Jangji moal pahare-hare, ini 5 cara modern YDK Sukabumi membangun komunitas


Egi GP

Writed by: Egi GP
Editor by: Feryawi
18 Jul 2019 | 4:36 WIB


Yayasan Dapuran Kipahare (YDK) didapuk oleh Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, menjadi satu-satunya komunitas mewakili Jabar untuk mengadakan event kesejarahan di Sukabumi.

Gaess, di usianya yang relatif masih muda (berdiri tahun 2017), YDK sukses membuat terobosan dengan menjadi satu-satunya wakil dari, tak hanya Sukabumi tapi Jawa Barat (Jabar), untuk mengadakan event kesejarahan di Sukabumi. Pihak yang mempercayakan pelaksanaan event kesejarahan kepada YDK adalah Direktorat Jenderal Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Kepastian itu didapatkan YDK dalam acara Seleksi dan Sosialisasi Bantuan sekalian penandatanganan MoU dengan Dirjen Kebudayaan Kemdikbud yang dilakukan di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, 14-16 Juli 2019. Adapun event kesejarahan yang diajukan YDK adalah pameran Soekaboemi Tempo Doeloe, yang rencananya akan digelar tanggal 5-6 Oktober 2019.

Bagi YDK, ini merupakan capaian awal yang bagus untuk perkembangan ke depan. Artinya, YDK dengan berbagai komunitasnya, masih bisa terus berkembang tanpa harus berpuas diri dulu. Itu salah satu catatan penting Gaess, yang menjadi kunci sukses saat kalian hendak mendirikan sebuah komunitas.

Nah, masih ada banyak catatan penting yang bisa diteladani saat membangun komunitas. Berikut lima catatan penting dalam proses membangun komunitas wa bil khusus di Sukabumi, hasil wawancara santai sukabumiXYZ.com dengan pendiri dan pupuhu YDK, Irman Firmansyah.

[1] Kreatifitas saja bukan jaminan

Kelengkapan kreatif sebuah komunitas akan memunculkan ketertarikan karena muncul kepuasan yang dirasakan. Ada yang merasa nyaman membaca postingan-postingan dalam grupnya dan menyukai setiap kegiatan yang dilakukan komunitasnya. Namun pada saat dimintai kontribusi dalam sebuah kegiatan atau minimal dalam membantu meramaikan grup belum tentu mau.

Sebagian cukup menjadi silence reader yang menikmati keberadaannya di komunitas secara sepihak. Ada pula yang turut andil berkegiatan namun selesai kegiatan โ€˜bubar jalan.โ€™ Bahkan ada yang mengikuti kegiatan dan semua peraturan dalam komunitas tapi tidak punya komitmen yang jelas semacam compliance without commitment (kepatuhan tanpa komitmen).

Itulah yang dimaksud ketiadaan keterikatan, level mereka hanya sampai kepuasan belaka (satisfaction) namun belum ada kecenderungan untuk mengikatkan diri secara langsung dan serius dengan komunitas.  Tak heran jika ada komunitas yang jago membuat kegiatan besar dengan dana melimpah didukung tim, namun sesudah kegiatan bubar semua dan sibuk dengan urusan masing-masing. Hal ini terjadi karena hubungan yang terjalin dalam kegiatan masih bersifat transaksional, belum ada kecendurungan mengikatkan diri, layaknya hubungan kerja profesional di mana pekerja mendapatkan upah dan bekerja sesuai upahnya.

Pada umumnya manusia akan melakukan observasi dan olah informasi sebelum memutuskan sesuatu. Ada tipikal orang yang tak mudah percaya, dia harus mengelaborasi secara mendalam dan matang dan baru kemudian memutuskan untuk mengikatkan diri. Proses ini mirip pencarian jodoh, tidak mudah jatuh cinta tetapi kalo sudah memutuskan untuk mencintai dia akan sangat serius menjalaninya tak mau ke lain hati.

Ada pula tipikal manusia yang mudah jatuh cinta namun komitmennya tiada. Dia akan dengan mudah masuk sebuah komunitas namun dengan mudah pula keluar ibarat menghirup dan mengeluakan udara tanpa beban. Biasanya tipikal seenaknya begini hanya menggunakan asas manfaat. Jika dirasa bermanfaat langsung terhadap pribadinya, dia akan langsung mereguknya. Tapi jika dirasa sudah tidak ada manfaat langsung yang dirasa dia mencari hal tersebut di luar komunitas atau di komunitas lain. Tipikal begini biasanya ditandai oleh beberapa komunitas dan dianggap sebagai penghibur belaka, tanpa pernah dimasukan ke dalam tim inti.

[2] Sulitnya membangun komitmen

Pada dasarnya komitmen dalam komunitas dibentuk atas dasar keputusan secara sadar untuk memikul tanggung jawab. Prosesnya tidak sekedar masuk komunitas kemudian membaca peraturan tanggung jawab sebagai anggota. Proses ini dibentuk melalui konsep engagement (mengikatkan) yang menjadi kunci serta prediktor dalam menentukan keberhasilan sebuah komunitas baik secara individu maupun organisasi.

Engagement ini merupakan tahapan lebih lanjut dari satisfaction (kepuasan) dalam berkomunitas. Job satisfaction hanyalah cerminan sikap positif atau negatif terhadap sebuah perlakuan, belum ada ukuran puncak dari sebuah keterikatan. Di level ini hanya mampu mengukur hingga terpuaskannya kebutuhan manusia dan atau kebutuhan organisasi dalam arti transaksi selesai putus. Maka, tak heran di level ini ada anggota pasif, ada pula yang dianggap mencla mencle, semua kegiatan diikuti sepanjang menguntungkannya namun hatinya tak mau mengikatkan diri kepada salah satu komunitas. Tipikal seperti ini belum memastikan kecenderungan untuk bertahan atau menjadi bagian tim dalam komunitas tersebut dalam jangka panjang.

Dalam engagement sendiri ada tahapan yang dimulai dari TAHAP AMBIGU, yaitu tahap sudah ada keinginan untuk mengikatkan diri tapi masih ada kebingungan karena belum memahami apa yang harus dilakukan, bagaimana caranya dan belum ada trust untuk melibatkan diri lebih jauh. Sekedar menerima apa yang ada dalam komunitas dan menghormatinya meskipun ada yang mungkin kurang sreg atau kurang sejalan dengan dirinya.

Tahap kedua adalah TAHAP BERBAGI, di mana seseorang mendapatkan ruang untuk berekspresi dan merasakan berbagai kesempatan dengan baik sehingga memunculkan hasrat untuk mulai juga berbagi dan berkontribusi dan mencari umpan balik dari proses berkomunitas. Jika dia merasa bahwa kontribusinya dihargai maka ia akan nyaman dan tetap tinggal.

Tahap ketiga adalah TAHAP RASA MEMILIKI, di mana ketika dia sudah merasa dihargai dengan baik, maka mulai melihat aspek yang lebih luas, apakah masukannya didengar petinggi komunitas, apakah ia merasa visi misi komunitas sesuai dengan tujuan dirinya. Apakah spirit rekan-rekannya dalam membangun tim sama, jika itu sudah berjalan baik maka ia memutuskan untuk merasa mmiliki komunitas. Dia ingin komunitas yang dicintainya tumbuh dan berkmbang semakin maju.

Tahap terakhir adalah TAHAP MAJU BERSAMA, tahap ini memerlukan ikatan emosional yang kuat, sesudah merasa memiliki ia akan melihat jauh ke depan, melihat bagaimana individu yang berada di komunitas ini bisa maju sesuai kemajuan komunitas. Dia akan terus mensinergikan diri bahkan mengidentifikasikan dirinya dengan komunitas. Dalam kasus tertentu setiap persoalan yang dihadapi komunitas akan dirasa sebagai persoalan dirinya yang membutuhkan solusi bersama. Hal ini memunculkan persatuan dalam menghadapi masalah. Dan dia akan terus mengenang komunitas ini meskipun suatu saat komunitas ini bubar.

Editor’s Picks:

Satu jam menelusuri lorong gelap Sukabumi masa lampau di Museum Barbeque Kipahare

Mau tau apa yang dipamerkan di Museum Kipahare Sukabumi? Ini 5 infonya

[3] Pernyakit komunitas bernama konflik kepentingan

Dalam perjalanannya, seringkali proses mengikatkan diri itu terhambat oleh konflik kepentingan antara anggota dan organisasi atau antar anggota. Konflik kepentingan ini bisa dimulai dari level terendah, semisal persoalan ruang berekspresi. Sebelum mencapai keterikatan, maka seseorang akan memandang apakah tersedia ruang untuk dirinya untuk berekspresi dan kemudian berkontribusi? Meskipun ini baru tahap awal dalam berkomitmen tetapi tidak jarang hal ini menjadi penyakit yang menghancurkan proses engagement.

Ketiadaan ruang yang dimaksud adalah kondisi tertentu di mana anggota tidak diberi kesempatan untuk mengekspresikan dirinya. Hal ini terjadi karena banyak faktor, salah satunya adalah belum munculnya trust dari komunitas, bahkan mungkin ekspresinya dianggap sebagai ancaman akan eksistensi komunitas itu sendiri.

Kemudian yang kedua adalah ketiadaan penghargaan bagi yang berkontribusi. Persoalan yang sering muncul biasanya adalah akibat masalah internal, ada semacam konflik kepentingan awal di mana sebagian merasa terusik jika ada kontribusi yang dirasa akan merusak eksistensi individunya.

Konflik kepentingan yang lebih serius biasanya dipicu oleh keserakahan, baik dalam hal materi maupun kekuasaan. Ada kalanya dalam setiap kerja sama ketika seseorang sudah mengendus ada materi yang bisa didapatkan dari kegiatan, maka dia akan mencoba untuk menguasainya sendiri. Pada awalnya, upayanya adalah dengan cara menutupi laporan keuangan dan menghindarai transparansi pelaporan. Ujung-ujungnya ketika merasa sudah mengetahui jalan untuk mendapatkan materi tersebut, maka dia akan memisahkan diri dan membuat komunitas baru supaya lebih leluasa tanpa pengawasan. 

Urusan soal kekuasaan tak kalah beringas pula, godaan untuk menjadi satu-satunya bintang yang bersinar dapat memunculkan potensi keretakan. Hierarki organisasi dianggap sebagai penghalang untuk bisa tampil yang akan berujung pada tindakan mengangkat diri sendiri dan mengabaikan hierarki yang ada. Tanggungjawabnya akan diabaikan dan fokus dengan hasratnya dalam kekuasaan. Hal termudah untuk langsung berkuasa tanpa harus melanggar sistem demokratis organisasi adalah keluar dan membentuk komunitas baru.

Pola ini juga tercermin dalam hal perilaku antar komunitas, tidak jarang komunitas menandai bidangnya seolah lapak yang harus diproteksi. Komunitas lain yang bidangnya berhubungan dianggap ancaman, jika ini terjadi bisa jadi berujung upaya menihilkan komunitas lain atau mengatur pribadi anggota supaya tidak berhubungan dengan komunitas tersebut.

Lucu kan ya, Gaess? Padahal seharusnya semua mampu berkolaborasi, jika ada masalah langsung dicari solusi. Komitmen tercermin bukan dari kegiatan-kegiatannya yang terlihat kompak saja, tapi justru pada saat ada masalah, apakah masih rukun dan kompak.

[4] Motto โ€œMaju Babarengan Moal Pahare-hareโ€ yang dianggap sepele

Konsep โ€œmaju bersama tidak saling mengabaikan,โ€ pada awalnya dianggap sepele karena seolah cocokologi dari pelafalan Yayasan Dapuran Kipahare (YDK), padahal motto ini merupakan proses engagement secara berkesinambungan. Motto ini diadopsi dari konsep engagement yang menghasilkan komitmen kuat antar anggota. Dalam prosesnya, jika dijalankan dengan baik, individu merasa terikat secara emosional karena mendapatkan manfaat langsung, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Kemajuan sebuah organisasi tercermin dari kemajuan para anggota, bukan sekedar pucuk pimpinan belaka. Sistem sendiri dibentuk untuk mendistribusikan kemajuan secara simultan dan merata, semua diangkat bersama-sama. Semua diberi porsi sesuai bidangnya, tanpa membatasi secara kaku. Ada yang bertugas mengarahkan komunitas, ada yang fokus memajukan, dan ada yang fokus giat mendukung setiap kegiatan. Masing-masing menghindari sikap saling memanfaatkan, tetapi berkontribusi sesuai prosi dan kemampuannya.

Pucuk pimpinan berprilaku sebagai pemandu jalan dalam menjalankan misi komunitas menuju visi bersama. Proses pendelegasian diimplementasikan secara maksimal sehingga tidak ada yang disebut one man show. Setiap hal dapat diakses oleh anggota secara transparan termasuk urusan keuangan kegiatan. Ikatan emosional juga dibangun dengan sadar melalui kebersamaan yang bersifat kekeluargaan. Saling peduli, saling mengunjungi, saling memberi solusi.

[5] Mengelola kedekatan emosional

Nah, saat anggota akan semakin dekat, ada risikonya di mana akan mudah pula bergesekan layaknya tubuh yang berdekatan. Maka dari itu Konsep ini harus dilandasi dengan jiwa yang luas seluas danau. Garam akan terasa sangat asin jika dimasukan ke segelas air dan diminum, tetapi dia tak akan terasa apapun jika ditaburkan ke danau yang luas dan kita minum airnya. Hakekatnya semakin ada kedekatan emosional, maka harus semakin luas jiwa.

Dalam setiap persoalan yang muncul maka ada proses saling mengingatkan yang dilandasi rasa menyayangi. Hal ini pula tidak akan menjadi ketersinggungan karena harus dirasakan sebagai bantuan untuk perbaikan. Kritik yang menyakitkan akan dianggap sebagai amplas yang menghaluskan karakter. Proses ini memang tidak mudah dan akan berlangsung lama, karena fokus pada urusan internal yang harus diangkat daripada mengurusi komunitas lain.

Kuncinya adalah berkegiatan dengan gembira sehingga bisa membentuk komunitas bahagia. Setiap kegiatan akan diuji dengan pertanyaan apakah akan membahagiakan anggota atau hanya menyenangkan segelintir orang. Tak peduli apakah kegiatannya besar sebagai proyek berdana luar biasa, karena uang hanya menciptakan kesenangan sesaat, tetapi bukan kebahagiaan hakiki.

Nah, ternyata Moto itu maknanya dalam ya Gaess. Tak heran jika dijalankan dengan benar maka akan menciptakan keterikatan kuat yang akan dikenang selamanya. Mau bikin komunitas atau bergabung dengan komunitas?

Silakan saja sepanjang menjadi manfaat untuk kita semua. Mau gunakan konsep apapun dalam membangun komunitas boleh-boleh saja yang penting saling menghormati jika ada komunitas lain yang menggunakan cara berbeda dalam membangun komunitasnya.

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *