The leading actress at Sri Asih, a small sandiwara troupe in Sukabumi

Sri Asih, menelusuri masa emas teater di Sukabumi era kolonial.

Seni teater (sandiwara) di Sukabumi cukup berkembang pada masa kolonial yang saat itu disebut toneel. Sandiwara berasal dari bahasa Jawa “Sandi” berarti rahasia dan “wara” atau “warah” yang berarti pengajaran. Secara harafiah, sandiwara berarti pengajaran yang dirahasiakan atau dilakukan dengan cara perlambangan laku dan bahasa.

Seni pertunjukan (teater) adalah seni yang komplek, sekaligus media yang efektif menyebarkan suatu gagasan. Dalam sejarah Sukabumi, seni teater turut mewarnai perjalanan tersebarnya budaya di masyarakat.

Kita Simak yuk lima catatan perjalanan seni teater di Sukabumi.

[1] Teater rakyat yang awal berkembang di Sukabumi

Sebelum teater-teater modern muncul, di Sukabumi berkembang berbagai teater rakyat yang biasanya tampil di tempat terbuka, seperti di halaman rumah atau lapangan desa.

Dahulu, seni teater masih merakyat dan bahkan menyatu dengan rakyat, hingga cerita yang dipertunjukannya pun selalu mengangkat sisi kehidupan masyarakat setempat. Teater rakyat yang bercirikan sarkastik, komedi, dan karikatural menjadi hiburan untuk menghilangkan penat para penonton kala itu. 

Konon, seni teater rakyat tertua di Sukabumi adalah Uyeg, yang sudah ada sejak masa Kerajaan Sunda, atau pada abad ke-7 hingga 14. Uyeg dalam bahasa Sunda berarti oyag atau bergerak. Uyeg biasa digelar sebagai bagian dari ritual Seren Taun (Pesta Panen) untuk menghormati Dewi Sri dan Guru Bumi.

Konon pula, pada 1884, Uyeg sempat dipentaskan kembali oleh Ayah Akung dari generasi pertama yang mencoba mengangkat kesenian Uyeg. Budayawan Anis Djati Sunda kemudian mengangkat kembali kesenian ini ke pentas dengan dengan sedikit modernisasi.

Kesenian teater lain dari Sukabumi adalah Jipeng yang merupakan akronim dari kata “Tanji” dan “Topeng”. Seni Jipeng merupakan salah satu kesenian teater yang sering dimainkan masyarakat Sunda tempo dulu yang diadopsi masyarakat Betawi.

Dalam pertunjukannya, Jipeng menampilkan permainan musik, tari-tarian, dan aksi treatrikal atau perpaduan gerak dan teater. Jipeng ini mirip seni drama karena memiliki alur cerita, lakon, dan babak. Pergelaran Jipeng tidak jauh berbeda dengan tata cara pagelaran topeng.

Selain itu, ada juga kesenian Betok yang diciptakan oleh Pak Ani yang populer dipanggil Bapak Betok pada 1912. Jenis kesenian ini termasuk teater tradisional bersifat religius karena dipertunjukan sebagai media penerangan dan pendidikan serta syiar agama Islam.

Kemudian, ada pula teater Gekbreng yang konon diciptakan Abah Baí pada 1918. Gekbreng adalah seni drama tari bersifat humor, dan biasanya menceritakan sisi kehidupan masyarakat sehari-hari. Gekbreng lahir sebagai simbol perlawanan masyarakat Sunda atas ketidakadilan yang dilakukan para penguasa waktu itu.

[2] Masuknya teater modern di Sukabumi yang dibawa kaum kolonial

Dalam perjalanannya kemudian, pengaruh budaya barat menjadikan teater ekslusif karena kerap tampil di dalam gedung pertunjukan. Teater modern di Kota Sukabumi juga sempat merajai hiburan di wilayah perkotaan. Tercatat banyak seniman dari Kota Sukabumi yang dikenal luas di kalangan seniman nasional, bahkan juga pentas di luar negeri.

Salah satu seni teater yang sering dipertunjukkan adalah Stamboel, termasuk komedie stamboel, dari Sukabumi. Stambulan merupakan seni pentas drama musikal yang sempat populer dan merajai teater pada awal abad 19. Pada tahun awal dikenalnya seni pertunjukan ini, kelompok stamboel lebih memilih pementasan keliling dari satu kota ke kota lainnya.

Dalam buku The Komedie Stamboel: Popular Theater in Colonial Indonesia 1891-1903, ada kisah mengenai pemain komedie stamboel dari Sukabumi yang dipimpin Babah Olman. Pada 1893, Olman yang merupakan warga keturunan Tionghoa itu, membawa aktris teater dari Sukabumi untuk pentas di Singapura. Meskipun sempat terjadi kekisruhan akibat penipuan yang dilakukan rekan bisnisnya, namun pentas tersebut dinilai berhasil.

Gaya drama musikal ini masih terus diikuti oleh teater-teater modern yang muncul pada awal abad ke-20 di Sukabumi. Seni teater (pertunjukan) adalah seni yang mengkombinasikan semua bidang seni (musik, tari, dan rupa) yang memiliki pengadeganan fantastis dengan disertai gaya pemanggungan yang mengkritisi kondisi sosial pada masa itu.

Kekhasan itulah yang membuat teater atau sandiwara atau toneel ini diminati berbagai lapisan masyarakat. Peluang ini juga dijadikan oleh bangsa Belanda untuk menyebarkan budaya Eropa. Beragam toneel gezelschap atau toneel vereeniging pun bermunculan.

Kemudian ada juga operet yang sangat disukai anak-anak hingga dewasa, dengan setting cerita yang berasal dari dongeng-dongeng bangsa Eropa. Teater modern ini didominasi orang Eropa karena pangung pertunjukannya yang eksklusif, yaitu Societeit Soekamanah (sekarang Gedung Juang 45) yang dulunya merupakan bangunan milik orang Eropa.

Tokoh The Dutch Tooneel yang terkenal di Sukabumi adalah Ms. Wiebenga dan van Dijk yang sering melakukan pentas di Sukabumi dan Batavia. Berbagai pentas yang pernah digelar seperti operet Miss Blanche yang menyajikan pentas Oh Lola pada November 1926, lalu dongeng Bellaroontje yang diperankan aktris India bernama Chanda Suwasti yang mentas pada April 1928.  

[3] Nasib teater lokal masa penjajahan di Sukabumi

Teater lokal dalam artian kelompok dan para pemain lokal pada masa itu memang agak tersisihkan. Sukabumi malah menjadi konsumen pertunjukan teater-teater luar kota dan luar negeri. Perkumpulan toneel yang manggung di Sukabumi, dari luar negeri pernah tampil antara lain Holfslachter dan pentas di Societeit pada 6 maret 1926, Tooneel Haagsch, Anton Verbeyen, Jan Mulder dan Elly Van Stekelenburg, Henri van Wermeskerken, Tooneel Jan Mulder.

Toneel Hindia Belanda juga sering tampil seperti Dardanella, kemudian toneel Sunda Mis Tjitjih yang tiketnya ludes saat pentas di Societeit Soekamanah, kemudian Miss Riboet yang tampil selama lima malam di bioskop Flora pada September 1935. Pentas-pentas kesenian rakyat biasanya diadakan di alun-alun seperti teater wayang orang.

Meskipun begitu, Sukabumi juga menelurkan aktor dan aktris teater nasional seperti Wisjnu Moeradhy yang sering turut bermain pada sandiwara kampung berkeliling hingga pelosok Jampang, pada sekira 1930-an hingga ia harus gagal melanjutkan sekolahnya. Wisjnu turut bermain pada sandiwara Warna Delima, kemudian Bulan Purnama di bawah asuhan Ananta Gaharasjah. Namun mirisnya, perkumpulan toneel lokal kurang terdengar gaungnya karena tersisihkan dan kerap bermain di luar gedung pertunjukan.

Dari etnis Tionghoa Sukabumi, ada asosiasi Djin Gie Hwee yang juga merupakan perkumpulan toneel. Sementara dari masyarakat lokal Sukabumi juga mendirikan beberapa perkumpulan toneel seperti Mardi Karti Toneel Vereeniging yang dipimpin Silalahi dan Soeratman, dan Asosiasi Moeda Kesatrian dan Pasoe.

Selain sebagai pertunjukan seni, toneel-toneel ini malah dipergunakan untuk mencari dana perang saat Hindia Belanda diambang kehancuran. Seperti pada Februari hingga Agustus 1941, sempat diadakan kegiatan teater amal dan berhasil mengumpulkan sekira 38.000 Gulden.

BACA JUGA:

Meluruskan benang kusut sejarah Hiroshima 2 di Sukabumi

Akhir tragis Si Tuku, kisah gajah yang pernah dipelihara di Sukabumi

Djomhari, sang penakluk joki Eropa di arena pacuan kuda Sukabumi yang tewas misterius

[4] Geliat teater Sukabumi pasca kemerdekaan dan kemunculan Sri Asih

Melewati masa penjajahan Jepang yang penuh propaganda dan masa perang kemerdekaan di Sukabumi, teater lokal seperti hilang ditelan bumi. Meskipun begitu, bibit-bibit teater mulai bermunculan pada 1950-an, beberapa pertunjukan pun mulai diadakan, misalnya Teater PPI Sukabumi. Pemuda Putri Indonesia (PPI) Sukabumi pada 1951 mentas dengan cerita Dewi Angraini.

Kegiatan kedua PPI dilakukan di Selabintana dengan menyelenggarakan pentas sandiwara Sawitri arya pujangga India Rabindranath Tagore, yang dimainkan untuk memperingati hari ulang tahunnya yang ke VII, 1 April 1953. kemudian diadakan Arena Peminat Sastra Sukabumi pada 1 dan 2 Juni 1957 dengan mementaskan cerita Awal dan Mira karya Utuy Tatang Sontani. Pada Januari 1958, siswa SMA Mardi Juana juga mementaskan kisah detektif Hanya Satu Kali karya John Galsworthy/ Robert Midlemans/ Sitor Situmorang.

Bersamaan dengan bermunculannya benih-benih teater lokal, dalam masa ini juga muncul juga teater profesional Sinar Asih yang diberitakan Preanger Bode 13 Juni 1953 sebagai sandiwara terbesar pada zamannya.

Teater yang didirikan oleh N. Rano dan Atjep Gandasasmita pada 1951 ini disebutkan setara dengan perkumpulan sandiwara sebelum perang seperti Dardanella, Miss Riboet, dan lainnya. Menurut Mang Cece Suhanda mantan pemain dan sutradara Sri Asih, bahwa Sinar Asih tersebut adalah cikal bakalnya teater Sri Asih yang pada mulanya berpentas di pasar malam (sekitar gedung Odeon sekarang).

Sementara di wilayah kabupaten Sukabumi muncul pula sandiwara rakyat bernama Sri Jaya, namun namanya tidak muncul dan tenggelam oleh kebesaran Sri Asih. Sri Asih tidak hanya mampu memberi pertunjukan yang substansial tapi juga komersil sehingga bisa menghidupi para pemainnya. Sri Asih juga sangat memerhatikan naskah, tokoh, penokohan, properti, artistik, wardrobe sehingga merupakan kesatuan yang berjalan kelindan dan utuh dalam sebuah pementasan.

Suasana yang disuguhkan menjadi sangat otentik dan menjadi representasi teater realis sesuai budaya lokal masyarakat. Judul-judul yang dipentaskan kebanyakan berhubungan dengan legenda masyarakat seperti Lutung Kasarung, Sangkuriang, Panji Semirang, Rorokidul, Sumur Bandung, dan lain sebagainya.

[5] Kiprah Sri Asih dalam mengangkat budaya pertunjukan di Sukabumi

Gedung Budaya Timur.

Sandiwara Sinar Asih merupakan kelompok teater rakyat yang dimodernkan, hal itu dimulai sejak berpindahnya Sri Asih ke panggung yang tetap yaitu Gedung Sri Asih. Pembeda pentas sandiwara modern dan tradisional diantaranya tempat pentas di dalam ruangan, sedangkan teater rakyat pentas di tempat terbuka.

Teater rakyat di Sukabumi umumnya berkeliling mulai dari Cicurug hingga ke wilayah pajampangan, sedangkan teater modern saat itu berpusat di Kota Sukabumi, yaitu di Gedung Budaya Timur dan Gedung Sri Asih. Gedung Sri Asih terletak di Gang Pelita, tepatnya di sebelah bekas gedung Bisokop Garuda (belakang supermal). Sedangkan Gedung Budaya Timur, terletak di dekat perempatan Jalan Gudang.

Lambat laun nama Sinar Asih kemudian bermetamorfosis menjadi Sri Asih sesuai nama gedungnya, jumlah para pemainnya pun tidak tanggung-tanggung, 80 orang.

Selain di Sukabumi, Sri Asih juga manggung ke kota lain, seperti Bandung, dengan melibatkan mantan anak wayang Miss Riboet dan Miss Tjitjih. Hal yang menarik mengenai Sri Asih ini, sempat dibahas dalam majalah Asia Culture Edisi 1-2 tahun 1958, adalah perannya yang realistik, disebutkan bahwa The leading actress at Sri Asih, a small sandiwara troupe in Sukabumi, West Java, can and does cry copious tears whenever needed.

Sri Asih bertransformasi pada tokoh dan karakter yang dibawakan secara penjiwaan maupun ragawi, kemampuan tersebut merupakan bakat langka bagi dunia panggung. Nama-nama pemain bintang atau sri panggung grup Sri Asih yang digandungi para penonton diantaranya Entit Masitoh, Kartini, Sukmi, dan Cicih. Sementara para aktornya diantaranya Ara Sumara, Uhi Ruhiat, dan Odong Supriatna.

Sri Asih terus berkembang hingga tahun 1970-an, teater ini mampu berkolaborasi bahkan bertransformasi dengan budaya lokal Sukabumi. Arthur S. Nalan dalam bukunya Sanghyang Raja Uyeg: Dari Sakral ke Profan menyebutkan, dalam pertunjukannya Sri Asih sangat lebur dengan suasana.

Bahkan, saat pentas di Kampung Sobang (sebelah timur Kanekes, Banten) Sri Asih berkolaborasi dengan Topeng Aweh. Seketika pentas sandiwara pun berubah menjadi sangat mistis karena dibumbui mantra-mantra fanajem. Tak heran jika kemudian keanehan-keanehan berbau mistis pun muncul sebelum Topeng Aweh membunyikan alat tabuhannya.

Sri Asih bermain dengan penuh penjiwaan dan menimbulkan suasana mencekam di benak seluruh penonton. Setelah bermain setengah jam barulah Topeng Aweh membunyikan tabuhannya. Sri Asih masih terus merawat sisa kejayaannya hingga 1970-an, dalam sebuah kompetisi di Rumentang Siang Bandung, Sri Asih yang mewakili Sukabumi membawakan cerita Heulang Bungbang Megantara dan sukses meraih juara kedua. Bahkan, salah satu pemainnya, Waski, mendapatkan gelar pebanyol terbaik.

Dalam kompetisi tersebut Sri Asih dipandang sebagai teater asli yang belum tercampur kebudayaan barat. Seni teater di Sukabumi kemudian redup semenjak robohnya Gedung Budaya Timur dan terbakarnya Gedung Sri Asih pada 1989. Gedung yang dimiliki oleh Lie Chu Yan (Lili Suryana) ini habis dilalap api termasuk semua peralatan pentas Sri Asih.

Duh, sayang banget ya, Gaess, padahal Sri Asih berperan selain untuk mendidik juga mengangkat budaya lokal Sukabumi.

Tetapi jangan khawatir, Gaess, beberapa budayawan Sukabumi sudah mulai bergerak, diantaranya Mang Dewa Soerawoeng Bezana, Mang Cece, Om Bob Muslim, Kang Syam, Mang Asep Jafra, dan yang lainnya. Mereka membentuk kelompok Revitalisasi Sri Asih yang bermaksud mengangkat kembali kejayaan Sri Asih supaya dapat membawa nama Sukabumi ke pentas nasional.

Mari kita dukung dan doakan saja, Gaess.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *