5 “mustahil” Universitas Nusa Putra Sukabumi menjadi nyata


Feryawi Heryadi

Writed by: Feryawi Heryadi
06 Mei 2018 | 1:52 WIB



Kelimanya merupakan imbalan untuk semua ikhtiar sungguh-sungguh dan dibarengi doa.

Mustahil /mus·ta·hil/ di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti perihal mustahil; sesuatu (hal) yang tidak mungkin terjadi. “Mustahil” dalam tanda petik, adalah hal yang dinilai penulis sebagai sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan, bahkan nyaris mustahil, jika saja tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dibarengi doa.

Terkait judul 5 “Mustahil” Universitas Nusa Putra Menjadi Nyata, penulis ingin menjelaskan lima hal yang sulit dilakukan lembaga pendidikan, khususnya di Sukabumi, namun itu terjadi pada universitas yang berkampus di Cibolang Kaler, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi itu.

1. Gedung Enam Lantai, Tertinggi di Kota/Kabupaten Sukabumi, dan Cianjur

Perguruan tinggi adalah simbol peradaban, karena kalangan ilmuwan, teknokrat, dan kalangan terdidik wajib berada pada posisi terdepan dan tertinggi dalam melakukan perubahan. Kalangan terdidik adalah agent of change atau agen perubahan, dan setiap perubahan, salah satunya berawal dari cara berpikir anti-mainstream.

Di Sukabumi, untuk mendirikan sebuah gedung dengan enam lantai, nyaris disebut mustahil, karena letak geografisnya sebagai daerah rawan gempa, serta adanya penolakan dari pemerintah setempat.

Walau demikian, gedung ini tetap legal, tentu saja pada akhirnya mendapat izin dari pemerintah, dengan berbagai syarat yang telah dipenuhi, serta standar kelayakan konstruksi untuk gedung bertingkat tinggi.

Alhasil, gedung kampus Universitas Nusa Putra (NPU), menjadi yang tertinggi di Kota/Kabupaten Sukabumi, dan Cianjur.

2. Memilih Teknologi Dibanding Ilmu Sosial (anti-mainstream di Sukabumi)

Jika kebanyakan perguruan tinggi (PT) di Sukabumi didirikan membuka jurusan ilmu-ilmu sosial, tidak demikian dengan NPU, yang sebelumnya berbentuk Sekolah Tinggi Teknologi Nusa Putra (STT Nusa Putra), berani hadir beda, yakni ilmu teknologi.

Padahal bagi mayoritas warga Sukabumi sendiri, PT bidang teknologi bisa dibilang tidak populer. Namun para pendiri Nusa Putra saat itu berpikir, jika seluruh kampus fokus pada ilmu sosial, maka siapa yang akan memajukan teknologi di Sukabumi. Hal ini dinilai sejalan dengan era globalisasi, di mana teknologi dapat mengubah kehidupan (lihat poin 1).

NPU terus bertekad menjadi salah satu kampus yang berkontribusi dalam membangun dan membuat perubahan, dan melahirkan generasi bangsa penemu yang mampu berkontribusi dalam setiap perubahan. Bagi penulis, pilihan ini layak diacungi dua jempol, sebuah pilihan penuh risiko dan menantang, namun sukses dilalui.

3. Mahasiswa Asing Berusia Muda

Pendidikan adalah sebuah proses suatu perubahan. NPU ingin mengubah mindset masyarakat bahwa sekolah di luar negeri lebih baik dibanding dalam negeri. Adanya mahasiswa asing yang belajar di NPU, membuktikan bahwa baik orang asing atau Indonesia, memiliki tujuan sama, yakni belajar.

Dalam hal rekruitmen mahasiswa asing, NPU memberi penawaran unik, sehingga mereka tertarik belajar di Indonesia, khususnya di Universitas Nusa Putra, dengan berbagai kelebihan ilmu dan budaya yang tidak bisa diperoleh di negara asal mereka.

“Mustahil” lain dari mahasiswa asing NPU adalah, rata-rata mereka berusia muda, atau berusia di bawah 30 tahun. Hal ini bisa dibilang luar biasa, mengingat perguruan tinggi lain, bahkan yang berstatus negeri dan telah berdiri lama sekalipun, kesulitan melakukannya. Perguruan tinggi lain, umumnya melakukan rekrutmen mahasiswa asing berusia di atas 40 tahun.

4. Menggelar Seminar Internasional di Luar Negeri

Peradaban terus berubah, maka bangsa Indonesia pun harus berubah. Dengan dukungan teknologi yang kian maju, di mana batas interaksi antarbangsa tidak lagi memiliki sekat, NPU mampu menunjukkan eksisensinya dengan menggelar seminar internasional dan digelar di luar negeri yang diikuti mahasiswa dari berbagai bangsa dan negara.

Terakhir, NPU menggelar 3rd International Conference on Computing Engineering and Design (ICCED) 2017, di International Islamic University Malaysia atau Universitas Antar Bangsa, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 22-25 November 2017 lalu.

Konferensi tersebut terbilang sukses karena diikuti peserta dari 12 negara dari benua Asia, Australia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Pada ajang tersebut banyak mahasiswa dan dosen NPU sukses meraih Best Presenter dan Best Poster. Penulis sendiri terlibat untuk kepentingan mendokumentasikan acara konferensi tersebut.

Berikutnya, untuk 4th ICCED 2018, digelar di Bangkok, Thailand, pada 6-8 September yang baru lalu. ICCED sendiri telah terindeks Scopus dan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Sedangkan 5th ICCED 2019 akan digelar di Singapura pada 13-14 April yang akan datang.

Keinginan pihak kampus menggelar konferensi dan seminar di luar negeri, bukan tanpa alasan. Jika begitu banyak orang yang tersesat dan “kehilangan nyali” karena terjebak dalam isu serbuan warga negara asing ke Indonesia, tidak demikian dengan seluruh civitas akademika Universitas Nusa Putra. Mereka justru memiliki tekad kuat untuk bersaing dengan perguruan tinggi dan mahasiswa luar negeri.

5. SK Keluar Saat Ada Moratorium Pendirian Universitas Baru

Tahun 2015, sebelum diputuskan adanya moratorium pendirian universitas baru, NPU sudah mengajukan perubahan status dari STT menjadi universitas. Hanya saja, saat itu, ada beberapa persyaratan yang perlu direvisi.

Setelah selesai, dan berhasil meyakinkan pihak Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (dua di antaranya, baca poin 3 dan 4), akhirnya perubahan status menjadi univeritaspun disetujui dengan terbitnya SK MenristekDikti Nomor: 108/KPT/I/2018 tanggal 02 Pebruari 2018 tentang Izin Perubahan Bentuk Sekolah Tinggi Teknologi Nusa Putra menjadi Universitas Nusa Putra.

Tentu saja terbitnya SK pada saat moratorium tersebut, tidak lepas dari keunikan konsep pendirian NPU, antara lain, program studi teknologi yang sudah banyak, mahasiswa asing yang sudah mencapai 2,5% dari total seluruh mahasiswa NPU yang belajar, dan Akreditasi B untuk teknik. Karena alasan-alasan tersebutlah, Kemenristekdikti tidak ragu lagi untuk menerbitkan SK.

Logika sederhananya, jika program studi tekniknya sudah mampu, pastilah program studi sosial juga bagus.

LINK TERKAIT: 5 Fakta Universitas Nusa Putra Sukabumi

  • 212
    Shares
Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *