Pilpres bikin baper, warganet Sukabumi bisa “move on” pakai 5 cara ini

Rivalitas di Pilpres boleh panas, tapi saat semuanyai sudah selesai, ya bersatu lagi kita sebagai sebuah bangsa.

Merujuk pada hasil berbagai quick count (QC) -silakan percaya silakan tidak-, di Sukabumi (Kabupaten dan Kota) paslon 02 Prabowo-Sandi dinyatakan menang. Sementara itu, secara nasional paslon 01 Jokowi-Amin dinyatakan unggul di berbagai hasil QC. Untuk kepastiannya, semua pihak dihimbau untuk menahan diri dan menunggu hasil real count (RC) yang dilakukan KPU.

Nah, fakta bahwa “paslon 02 menang di Sukabumi dan paslon 01 menang secara nasional” itu bisa berarti pendukung paslon 01 baper karena jagoannya kalah di Sukabumi. Di kubu lain, pendukung paslon 02 juga baper karena walaupun menang di Sukabumi, tapi jagoannya kalah secara nasional.

Dengan demikian, baik pendukung paslon 01 maupun paslon 02 perlu cara untuk menghentikan baper, lalu “move on.” Adil, kan? Hehe…

Bagaimana sih cara menghentikan baper dan “move on” pasca Pilpres? Berikut lima cara yang Sukabumixyz.com rangkum dari sebuah artikel oleh Megan Bruneau di majalah Forbes!

[1] Akui saja kalau kamu sedih

Bagi kalian kedua kubu yang merasakan kalah, baik di level Sukabumi, maupun nasional, sering kali ada perasaan untuk berusaha sabar dan tegar. Tapi, menurut sebuah studi yang dimuat di majalah Forbes, tidak memberi ruang bagi kesedihan sebenarnya adalah penolakan (denial). Pasalnya, bersedih itu merupakan hal yang alami.

Saran Megan Bruneau adalah agar membuka diri terhadap semua rasa sedih dengan tidak menghakimi dan mencoba menerima. Menuliskan perasaan Anda (di medsos misalnya) atau mengungkapkannya dengan keras bisa membantu melegakan diri.

Bruneau juga menggarisbawahi bahwa perasaan tersebut tidak kekal. Artinya, perasaan itu datang dan pergi serta merupakan sebuah proses yang normal. Nanti juga berlalu rasa sedihmu ya, kuy!

BACA JUGA:

Upaya merawat demokrasi, mudaberSATU Sukabumi gelar nobar debat capres

[2] Coba cara coping buat yang menang dan yang kalah

Menyitir dari Medical Dictionary, coping skill adalah suatu pola karakter atau perilaku yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi seseorang. Coping skill juga dianggap bisa dijadikan metode untuk menghadapi stress, lalu mendorong diri agar tetap terus maju mencapai tujuan yang telah ditetapkan alias move on.

FYI nih gaess, tak hanya bagi pendukung kubu yang kalah, coping skill juga perlu dimiliki bagi kubu yang menang. Tujuannya untuk tidak senang secara berlebihan, sehingga menimbulkan masalah dengan kubu lawan.

Menurut Burneau, coping bias dilakukan dengan cara seperti bercerita kepada teman atau keluarga tentang perasaan yang dialami, mendengarkan musik, yoga, atau berjalan-jalan. Piknik aja intinya, kuy..hehe.

[3] Bersimpati

Nah, ini perlu kedewasaan, Gaess. Baik pendukung kubu yang kalah ataupun menang, percayalah kamu tidak sendiri merasakan itu. Memulihkan diri dari kesedihan dan juga merayakan kemenangan lebih sulit jika kita sendirian.

Untuk itu, kamu bisa mengintip medsos bahwa perasaan yang kini dirasakan bukan milik kamu seorang diri. Cara ini bertujuan untuk menumbuhkan simpati satu sama lain. So, dewasalah dan bersimpatilah Gaess!

[4] Harapan tak harus terwujud

Kamu perlu menyadari bahwa kamu berharap lalu berikhtiar, tapi tak selalu bisa terwujud. Jujur deh, kamu sedang terhebak dalam harapan ya saat ini. Nah, keterjebakan dalam harapan yang berlebihan, sering kali bisa menghalangi kamu untuk move on. Bisa jadi, saat ini kamu terpaku pada emosi kegelisahan dan kemarahan yang dirasakan.

So, ikhtiar sudah, berdoa sudah, tinggal berpasrah diri saja sama Allah ya, Gaess!

[5] Bertanyalah kepada diri sendiri

Pertanyakan dan jawab beberapa pertanyaan berikut kepada dirimu sendiri!

  • Apakah hasilnya pilpres berpengaruh langsung pada diri kamu?
  • Apakah kehidupan kamu sehari-hari akan serta merta berubah dengan hasil tersebut?

Bagi kebanyakan dari kita rakyat awam, jika memang ada perubahan tentu akan sangat kecil. Kamu akan tetap bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Jadi, pertimbangkan lagi apa yang mungkin kamu lakukan jika para calon pemimpin tersebut terpilih.

Dan, berdamailah dengan diri sendiri. Pada akhirnya, kubu yang kalah jangan sedih, dan kubu yang menang tak ada juga gunanya sombong lalu kehilangan teman!

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *