5 Hal Unik dan Ngeselin Kenaikan Kelas Hanya Ada di Sukabumi


Glyn

Writed by: Glyn
Editor by: Feryawi
07 Mei 2018 | 1:41 WIB


Menjadi area kemacetan lalu lintas musiman.

Kenaikan kelas sudah barang tentu menjadi penutup buku raport siswa tahunan di setiap jenjang sekolah yang ada di Indonesia.

Namun, di Kabupaten Sukabumi, selain membagikan buku raport kepada siswanya, hari kenaikan kelas juga sekaligus dijadikan ajang pesta rakyat tahunan, dengan cara turun ke jalan untuk melakukan arak-arakan atau biasa disebut pawai.

Ini dia lima hal unik dan dinilai ngeselin bagi pengguna jalan, yang dilakukan beberapa sekolah, seperti dituturkan salah seorang warga Perum Pesona Taman Situgunung, Desa Sukasari, Kecamatan Cisaat, Nurlinda Komala (35).

1. Pawai Drum Band

Telah menjadi tradisi musiman, di beberapa daerah di Kabupaten Sukabumi seperti di Kecamatan Cisaat, sudah barang tentu ketika menggelar kenaikan kelas bebeapa madrasah diniyah, maka rombongan pemain drum band akan memeriahkan acara tersebut. Tak jarang, drum band yang diturunkan bisa lebih dari empat tim.

2. Pawai Riasan Patung

Sebelum acara kenaikan kelas digelar, warga sekitar (termasuk wali murid) biasanya menyiapkan riasan patung beraneka ragam bentuk dan ukuran. Tentunya, riasan patung ukuran kecil hingga yang seukuran mini bus tersebut, untuk diarak ke jalan protokol.

“Biasanya ada lomba juga. Riasan patung paling bagus dan kreatif nantinya dikasih hadiah oleh pak kades, semacam kadeudeuh,” ujar Ida, sapaan akrab Nurlinda kepada sukabumiXYZ.com.

BACA JUGA: 5 Kegiatan Desa Sukamaju Bikin Melongo Warga Sukabumi

3. Pawai Warga

Selain wali murid yang pawai ke jalan menemani anaknya, tak jarang warga yang tinggal di sekitar sekolah dan tidak memiliki anak sekolah pun ikut serta. Bahkan, ada orang tua yang rela dirias dan mengenakan busana seragam sekolah. “Warga sekitar sekolah sudah biasa berpartisipasi untuk memeriahkan acara, termasuk ketika dirias macam-macam pun, mereka rela,” ujarnya.

4. Menjadi Tontonan Warga

Ketika semua turun ke jalan untuk pawai, tak ayal warga yang rumahnya berada di pinggir jalan pun seperti diundang untuk menyaksikan pawai tersebut. Sayangnya, keberadaan penonton yang meluber ke jalan, malah kerap kali menambah kemacetan lalu lintas.

5. Jadi Macet Musiman

Ketika riasan patung diarak ke jalan protokol dalam kegiatan pawai, sudah tak lagi terhindarkan kemacetan lalu lintas bisa terjadi sampai berjam-jam lamanya. Alhasil, hal tersebut menjadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas musiman pada setiap musim kenaikan kelas.

“Sebenarnya kalau bisa ya, jangan dihabiskan jalan semua. Apalagi sampai pengguna jalan lain gak bisa jalan, kalau ada yang sakit mau berobat, kan kasihan. Bagi warga yang suka, ini mungkin unik. Tapi bagi yang gak suka atau pengguna jalan lain, mungkin malah ngeselin gitu,” ungkap salah seorang pengguna jalan, Robbi (45), yang juga merupakan warga Cisaat.

  • 5
    Shares
Glyn

Glyn

Glyn lahir di Cicurug, 19 Agustus 1984. Ia tinggal di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, seorang ibu muda yang gaul, hobi menulis dan bikin cerpen. Glyn juga menjadi pendidik di kota tempat tinggalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *