede hingga pantai Palabuhanratu, dari penduduk biasa hingga instansi pemerintahan, semua diurus di rumah ini.

Setiap orang yang berurusan dengan perjanjian urusan tanah di Sukabumi saat itu, dipastikan melalui Schotel, karena pada masa pemerintahan Hindia Belanda menganut notaris tunggal untuk wilayah-wilayah. Kuota notaris ditetapkan pemerintah supaya notaris mendapatkan penghasilan layak.

Sukabumi saat itu cukup banyak ditinggali para pengusaha perkebunan yang selalu berurusan dengan hak guna usahanya. Selain itu, pasca ditetapkannya Sukabumi sebagai gemeente, transaksi jual beli tanah dan rumah pun kian meningkat aktivitasnya.

Schotel mencapai puncak kariernya saat mulai aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, dia terjun ke dunia olah raga sepak bola dan menjadi Ketua kehormatan saat bertanding dengan tim dari kota lain. Schotel juga pernah menjadi Presiden Asosiasi Indo Eropa (IEV) dan berkontribusi penting pada bisnis perkebunan di Sukabumi. Keberhasilannya tak lepas dari kepiawaiannya merangkul para pengusaha dan juga para pejabat pemerintahan.

[4] Akhir tragis sang notaris

Jalan hidup seseorang tentu tidak bisa ditebak, manusia hanya bisa merencanakan, namun Tuhan pulalah yang menentukan. Schotel sempat mengalami shock tatkala terjadi kecelakaan yang menimpa putrinya yang baru beruia 17 tahun di Batavia, pada Mei 1928. Saat itu, anak gadis bersama sopir dan ibunya dengan ditemani Pepping (nama aslinya Ghanda Suwasti, seorang penari India) berangkat ke Batavia dari Sukabumi dengan mobil Buick tujuh seat.

Sekira pukul 14.00, mobil terus melaju melewati persimpangan Menteng-Nieuw Gondangdia, namun Pepping tidak menyadari saat trem listrik melintas di depannya. Saat melintasi rel trem, Pepping kaget dan mengerem mendadak untuk menghindari pedagang yang menyebrang tiba-tiba. Akibatnya, trem menghantam bagian belakang mobil hingga terlempar dan menabrak tiang lampu lalu lintas. Mobilpun rusak parah di bagian depan dan belakang, sedangkan trem tergelincir.

Putri Schotel terlempar ke kaca depan dan mendapat luka serius, sementara penumpang lainnya bisa diselamatkan polisi dan keluar dari bagian belakang dengan hanya mengalami luka ringan.

Mereka kemudian dikirim menggunakan sebuah ambulans ke rumah sakit CBZ (sekarang RSCM) sedangkan Schotel diberitahu mengenai kejadian itu melalui telpon. Schotel sangat terpukul dengan kejadian tersebut, meskipun beberapa hari kemudian putrinya tersebut pulih dan kembali ke Sukabumi.

Semenjak itu Schotel mulai sakit-sakitan dan hanya terbaring di tempat tidur untuk waktu cukup lama. Hal ini menyebabkannya harus absen sebagai notaris dan mengajukan cuti pada 29 November 1929.

Mei 1930, Beijen meninggal dunia. Hal ini membuat pihak keluarganya berencana menjual aset-asetnya untuk bertahan hidup. Sesudah cutinya berakhir pada 1 November 1930, Schotel masih belum mampu untuk bekerja, sehingga akhirnya diberhentikan sebagai notaris dan posisinya digantikan oleh A.W.F Bakker.

Situasi ini menjadi beban berat bagi Schotel dan keluarga, dalam keadaan sakit dan terpuruk. Akhirnya ia segera mencari rumah sewa baru karena ahli waris Beijen memutuskan untuk menjual rumah yang ia tinggali itu. Tengat waktu yang diberikan hingga 1 Agustus 1931, sesuai pengumuman di koran.

Setahun kemudian, tepatnya 12 Juli 1932, sesudah menderita akibat sakit yang dideritanya, Schotel meninggal dalam usia 56 tahun. Pemakamannya dihadiri Asisten Residen Sukabumi dan Wali Kota Sukabumi, kemudian dari I.EV. diwakili Camoenie, dan I.K.P. diwakili Durr. Selain itu, notaris penggantinya, Bakker, juga hadir.

[5] Melahirkan perenang gemilang

Bangunan ini tetap berdiri kokoh hingga kemudian dimiliki Setukpa Polisi untuk tempat tinggal para dosen. Kini, Wisma Wisnuwardani seolah tengah menunggu kisah selanjutnya yang akan dijalani oleh para penghuni berikutnya.

Tatkal masa berganti, saat Jepang menyerang, mereka menyesuaikan fungsinya menjadi tempat bagi para pejabat menengah Jepang menginap saat berkunjung ke Sukabumi.

Namun, pasca-merdeka, rumah ini kembali dijadikan tempat para dosen sekolah polisi yang tinggal bersama keluarganya. Tahun 1949 rumah ini kemudian diisi guru sekolah polisi dari negeri Belanda bernama Terpstra. Dia datang bersama istri dan tiga anaknya, Joke (11), Erica Georgina Terpstra yang masih berusia 6 tahun, dan Onno yang berumur 15 bulan lebih muda dar Erica.

Terpstra dan keluarga tinggal dengan nyaman karena disediakan beberapa pembantu. Erica yang bertubuh mungil bersekolah di sekolah dasar di Sukabumi, tubuhnya Erica yang kecil mengundang perhatian dokter, yang kemudian merekomendasikan untuk berenang agar cepat tumbuh, meskipun dokter menilai Erica terlalu muda untuk melakukannya.

Erica pun mulai berenang di Prana yang letaknya tidak begitu jauh dari kediamannya. Ia memulai pelajaran renang pertamanya di kolam renang tersebut, pelajaran yang di kemudian hari merubah jalan hidupnya. Erica sangat menyukai olahraga ini, sehingga hampir setiap hari ia meminta diantar ke Prana untuk menyalurkan hobinya.

Erica melalui hari-harinya dengan bahagia dan nampak selalu ceria tinggal di rumahnya yang berada di lingkungan asri nan indah di Sukabumi. Terlebih, masyarakat sekitar sangat ramah dan selalu hangat menyambut kehadirannya. Erica bahkan tak canggung berteman dengan penduduk Sukabumi yang beretnis Sunda.

Namun, situasi politik di Indonesia berubah setelah Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah Indonesia. Saat itu, terjadi persoalan politik pelik mengenai isi kesepakatan yang konon dilanggar oleh pihak Belanda terkait persoalan Irian Barat.

Pemerintah Indonesia mulai bersikap kurang ramah kepada orang-orang Belanda, pun sebagian masyarakat menunjukan kebenciannya dengan berbagai cara. Tak terkecuali kepada Erica, seringkali ia dilempari kelelawar mati atau tikus busuk saat melewati sekelompok penduduk setempat. Muncul pula ancaman-ancaman kurang mengenakan terhadap orang tuanya, hal ini membuat Terpstra sekeluarga merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk kembali ke negeri Belanda.

Bagi Erica, hal ini sangat berat karena ia ingin menjadi perenang di negeri ini, namun realitas politik yang harus dihadapi, membuat mimpinya harus terkubur di rumah itu.

Jauh di negeri sebrang sana, Belanda, Erica melanjutkan hobi renangnya dan mengikuti jenjang profesional. Ia menekuni gaya bebas 100 meter selama beberapa tahun hingga berpartisipasi dua kali di Olimpiade, yaitu di Roma (1960) dan di Tokyo (1964). Pada penampilan terakhirnya di Olimpiade, Erica berhasil memenangkan medali perak untuk medley 4 x 100 meter dan meraih medali perunggu di nomor tersebut.

Erica juga pernah menjadi juara Eropa pada 1962, dan beberapa kali meraih juara nasional. Sebuah prestasi luar biasa, prestasi yang dimulai dari Wisma wisnuwardhani dan Kolam Renang Prana, Sukabumi.

Wisma Wisnuwardani, hingga kini masih menyimpan kenangan yang menembus kesadaran kita, seolah terjaga dari mimpi panjang bahwa bangunan ini begitu berarti. Puluhan tahun wisma ini menaungi para penghuninya yang datang silih berganti mengisi lembaran-lembaran kisah keberadaannya sejak fajar memendar cahaya, hingga malam datang menjemput gelap.

Wisma Wisnuwardani selalu setia mengikuti berputarnya waktu dan merekam langkah-langkah manusia-manusia yang melintasinya setiap hari. Bangunan tua bersejarah yang seolah selalu melambaikan tangannya, meminta siapapun yang berada di dekatnya untuk sekadar mampir, menyapa, dan merawat raganya yang kian uzur.

Hingga nanti, bahkan hingga jutaan tahun lagi, Wisma Wisnuwardani ingin tetap kokoh berdiri. Bukan inginkan masa mudanya kembali, hanya ingin dikenang dan diziarahi sebagai bangunan yang penuh arti.

Wisma Wisnuwardani selalu sabar menanti, memaku zaman meniti masa yang dinanti, menunggu anak cucumu datang bertamu, kemudian bersama-sama memeluknya agar tetap lestari.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

3 tanggapan untuk “Wisma Wisnuwardani Sukabumi dan kisah tragis sang notaris

  • 12 April 2019 pada 09:35
    Permalink

    Semoga kita bisa menjaga dan melestarikan wisma ini dan bangunan sejenisnya beserta sejarah dan cerita-cerita yang melekat bersama rentang waktu…

    Salut kang Irman dan SukabumiXYZ.com

    Balas
  • 6 Juni 2019 pada 14:30
    Permalink

    Luar biasa, saya lahir dan besar di sukabumi, tp baru tau kalau bangunan tua ini kantornya H. Tollens yg tanda tanganny ada di surat obligatie buyut saya dengan bahasa belanda dan cap merah semacam materai bertuliskan H. Tollens.

    Hatur nuhun infona.

    Balas
  • 6 Juni 2019 pada 14:43
    Permalink

    Luar biasa, saya lahir di sukabumi dan di besarkan di sukabum, tp baru tahu kalau bangunan tua itu kantornya Notaris Hendrick Tollens yang tanda tangannya tertoreh di surat obligatie eyang buyut saya dengan bahasa Belanda dan cap merah seperti materai yang bertuliskan H. Tollens.

    Hatur nuhun Kang Irman – Sukses selalu buat Akang.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *