Gen XYZ Sukabumi, belajar ikhlas dari Abah Dedi kuy

Karena hidup adalah juga soal bagaimana mensyukurinya.

Ya, bukannya memang begitu ya, Gengs? Hidup tidak melulu soal materi, soal berapa banyak harta yang kita miliki. Jika tujuan terakhir manusia semuanya adalah sorga, maka sejatinya hidup adalah juga soal bagaimana manusia mampu menyukurinya.

Kita, gen XYZ Sukabumi bisa belajar ikhlas dan bersyukur dari seorang Dedi Suryadi (50), seorang penjaga perlintasan rel kereta api di daerah Cibadak. Berikut lima infonya, Gengs.

1. Dedi sang penjaga perlintasan KA

Pria ini biasa dipanggil Abah Dedi. Sudah tiga tahun berlalu, Dedi menghabiskan kesehariannya dengan menjadi penjaga perlintasan Kereta Api (KA) Pangrango relasi Bogor-Sukabumi, di Jalan Alternatif Nagrak, Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

2. Pos butut tempat berteduh

Dari pagi hingga petang pos butut di pinggir rel KA adalah tempat Dedi berteduh dari terik matahari dan hujan.

BACA JUGA:

5 tanya jawab basa Sunda jeung tuna netra Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi

5 sederhana tuna netra Kalapanungal Sukabumi, hidup Rp8 ribu/hari hingga doa bahasa Sunda

Ribuan penyandang disabilitas dan ODGJ Sukabumi ikut Pemilu, 5 fakta gen XYZ mesti aware

3. Pendapatan tidak menentu

Dalam kondisi keterbatasan ekonomi, Dedi tetap ikhlas menjaga perlintasan KA demi mencegah terjadinya kecelakaan yang bisa merengut korban jiwa kapan pun.

Walaupun menjaga perlintasan KA, namun ia tidak mendapatkan upah dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sehari-harinya Dedi hanya mengandalkan uang pemberian dari pengendara yang melintas, dengan penghasilan tidak menentu, antara Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per hari.

4. Hujan terik tetap ikhlas tanpa digaji

Walaupun kondisi hujan, Dedi tetap ikhlas menjalankan kewajibannya membantu sesama agar terhindar dari kecelakaan.

5. Alamat

Kemiskinan membuatnya harus kini tinggal di rumah milik orang tuanya beserta anaknya yang kini berusia 17 tahun, di Kampung Babakan RT 03/07, Desa Karang Tengah.

Nah, buat kalian yang memiliki rezeki lebih dan kebetulan melintas, jangan lupa Abah Dedi ya, Gengs.(Kristiawan)

Bagea Awi Dan Heni

Bagea Awi Dan Heni

Lahir di Sukabumi, 31 Agustus 2005. Anak pertama dari tiga bersaudara ini, masih tercatat sebagai siswi kelas delapan sekolah menengah pertama. Untuk menyalurkan hobi menulis, Bagea menjadi Reporter Cilik sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *