Owner Bakso Mewek Sukabumi: Dari gagal kuliah, hingga jadi pemurung beruntung

Dari seseorang yang sempat di-bully dan akhirnya menjadi penjual bakso dengan omset Rp2 juta per hari.

“Tepat di hari ulang tahun ke-20, aku berani memutuskan mulai jualan Bakso Mewek. Entah apa yang terpikirkan saat itu, yang pasti waktu itu orangtua sedikit marah karena brand yang aku pilih dinilai kasar untuk didengar orang Sunda pada umumnya,” jelas Annisa Febriana kepada sukabumiXYZ.com.

Bahkan sang ibu sampai ngomel, “Apaan bakso mewek? Masa nama usaha pakai kata kasar, sama aja ngajarin kasar ke orang. Ganti yang lain aja. Gimana kalau yang baca anak kecil?” Annisa menirukan kritik ibunya. “Justru ini seninya, bu. Coba ‘aja ibu sebutin, enak dibaca dan mudah diingat kan?” Jawab gadis kelahiran 23 Februari 1998 itu.

Nah, Gengs, bagaimana kisah perjalan hidup gadis si tukang bakso ini? Benarkah memilih nama Bakso Mewek cuma karena terdengar mudah diingat dan dilafalkan? Seperti apa sih kriteria cowok idaman Annisa? Berikut wawancara lengkap sukabumiXYZ.com dengan hijaber ini.

Bisa ceritakan bagaimana perjalanan hidup kamu selama ini, dan seperti apa sih seorang Annisa ini?

Iya, setelah lulus SMK (sekolah menengah kejuruan) jurusan pengawasan mutu, aku tuh sebenarnya merasa ‘gak pernah punya bakat dagang karena ‘gak pandai memasak.

Samalah seperti anak-anak muda lainnya, aku bermimpi memiliki gelar sarjana. Bahkan, sejak kelas tiga SD sudah kepikiran bercita-cita menjadi sarjana bidang desain interior. Aku punya hobi senang me-remake sesuatu yang tidak berguna menjadi punya nilai jual tinggi, seperti perkakas di rumah. Kalau bahasa gaulnya sih DIY (do it yourself) gitu.

Jadi ‘gak jarang ibu aku suka kesel dan marah karena aku sering ngumpulin barang bekas di kamar (tertawa).

Jadi waktu itu, wish list utamanya universitas di Jogjakarta, tapi tiga kali gagal ikut program beasiswa. Bahkan, saat kuliah di salah satu perguruan tinggi pun terus aku coba ikut tes, sampai akhirnya harus terima nasib. Mungkin karena restu orang tua juga berpengaruh, terkhusus ibu, ia melarang kuliah di luar daerah.

Setelah ‘gak jadi kuliah desain interior, apa aja sih yang kamu lakukan?

Iya, dari situ aku memilih kuliah di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, ngambil jurusan Managemen Bisnis. Tapi selang seminggu aku putuskan berhenti dan pindah ke kampus lain, masih fakultas bisnis juga. Itupun hanya tiga semester. Aku ngisi waktu luang dengan coba-coba melamar kerja. Sampai berani sendirian muter-muter Jakarta dan Karawang.

Sebenarnya ‘gak ada niatan kerja, memang mungkin karena jenuh. Masih ada perasaan kesal dan putus asa gagal masuk desain interior.

Tapi kalau untuk aku pribadi, waktu gagal itu selalu mengatakan dalam hati, aku hanya belum bisa menjangkaunya, bukan berarti tidak bisa. Itu motivasi terpenting yang selalu aku tanamkan. Kalau soal pengalaman bekerja hanya di pabrik, itupun satu bulan sebelum kuliah. Pernah juga bekerja di minimarket selama tiga bulan.

Oiya, selama masa kuliah aku juga sudah menjalankan bisnis online jual beli kamera. Itu adalah masa-masa kejayaan aku dalam berbisnis, sekaligus cambuk. Sampai bisnis tersebut berhenti saat aku memutuskan berhenti bekerja di minimarket karena kehilangan HP saat bekerja. Bukan soal HPnya tapi isinya. Kerugian dari kehilangan HP sampai sembilan jutaan. Mungkin kecil bagi orang, tapi untuk ukuran anak remaja seperti aku ya cukup terpukul.

Setelah itu, dua bulan menggangur ‘gak karuan, Desember sampai Januari 2018. Murung, tapi ‘gak mau cerita sama orangtua. Orangtua taunya aku malas kuliah ‘aja, bukan mikirin kerugian. Sampai akhir Januari aku nyoba bekerja di salah satu toko sepatu yang lokasinya cukup sulit buat nyari makan. Dari situ jalan rezeki aku mulai terlihat.

BACA JUGA:

Bakso Mewek Cibadak, mewek di jalan tapi dijamin bikin milenial Sukabumi ketagihan

Jadi sejak itu kamu kepikiran berjualan bakso? Berapa omset Bakso Mewek ini sekarang?

Aku usah apapun dicoba, cuma memang hampir semua dagang atau jasa ya. Dari mulai jualan online, seperti pakaian, alat kecantikan, kamera, dan kebutuhan lain. Aku jualan online dari masih SMP kelas tiga. Sering bikin sablon baju distro, dari eceran sampai partai besar. Aku juga hobi banget koleksi baju distroan, sesuai kepribadian aku yang sedikit tomboy. Jadi perjalanannya cukup panjang, sampai berani jualan bakso.

Aku hanya melihat ini peluang bisnis yang ‘gak akan ada matinya. Dari modal awal hanya 20 ribu Rupiah, iseng bareng kakak yang memang doyan banget makan bakso.

Nah, tepat tanggal 26 Februari 2018, mulai usaha Bakso Mewek ini. Awalnya produksi sendiri di rumah dengan skala kecil, modalnya cuma 20 ribu, sisa uang saku untuk membeli daging ayam, waktu itu masih Rp18 ribu setengah kilogram, tanpa tulang. Sisanya untuk bumbu, dengan alat memasak seadanya di rumah. Awalnya dari mulai bakso ayam, acinya ‘aja ngegumpal. Wajar, karena pake blender juicer yang ada di rumah aja.

Proses menjadi bakso yang sekarang ini banyak lika-likunya, sampai aku berhasil menemukan rasa yang pas. Sampai saat ini aku masih terus belajar. Karena memang ‘gak ada turunan yang bisa bikin bakso. Jadi ini bakso sebenarnya asli selera orang Sunda (tertawa).

Sampai sekarang, pemilihan bahannya sampai saat ini masih aku yang pilih sendiri, karena harus kualitas bagus. Bahkan aku tungguin sampai selesai cetak bakso pun, aku lakuian sendiri, belum ada campur tangan orang lain.

Tapi pernah juga mengalami kejadian buruk. Tepat tanggal 26 Desember 2018, waktu itu aku memutuskan menggiling daging dua kali lipat dari biasanya, untuk stok, tanpa berpikir panjang. Mungkin karena sedikit lelah, aku ‘gak kontrol kualitas daging yang dibeli. Ya percaya ‘aja sama langganan. Hasilnya persis sama seperti waktu pertama aku produksi bakso di rumah, antara daging dan aci ‘gak kalis, karena banyak obrog. Alhasil, lapak dan persiapan dagang sudah rapih, terpaksa harus ditutup. Padahal pembeli sudah mulai pada datang.

Masih ingat ucapan nenek, “Jangan takut rugi karena barang sedikit.”

Walapun waktu itu keluarga dan tetangga bilang, “Rasa baksonya ‘gak berubah kok, neng. Enak dan layak jual.” Tapi aku kadung sedih, kesal dan kecewa.

Melihat bakso seperti tidak layak jual, aku memutuskan untuk membagikan bakso itu ke tetangga sekitar dan menutup lapak pada hari itu juga. Besoknya, kembali modal dari awal. Dalam hati, “Kamu hanya kehilangan adonan. Jangan sampai kehilangan pelangganmu.”

Soal omset, waktu awalnya hanya 150 ribuan per hari. Sekarang alhamdulillah sudah tembus dua juta per hari. Meskipun skala rumahan.

Kenapa sih harus dikasih nama Bakso Mewek?

Aku ini punya hobi membaca buku atau artikel. Kebanyakan sih biografi seperti Marry Riana, Chairul Tanjung, Bob Sadino, sama yang terbaru, Susi Pudjiastuti. Pengen banget rasanya ketemu mereka, terutama bu Susi Pudjiastuti.

Kepribadian di balik sifat yang selalu tertawa sebetulnya aku orangnya pemurung dan jarang menceritakan masalah kepada orang lain. Jarang berbaur sama orang-orang, jadi gaulnya pilih orang yang sevisi dan sekarakter. Malah waktu SMP aku tuh pernah menjadi korban bully dari seluruh siswa seangkatan. Sedih kalau diceritain mah.

Alhamdulillah, aku berjuang sampai lulus. Dari pengalaman itu, menjadikan pribadi aku lebih mandiri dalam merencanakan, membuat, dan melakukan sesuatu. Meskipun imbasnya jadi jarang berdiskusi dengan keluarga juga, jarang ikut kumpul, kemana-mana pasti memilih diam dirumah dan sedikit sensitif.

Malah waktu sekolah di SMK pun, ‘gak yang tahu kalau aku tuh sekolah di SMK tersebut. Teman cewek dari waktu ke waktu hanya punya satu, mayoritas laki-laki karena aku juga orangnya ‘gak suka ribet.

Jadi, dari kisah sedih yang pernah aku alamin itulah, aku memutuskan memulai usaha Bakso Mewek ini. Kenapa memilih bakso, karena bagi kebanyakan orang bakso itu makanan favorit semua kalangan tanpa pilih alasan dan status sosial.

Jadi nama Bakso Mewek itu filosofinya mengubah sesuatu yang menyedihkan menjadi sesuatu yang disukai dengan menjadi diri sendiri. Tanpa sandiwara.

Terakhir, seperti apa sih kriteria cowok idaman kamu? Dan apa pesan kamu untuk remaja-remaja Sukabumi lainnya?

Sebetulnya ‘gak ada kriteria khusus untuk dijadikan pendamping hidup. Gimana dikasihnya ‘aja. Jodoh itu kan cerminan diri. Cuma yang utama itu soal keimanan ‘aja, dan bisa membimbing, ngajarin dan ‘gak rewel.

Tapi kalau harus memilih kriteria sifat, aku suka cowok yang ‘gak penuntut harus bisa ini itu dan ‘gak ngekang. Dia harus bisa menerima aku dengan hobi jualan ini. Yang penting ‘gak lupa sama tanggung jawab terhadap diri sendiri juga keluarga nantinya. Kalau soal fisik, aku sukanya sih cowok tinggi, kulit kuning, mata sedikit sipit, oriental gitu, karena aku orangnya sedikit risihan.

Kalau soal profesi, lebih memilih cowok dengan pekerjaan freelance atau berbisnis dibanding karyawan. Kalau bisa minta sama Allah, ya yang hobinya sama, berdagang biar sama-sama nyunah. Berjuang bareng-bareng dari nol biar saling menghargai hasil dari kebersamaan itu.

Pesan aku untuk remaja-remaja Sukabumi khususnya, kalian harus berani mencoba, jangan pernah dengar kata orang lain selama itu tidak ada manfaatnya.

Waktu awal jualan, aku juga pernah kokgak ada yang beli sama sekali. Orang-orang cuma lewat sambil lirik-lirik doang. Bahkan, pernah setiap pulang bekerja, bapak selalu tanya, “Neng, gimana hari ini? Ada yang beli? Dapet berapa porsi?” Dengan perasaan sedih aku jawab, “Alhamdulillah, kuahnya masih banyak belum ada yang nyicipin walau sesendok.” “Ya udah buatin satu porsi,” kata bapak. “Buat siapa? Ada yang beli ke bapak?” Tanya aku sama bapak.

“Lapar nih pulang kerja, ngebakso enak kayanya,” kata bapak lagi. Tanpa mikir panjang lagi, aku paham maksud bapak waktu itu. Malemnya aku nangis terharu. Dulu bapak sering bilang “Sabar, hanya proses. Modalnya abis yaa, ya udah pakai dulu nih besok belanja ke pasar bikin yang enak lagi, yang bagus dagingnya, bangunnya lebih pagi.”

Jadi selama beberapa bulan di awal, baksonya banyak nyisa, modal awal terus, bapak yang selalu nambahin.

Jadi dalam berbisnis itu, kalian hanya perlu ulet, fokus, terampil dan wajib berani.

 

Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

2 thoughts on “Owner Bakso Mewek Sukabumi: Dari gagal kuliah, hingga jadi pemurung beruntung

  • Avatar
    10 January 2019 at 15:46
    Permalink

    Bakso Ter Ter Ter mangtaf se Sukabumi, rugi loh kalau gk nyobain gaes

    Selain enak dan lada, owner-nya juga someah loh.

    Reply
    • Feryawi Heryadi
      10 January 2019 at 20:14
      Permalink

      mangtabbb

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *