Gunung Gede sumber air bagi 30 juta orang, 5 fakta gen XYZ Sukabumi mesti tahu


Egi GP

Writed by: Egi GP
Editor by: Feryawi
24 Sep 2019 | 22:27 WIB


Masalah-masalah seperti perubahan peruntukan lahan, perambahan kawasan, pertambangan, dan pembalakan liar, bisa berdampak pada hilangnya sumber air di gunung Gede Pangrango.

FYI, kawasan konservasi seperti taman nasional maupun hutan lindung mempunyai manfaat besar, baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan manusia. Salah satu manfaat yang dimaksud adalah sebagai penyedia sumber daya air.

Nah, Gaess, di Sukabumi setidaknya ada dua kawasan koservasi yang menjadi sumber mata air, yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Di kedua taman nasional itu terdapat sumber air yang menyuplai air bagi 30 juta lebih manusia. Ingin tahu lebih banyak faktanya? Berikut lima fakta yang dirangkum Sukabumixyz.com dari berbagai sumber.

[1] Debet air di Gede Pangrango suplai air untuk 30 juta orang

Dari data potensi sumber mata air di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada tahun 2015, ada sekitar 94 titik dengan jumlah debet air yang dihasilkan sekitar 594,6 miliar liter per tahun atau setara dengan 19,1 juta liter per detik.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah V Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Chusnul Farid mengatakan, sekitar 30 juta manusia menggantungkan hidup dan menjadikan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) sebagai sumber ketersediaan air yang berkualitas.

[2] Hulu 4 sungai yang mengalir ke-4 provinsi

Chusnul menambahkan, TNGGP dan juga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan hulu dari empat daerah aliran sungai (DAS), yaitu DAS Citarum, Cimandiri, Cisadane, dan Das Ciliwung yang mengalir ke empat provinsi. Otomatis, keempat sungai itu menjadi tumpuan ketersediaan air berkualitas bagi masyarakat dan sektor industry.

“Sedangkan untuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak jumlah potensi sebagai penyedia air bersih mencapai 213 miliar liter per tahun,” ujar Chusnul, dalam loka karya bertajuk Bersatu Melestarikan Air DAS CIliwung seperti dikutip dari Antara, Rabu (14 September).

editor’s picks:

Gunung Walat kebakaran, ini 5 fakta gen XYZ Sukabumi mesti tahu

15 hari gempa goyang Sukabumi 72 kali, Gunung Salak dipantau, 5 info gen XYZ mesti tahu

Gunung Salak dan Gede berstatus waspada, ini 5 info gen XYZ Sukabumi mesti aware

[3] Ancaman yang nyata

Oleh karena vitalnya TNGGP dan TNGHS bagi hajat hidup orang banyak, maka penting sekali untuk mengenali ancaman yang dihadapi kedua gunung yang berlokasi di Sukabumi. Menurut Chusnul, saat ini ancaman seperti perubahan peruntukan lahan, perambahan kawasan, pertambangan, dan illegal logging menjadi permasalalahan serius yang terjadi di dua kawasan taman nasional itu.

“Ini menjadi sumber untuk ketersediaan air berkualitas yang merupakan salah satu sumber daya alam penting bagi manusia. Tidak mudah untuk melestarikan dan mempertahankan ini, karena kepedulian masyarakat pun masih rendah,” ungkap Chusnul.

[4] Pentingnya merestorasi kawasan hulu sungai

Dalam kesempatan yang sama, Program Manager Gedepahala-Conservation Internasional (CI) Indonesia, Anton Ario menekankan pentingnya merestorasi kawasan hulu sungai. Sebagai contoh, ujar Anton, DAS Cisadane merupakan daerah aliran sungai yang sangat penting bagi jutaan orang yang tinggal di Bogor, Tangerang, hingga Jakarta.

“(maka) Merestorasi kawasan hulu DAS Cisadane yang merupakan daerah tangkapan air (water catchment area) dengan menanam dan memelihara pohon merupakan langkah nyata dalam mempertahankan perannya sebagai pengatur tata air ke hilir,” jelas Anton.

Anton juga memberi perhatian kepada masalah umum yang terjadi di DAS Ciliwung dan DAS Cisadane, yaitu kuantitas air yang tidak menentu karena bisa mengakibatkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

[5] Kebakaran rusak kualitas sumber air

Belakangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali juga di Sukabumi. Beberapa kawasan di TNGGP dan TNGHS belakangan juga tak lepas dari bencana kebakaran. Maka, selain kuantitas sumber air mengalami penurunan karena musim kemarau yang panjang, juga secara kualitas rusak karena terjadinya karhutla.

Untuk mengatasi masalah karhutla dalam hubungannya dengan mempertahankan kuantitas dan kualitas sumber air, semua pihak diharapkan bisa berkontribusi positif. Tak hanya pemerintah terkait, masyarakat madani terutama sekali gen XYZ Sukabumi mesti bergerak menunjukkan keberpihakan terhadap penyelamatan sumber daya air di TNGGP dan TNGHS pada khususnya, dan pelestarian alam Sukabumi pada umumnya.

[dari berbagai sumber]

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *