Cermin Rodiah dari Gegerbitung Sukabumi dan ironi masyarakat yang religius

Di tengah masyarakat Kabupaten Sukabumi yang religius, tentu saja tidak elok jika kabar kemiskinan harus viral di media sosial.

Miris ya, Gengs, berpuluh tahun Kabupaten Sukabumi identik dengan kemiskinan.Tidak heran jika indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat saja, menempati posisi terendah kedua setelah Garut.

Kemiskinan memang sunatullah, sudah dari sononya, memang harus ada orang miskin. Tetapi, di tengah masyarakat Kabupaten Sukabumi yang religius, tentu saja tidak elok jika kabar kemiskinan harus viral terlebih dahulu di media sosial, baru kemudian banyak orang tergugah dan datang untuk membantu.

So, salah siapa ya? Seperti halnya dengan Rodiah, warga Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Berikut lima infonya.

1. Kecamatan Gegerbitung

Gegerbitung merupakan salah satu dari 47 kecamatan yang berada di Kabupaten Sukabumi, tepatnya di bagian Timur. Gegerbitung berbatasan dengan Kecamatan Cireunghas (utara), Nyalindung (barat), Kebonpedes (barat laut) dan Kabupaten Cianjur (selatan dan timur).

Secara geografis, Gegerbitung merupakan salah satu kecamatan yang memiliki ketinggian tertinggi di kabupaten terluas kedua se-Jawa dan Bali ini, yakni sekira 600-1.000 mdpl.

Kecamatan Gegerbitung memiliki tujuh desa yaitu, Caringin, Buniwangi, Ciengang, Cijurey, Gegerbitung, Karangjaya, Sukamanah. Total luas wilayah kecamatan dengan kode pos 43197 ini adalah 5,496,96 hektar, yang dihuni sekira 37 ribu Jiwa.

2. Rodiah

Rodiah (48), seorang janda satu anak yang baru duduk di bangku kelas dua SMP. Secara fisik, ia memiliki keterbatasan, kedua matanya tidak bisa melihat. Tetapi diakuinya, hal tersebut bukan halangan baginya untuk melakukan aktivitas.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya bersama buah hati, ia menjadi buruh cuci bagi warga sekitar yang membutuhkan bantuannya. Sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga, ia tidak mau dikasihani atau meminta-minta. Ia bahkan tidak pernah mengeluh. Semua dijalani sebagai takdir yang harus disiasati dengan ikhtiar.

BACA JUGA:

5 sederhana tuna netra Kalapanungal Sukabumi, hidup Rp8 ribu/hari hingga doa bahasa Sunda

5 tanya jawab basa Sunda jeung tuna netra Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi

Gen XYZ Sukabumi, belajar ikhlas dari Abah Dedi kuy

3. Kondisi gubuk reyot milik Rodiah

4. Rodiah dan persoalan yang membelitnya

Meskipun tidak pernah mengeluh, bukan berarti Rodiah tidak memilki persoalan yang membelit perjalanan hidupnya, Gengs.

Ia bersama anak semata wayangnya kini, tinggal di rumah panggung yang bahkan lebih mirip gubuk reyot dari kayu dan bilik bambu yang sudah lapuk yang berdiri di atas tanah milik orang lain. Ia tidak mengeluh, namun wajar jika ia merasa waswas jika suatu saat tanpa diduga,tanah itu akan digunakan oleh pemiliknya.

Namun, pertolongan Tuhan perlahan menghampiri, ketika sehampar tanah wakaf memungkinkan untuk dibangunkan rumah bagi Rodiah dan anaknya. Tetapi persoalannya tidak selesai sampai di situ. Untuk membangun rumah sederhanapun tentu membutuhkan uluran tangan siapapun yang mampu dan peduli.

5. Alamat

Nah, buat gen XYZ Sukabumi yang peduli dan ingin membantu, silakan datang langsung ke kediaman Rodiah di Kampung Cangklek RT 02/02, Desa/Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Atau, bisa juga dengan menguhubungi seorang pegiat sosial Kristiawan dengan menghubungi nomor WhatsApp 0822 8750 7463.

Kenapa kita harus peduli kepada sesama yang membutuhkan? Karena warga Sukabumi dikenal sebagai masyarakat religius, dan religiusitas seseorang tentu saja tidak hanya diukur dari kesalehan ritualnya saja, tetapi juga kesalehan sosial.

Kita tidak harus membantu Rodiah secara langsung atau tidak langsung, kita juga boleh memilih pedli kepada sesama yang membutuhkan dan terdekat dengan tempat tnggal kita. Namun, tentu penting sama-sama menjaga agar kemiskinan di sekitar kita tidak sampai viral di media sosial, hingga kamudian datang berbondong-bodong orang membantunya justru dari luar daerah.

So, jangan biarkan kasus seperti Rodiah atau lainnya menjadi sebuah ironi di daerah yang terkenal religius ini ya, Gaess.

  • 136
    Shares
Bagea Awi Dan Heni

Bagea Awi Dan Heni

Lahir di Sukabumi, 31 Agustus 2005. Anak pertama dari tiga bersaudara ini, masih tercatat sebagai siswi kelas delapan sekolah menengah pertama. Untuk menyalurkan hobi menulis, Bagea menjadi Reporter Cilik sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *