Tjikasintoe, mengeksplorasi mitos dan kisah heroik di Cidadap Sukabumi

Pejuang dari kota lainpun banyak yang berlindung di Cikasintu, salah satunya Tole Iskandar dari Depok.

Sukabumi masih menyisakan banyak tempat bersejarah yang belum terungkap dan diketahui publik, terutama di wilayah selatan. Nah, khusus di selatan Sukabumi ini, Gaess, ada banyak tempat yang mungkin sebagian besar dari warga Sukabumi sendiri tidak mengetahuinya, terlebih lagi kisah-kisah di balik keberadaannya.

Salah satu tempat yang menyimpan kisah masa lalu yang layak gen XYZ Sukabumi ketahui adalah Perkebunan Cikasintu yang berada di Desa/Kecamatan CIdadap, Kabupaten Sukabumi.

Tiga orang dari Komunitas Reenactor Explore Kipahare (REK) mengunjungi lokasi Perkebunan Cikasintu ditemani komunitas pecinta alam yang bisa mendampingi dalam menjelaskan potensi sejarah di wilayah tersebut. Kedatangan tim yang terdiri dari Heri Sake, Abek Risnandar dan Saeful Ikhayat itu, untuk survey sekaligus melakukan eksplorasi peninggalan sejarah di tempat tersebut, pada Minggu (24/3/2019) lalu.

Penasaran bagaimana catatan mereka selama perjalanan dan di lokasi perkebunan? Simak kuy lima catatannya, Gaess.

[1] Medan yang yang cukup sulit dan penuh mitos

Perkebunan Cikasintu yang terletak di Desa Cidadap ini lokasinya lumayan jauh, yakni sekitar 70 kilometer dari pusat Kota Sukabumi dengan medan yang relative sulit untuk dijangkau karena sebagian hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua.

Tetapi, meskipun begitu, lelah ketiganya terobati dengan pemandangan alam nan indah menuju lokasi. Dilintasi beberapa sungai dengan jembatan tua seperti Jembatan Tjiwalahar yang dibangun pada 1915.

Heri, Abek dan Saeful juga melewati Gunung Bentang, sebuah gunung batu kapur menjulang di batas Kecamatan Sagaranten dan Cidolog. Keberadaan gunung ini menjadi sangat penting karena merupakan hutan hujan tropis terakhir di selatan Kabupaten Sukabumi (Pajampangan).

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Gunung Bentang merupakan tempat bertapa Prabu Kiansantang, cerita rakyat ini ternyata mampu menyelamatkan gunung tersebut dari jamahan para pembalakan liar yang kian marak.

Bahkan, dari pantauan tim, ciri fisik yang paling mencolok dari Gunung Bentang adalah adanya sebuah ceruk menggantung setinggi 200 meter di lereng vertikalnya. Karena ceruk itu terlindung dari air hujan, maka keadaannya menjadi kering dan tak ditumbuhi lumut ataupun pepohonan.

Jika dilihat dari jauh, ceruk yang oleh masyarakat sekitar disebut “jandela Gunung Bentang” itu tampak sebagai titik putih di antara pepohonan berwarna gelap. Maka, tidak berlebihan jika orang-orang zaman dulu mengibaratkan titik putih itu sebagai bintang terang di kegelapan malam, sehingga gunung tersebut diberi nama Gunung Bentang.

[2] Cikasintu, lokasi penanaman besar-besaran karet pertama

Perkebunan Cikasintu sangat berperan dalam sejarah perkebunan karet di Nusantara danyang sempat merajai pasar karet dunia. Tanaman yang berasal dari Brasil Amerika Selatan ini diusahakan pihak kolonial untuk ditanam di Hindia Belanda, meskipun pada awalnya karet diujicobakan dan dikoleksi di antaranya di Kebun Raya Bogor dan Subang.

Pembukaan areal Perkebunan Cikasintu secara besar dilakukan pada 1895, emplasement (area pemukiman) Cikasintu sendiri kemudian dijadikan sebagai lokasi penanaman karet pertama di Pulau Jawa.

Sekitar tahun 1907 tercatat sebagai Onderneming Tjikasintoe yang dimiliki oleh Tjikasintoe Rubber Estates Ltd., Batavia, dengan Administratur R. B. Fenton. Pada Maret 1910 didirikan Perusahaan Karet Baru oleh investor asal Inggris dengan nama Kasintoe Rubber Estates, Limited. Pendaftaran perusahaan ini dilakukan di London, Inggris, dengan saham seharga 110.000 Foundsterling.

Kasintoe Rubber Estates mengoperasikan Tjikasintoe dan Tjirantja yang secara bertahap sudah ditanami sekira 450.750 pohon hevea. Penaman karet besar-besaran baru dilakukan di semua areal perkebunan pada 1940 hingga 1941.

BACA JUGA:

Nurjanah dan 5 kasus bunuh diri remaja Kabupaten Sukabumi 2017-2019

Wanita Sukabumi (Part 4): Kartiwi kekasih Lettu Bakrie dari Cibadak, kisah pilu masa perjuangan

Petaka cinta segi tiga di Kalapanunggal Sukabumi menjadi headlines media Eropa

[3] Menjadi tempat gerilya para pejuang

Ketika Jepang masuk, perkebunan ini dibiarkan terbengkalai karena berlangsung peperangan Jepang melawan sekutu, masyarakat menanam umbi-umbian dan tanaman yang diwajibkan pada masa itu, seperti pohon jarak. Bahkan, pada saat pecah perang kemerdekaan, perkebunan ini menjadi tempat berlindung para pejuang.

Ketika pasukan Belanda melakukan agresi ke Kota Sukabumi pada Juli 1947, para pejuang mundur ke pedalaman, mereka mengundurkan diri dari Kota Sukabumi dan mengkonsentrasikan diri bersama pimpinannya daerah di selatan Sukabumi Selatan, yakni wilayah Segaranten, Cidolog, Cikasintu, dan sekitarnya. Bahkan, beberapa pejuang dari kota lainpun banyak yang berlindung di Cikasintu, salah satunya adalah Tole Iskandar dari Depok yang saat itu baru berusia 25 tahun.

Ketika Belanda memasuki wilayah Depok, Tole mundur dari kota tersebut dan memilih bergabung bersama Ibrahim Adjie di markas TKR Bojonggede. Saat Bojonggede digempur pasukan Belanda, Tole dan rekan-rekan seperjuangan akhirnya mundur ke Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Perjalanan menuju Cicurug dilakukan dengan menembus penjagaan ketat pasukan NICA. Mereka menyamar sebagai rakyat dan menaiki kereta api yang sedang terpakir di Stasiun Bogor. Karena kemampuannya mengemudikan kereta, Tole Iskandar kemudian mengemudikan kereta api tersebut ke Sukabumi. Dari Sukabumi ia melanjutkan perjalanan menuju wilayah selatan Sukabumi dan berlindung di Perkebunan Cikasintu yang cukup terpencil.

[4] Pembantaian Tole Iskandar dan kisah anjing

Dari Bogor, pasukan Belanda kemudian bergerak menuju Sukabumi dan menguasai beberapa fasilitas yang sudah dihancurkan oleh para pejuang. Kota Sukabumi pun akhirnya dikuasai Belanda meskipun mendapat perlawanan dari pejuang.

Belanda yang menyadari bahwa para pejuang terkonsenrasi di wilayah selatan, kemudian melakukan serangan besar-besaran ke wilayah selatan Sukabumi pada 16 Agustus 1947, sekaligus menduduki Leuwilisung, Nyalindung, dan Padabeunghar. Sementara para pejuang terus melakukan perlawanan dengan sengit termasuk pasukan Tole Iskandar dari Cikasintu.

Belanda sangat geram dan terus melakukan serangan besar-besaran, hingga pada 6 September 1947 Belanda menyerbu Baros, dan kemudian menuju Cikasintu. Tole yang ditemani seekor anjing besar melakukan perlawanan mati-matian, namun nahas, akibat persenjataan tidak berimbang, Tole kemudian berhasil disergap pasukan Belanda. Pasukan Belanda sengaja menangkap Tole hidup-hidup dengan harapan bisa mendapatkan banyak informasi tentang para pejuang lainnya.

Saat diinterogasi, Tole didekati lima serdadu Belanda, namun tiba-tiba anjingnya menggonggong dan menyerang kelima interogator Belanda tersebut karena melihat keselamatan tuannya terancam. Sambil mundur beberapa langkah, kelima interogator menembak anjing tersebut tepat di bagian kepalanya. Tole marah dan spontan merampas senjata salah seorang dari mereka, kemudian sambal berguling ia menembak kelima tentara Belanda tersebut hingga tewas bersimbah darah.

Melihat kondisi tersebut, pasukan Belanda cukup kaget dan segera mengarahkan pasukan untuk mengepung Tole, sebuah mitraliur tank tempur Belanda kemudian membombardir Tole hingga tubuhnya hancur beberapa bagian. Tole pun gugur di Onderneming Cikasintu.

Keluarganya mendapatkan informasi ihwal kematiannya tepat pada hari raya Idul Fitri. Jasad tole dikemudian hari diangkat dan dimakamkan ulang di Taman Makam Pahlawan Dereded, Bogor.

[5] Kondisi perkebunan saat ini

Karena kondisi yang belum kondusif, mulai 1950 Perkebunan Cikasintu disewakan oleh Kasintoe Rubber Estates. Sang penyewa kemudian memutuskan untuk mengakusisinya pada 1952, kemudian didirikanlah NV. Telaga Kantjana yang kemudian berubah menjadi  PT Telaga Kantjana sejak 1968. Peremajaan pohon karet di lahan perkebunan seluas 1.532,27 ha itu dilakukan terhadap pohon karet yang sudah tidak produktif.

Hingga saat ini PT Telaga Kantjana masih memproduksi karet melalui Hak Guna Usaha Perkebunan. Selain karet sebagai tanaman utama, dilakukan diversifikasi seperti penanaman buah-buahan serta bambu dan jati. Tak heran jika hingga saat ini lokasi Perkebunan Karet Cikasintu masih asri dan sejuk.

Selain itu, di lokasi tersebut, Heri, Abek dan Saeful juga masih bisa melihat mesin-mesin tua buatan Inggris, seperti mesin injeksi uap merk Crossly Brother produksi Manchester tahun 1905 dan timbangan bermerk Berkel. Nampak pula bekas kolam renang di rumah administratur yang sekarang menjadi kantor perkebunan.

Duh, keren ya, Gengs, meskipun jauh dari pusat kota, para pejuang kemerdekaan tetap memiliki semangat juang yang sama besar untuk membela tanah airnya. Perlu upaya lebih tentunya untuk mengangkat kembali sejarah Cikasintu ini agar lebih dikenal oleh masyarakat, khususnya warga Sukabumi.

Sangat menarik kan, Gaess?

Liburan akhir pekan tentu menjadi pilihan waktu yang tepat untuk mengunjungi lokasi ini sambil menikmati alamnya yang indah, sekaligus mencatat kisah sejarahnya yang menarik untuk diceritakan kembali kepada teman-temanmu.

Nah, buat kalian yang tertarik untuk melakukan kegiatan eksplorasi kesejarahan dan reka ulang sejarah Sukabumi, silakan bergabung dengan REK di grup Facebooknya.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *