#Opini: Menggagas patriotisme dari bilik kampus; Respon subjektif atas prakarsa dihidupkannya kembali Menwa

Memenuhi petala langit nusantara dengan gemuruh pekikan Indonesia Merdeka.

Oleh: Andi Supriadi

Beberapa pekan yang lalu, Menhan RI Ryamizard Ryacudu mengemukakan program bela negara dibentuk untuk melawan paham-paham yang ingin menggantikan ideologi Pancasila, baik yang ekstrem kiri maupun ekstrem kanan. Ekstrem kiri berupa sosialis dan komunis, sementara ekstrem kanan berupa fundamentalisme agama, radikalisme dan ekstremisme. Program itu sudah dimulai tiga tahun terakhir ini untuk masyarakat umum. Tahun ini akan masuk dalam kurikulum pendidikan.

“Penguatan kesadaran bela negara dimulai sejak usia dini hingga ke perguruan tinggi. Sehingga anak-anak dan generasi muda yang belum terpengaruh akan semakin dikuatkan agar tidak mudah dipengaruhi paham radikal,” kata Ryamizard Ryacudu saat memberi sambutan dalam Rakor dan Evaluasi Pelaksanaan Bela Negara di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (5/3/2019).

Ryamizard Ryacudu menjelaskan program bela negara ingin mengubah mindset atau pola pikir para anak bangsa agar menanamkan rasa cinta terhadap bangsa. Jangan sampai generasi muda lebih mengagung-agungkan paham radikal daripada Pancasila.

“Konsep ini dibangun agar seluruh rakyat Indonesia memiliki kekuatan pikiran serta memiliki jati diri yang tidak mudah terpengaruh oleh ajak-ajakan yang memakai kedok agama Islam. Program ini sebagai kekuatan daya tahan dan daya tangkal terhadap paham-paham radikal. Semua ini dilawan dengan ideologi Pancasila,” tutur Ryamizard Ryacudu.

Ryamizard Ryacudu meminta kampus-kampus agar mengaktifkan kembali pembinaan resimen mahasiswa (menwa), Pramuka, Kesenatan dan Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Semua program-program itu sebagai bentuk rill dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila.

“Perguruan tinggi tidak hanya mencetak intelektual yang cerdas, tetapi juga mencetak para pemimpin bangsa yang memiliki sifat kenegaraan yaitu memiliki kecintaan kepada tanah air, rela berkorban bagi bangsa dan negara serta setia kepada Pancasila dan cita-cita negara,” ujar Ryamizard Ryacudu.

Menyikapi pernyataan Menhan RI tersebut terkait permintaan pengaktifan kembali pembinaan Menwa di kampus-kampus, dinilai merupakan langkah yang sejalan dengan apa yang selama ini dilaksanakan oleh para senior/ alumni Menwa di hampir seluruh Indonesia. Tanpa mesti menunggu kebijakan negara lebih lanjut, para senior Menwa merasa terpanggil jiwanya untuk terus ikut serta dalam upaya bela negara melalui kaderisasi Resimen Mahasiswa meski harus menghadapi berbagai rintangan dan keterbatasan di saat pasca reformasi. Namun selama hal itu untuk kepentingan bela negara, keselamatan negara, para senior Menwa dengan berbagai bentuk inisiatifnya, terus melanjutkan kaderisasi dan pembinaan Menwa meski harus swadaya dan urunan dalam pembiayaannya. Para senior Menwa ini paham dengan azas “civis pacem parabellum, civis bellum parapacem, qui desidarat, bellum preparat”, yang berarti barangsiapa yang menghendaki peperangan, maka bersiap-siaplah menghadapi perdamaian, dan barangsiapa menghendaki perdamaian maka bersiap-siaplah menghadapi peperangan.

Para penyelenggara negara sudah sepatutnya bangga dan memberikan apresiasi terhadap semangat pengorbanan yang begitu tinggi yang telah ditunjukkan oleh para senior/ mantan Menwa tersebut, walau mereka tak pernah menuntut atau minta dikenang jerih payahnya.

Sekarang ini, sudah saatnya apa yang telah, sedang dan akan dilakukan para penggiat Menwa ini haruslah dipandang sebagai bentuk inisiatif dalam rangka terus menerus menjadikan setiap element masyarakat Indonesia terutama generasi mudanya menjadi jajar juang (battle order) dalam sistem pertahanan rakyat semesta, dalam turut serta melakukan upaya bela negara. Karena, peranan genersi muda sejak dulu selalu menjadi bahan perhatian dan tumpuan harapan, terlebih pada proses bangsa ini mengkerucutkan cita citanya menjadi suatu bangsa yang tertata dalam suatu negara kesatuan.

Dengan demikian, maka upaya untuk terus menghidupkan dan melestarikan Resimen Mahasiswa di kampus-kampus adalah merupakan salah satu bentuk “resolusi jihad” untuk mempertahankan tradisi juang pendiri bangsa, memelihara energi positif & eksistensi generasi muda intelektual dalam merawat kedaulatan rakyat dan negara.

Gerakan yang cukup kolosal yang ditunjukan para penggiat bela negara tersebut dalam melakukan kaderisasi & regenerasi Menwa, bukan hanya dipandang mengandung spirit “Nabi Nuh” dalam membangun dan mempersiapkan “bahtera” generasi masa depan dalam menghadapi ancaman “air bah” globalisasi dan “banjir bandang” liberalisme yang siap menyapu dan menenggelamkan setiap negara bangsa (nation state),, namun juga dipandang mengandung spirit integritas (Keteguhan pendirian) “Nabi Ibrahim” dalam “mendinginkan” suasana “kobaran api” orientalisme yang hendak melumatkan tubuh Bhinneka Tunggal Ika. Termasuk spirit mendirikan “Baitullah” NKRI, dengan meletakan “batu hitam” Pancasila di sudut bangunan “ka’bah” UUD 1945 sebagai pusat “kiblat” pandangan pengabdian berbangsa bernegara, dan sekaligus membersihkannya dari “berhala-berhala” ideologi lainnya. sehingga terwariskan tradisi juang dan “wisata” spriritual bagi generasi selanjutnya.

Tak hanya itu, gerakan massif para “Satria Bertoga” itu juga dipandang mengandung spirit kegigihan perjuangan “Nabi Musa” dalam membawa hijrah rakyat menyeberangi “Lautan merah” komunisme berikut menenggelamkan “fir’aun-fir’aun” imperialisme, “penyihir-penyihir” radikalisme, “pemuka-pemuka” Intoleransi & “balatentara” kolonialisme.

Juga, gerakan spontanitas tersebut dipandang mengandung spirit kecerdasan intelektual “Nabi Isa” dalam menyuarakan idenfitas diri dengan bahasa kebenaran dalam usianya yang masih muda, “menghidupkan kembali” patriotisme yang mati, mengobati “kebutaan” nasionalisme, menyembuhkan “penyakit kusta” jatidiri lingkungannya, dan menurunkan “hidangan langit” penghilang dahaga dan perut lapar rakyatnya dalam menghadapi ancaman krisis identitas, krisis kepercayaan dan ancaman pembelokkan ideologi bangsanya.

Terakhir, gerakan kaum Baret Ungu itu dipandang mengandung spirit kecerdasan emosional “Nabi Muhammad” dalam “berdakwah” politik negara untuk meneruskan ajaran luhur pendahulunya dan menyebarkan ajaran “kedamaian” Indonesia ke seluruh penjuru dan pelosok negeri guna membangunkan kesadaran kolektif untuk membebaskan diri dan melakukan perlawanan dari ancaman kungkungan sisi “kejahiliyahan” setiap jaman. Sehingga dengannya, setiap saat petala langit nusantara ini akan selalu dipenuhi oleh gemuruh pekikan Indonesia Merdeka, dan Sekali Merdeka Tetap Merdeka selama-lamanya.

Penulis adalah mantan Anggota Menwa Batalyon 2/ Unpad, Pemerhati Budaya & Lingkungan

2 thoughts on “#Opini: Menggagas patriotisme dari bilik kampus; Respon subjektif atas prakarsa dihidupkannya kembali Menwa

    • Avatar
      28 March 2019 at 21:32
      Permalink

      Lanjutkan, demi kibar Sang Saka Merah Putih,di seluruh nusa dan belantara ……!!!

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *