Latihan perang Hindia Belanda di Kampung Lio, 5 fakta gen XYZ Sukabumi tahu?

Kampung Lio, Desa Cireunghas sudah tercatat dalam peta sejak tahun 1889, bahkan bisa jauh lebih tua lagi jika mengacu pada keberadaan makam Eyang Layung Kuning di atas Gunung Cipadung.

Rel yang membentang sepanjang Kampung Lio, Desa Cireunghas, seolah menceritakan kisahnya yang teramat panjang. Kampung yang merupakan sentra ekonomi batu bata ini menyimpan banyak kisah ironi masa lalu. Dari mulai kisah yang terpukau dengan keindahanan alamnya, sampai kepanikan menjelang terjadinya Perang Dunia II.

Berikut lima fakta sejarah Kampung Lio yang diungkap oleh Yayasan Dapuran Kipahare (YDK).

[1] Mata Hari mengagumi keindahan alam Kampung Lio

Lebih dari 100 tahun yang lalu, area yang saat ini dikenal dengan Kampung Lio dikatakan menjadi ilusi mata para penumpang kereta api yang haus akan keindahan priangan. Bukan hanya penumpang biasa, para tokoh seperti Eliza R. Scidmore, William Worsfold, Raja Thailand dan Pangeran Austria Frans Ferdinand pernah menikmati pemandangan di Kampung Lio dari balik jendela kereta api.

Konon juga, sosok legendaris Mata Hari (Margarethe Zelle), seorang mata-mata ganda Jerman juga melewati area ini di atas roda besi yang berputar dengan penuh kekaguman.

Bisa dibayangkan mereka melihat lembah dengan hamparan sawah dan aliran sungai dikanan kiri, yang dikelilingi perbukitan Gunung Cipadung, Gunung Bandera dan Pamipiran.


#Ngakilima @SukaKopi.
Pintu masuk Kantor Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.
Kami buka 24 jam.

[2] Latihan perang tentara Hindia Belanda

Dulu sungai aliran sungai Cimandiri lokasinya lebih mendekati Gunung Cipadung, sehingga hamparan sawah luas masih tersedia di sekitar rel. Nampak belokan rel yang diapit di antara pesawahan dan bantaran Sungai Cimandiri, terdesak oleh kikisan air sungai yang bergeser semakin mendekati rel. Di situlah ironi angkatan bersenjata Hindia Belanda berlangsung dalam mempersiapkan perang yang tak siap dihadapi.

Delapan puluh tahun yang lalu, Hindia Belanda yang diapit di antara dua kekuatan bermusuhan Sekutu dan Jepang, terdesak oleh kepanikan dan melakukan latihan perang besar-besaran di sini. Kala itu, tentara pendudukan Jepang mulai mendekati Nusantara. Patok berangka “9” menjadi saksi bisu yang bisa kita lihat keberadaannya hingga kini.

Hindia Belanda memang layak panic. Menjelang pecahnya Perang Dunia II, kavaleri berkuda abad ke-19 masih menjadi andalan angkatan perangnya. Seolah musuh yang dihadapi tak jauh beda dengan gerombolan pembangkang pribumi yang mudah dibabat habis meriam dan senjatanya.

Pasca Perang Dunia I tidak juga menyadarkan pentingnya perbaikan sistem pertahanan perangnya. Patokan terbarunya mengandalkan pertahanan Defensive Grondslagen dengan asumsi paling besar kekuatan musuh yang menyerang hanya satu divisi saja. Hindia Belanda seolah tak membayangkan kekuatan perang Jepang yang menandingi Rusia dan mampu melibas habis wilayah Hindia Belanda hanya dalam waktu kurang dari satu bulan saja.

[3] Latihan perang yang seadanya

Latihan perang sendiri memang rutin dilakukan oleh tentara Hindia Belanda. Namun, Rob Nieuwenhuy dalam bukunya Een Beetje orloog (Sekedar Perang), menyebutnya sebagai latihan yang usang dan keliru. Bisa jadi Rob benar, latihan perang Hindia Belanda kala itu masih diilhami cara kolonial dengan penyerangan satu kampung, menangkapi penduduk dan memaki untuk menyebutkan nama-nama pemberontak.

Sebagai contoh, dalam latihan perang di Sukabumi yang berlangsung enam hari (5-10 Sepember 1929), tentara Hindia Belanda masih menggunakan taktik perang dari kampung ke kampung, mulai dari Gunung Karang, Sudajaya Hilir, Ciaul hingga Cikaret dan Ranji. Kegiatan ini hanya melatih mobilitas dan manuver para serdadu. Sementara perwiranya hanya sekedar teori. Mereka tahu apa arti pertempuran, namun tidak tahu cara bertempur sehingga dijuluki “perwira Salon.”

editor’s picks:

Hoaks dari Cibadak dan potret hubungan Jepang-Hindia Belanda di Sukabumi

Film ini dibuat zaman Belanda, nomor 5 produsernya wartawan asal Sukabumi

[4] Modernisasi militer yang “terlambat”

Modernisasi militer Hindia Belanda sendiri baru dilakukan tahun 1936 melalui pengiriman tank ringan dari Skandinavia serta menambah markas tentara. Staats mobilitatie Raad (Dewan Mobilisasi Nasional) dibentuk untuk melengkapi pasukan dengan peralatan modern namun tidak berjalan karena kendala anggaran.

Sesudah Negeri Belanda dikuasai Jerman dan ratu Belanda mengungsi ke London pertengahan Mei 1940, barulah Hindia Belanda melakukan persiapan dengan terburu-buru. Dana pertahanan akhirnya turun 80%, pabrik mesiu di Bandung mulai memproduksi bom besar, pabrik optis untuk tentara dibangun, mortir diproduki oleh jawatan kereta api, tak ketinggalan perusahan Borsumij juga memproduksi senapan jenis Vickers.

Sayangnya upaya modernisasi hanya maksimal sampai di situ. Pesanan peralatan perang ke Amerika Serikat senilai $200 juta gagal, hanya 10% saja yang terealisir. Misalnya, 25 juta peluru yang diminta hanya terkirim 7 juta butir saja. Itupun dialihkan dari jatah pasukan Amerika Serikat di Islandia. Belanda memesan 169 pesawat pembom tukik dilengkapi dengan B25 bom berat namun tidak dapat dipenuhi. Hanya 35 pesawat pembom Brewster Buffalo dan penyergap Curtiss yang bisa dipenuhi.

Masalah semakin rumit ketika Gubernur Jenderal Van Mook menolak permintaan delegasi Jepang yang dipimpin Ichiro Kobajashi untuk menambah pasokan minyak bulan September 1940. Jebakan Amerika Serikat ditengarai menjadi penyebab kenekatan Hindia Belanda yang membangunkan macan tidur dalam konferensi yang dilaksanakan di Selabintana, Sukabumi.

Semenjak itu, mau tidak mau Hindia Belanda harus siap berperang dengan Jepang meski status resminya masih netral. Salah satu upaya Hindia Belanda adalah dengan melakukan latihan perang besar-besaran untuk menguji sekaligus pamer kekuatan yang ada. Hanya kurang lebih dua bulan sebelum jepang menyerang, Hindia Belanda melakukan latihan perang yang bertajuk “Desa X diserang oleh pasukan bermotor”.

Secara bombastis Bataviasch Nieuwsblaad tanggal 22 November 1941 menyebutkan bahwa latihan selama dua hari itu menarik minat sebanyak 25 ribu penonton untuk menyaksikan.

Bahkan dibuat tribun khusus di Kampung Lio karena kehadiran para pejabat seperti Bupati Sukabumi, Bupati Cianjur, Asisten residen Sukabumi dan Cianjur, Kolonel Koppen, Mayor Van Marle, Mr Smith (Direktur Sekolah Polisi). Lalu lintas sekitar jalan diatur oleh siswa sekolah polisi melalui arahan inspektur De Vries. Latihan di lapangan dipandu oleh Mayor Van Marle melalui mikrofon, sementara Patih Sukabumi menerjemahkannya ke bahasa Sunda sehingga dimengerti oleh masyarakat uang menyaksikan.


#Ngakilima @SukaKopi.
Pintu masuk Kantor Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.
Kami buka 24 jam.

[5] Strategi perang yang ketinggalan zaman

Skenario latihan perang tetap tak berubah, strategi yang dijalankan adalah menghadapi serangan dari desa ke desa. Skenario dimulai dengan menempatkan pasukan disekitar Kampung Lio, yaitu di bukit Pamipiran dan sebagian di kaki Cipadung, kemudian sebagian artileri bersiap di pertigaan yang posisinya cukup tinggi.

Ceritanya, musuh dengan resimen motornya masuk dari pantai selatan dan menguasai Desa Gegerbitung. Pasukan pencegat bersiap diri di beberapa tempat strategis seperti pertigaan, jalan mobil, rel kereta dan bantaran sungai Cimandiri. Musuh tak kalah cepat bergerak, jembatan Cireunghas segera dikuasai sehingga tak sempat dihancurkan oleh pasukan Hindia Belanda. Akhirnya pasukan mundur dan bergabung di kampung lio yang sudah dilengkapi artileri, meriam anti pesawat dan senjata mesin berat.

Salah satu kendaraan musuh muncul dari arah Cireunghas dan langsung ditembak oleh meriam hingga terjungkal. Deru pesawat memekakan telinga penonton, bermanuver, menukik dan menembaki sasaran yang sudah disiapkan. Diskenariokan pesawat yang menembaki wilayah Cireunghas dapat dipukul mundur musuh sehingga semua kekuatan musuh bisa bergerak masuk ke kampung Lio.

Maka berhamburanlah mortir, Howitzer dan senapan mesin terus dimuntahkan kearah musuh. Begitu iringan kendaraan lapis baja tiba, dentuman meriam menggelegar di seantero Kampung Lio, dan retetan senapan mesin menyalak tiada henti.

Musuh kemudian datang dengan kendaraan lapis baja penuh dari arah jalan dan pesawahan, mereka ditembaki oleh pasukan KNIL dari jalan kereta api. Decak kagum penonton tak henti-hentinya memuji latihan perang tersebut hingga musuh menyerah kepada angkatan bersenjata Hindia Belanda. Media menyebut latihan itu dengan penuh pujian dan kesiapan dalam menghadapi aggressor Jepang.

Hal ini cukup ironis dengan kondisi sebenarnya, sangat memprihatinkan jika menghadapi strategi perang baru ala blitzkrieg ala Jerman atau Jepang. Jendral Ter Poorten (pimpinan angkatan bersenjata Hindia Belanda) sendiri pesimis dengan kondisi ini dan menyebutnya sebagai kondisi yang tidak bisa diharapkan.

Dan pesimisme itu menjadi kenyataan, Hindia Belanda kalah telak di semua lini, bahkan tentara Jepang masuk ke Sukabumi dengan cara yang tak disangka, yaitu serangan udara. Sementara pasukan Hindia Belanda sudah tidak ada di tempat dan para pejabatnya sudah lari duluan ke Bandung.

Latihan perang yang jadi tontonan besar di Kampung Lio nampaknya menjadi ironi bagi Hindia Belanda, karena berakhir dengan kekalahan teater perang yang sangat besar.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *