Narkoba jenis sabu dan ganja dominan di Sukabumi, 5 fakta gen XYZ mesti hati-hati

Peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Jawa Barat, termasuk di Sukabumi, dianggap paling tinggi dalam skala nasional.

Narkoba adalah musuh bersama. Bahaya narkoba dinilai sama atau bahkan melebihi bahaya korupsi sebagai sesama kejahatan luar biasa. Narkoba tak hanya bisa membunuh satu dua orang tetapi satu generasi. Maka, seluruh dunia pun memerangi narkoba, tak terkecuali Indonesia, termasuk Sukabumi di dalamnya.

Di Sukabumi, fakta-fakta terbaru yang membuat miris perihal peredaran narkoba muncul ke permukaan belakangan ini. Sabu dan ganja menjadi jenis narkoba yang paling banyak beredar di Sukabumi. Lalu, dalam tiga bulan terakhir, di Kota Sukabumi saja, puluhan pengedar narkoba berhasil ditangkap. Ingin tahu lengkapnya? Berikut lima fakta yang dirangkum Sukabumixyz.com dari kantor berita Antara.

[1] Sabu-sabu dan ganja dominasi peredaran narkoba di Kota  

Dari hasil pengungkapan kasus narkoba yang dilakukan Satuan Narkoba Polres Sukabumi Kota dalam tiga bulan terakhir, terungkap peredaran narkoba di wilayah Kota didominasi sabu-sabu dan ganja. Pengungkapan tersebut ditandai dengan penangkapan belasan tersangka oleh Satuan Narkoba Polres Sukabumi Kota.

“Dalam tiga bulan terakhir ini, kami telah menangkap 12 tersangka pengedar dan kurir narkoba baik jenis sabu-sabu maupun ganja. Belasan tersangka itu diciduk pada empat lokasi di rayon tengah, yakni wilayah Kecamatan Citamiang, Cikole, Gunungpuyuh dan Sukabumi,” kata Kasat Narkoba Polres Sukabumi Kota AKP Maolana, Minggu (25 Agustus).

[2] Barbuk dan modus tersangka

Dari penangkapan itu berhasil disita barang bukti (barbuk) yang disita dari para tersangka sebanyak 49,48 gram (untuk sabu-sabu) dan 43,23 gram (untuk ganja). Adapun modus yang dilakukan para tersangka dalam mengedarkan narkoba yakni dengan cara menyimpan di suatu tempat atau sistem tempel, sehingga pengedar dan konsumennya hanya berhubungan melalui telepon atau pesan pendek.

Selain modus itu, modus lama yang manual pun yaitu langsung tatap muka atau konsumen dan pengedarnya langsung bertemu pun masih dilakukan.

[3] Narkoba dari dalam dan luar daerah

Para pelaku yang ditangkap Satuan Narkoba Polres Sukabumi Kota merupakan jaringan. Menurut pengakuan dari pengedar dan kurir, sabu-sabu dan ganja itu ada yang didapat dari luar maupun dalam Sukabumi. Untuk mendapatkan pasokan, mereka pun sama harus mencari lokasi yang dijadikan tempat penyimpanan narkoba.

“Dalam mengedarkan narkoba itu, mereka tidak mengenal wilayah bahkan ada transaksi yang dilakukan di perbatasan Sukabumi dengan Cianjur. Sementara, untuk harganya bervariasi,” ujar AKP Maolana.

editor’s picks:

[4] Pelaku gabungan pemain lama dan baru

Fakta lain yang terungkap adalah para pelaku adalah gabungan dari pemain lama dan baru. Hal itu diungkapkan oleh AKP Maolana. Pihak kepolisian sejauh ini masih melakukan penyelidikan dan penyidikan karena kasus narkoba biasanya pelakunya berjejaring, bahkan ada juga yang dikendalikan dari dalam sel atau penjara.

Para pengedar ini dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman kurungan penjara minimal empat tahun.

[5] Jalur peredaran narkoba dari Cirebon hingga Sukabumi

Secara lebih luas, sebenarnya ada fakta lebih miris bahwa peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Jawa Barat (termasuk Sukabumi) dianggap paling tinggi dalam skala nasional. Penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mengungkapkan, saat ini prevalensi peredaran dan penyalahgunaan narkoba berada pada angka 3-5 persen.

Kepala BNN, Heru Winarko mengatakan, angka tersebut diketahui merupakan prevalensi pada remaja yang berada di Jabar. “Kondisi yang ada sangat berbahaya. Jangan sampai bonus demografi kita hilang karena narkoba ini,” ujar Heru seperti dikutip dari Antara, Selasa (13 Agustus).

Oleh karena itu, BNN pun memfokuskan diri untuk lebih mengawasi wilayah Jabar. Heru menyebut, wilayah seperti penyangga ibukota, Cirebon hingga Sukabumi perlu diawasi karena memiliki jalur masuk narkoba. BNN pun bekerja sama dengan Angkatan Laut dan Bea Cukai untuk mencegah terjadinya peredaran di lokasi-lokasi vital.

Say no to drugs ya, Gaess!!

[dari berbagai sumber]

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *