5 tanya jawab basa Sunda jeung tuna netra Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi

Hidup bukan hanya soal untung dan rugi juga kan, Gengs. Hidup adalah juga soal bagaimana memberi manfaat bagi sesama.

Allah SWT Maha Adil ya, Gengs, Ia memberi kelebihan pada indera penciuman bagi para penyandang tuna netra. Setelah pertemuan ketiga dengan Ketua Forum Komunikasi Tuna Netra (FKTN) Nurul Hikmah Jajang Ajisaka, penulis tidak pernah lagi mengucap salam ketika mengunjungi kediamannya.

Saat pertama tidak megucap salam, penulis nyelonong masuk, kemudian duduk di samping Jajang yang tengah meraut irisan pohon bambu untuk dibuat anyaman pesanan penulis. Selang beberapa menit, ia menyapa, “Oh aya mang Fery geuning,” katanya sambil melirik ke arah saya. Penulis mengusap lengan Jajang, “Teruskeun, mang. Uing rek meuli kopi heula.”

Oiya, Gengs, Sekretariat FKTN Nurul Hikmah berada di Kampung Cibuluh, Desa/Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi. Untuk menghidupi perjalanan organisasinya, seperti menggelar pengajian bulanan atau peringatan hai besar Islam, semua anggota melakukan berbagai kegiatan dari mulai membuat kerajinan ayaman dari bambu, hingga jasa pijat refleksi.

Penulis yang lumayan sering bertemu dengan Mang Jajang, memilih lima obrolan ringan pada awal perkenalan ‘aja ya, Gengs.

Terlebih, dua tahun ke belakang, walaupun sering bertemu,tetapi relatif tidak banyak ‘ngobrol. Selain karena ada keperluan lain, juga terkadang saat mengunjungi rumahnya, Jajang Ajisaka tengah tertidur atau sakit atau tengah pergi berjualan kerajinan hasil buah tangannya.

Berikut lima tanya jawab penulis dengan suami dari Mak Adah tersebut.

Minggu, 28 Februari 2016: Mendengar curhat sahabat

Beurat hirup teh nya, mang Fery,” tanya Jajang. “Ah, hampang, mang Jajang,” tukas saya. “Oh enya, hampang, nya?” Katanya setengah bertanya. “Nya memang loba nu ngomong beurat memang oge, mang. Tapi kan, maenya keluhan uing kudu sarua jeung tuna netra,” saya menghiburnya. Jajang tertawa.

  Rabu, 16 Maret 2016: Woles, Bro. Allah SWT yang urus

“Mang Fery, enjing abdi bade ngayakeun Muludan (peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW),” kabar Jajang dari balik telepon. “Isin saleresna mah, tapi sugan bade ngabantosan kitu?” Imbuhnya sambil terkekeh, sekira pukul 12.00WIB.

Saya yang sedang giliran menunggu ibu sakit di RSUD Sekarwangi Cibadak, berpikir bebarapa jenak. Saya bilang “Aya mang, Maghriban uing ka Cibuluh,” jawab saya walaupun sebenarnya uang sudah menipis, karena malam sebelumnya saya kasih ke keluarga pasien meninggal yang tdak memiliki uang untuk membayar ambulance, 16 Maret 2016, pukul 03.00 WIB. Tapi gengsi kan, Gengs, masa harus ngaku bokek sama tuna netra. Hahaha.

Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW FKNT Nurul Hikmah.

Satu jam dua jam, penulis berpikir kemana harus mencari uang, sementara tidak mungkin meningalkan giliran jagain ibu. Sampai sore sekira pukul 15.00 WIB penulis belum punya ide kemana harus mencari uang, yang ada di bayangan penulis malah wajah kecewa mang Jajang. Tapi tak apa lah. Toh tuna netra ini, kalau pun dia marah dan mukul saya, pasti gak akan kena. 😛 😀

Tak dinyana. Sore sekira pukul 17.30 WIB, keluarga yang meninggal tersebut menelpon saya, dan ingin mengembalikan uang itu. Saya sebenarnya melarangnya, karena jika melihat penampilannya, sepertinya mereka bukan orang berada juga.

Tetapi karena anak pasien yang meningal itu tetap memaksa mau membayar dengan alasan ingin menunjukkan pengabdian terakhir kali kepada bapaknyanya, akhirnya saya terima. Dan uang itu pun pada akhirnya menjadi milik tuna netra.

BACA JUGA:

5 sederhana tuna netra Kalapanungal Sukabumi, hidup Rp8 ribu/hari hingga doa bahasa Sunda

#Interview owner Bakso Mewek Sukabumi: Dari gagal kuliah, hingga jadi pemurung beruntung

Jumat, 6 Mei 2016: Hidup bukan hanya soal untung dan rugi

Seminggu sebelum pengajian bulanan tuna netra, Kamis, (28/4/2016), mang Jajang berangkat ke Bogor untuk menjual lima buah bakul buatan tangannya. “Dijual sabarahaan, mang?” tanya penulis. “Lima belas rebu hijina, mang Fery,” jawabnya tanpa beban.

Penulis bingung dibuatnya, tapi ya sudah lah. Toh selama mengenalnya, penulis juga tidak pernah mengajarinya berbisnis, hanya mengajaknya menikmati hidup dalam segala keterbatasan yang ada.

Hidup bukan hanya soal untung dan rugi juga kan, Gengs. Hidup adalah juga soal bagaimana memberi manfaat bagi sesama. Dan untuk urusan yang satu itu, mang Jajang sudah lima langkah di depan dari penulis.

FKTN Nurul Hikmah rutin mengadakan pengajian bulanan, biasanya dipilih setiap hari Kamis minggu terakhir.

Rabu, 6 Juli 2016: Baju Lebaran

Meuli baju Lebaran can, mang?” Tanya saya. “Acan, mang Fery. Tapi ah teu penting-penting amat sih,” jawabnya. “Make acuk anyar oge abdina teu tiasa ninggali kumaha gagahna ngango acuk anyar,” imbuhnya getir.

Nah, berbahagialah kalau kamu yang bisa melihat dan menikmati keindahan ya, Gengs. Setidaknya kamu wajib bersyukur masih bisa melihat semua pemandangan yang elok dinikmati mata. Mang Jajang, walaupun akhirnya memakai baju baru pemberian, tetapi tidak bisa menikmati keindahan busana yang dikenakannya.

Rabu, 7 September 2016: #WanitaItuHebat

Bagi tuna netra seperti mang Jajang, mendidik dua anak lelaki bukanlah kondisi yang ideal. Jika berpuluh tahun kemudian ia sukses mendidik kedua putra gantengnya menjadi pribadi mandiri, karena ada mak Adah di sampingnya.

Engke mah di akhirat, mang Jajang moal loba dihisab. Beda jeung uing,” kata saya. “Naha kitu, mang Fery?”

Nya kan mang Jajang mah dosa mata ge teu aya. Uing mah ninggali nu geulis resep. Ninggalin nu make rok mini sok hayang ngareret,” jawab penulis.

Ooohhh. Atuh parah keneh tuna netra, mang Fery. Abdi mah mun hayang mastikeun istri atawa sanes, kudu dirampaan awakna. Teu kebayang kin ieu panangan dihisab di akhirat. Tos sabaraha istri ku abdi nu tos dirampaan.”

*Mak Adah mesem*

Pada 23 September 2016, mang Jajang menelpon penulis, “”Halo, mang Fery, rumah uing kabanjiran. Uing kudu gimana?”

Karena penulis kebetulan sedang berada di Kota Sukabumi, saat itu penulis masih sebagai Pemimpin Redaksi sukabumiupdate.com, karena memang usia sukabumiupdate.com baru hitungan bulan, jadi penulis mulai jarang menengoknya.

Ayeuna mah ajak we mak Adah naek ka luhur ranjang,” jawab penulis sambil tertawa. 😀 (diragkum dari status media sosial penulis)

Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *