Catatan dari Paris: Menyingkap alasan pria Eropa jatuh cinta kepada penari Sari Oneng Sukabumi

Aneh lahir di Parakansalak pada 1854, ia meninggal dunia ditengarai terkena penyakit ruptured aneurism.

Para pemain gamelan Sari Oneng yang juga pekerja perkebunan teh Parakansalak, ternyata turut meresmikan  Menara Eiffel di Paris, Perancis pada 1889 lho.

Sebenarnya menara Eiffel dibangun sebagai gerbang l’Exposition Universelle 1889, sebuah World’s Fair atau pameran dunia bertepatan dengan 100 tahun Revolusi Perancis, sekaligus digunakan sebagai peresmian awal menara tersebut sebagai kebanggaan warga Perancis. Exposition Universelle berlangsung cukup lama, yaitu enam bulan, antara 6 Mei dan 6 November 1889 di kaki menara Eiffel.

Dalam pameran tersebut, Hindia Belanda turut membangun faviliun Le Village Javanais, alias Desa Jawa. Dalam buku pengantar tertera tulisan Le Kampong Javanais, alias Kampung Jawa. Di situlah para pemain gamelan Sari Oneng Parakansalak, Kabupaten Sukabumi menunjukan kemampuan seni berikut hal lain yang turut dipamerkan.

Frantz Jourdain seorang jurnalis yang menulis di beberapa koran Eropa menyebut bahwa Belanda seolah membawa langsung sebongkah Jawa ke Paris.

Lalu, apa sebenarnya kegiatan Sari Oneng itu selama enam bulan di Paris? berikut faktanya:

1. Dibiayai pemilik perkebunan teh di Sukabumi, bukan pemerintah Hindia Belanda

Sebelum peresmian Menara Eiffel dilangsungkan bersamaan dengan peringatan 100 tahun Revolusi Perancis pada 31 maret 1889, pihak Belanda berniat memperlihatkan kedigdayaannya di tanah koloninya. Maka direncanakan membuat stand pameran di di lokasi Wrold Fair tersebut. Namun, persoalan pemerintah Belanda saat itu adalah kekurangan dana dan dukungan swasta.

Pihak Javasche Bank yang diketuai Van den Berg kemudian bekerja sama dengan keluarga Kerkhoven dan Mundt dari Perkebunan Sinagar dan Parakansalak, Sukabumi.

Dia ditemani filantrofis serta sekretaris Englisch Indische Company (semacam VOC-nya inggris) HP Cowan berkunjung ke Sukabumi untuk melakukan survey dan pendekatan. Di perkebunan tersebut mereka nampak begitu terpesona akan budaya dan seninya. Mereka juga melihat kemungkinan untuk membawa seni dan budaya asli Indonesia itu ke Paris.

Tak heran jika kemudian mereka berencana membawa wayang golek dan Gamelan Sari Oneng yang sebelumnya pernah tampil di Kota Amsterdam dan berhasil memukau penduduk Belanda. Selain itu, di Parakansalak dan Sinagar juga terdapat kedai teh yang bagus dan layak untuk diduplikasi di Paris.

Namun, kendala utama saat itu adalah sulitnya meyakinkan para pemain gamelan Sari Oneng agar mau berangkat ke Paris. Setelah ada jaminan para pemain bersedia berangkat, dibuatlah kedai dan bangunannya di Pelabuhan Tanjungpriuk, bersama sarana lainnya yang akan dipamerkan dalam stand Kampung Jawa.

Mundt dan Kerkhoven menyiapkan 40 orang terdiri dari laki-laki dan perempuan untuk diberangkatkan, baik sebagai pemain maupun lainnya. Dari delegasi Kampung Jawa dan Sari Oneng yang dikirim ke Paris, terdiri dari 22 laki-laki asal Parakansalak dan Sinagar asli yang menjadi tim gamelan dan angklung serta lima penari wanita Parakansalak yang dikirim ke sana.

Penyandang dana untuk kampung Jawa dan Sari Oneng termasuk Wayang Golek bukanlah pemerintah Hindia Belanda, tetapi Kerkhoven dari Sinagar dan Mundt dari Parakansalak. Mundt menyiapkan gamelan, wayang golek dan para musisinya. Sedangkan Kerkhoven selain penyandang dana, dia juga mengirimkan sebagian orang dan juga menyiapkan minuman teh terbaik yang diberikan secara cuma-cuma di Paris.

Akhirnya berangkatlah rombongan dari Sukabumi bersamaan dengan keberangkatan rombongan lainnya dari Keraton Surakarta.

BACA JUGA:

Upaya mengembalikan kemasyhuran Sari Oneng Parakansalak ke Sukabumi

Personel Sari Oneng Parakansalak, pionir mogok tenaga kerja Sukabumi di pentas internasioal

Kolaborasi gen XYZ Sukabumi memuliakan pelaku, dan seni budaya leluhur

2. Antusiasme penonton selama berlangsungnya pameran

Sesampainya di Paris baik laki-laki maupun perempuan kemudian membangun rumah, kios dan tempat lain yang diperlukan, termasuk beragam aksesoris seperti leuit dan hasil produksi dari Hindia Belanda.

Pemerintah Hindia Belanda seolah membangun kampung mini, rumah-rumah yang mirip aslinya dilengkapi restoran serta kedai kopi dan teh gratis, ditempatkan di Esplanade des Invalides (lapangan depan gedung Invalid Paris). Konsep Kampung Jawa ini adalah memamerkan suasana kehidupan nyata desa di Jawa di tanah Eropa.

Masing-masing orang berbagi tugas, ada yang jadi pemain musik, penari, ada juga penyambut tamu. Sebagian lagi memperagakan kehidupan masyarakat Sunda, seperti menenun kain, membuat anyaman dan kerajinan lainnya. Mereka dilatih menyebutkan nama dan menjelaskan kepada pengunjung. Selain itu ada koki yang menyediakan makanan setiap hari untuk mereka.

Dalam Le Guide Musical (1889), ditulis berita pertunjukan di Kampung Jawa menampilkan Gamelan Sari Oneng Parakansalak. Selain itu, sebagai hiburan, dipentaskan juga wayang golek dan angklung oleh pemain dari kebun teh Parakansalak dan Sinagar.

Kegiatan pameran serta penampilan gamelan dan penari tersebut berjalan sukses dengan pengunjung yang membludak. Tercatat sebanyak 875.000 orang mengunjungi anjungan ini, dan para pemain gamelan Sari Oneng dipaksa bermain setiap hari untuk memuaskan keingintahuan para pengunjung stand.

Pada pameran Exposition Universelle ini juga dibawa serta dua gamelan Sunda, satu perangkat diberikan sebagai hadiah dari pemerintah Belanda kepada Conservartorie Muse de I’Home-Paris, sedangkan seperangkat lagi berasal dari Parakansalak yang dikirim Gustaf Mundt untuk promosi teh dan produk lainnya.

Keberhasilan personil pameran dari Sukabumi sebenarnya tidak lepas dari lobi Belanda, karena negara kecil itu pada saat itu kurang diperhitungkan negara-negara Eropa lainnya. Karenanya Belanda merasa perlu memperlihatkan keunikan koloninya bantuan kedua pemilik perkebunan di Sukabumi.

Berkat dukungan kedua pengusaha tersebut, kemudian Le Village Javanais berhasil dibangun dengan indah. Keindahan rumah Jawa dengan bahan bambu dan daun kelapa, atraksi gamelan Sari Oneng yang juga khas dan indah dipandang setiap mata pengunjung. Belum lagi penari-penari yang lincah dan ramah, menjadi daya tarik tersediri dan berhasil menyedot ratusan ribu orang untuk menyaksikan.

De Meester, seorang wartawan Belanda, yang mengunjungi pameran tersebut, menuliskan laporannya di majalah Eigen Haard tahun 1889. Ia antara lain mengatakan bahwa Kampung Jawa mendapat sambutan paling meriah di antara anjungan yang lain.

3. Sumber Inspirasi Komposer dan para antropolog

Karel van der Hutch dalam tulisannya De Gamelans van Parakan Salak yang dimuat di majalah Indonesie Naderbij menggambarkan komposer Claude Debussy (1862-1918) berjam-jam mendengarkan alunan musik yang ditampilkan Sari Oneng. Keharmonisan ritme dan irama gendingnya yang dinilai aneh namun khas, sangat menarik hati Debussy.

“Palestrina –seorang musisi hebat masa itu– yang diminta memainkan piano dengan partitiur Liszt akan melakukannya dengan sangat mudah. Namun jika ia mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita [Eropa] tak lebih daripada sekadar bunyi-bunyian dasar sirkus keliling. Kompleksitas komposisi gamelan gending Jawa yang selalu mematuhi alur panjang sangat unik,” sanjung Debussy.

Gending Jawa yang dimaksud Debussy adalah alunan musik yang dimainkan Gamelan Sari Oneng.

Nada-nada gamelan ini kemudian menginspirasi Debussy dalam membuat karya-karyanya, misalnya pada warna nada pentatonik Pagodes (Pagoda), bait pertama d’Estampes (Ilustrasi) yang digubah tahun 1903, nantinya juga terlihat dalam dua belas prelude 1910-1913, La Fille Aux Cheveux de Lin (Gadis Berambut Linen), Feuillis Mortes (Daun-daun Kering), serta lagu misterius, Canope.

Dalam sebuah tulisannya dia juga menyatakan, “Leur conservatoire, c’est le rythme éternel de la mer, le vent dans les feuilles…” (Konservatori mereka adalah ritme abadi lautan, embusan bayu pada dedaunan…), kalimat ini kemudian dijadikan bait dalam orkestra sangat terkenal, berjudul La Mer (Lautan) (1903-1905).

Selain itu, Camille Saint-Saëns, seorang tokoh Perancis juga menyebutkan bahwa Gamelan Sari Oneng semacam musik mimpi yang menghipnotis orang-orang. Bahkan, musikolog Julien Tiersot tertarik meneliti pentas gamelan tersebut dari sisi etnografi dalam bukunya Musiques Pittoresques.

Kemudian Prince Roland Bonaparte (1858-1924), seorang Pangeran Perancis sekaligus peneliti yang pernah menjadi Presiden Societeit Geographie, juga tertarik melakukan penelitian mengenai para pemain gamelan serta kehidupan kesotik Jawa yang digambarkan dalam ajungan Kampung Jawa.

BACA JUGA:

Coix lacryma jobi Pajampangan Sukabumi, air mata yang menginspirasi nama pulau dan lagu

Wilayah Jampang Sukabumi, dasar lautan yang terangkat dan kisah hukuman bagi si kikir

Pernah dipersekusi di Sukabumi, HOS Tjokroaminoto fasih berbahasa Sunda

4. Ada pemain Sari Oneng yang meninggal dan dimakamkan di Paris

Selain kemeriahannya, pentas Sari Oneng di luar negeri juga menampilkan keunikan tersendiri. Saking lamanya berada di negeri orang, para pemain sempat berkeliling Eropa, dan konon sempat ada yang hamil dan melahirkan.

Bahkan, ada juga yang meninggal dan dimakamkan di Paris pada 1889, namanya Aneh, lahir di Parakansalak pada 1854. Aneh berangkat bersama rombongan, namun ditengarai terkena penyakit ruptured aneurism, sejenis penyakit yang merobek pembuluh darah. Penyakit tersebut memang tidak bisa terdeteksi sejak awal mengingat saat diberangkatkan belum ada metode medical check up.

Selama dua bulan pertama, Aneh bermain seperti biasa namun tiba-tiba dia terjatuh dan pecah pembuluh darahnya. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit di Paris, namun kemudian meninggal pada 4 Juli 1889.

Kisah kematian Aneh menunjukkan betapa padatnya aktivitas pameran tersebut. Mereka bekerja di luar negeri dan pentas di beberapa negara Eropa selama berbulan-bulan. Hal ini kontradiktif dengan kondisi ekonomi mereka yang sangat memprihatinkan.

Bahkan, sebelum tampil di Paris mereka sempat mogok kerja dan tidak mau melanjutkan karena persoalan upah ini. Meskipun kemudian upah mereka dinaikan, namun faktanya mereka tetaplah bangsa terjajah yang menjadi komoditas pemerintah Hindia Belanda. Selepas kegiatan di Paris ini akhirnya mereka kembali ke Parakansalak.

Namun, kematian dan pemakaman Aneh sempat menjadi perbincangan masyarakat dan diberitakan media-media Perancis seperti Le Figaro dalam artikel Courrier de’l Exposition, pada 5 Juli 1889. Laporan kematian Aneh juga muncul di harian Le Rappel secara eksklusif dalam kolom L’exposition, 8 Juli 1889.

Bisa jadi Aneh adalah satu-satunya pekerja sekaligus pemusik Indonesia pertama yang diberitakan kematiannya oleh koran Perancis.

5. Misteri para penari yang membuat lelaki Eropa jatuh cinta

Dalam pameran World Fair tersebut, yang menjadi perhatian para lelaki Eropa adalah pentas Tari Tandak diiringi musik gamelan Sari Oneng. Konon pria-pria Eropa jatuh cinta dengan degan penari berusia 12-16 tahun yaitu Damina/Taminah (16 tahun), Wakiem (12), Sariem (15), dan Soekia (13). Tarian mereka sangat memukau dan membangunan imajinasi para lelaki Eropa tentang eksotisme Jawa. Pers perancis membahas kehidupan pribadi mereka dan menjadi perhatian para pengunjung.

Baudelaire, seorang penyair Perancis, mencurahkan kekagumannya dengan menulis sajak La Belle Wakiem (Wakiem yang Cantik), terinspirasi dari Wakiem sang penari. Yang lebih membanggakan lagi, grup kabaret Moulin Rouge yang didirikan pada 1889 oleh Joseph Oller, ternyata terinspirasi pentas penari Sari Oneng sehingga menciptakan lakon Les Pirates yang terilhami oleh Wakiem dari Kampung Jawa.

Hal ini cukup menarik mengingat para pemain Sari Oneng sebenarnya adalah pekerja perkebunan teh Parakansalak di Sukabumi, Jawa Barat. Tim penari lainnya bernama Elles (Elis) yang berusia 15 tahun adalah penari ronggeng Parakansalak. Pentas penari tersebut juga dilakukan satu set dimana Tandak dimainkan pada awal tarian kemudian disusul ronggeng yang agak “nakal”.

Sesudah paket kedua tarian tersebut maka pentas ditutup dengan angklung Parakansalak mengitari meja-meja tamu yang sedang menikmati teh dan kopi. Hal ini juga diperkuat oleh tulisan George Boyer dalam Le Figarro, 2 October 1889 dalam artikel Courrier des Theatres mengenai para penari dan pemain gamelan Sunda.

Wah, keren ya Gengs. Ternyata musisi dan penari Sukabumi sudah ada yang manggung di Benua Biru sejak ratusan tahun lalu.

Ayo bangkit seniman-seniman Sukabumi!

  • 219
    Shares
Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *