Coix lacryma jobi Pajampangan Sukabumi, air mata yang menginspirasi nama pulau dan lagu

Emas hijau dari Pajampangan.

Kalian sudah tahu tanaman hanjeli, Gaess?

Meskipun banyak yang menyebutnya anjeli, bukan tokoh dalam film Bollywood lho, ya, tetapi tanaman sejenis padi-padian yang menjadi makanan pokok orang Sunda sebagai pengganti nasi lho.

Namun, dibanding nasi, hanjeli memiliki gizi lebih lengkap karena kadar protein dan karbohidratnya lebih tinggi sehingga lebih cepat mengenyangkan. Nah, kelebihan lainya, hanjeli ini berkadar lemak rendah. Jika nasi yang kita kenal agak lengket, hanjeli memiliki tekstur kenyal, kesat namun tidak lengket (bear), sehingga berpotensi untuk diolah menjadi alternatif makanan lain yang lezat.

Penasaran untuk mengetahui lebih banyak tentang hanjeli? Kuy kita simak lima faktanya.

1. Hanjeli makanan yang menjadi nama pulau jawa

Hanjeli adalah tumbuhan tua yang sudah berkembang semenjak 4.000 tahun lalu di selatan Asia, hal ini diperkuat dengan penemuan biji-bijinya di situs arkeologi di India. Tumbuhan ini kemudian menyebar ke ke Cina, Mesir, Jerman, Haiti, Hawai, Jepang, India, Panama, Philipina, Taiwan, Amerika, Venezuela, Australia, Malaysia, Indonesia dan bahkan hingga Papua.

Di beberapa negara seperti di Indocina dan selatan Cina, hanjeli merupakan tanaman penting jauh sebelum jagung dan padi berkembang. Hal ini juga dimungkinkan di Pulau jawa, karena menurut lr. Moens yang diperkuat oleh Dra. Satyawati Sulaeman dalam bukunya Sejarah lndonesia, Kursus B. l dan Warsito Sastoprajitno dalam buku Rekonstruksi Sedjarah Indonesia bahwa Yawadwipa adalah nama Pulau Jawa di masa lalu, Yawa sendiri berarti tumbuh-tumbuhan sejenis padi, yaitu hanjeli.

Sedangkan padi sendiri berasal dari daerah lembah Sungai Gangga, Sungai Brahmaputra di India dan lembah Sungai Yangtse di Cina, dan baru masuk ke Pulau Jawa sekira 1.500 tahun SM. Konon, padi dibawa oleh nenek moyang yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Jawa (Yawadwipa) yang saat itu sudah berkembang hanjeli.

Sementara dalam kisah rakyat yang berkembang, hanjeli ditanam oleh Batara Kala, dalam buku Ngahudang Carita Anu Baheula disebut bahwa Batara Kala diminta Batara Guru (ayahnya) untuk turun ke bumi dan menanam padi, gandrung dan hanjeli.

2. Air mata yang menginsipirasi lagu si Jali-jali

Hanjeli dalam bahasa latin lacyrma berarti air mata, nama lengkapnya adalah coix lacryma-jobi, atau juga dikenal dengan berbagai sebutan di Nusantara, antara lain hanjeli, hajeli, jelai, jali-jali, japen, jaten, singkoru, batu, kemangge, bukehang, dan kaselori.

Di luar negeri, hanjeli memiliki banyak nama. Di Inggris misalnya, populer disebut Job’s tear (tetesan air mata Ayub), di sebut air mata karena biji jali yang bulat menyerupai butiran air mata, sedangkan Job adalah Nabi Ayyub a.s yang luar biasa kesabarannya menghadapi berbagai ujian dari Tuhan.

Sedangkan di Filipina, dikenal sebagai adlay, mayuen di Malaysia, dan di Arab terkenal dengan sebutan damu Ayub. Ada pula yang menyebut biji hanjeli sebagai chinese pearl barley (gandum mutiara dari China), sementara di Jepang disebut Hatomugi.

Kembali ke Indonesia, di Jawa Tengah dan Jawa timur tumbuhan ini populer dengan nama jali-jali. Tumbuhan ini pula yang menginspirasi lirik lagu Betawi berjudul Si Jali-jali. Di Sunda Kelapa (Jakarta) sendiri, hanjeli umumnya ditanam di pekarangan rumah.

Emak-emak Betawi tempo dulu sering membuat bubur dari biji hanjeli untuk santapan sehari-hari atau acara-acara tertentu. Bubur hanjeli ini populer disebut bubur jali. Bahkan, lagu Si Jali-jali pun terinspirasi dari tumbuhan hanjeli ini, dan sekarang menjadi ikon Pemda DKI Jakarta.

BACA JUGA:

Jampang Sukabumi tempat favorit pemburu dari Eropa, penduduknya sulit diajak kompromi

Wilayah Jampang Sukabumi, dasar lautan yang terangkat dan kisah hukuman bagi si kikir

3. Dipakai untuk tasbih kaum Siwaisme dan Kean Santang

Secara fisik hanjeli memang mirip dengan biji gandum, namun ukurannya lebih besar, kira-kira sebesar kacang polong, kulitnya keras dan tebal. Karena bijinya unik, maka hanjeli juga lazim dibuat tasbih terutama oleh penganut Siwaisme di zaman awal perkembangan Hindu dan Budha.

Di tatar Sunda, tasbih hanjeli juga digunakan para pendakwah, hal ini tercatat dalam Wawacan Kean Santang yang menceritakan penolakan pembesar Istana Pakuan untuk menerima ajaran Islam, seperti pada lirik pupuh sinom berikut:

Najis téh jeung mawa éta, siga tiiran hanjeli, barina ngomong sorangan, haruwas-haréwos leutik, nyambat ka Muhammad Nabi.

Artinya kira-kira: “…Harus membawa tasbih segala seperti [buah] hanjeli yang dirangkai, sambil bicara sendiri [berdzikir], bergumam kecil, menyebut Nabi Muhammad SAW…”

Bahkan konon di Eropa, sekira tahun 1400, berkembang hanjeli yang dimanfaatkan sebagai tasbih atau rosario. Penggunaan untuk tasbih juga dilakukan di Sunda Kelapa (Jakarta) yang kemudian diserap budaya Betawi, dimana para alim ulama Betawi menjadikannya sebagai kalung tasbih untuk berzikir karena tidak memerlukan banyak perawatan.

Sedangkan di wilayah selatan Sukabumi, selain dijadikan tasbih, biji hanjeli juga dijadikan sebagai manik-manik dan perhiasan.

4. Sebelum padi, di Sukabumi hanjeli adalah makanan

Budaya bertani asli orang sukabumi adalah berladang atau ngahuma, alias sawah kering yang disebut juga gaga dan tipar. Meskipun budaya sawah masuk dibawa pengaruh Mataram, tetapi masyarakat Pajampangan tetap berladang.

Ketika penjajah masuk, para peladang ini tidak menetap dan terus berpindah-pindah untuk menghindari tanam paksa. Mereka tidak diakui haknya sebagai penduduk dan dijuluki jalma burung (warga tanpa hak). Namun, hal itu tidak berpengaruh, mengingat lokasinya yang terpencil dan jauh dari pusat administrasi.

Masyarakat setempat tetap berladang seperti biasa dan menghasilkan padi, selain itu mereka juga menanam hanjeli dan tanaman lain seperti kacang dan kunyit. Hanjeli ini seringkali dikonsumsi sebagai pengganti nasi, atau dibuat kudapan seperti bubur, sementara daunnya biasanya untuk pakan ternak.

Dalam kegiatan ritual seperti pernikahan, hanjeli diolah menjadi penganan seperti tape hanjeli (peuyeum). Dalam catatan De Landbouw der Inlandsche Bevolking op Java disebutkan, makanan ini hanya ada di tempat tertentu saja dijadikan sebagai makanan pokok, namun dulunya dimungkinkan adalah makanan pokok masyarakat selain nasi.

Bataviaasch Nieuwsblaad 16 Oktober 1810, menyebut hanjeli adalah salah satu produk pertanian dari wilayah Jampang. Selain untuk dikonsumsi seperti nasi, hanjeli juga dijajakan keliling sebagai bubur yang nikmat.

5. Upaya mengangkat kembali hanjeli

Di wilayah selatan Sukabumi seperti di Kecamatan Waluran, hanjeli mulai dikembangkan kembali secara profesional dengan membuat program unggulan Desa Wisata Hanjeli yang digagas Asep Hidayat di Desa Waluran Mandiri. Asep juga dikenal sebagai pegiat wisata mandiri di Kabupaten Sukabumi.

Asep merintis Desa Wisata Hanjeli ini sejak 2012 lalu dengan membeli benihnya dari petani, kemudian mengolah dan mengemasnya untuk dijadikan oleh-oleh. Awalnya Asep melakukannya sendiri dan menjualnya secara online, kemudian ia mulai bekerjasama dengan kelompok tani sejak 2016, dan meningkatkan produksi dan pemasarannya bekerjasama dengan Kelompok Wanita Tani Mekar sejak 2018. Langkah ini cukup berhasil, sehingga Asep sempat mendapatkan penghargaan sebagai Pemuda Inspiratif Sukabumi pada tahun 2018.

Wisatawan pun kini bisa melihat hanjeli mulai dari usia satu bulan hingga memasuki musim panen, 5-6 bulan. Bahkan, wisatawan bisa ikut memanen dan melihat langsung pengolahan serta pengemasannya. “Harapan saya, selain bisa mengangkat perekonomian masyarakat juga bisa mengangkat potensi wisata terkait Geopark Ciletuh Palabuhanratu. Bahkan, lebih jauh lagi, bisa menjadi role model bagi yang memiliki keinginan sama, mengangkat hanjeli Sukabumi,” kepada sukabumiXYZ.com, Asep bertutur.

Nah, Gengs, jika masyarakat Betawi menjadikan hanjeli untuk bahan baku olahan bubur, di wilayah Pajampangan buah ini diolah menjadi lebih beragam seperti wajit, rengginang, bubur hanjeli, dodol, peuyeum dan tepung hanjeli.

Wah, ternyata keren juga ya hanjeli itu, Gaess. Ayo, buat kamu-kamu yang ingin melihat proses penanaman dan pengolahannya, silakan datang langsung ke Desa Wisata Waluran.

Jalilah jali dari Cikini sayang, artikel hanjeli cukup sampai di sini.

  • 247
    Shares
Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *