Menalar kehadiran tol bagi kesejahteraan buruh di Sukabumi, 5 fakta gen XYZ mesti tahu

Apakah kehadiran tol Bocimi bakal berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan buruh Sukabumi?

Proyek tol Bocimi yang investasinya bernilai Rp7,7 trilun nantinya akan memangkas waktu tempuh Bogor – Sukabumi (67 km) dari semula sekitar 4,5 – 5 jam (melalui jalan arteri) menjadi sekitar 40 menit saja. Sejauh ini, Seksi I Bocimi (Ciawi-Cigombang) sudah beroperasi dan berhasil memangkas waktu tempuh dari Ciawi ke Cigombong yang semula 1,5 jam setidaknya menjadi 15 menit.

Tol Bocimi dibangun untuk melayani siapa saja, termasuk pelaku industri di Sukabumi. Secara sederhana bisa dilihat bahwa kehadiran tol menguntungkan pelaku industri terutama dalam aspek distribusi, di mana distribusi barang menjadi meningkat dengan biaya yang relatif murah. Itu artinya, Bocimi berdampak pada efisiensi industri.

Nah lalu, apakah efisiensi industri tersebut bakal bermuara pada peningkatan kesejahteraan buruh di Sukabumi? Itu pertanyaan yang masih harus ditunggu jawabannya.

Tulisan ini terutama fokus pada kehadiran tol dan dampaknya terhadap industri minuman (beverages) yang tumbuh pesat di Sukabumi. Berikut lima fakta dan argumentasinya, gen XYZ Sukabumi mesti tahu.

1. Keharusan hadirnya tol di Sukabumi

Kehadiran tol Bocimi seolah menjadi keharusan di tengah geliat Sukabumi sebagai pusat pertumbuhan industri di sekitar Jabodetabek. Selain itu, Sukabumi (terutama di wilayah kabupaten) juga punya setidaknya tiga potensi lain yang menjadi keunggulan kawasan ini, yaitu lahan yang relatif masih luas, ketersediaan air yang melimpah, dan upah tenaga kerja yang masih rendah.

2. Ada 7 kawasan industri di Sukabumi

Berbicara soal lahan industri, Pemkab Sukabumi melalui Perda No 22 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi sudah menyiapkan ruang untuk perkembangan industri. Setidaknya kini sudah tujuh kawasan industri dibangun di Kabupaten Sukabumi dengan total luas lahan sekitar 2.096 hektare.

Ketujuh kawasan industri tersebut adalah (1) Kawasan Industri Ciambar (KICA) dan Kawasan Industri Ciambar II (KICA II) dengan total luas kurang lebih 711 hektare, (2) Kawasan Industri Cikembar (KIC) di Cikembang – Kawasan Industri Cikembar II (KIC II) di Cijambe – Kawasan Industri Cikembar III (KIC III) di Sukamulya. Ketiganya juga di Kecamatan Cikembar dengan total luas kurang lebih 620 hektare.

Lalu ada lokasi (3), Kawasan Industri Gunungguruh di Kecamatan Gunungguruh seluas kurang lebih 85 hektare. Lokasi (4) adalah Kawasan Industri Palabuhanratu (KIP I dan II) seluas kurang lebih 400 hektare di Kecamatan Palabuhanratu dan Kecamatan Simpenan.

Lokasi (5) ada Kawasan Agro Industri Peternakan Purabaya (KAIPP) di Kecamatan Purabaya seluas kurang lebih 100 hektare. (6), Kawasan Industri Pasir Besi Cibitung (KIPC) di Kecamatan Cibitung seluas kurang lebih 120 hektare. Terakhir (7) ada Kawasan Industri Pasir Besi Tegalbuleud (KIPT) di Kecamatan Tegalbuleud seluas kurang lebih 60 hektare.

Jumlah tersebut belum termasuk wilayah Kecamatan Cicurug, Cidahu, Parungkuda, Cibadak, Karang Tengah dan beberapa wilayah lain yang juga terdapat banyak industri.

BACA JUGA:

Tol Bocimi dioperasikan Oktober 2018, namun masih ada kendala, ini 5 infonya

Seksi I Bocimi sudah, ini 5 info tol Sukabumi-Cianjur, gen XYZ mesti tahu

Ini 5 catatan GMNI untuk Bupati Sukabumi terkait toll gate dan pengelolaan sektor pariwisata

3. Sukabumi surga air

Salah satu potensi Sukabumi yang menggiurkan kalangan investor baik tingkat nasional maupun dunia, yaitu ketersediaan air. Semua orang tahu Sukabumi adalah surga air. Menurut hasil penelitian Direktorat Geologi Tata Lingkungan bersama Bagian Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi, di Kecamatan Cicurug dan Cidahu saja telah diidentifikasi setidaknya 37 mata air dengan total debit air 1.335 liter per detik.

4. Deretan konglomerasi industri minuman di Sukabumi

Fakta itu menjadikan Sukabumi menjadi “surga” industri minuman skala besar. Jelas sekali terlihat dengan hadirnya deretan konglomerasi industri minuman terhitung sejak tahun 1990an, terutama pabrik minuman kemasan dengan produk yang cukup familiar. Sebut saja merek Aqua yang mayoritas sahamnya dimiliki perusahaan multiinternasional Danone Grup.

Juga ada Indomilk dan Asahi milik konglomerasi Salim Group. Asahi diproduksi oleh perusahaan joint venture PT Indofood Asahi Sukses Beverage dan PT Asahi Indofood Beverage Makmur.

Nama produk minuman terkenal lainnya seperti Kratingdeng yang berasal dari Thailand dan dimiliki TCP Group juga punya kegiatan produksi di Cicurug di bawah naungan PT Asia Healthy Energy Beverages. Nama produk minuman terkenal lainnya, yaitu Yakult diproduksi oleh PT Yakult Indonesia Persada.

Lalu ada produk You C 1000 digarap Keluarga Djojonegoro pada 2004 dan berdiri atas nama PT Djojonegoro C-1000. Produk ini berasal dari Jepang di bawah perusahaan makanan House Wellness Foods Corporation dari Jepang. Dan masih banyak lagi merek minuman terkenal lainnya.

5. Tol = efisiensi industri = peningkatan kesejahteraan buruh?

Dampak positif kehadiran tol diamini oleh Danone Indonesia. Menurut mereka, khususnya dibangunnya tol Bocimi dan secara umum perbaikan infrastruktur, akan berdampak baik terhadap kinerja bisnis dan operasional perusahaan. “Karena akan membantu dalam memperlancar distribusi barang dan mengurangi kemacetan, yang berarti mengurangi penggunaan BBM dan gas buangan karbon,” kata Arif Mujahidin, Direktur Komunikasi Danone-Indonesia seperti dikutip dari Tirto.or.id.

Arif menambahkan industri yang menghasilkan minuman sangat rentan pada biaya distribusi yang akan memengaruhi biaya bila jalur logistik terus didera kemacetan. Adanya tol tentu akan memangkas biaya pengiriman barang.

Nah, hubungan keberadaan tol dan turunnya biaya logistik juga menjadi kesimpulan penelitian yang dilakukan Ridwan Anas, Ofyar Z. Tamin dan Sony S. Wibowo dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam penelitian mereka yang berjudul “Pengaruh Investasi Infrastruktur Jalan Terhadap Sektor Industri Pengolahan” (2017), disebutkan bahwa biaya transportasi barang menjadi lebih murah setelah dibangunnya jalan tol.

Penelitian itu sendiri dilakukan dalam konteks kehadiran tol Cipularang, jika dikontekskan ke Sukabumi dan keberadaan industri minuman, beroperasinya sebagian tol Bocimi saja saat ini tentu akan memberi dampak efisiensi bagi industri.

Dan hipotesa selanjutnya ini mesti ditekankan: Seharusnya, efisiensi industri karena keberadaan tol itu juga berefek pada kesejahteraan buruh industri di Sukabumi!

FYI, saat ini upah pekerja di Kabupaten Sukabumi termasuk yang kecil di antara kawasan industri lainnya di sekitar Jabodetabek. Pada 2018, UMK Kabupaten Sukabumi hanya sebesar Rp2,58 juta per bulan. Memang jumlah itu sedikit lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Cianjur yang hanya Rp2,16 juta, juga lebih tinggi dari UMK Kota Sukabumi Rp2,158 juta.

Namun, jumlah itu jauh lebih kecil ketimbang kawasan lain, seperti Kabupaten Bekasi yang memiliki UMK sebesar Rp3,83 juta per bulan. UMK Sukabumi juga jauh di bawah Kabupaten Serang sebesar Rp3,58 juta, Kabupaten Purwakarta Rp3,44 juta, Kabupaten Karawang Rp3,91 juta. Gambaran tentang UMK di atas hanya salah satu varian dari kesejahteraan buruh, masih banyak varian lainnya. Semisal bonus, insentif, uang makan, jaminan kesehatan, dan lain-lain.

Intinya, ingat selalu ini, muara dari pembangunan tol seharusnya adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat/buruh! (dari berbagai sumber)

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *