Puluhan komunitas Sukabumi bagikan takjil on the road, 5 alasan gen XYZ wajib niru

Acara juga dimeriahkan berbagai aktivitas yang menghibur sambil ngabuburit dan juga pelaksanaan bukber dengan anak yatim dan kaum dhuafa.

Hari Minggu (12 Mei) kemarin, komunitas Sosial Adventure Kipahare (SAK) bekerja sama dengan Relawan Ruang Peduli Sukabumi, Komunitas Kaki Daun dan Dispora Kabupaen Sukabumi melakukan aksi keren lho, Gaess. Mereka membagi-bagikan takjil dan melaksanakan buka bersama (bukber) dengan anak yatim dan kaum dhuafa.

Giat sosial yang dilaksanakan di Lapangan Palagan Bojogkokosan, Parungkuda juga diramaikan puluhan komunitas lainnya, seperti Koko Barbeque, Renactor Kipahare, Peterpan Kipahare, Kukis Kipahare, RPCB, Bumi Qur’an, Sukabumi Facebook, sukabumiXYZ.com, D’kawung, Museum Palagan Bojongkokosan, Kaki Daun, Ruang Peduli, UKM Cicurug, P.O.A, dan Taman Baca Parung Kuda.

Apa saja kegiatan yang mereka lakukan ya, kuy? Berikut lima informasi yang dirangkum Sukabumixyz.com.

[1] Kegiatan rutin Sosial Adventure Kipahare (SAK)

Menurut Ketua SAK Cecep Sulaeman (Cevi), di antara berbagai kegiatan sosial rutin tahunan yang dilakukan SAK, aksi sosial Takjil on the Road ini merupakan salah satunya. “Tahun lalu saja kami bahkan bisa mengirimkan bantuan ke Palu dan Donggala serta serta Banten dalam aksi sosial bencana alam,” terang Cevi.

SAK sendiri menggalang anak-anak muda untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif misalnya melakukan “operasi semut” untuk membersihkan ruang-ruang publik secara rutin. Kini, SAK telah bergabung di bawah naungan badan hukum Yayasan Dapuran Kipahare. Sejak itu, kegiatan SAK semakin meluas dan menjadi program bersama sebagai bentuk kontribusi kepedulian komunitas terhadap masyarakat.

FYI ya Gaess, SAK juga sudah memiliki anak asuh dengan egiatan rutinnya melakukan pengajian. Bahkan salah satu anak asuh SAK ada yang mendapatkan beasiswa di Turki berkat upaya pencarian dukungan bagi anak-anak cerdas.

Oleh karena itulah, berbagai kegiatan yang dilakukan SAK mendapat apresiasi positif dari pemerintah setempat dan juga berbagai kalangan masyarakat.

[2] Antusisme pengunjung

Jalannya giat sosial Takjil on the Road sendiricukup menarik minat pengunjung, terutama dari kalangan kawula muda Sukabumi. Untuk menarik perhatian mereka, SAK memang berinisiatif melakukan kolaborasi dengan kegiatan atau penampilan lain yang atraktif.

Acara dibuka dengan sajian akustik dari komunitas musik lokal Sukabumi yang mempersembahkan lagu-lagu religi. Lalu, kegiatan dilanjutkan dengan lomba balap egrang guna melestarikan salah satu permainan lokal khas Sukabumi. Selain itu, ada acara diskusi sejarah degan narasumber Kang Irman Firmansyah dari Yayasan Dapuran Kipahare dan Kang Wewen Suwandi sebagai pengelola museum perjuangan Bojongkokosan.

Masyarakat bergembira dan turut serta aktif dalam kegiatan permainan. Saeful, ketua Komunitas Kaki Daun mengungkapkan pihaknya siap melaksanakan kegiatan musik akustik dengan pola seperti ini dan bisa diadakan mingguan selama Ramadhan. Namun untuk penyediaan takjil dan makanan akan menunggu siapapun yang hendak berkolaborasi. “Kami siap sebagai fasilitator tempat dan acara,” papar Saeful.

Sementara itu, Komunitas Peduli Ruang Sukabumi yang juga berpatisipasi dalam penyediaan makanan untuk anak yatim menjelaskan bahwa kolaborasi yang dilakukan berbagai komunitas di Sukabumi seperti ini memang yang mereka inginkan. Salah satu manfaat yang mereka rasakan adalah jangkauan kegiatan akan semakin meluas.

“Kami sudah melakukan kegiatan ini 30 kali bahkan dua mingguan kami lakukan, tentunya kami memerlukan kolaborasi antarkomunitas yang positif supya kegiatan semakin besar dan menjangkau seluruh lapisan,”  kata Dodi Firmansyah, ketua Ruang Peduli Sukabumi.

[3] Kolaborasi dengan semangat saling menguatkan

Kolaborasi semacam Takjil on the Road merupakan keniscayaan pada masa sekarang, karena siapapun tak bisa melakukkan sesuatu hal besar sendirian. Hal tersebut diungkapkan oleh Asep Deni, pembina Yayasan Dapuran Kipahare dan rektor STIE PGRI yang juga turut hadir.

Menurut Asep, ada tiga hal penting dalam kolaborasi ini. Pertama, kebermanfaatan untuk orang lain. Kedua, manfaat untuk masing-masing lembaga atau komunitas, dan yang ketiga kerberlanjutan atau sustainability. “Tentunya kolaborasi akan sama-sama mengangkat eksistensi komunitas tersebut, mirip dengan aktualisasi diri dalam konsep Maslow,” papar Asep Deni menjelaskan.

Memang benar, dalam kegiatan ini telah membagikan sebanyak 1130 paket takjil serta lebih dari 200 makanan yang dibagikan kepada anak yatim, kaum dhuafa, pengamen, tukang ojek, pengunjung, bahkan pengendara yang sedang lewat jalan Bojongkokosan. Para angota komunitas membagi-bagikan makanan untuk berbuka dengan tertib tanpa mengganggu lalu lintas.

Kegiatan juga dilengkapi dengan pembagian amplop dan goody bag untuk anak yatim dan kaum dhuafa dari para donatur yang telah menyisihkan rejekinya. Tanpa kolaborasi kegiatan ini mungkin tidak akan semeriah ini.

[4] Ajang sosialisasi sejarah

Selain aksi sosial, kegiatan Minggu sore juga menjadi ajang sosialisasi sejarah lokal Sukabumi. Dalam paparannya, Kang Wewen menjelaskan bahwa ngabuburit di Palagan berarti ngabuburit di medan perang karena Bojongkokosan adalah arena perang konvoi pada awal kemerdekaan yang sangat terkenal.

“Dulu pasukan Gurkha yang dikenal berani mati dan terlatih sehingga ada patungnya di London, ternyata ‘dihabisi’ di Bojongkokosan. Bahkan Inggris menutupi siapa perwira yang tewas di tangan para sniper pejuang saat itu,” terang wewen.

Sementara itu, Kang Irman dari Yayasan Dapuran Kipahare menjelaskan bahwa secara strategi perang Bojongokosan jauh lebih berhasil ketimbang pertempuran 10 November di Surabaya, namun gaungnya masih belum dikenal dalam sejarah nasional dan hanya mendapat porsi kecil dalam catatan sejarah bangsa.

Oleh karena itu, Kang Irman berharap bahwa sosialisasi sejarah bisa membuka wawasan masyarakat sekaligus mengangkat sejarah lokal supaya mendapatkan tempat yang layak demi menghargai jasa-jasa para pejuang.

[5] Dukungan pemerintah

Kegiatan Takjil on the Road yang digagas SAK dan turut diramaikan puluhan komunitas di Sukabumi tersebut juga tidak lepas dari dukungan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sukabumi. Melalui seksi museum dan kepurbakalaan, pihak Pemkab menilai kegiatan seperti ini sebagai terobosan baru yang tidak hanya mengangkat kepedulian sosial, tetapi juga menyisipkan visi misi sejarah kepada generasi muda.

Kepala Seksi Museum dan Kepurbakalaan, Jajang Aris Irawan menjelaskan bahwa upaya ini memang sesuai program yang sudah direncanakan pihaknya. “Saya dulu menginisiasi kedai kopi asli sebagai salah satu tempat untuk merangsang kreatifitas komunitas. Dengan kegiatan positif ini saya justru sangat mendukung karena bisa mengenal banyak komunitas serta edukasi yang membantu kecintaan akan museum sejarah juga,” ungkap Jajang.

Acara sendiri berlangsung sampai waktu berbuka puasa. Sambil menunggu berbuka, para pegiat komunitas bersama anak yatim dan kaum dhuafa mendapat siraman rohani. Tausiah diberikan oleh Ustad Oyag dengan tema kepedulian sosial di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *