Petaka cinta segi tiga di Kalapanunggal Sukabumi menjadi headlines media Eropa

Walaupun usus terburai keluar dari perutnya, namun Doorman masih mampu menulis pada secarik kertas.

Pernikahan antar ras atau interacial marriage sempat menjadi masalah yang rumit dan berujung pembunuhan berencana. Kisahnya sungguh mengenaskan sekaligus memilukan, karena melibatkan seorang ibu dan anak-anaknya.

Ya, semua berawal dari cinta segi tiga yang menyesakkan dada saat petaka tragis menimpa van Doorman, seorang mantan Deliplanter, pengusaha perkebunan di Deli, Sumatera Utara, yang dikenal sebagai pembela hak-hak rakyat. Ia seringkali memprotes aturan pasar teh di Priangan Barat yang terus menurunkan harga, dari 14 Gulden turun ke 8 dan kemudian ke 7 Gulden, sehingga merugikan penduduk. Hal itu dinilai Doorman sebagai tindakan tidak ekonomis, dan dapat mengancam bagi ketertiban di masyarakat.

Kematian Doorman yang diakibatkan pembunuhan di Kampung Cipasung, Desa Gunung Endut, Kecamatan Kalapanunggal (saat itu masuk wilayah Parungkuda), Kabupaten Sukabumi, yang menyedot perhatian publik tanah air dan Benua Biru, Eropa. Kasus pembunuhan ini sangat menghebohkan sehingga menjadi headlines dan diberitakan dalam waktu lama oleh media-media nasional maupun internasional.

Simak kuy Gaess, bagaimana jalan kisahnya.

1. Dipicu oleh cinta segitiga

Kisah tragis ini dimulai sejak ia membeli lahan di daerah Cipasung, Gunung Endut, Kecamatan Kalapanunggal, dan mempekerjakan seorang pembantu asal Parakansalak, bernama Nyi Asmanah. Tak hanya di Cipasung, Asmanah juga dibawa Doorman ke Deli, untuk membantunya sekaligus sebagai nyai. Dari Asmanah, Doorman memiliki lima anak, sementara yang hidup hanya tiga orang, yaitu Christian Lodewijk Doorman (Chris), Willem Hendrik Doorman (Wim) dan Agatha Charlotte Wilhelmina Doorman (Agatha).

Setelah lama menjadi Nyai, Asmanah kemudian dinikahi Doorman untuk melegalisasi anak-anaknya. Selepas dari Deli, Doorman sempat kembali ke Kalapanuggal, lalu kembali bekerja di daerah Sawangan (Depok). Di Depok itulah ia mempekerjakan seorang pembantu beretnis Tionghoa (kakak dari salah seorang pegawainya), bernama Tan Ie Pit Nio (Ipit), dan kemudian menjadikannya sebagai Nyai.

Namun, Doorman tak bekerja lama, ia dipecat karna ditenggarai melakukan penipuan hingga akhirnya kembali ke Kalapanunggal, kepada istri dan anaknya. Dari sinilah persoalan muncul, terjadi kecemburuan Nyi Asmanah atas kehadiran Ipit di rumahnya. Doorman juga berselisih dengan anaknya, bahkan mengusir anak istrinya untuk keluar dari rumah.

Doorman tidak lama berada di Kalapanungal, karena kemudian ia bekerja di sebuah Bank Afdeling di Kabupaten Majalengka, dengan membawa serta Ipit serta anak bungsunya, Agatha. Konon selama berada di Majalengka, terus menerus terjadi percekcokan antara ayah dan anak gadisnya tersebut.

Seperti halnya di Depok, pekerjaan di Majalengka pun tidak berlangsung lama, dan Doorman kembali ke Cipasung. Ia kemudian menempatkan Ipit di sebuah favilyun tidak jauh dari rumahnya. Selang beberapa bulan, Ipit melahirkan seorang anak, namun anak tersebut meninggal dunia sebelum dewasa.

Doorman sangat tidak mempercayai Nyi Asmanah dan anak-anaknya, ia mencurigai istri sah dan anak-anaknya tersebut telah meracuni anaknya dari Ipit. Akibatya, pertengkaran demi pertengkaran pun kerap terjadi antara Doorman dengan Asmanah dibantu anak-anaknya yang sudah dewasa.

BACA JUGA:

Catatan dari Paris: Menyingkap alasan pria Eropa jatuh cinta kepada penari Sari Oneng Sukabumi

Wanita Sukabumi (part 1): Dari Nyi Pudak Arum hingga feodalisme yang mereduksi marwah wanita

Pelaku bukan gigolo, ini 5 fakta kasus pembunuhan wanita cantik asal Sukabumi

2. Kebengisan Doorman terhadap keluarga

Doorman memmiliki postur tubuh tinggi kekar sehingga terkesan seorang jagoan, belum lagi sikapnya yang temperamental. Ia tak hanya galak kepada manusia, tetapi juga kerap bersikap bengis terhadap ternak milik warga. Jika dianggapnya mengganggu, maka tak segan ia menembaknya begitu saja. Hal ini membuat banyak pemilik ternak merasa kesal dibuatnya, namun juga tak mampu berbuat apa-apa.

Wajar jika hampir semua warga setempat tidak memiliki nyali untuk berselisih dengannya, karena jika ada orang yang tidak disukainya, tak segan Doorman akan menampar atau memukul orang tersebut, tidak terkecuali anak-anaknya sendiri jika membuatnya jengkel. Hal ini rupanya membuat anak-anak Doorman memiliki dendam yang tak pernah terungkapkan, ditambah tingkahnya yang sering bersikap kurang ajar terhadap ibu mereka.

Bukan sekali dua kali anak dan istrinya kerap dipukul dan ditendang jika dianggap melakukan kesalahan, kondisi ini pada akhirnya malah berbalik menimbulkan ketakutan kepada diri Doorman bahwa suatu saat dia akan dicelakai oleh anak dan istrinya.

Doorman kemudian memutuskan untuk pindah ke rumah Ipit di favilyun dan terus mengawasi anak istrinya dari situ. Perilaku Doorman juga dirasa oleh anak istrinya tidak adil karena mereka tidak diberi nafkah, namun diminta mengawasi pekerjaan dan diberi upah seperti layaknya pekerja.

Sehari sebelum terjadi pembunuhan terhadap Doorman, ternyata Agatha melihat ibunya dipukuli oleh ayahnya dengan tongkat. Dalam kesaksian di pengadilan, diketahui bahwa dendam anak-anaknya menyebabkan mereka melakukan pembalasan seperti menyemprotnya dengan air cabai, dan bahkan pernah terpikir untuk menyantetnya.

Perlakuan buruk Doorman kian menjadi setelah Agatha dinikahkan oleh Asmanah dengan seorang mandor pribumi. Sebagai orang Eropa terhormat, Doorman merasa terhina memiliki menantu seorang pribumi, meskipun istrinya sendiri orang pribumi.

3. Pembunuhan berencana menghilangkan nyawa

Hingga pada suatu hari, kekesalan ibu dan anak-anaknya tersebut mencapai klimaksnya. Mereka pun memutuskan untuk melakukan perbuatan keji, membunuh Doorman! Rencana ini sudah dilakukan sejak Desember 1924 dengan menyuruh pekerjanya bernama Amat untuk mencari seorang pembunuh bayaran ke daerah Ciampea dan Dramaga, Kabupaten Bogor.

Amat kemudian kembali ke Cipasung dengan membawa serta Agoes, Entong, dan Darma untuk menemui Willem dan Nyi Asmanah di rumah salah seorang warga bernama Bah. Mereka bertemu kembali pada Januari dan Februari 1925 untuk mematangkan rencana.

Setelah dirasa cukup matang, rencana eksekusi pun diputuskan pada hari Senin (15 Februari 1925), Wim dan ketiga algojo sepakat aksi akan dilakukan pada hari Kamis. Selain itu, pada hari yang sama juga dibahas soal komitmen setelah aksi dilakukan. Ketiga pembunuh bayaran itu dijanjikan hadiah 600 Gulden, plus jaminan kebutuhan dan diurus pembebasannya.

Setelah disepakati semuanya, rencana pembunuhan pun dipercepat menjadi Rabu, 17 Februari 1925. Hal itu karena pada Selasa (16 Februari 1925) kembali terjadi aksi pemukulan terhadap Nyi Asmanah oleh van Doorman, sehingga badan sang istri babak belur dibuatnya.

Rabu pagi, Wim memberikan sebilah pisau, dan melengkapi ketiga algojo dengan sarung dan sapu tangan untuk menutupi wajah. Sesudah melakukan pengintaian setengah jam lamanya, sekira pukul 07.00 WIB, Agoes, Entong, dan Darma kemudian melipir ke bagian belakang rumah, bersembunyi, mengendap, sambil menunggu momen yang tepat.

Dua jam kemudian, sekira pukul 09.00 WIB, ketiga pelaku melihat Doorman tengah duduk santai di teras favilyun. Ketiganya kemudian mengendap sambil mendekat, lalu menyergap, dan kemudian langsung memegangi tubuh korbannya. Salah seorang pelaku memegangi kaki Doorman, satu memegangi kedua tangan, dan satu lainnya mengancam dengan pisau menempel di leher korban.

“Jika mau uang, ambillah di lemari!” Teriak Doorman.

Namun, ketiga algojo tersebut malah langsung melakukan serangan bertubi-tubi dengan senjata tajam di hampir semua bagian vital tubuh Doorman.

4. Usus terburai namun masih mampu menulis

Doorman ditikam beberapa kali dalam posisi duduk, sehingga tak sempat melakukan perlawanan berarti karena dua pelaku lain memegangi tubuhnya. Tikaman di tubuhnya tersebut mengakibatkan dua luka di perut dan kaki, satu luka sepanjang sembilan sentimeter di perut antara pusar dan tulang rusuk kiri, menembus seluruh dinding perut. Usus pria yang terkenal bengis itupun teburai.

Sedangkan pada bagian dalam kaki kiri bawah, pada lutut bagian bawah, juga terdapat luka sepanjang enam sentimeter, dan luka lima sentimeter di bagian tangan kirinya. Melihat kondisi Doorman yang terkapar dengan tubuh penuh luka, membuat ketiga pembunuh bayaran itu yakin jika korbanya sudah tewas. Sebelum kabur, ketiganya sempat menjarah isi lemari untuk mencuri uang tunai, jam tangan, dan perhiasan.

Keributan di teras favilyun membuat Ipit terentak dan berteriak meminta tolong, sehingga warga pun berdatangan menolong korban yang ternyata masih hidup. Doorman kemudian digotong warga ke tempat tidurnya. Doorman sempat meminta pena dan tinta kepada Ipit, kemudian menuliskan kejadian nahas yang dialaminya tersebut pada selembar kertas.

Polisi dan kepala desa pun datang ke tempat kejadian, begitu pula Nyi Asmanah dan anaknya, datang dengan deai air mata. Tidak lama setelah itu, Doorman kemudian dibawa dengan menggunakan gerobak ke menuju Parungkuda untuk dibawa ke rumah sakit di Kota Sukabumi. Namun, baru juga sampai di daerah Bojonggenteng (Pasir Berekah), pria nahas itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Sebelum meninggal Doorman sempat mengatakan bahwa dia mengetahui pembunuhan tersebut akan terjadi, dan meminta Chris menjaga Asmanah dari anak-anaknya yang jahat.

Seminggu setelah peristiwa pembunuhan, polisi mengendus keterlibatan anak-anak Doorman, sehingga ketganya disel. Sesudah melalui beberapa kali interogasi, akhirnya polisi menemukan titik terang, setelah menemukan tulisan tangan Doorman yang menjadi kunci terkuaknya kasus tersebut.

Tanpa membuang waktu, polisi kemudian menangkap ketiga tersangka Agoes, Entong, dan Darma, serta pihak keluarga yang terlibat.

5. Menjadi headlines media dan diabadikan dalam sebuah novel

Peristiwa pembunuhan di Cipasung itupun, membuat geger publik. Bahkan, media-media lokal, nasional, hingga internasional pun tak urung memberitakan dan menjadikannya sebagai headlines selama beberapa bulan lamanya.

Media-media yang memberitakan peristiwa tersebut antara lain, De Gooi- en Eemlander: Nieuws- en Advertentieblad, De Tijd: Godsdienstig-Staatkundig Dagblad, Haagsche Courant, Voorwaarts: Sociaal-Democratisch Dagblad, Bataviaasch Nieuwsblad, Het Nieuws van Den Dag Voor Nederlandsch-Indië, dan Haagsche Courant.

Kemudian media De Maasbode, Provinciale Geldersche en Nijmeegsche Courant, Nieuwsblad van Het Noorden, Het Vaderland: Staat- en Letterkundig Nieuwsblad, Algemeen Handelsblad, Leeuwarder Courant, De Tijd: Godsdienstig-Staatkundig Dagblad. Media-media bahkan membandingkan kasus pembunuhan tersebut dengan kisah Dostoyevsky dari Rusia yang ayahnya dibunuh para petani.

Judul yang paling menyentuh adalah, Jan Diederick Doorman adalah Putra Mayor Jendral dan Gubernur Den Haag yang Mencari Peruntungan di Hindia Belanda. Sayangnya, bukannya peruntungan yang didapat, tetapi kematian tragis di tangan pembunuh bayaran.

Kehebohan ini cukup beralasan mengingat pembunuhan dilakukan terhadap van Doorman, seorang mantan pengusaha perkebunan di Deli, sekaligus pembela hak-hak rakyat. Bahkan, saking hebohnya, kisah pembunuhan yang berawal dari cinta segi tiga dan intrik dalam keluarga tersebut, diabadikan seorang penulis Tionghoa, Tjoa Pit Bak, dalam sebuah novel berjudul Hikajat Pemboenoehan Doorman: Satoe Pemboenoehan Sanget Loear Biasa: Kedjadian Betoel.

Di pengadilan, hakim pada awalnya mengira kasus ini hanya perampokan biasa, mengingat ada beberapa barang yang hilang, ditambah lagi para terdakwa kerap memberikan keterangan berbelit-belit. Hakim memerlukan waktu hampir enam bulan untuk menyimpulkan pelakunya, setelah pihak keluarga Doorman membayar mahal pengacara dari Bandoengsche Advocaat yaitu Mr L J A F M Lips untuk membantu mengungkap kasus tersebut.

Hakim memvonis dua pelaku, Entong dan Amat dengan vonis seumur hidup. Sedangkan Agoes dan Darma duapuluh tahun penjara. Nyi Asmanah djatuhi hukuman 12 tahun penjara, Chris dan Willem 15 tahun, sedangkan Agatha dibebaskan dari tuntutan 6 tahun penjara.

Duh, ngeri banget ya Gaess. Makanya jangan salah berperilaku apalagi memperlakukan salah terhadap orang lain. Berhati-hatilah dalam memperlakukan wanita, jangan sampai menimbulkan nestapa yang berujung karma dan petaka.

  • 694
    Shares
Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

3 thoughts on “Petaka cinta segi tiga di Kalapanunggal Sukabumi menjadi headlines media Eropa

  • Avatar
    7 March 2019 at 06:11
    Permalink

    Terima kasih tulisannya pak Irman.. semoga ini menjadi pelajaran yang berharga agar tidak terulang kejadiannya.

    Reply
  • Avatar
    27 March 2019 at 01:52
    Permalink

    Ini dia pelajaran buat kita. Agar bisa lebih membahagiakan anak dan istri

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *