Intip kuy usaha ternak ayam organik di Cicurug, 5 info gen XYZ Sukabumi mesti tahu


Glyn

Writed by: Glyn
Editor by: Feryawi
27 Feb 2019 | 7:59 WIB


Tak hanya ayam broiler biasa, kini ada juga ayam organik dan ayam probiotik (ayam herbal).

Apa yang ada dalam benak kalian Gaess, saat mendengar peternakan ayam? Bisa jadi yang ada di bayangan kalian sebuah kandang yang besar, dengan banyak ayam di dalamnya. Lalu, lalat beterbangan hilir mudik, bau amoniak yang menyeruak, dan sekam yang penuh kotoran. Tak jarang warga protes keras terkait kondisi peternakan ayam konvensional ini.

Nah, sebenarnya beternak ayam tak harus begitu. Kini sedang tren peternakan ayam broiler mandiri yang skalanya kecil dan bisa dilakukan di rumah tanpa mendapat keluhan bau dari tetangga. Penasaran Gaess?

Ini dia lima info tentang usaha peternakan mandiri ayam organik yang ada di Cicurug Sukabumi, termasuk juga info tentang ayam organik dan ayam herbal.

1. Beternak ayam di rumah tanpa komplain tetangga

Didi Darmadi atau biasa disapa Kang Didi, tinggal di pemukiman yang rapat di Kampung Caringin, Desa Nyangkowek, Kecamatan Cicurug Sukabumi. Namun demikian, dengan lahan seadanya Kang Didi mampu menghasilkan 100 ekor ayam broiler per minggu. Ajaibnya, ia beternak ayam memanfaatkan halaman rumah dan tak ada komplain bau dari warga sekitar.

Peternakan mandiri berskala kecil yang digeluti Kang Didi dikenal dengan sebutan peternakan ayam organik. Sepintas dapat diketahui bahwa ayam-ayam yang diternak Kang Didi lebih sehat karena tak melibatkan obat, vaksin, ataupun vitamin. Karena tanpa obat dan vaksin, ayam broiler organik ini terkenal mempunyai tekstur daging yang lebih empuk dengan bau daging yang tidak terlalu amis. Itulah keunggulan ayam ternak Kang Didi.

2. Tak terpengaruh cuaca ekstrim

Lebih lanjut Kang Didi mengungkapkan keuntungan lain beternak ayam organik adalah tak terpengaruh oleh cuaca yang ekstrim. Ayam-ayam DOC ternak Kang Didi ini dapat berkembang dengan baik dan sehat walaupun Cicurug sedang dilanda hujan dengan intensitas yang tinggi belakangan ini.

Pengetahuan Kang Didi beternak dengan cara ini tak begitu saja ia dapatkan. Butuh satu tahun riset untuk menemukan cara yang tepat dalam beternak ayam broiler organik ini. Pengaturan suhu yang tepat, sirkulasi udara yang baik dan kebersihan kandang menjadi kunci yang memengaruhi kondisi ayam-ayam ternak organik.

BACA JUGA:

PT SUG hanya puncak gunung es, dua tahun terakhir 5 pabrik di Sukabumi bangkrut

Kukis keren bingits! Emak-emak XYZ Sukabumi hobi masak dan nyari duit ngumpul di sini

Bakso Mewek Cibadak, mewek di jalan tapi dijamin bikin milenial Sukabumi ketagihan

3. Mengembangkan kandang mini close house

Dalam perjalanannya, Kang Didi tak hanya mengandalkan beternak di halamn rumah saja. Bersama beberapa rekannya, berbekal berbekal riset yang ia lakukan, Kang Didi pun mengkreasi sebuah kandang pemeliharaan khusus yang ia sebut kandang Mini Close House.

Kandang mini close house adalah kandang mini tertutup yang dilengkapi dengan thermo control dan sistem sirkulasi udara yang didesain sedemikian rupa agar pergantian udara di dalam kandang tetap terjaga. Pembuangan kotoran pun diatur dengan sistem alas kawat dan nampan geser sehingga kotoran dapat dikerik atau disiram agar kebersihan kandang tetap terpelihara.

Dengan menggunakan kandang mini close house, peternak ayam organik tidak perlu mencari lahan yang luas untuk beternak, tidak membutuhkan sekam, tidak membutuhkan banyak pemanas dan kondisi ayam pun tidak terpengaruh oleh cuaca yang ekstrim. Hanya dengan lahan 2×1 meter, anda sudah bisa menghasilkan 50 ekor ayam broiler sehat per minggu.

4. Kendala yang dihadapi

Tak hanya kemudahan, banyak juga kendala yang dialami Kang Didi dan para peternak ayam broiler organik. tapi juga para peternak mandiri yang lain. Harga pakan yang terus naik dan bibit yang mahal menjadi momok utama yang memengaruhi naik turunnya usaha ternak ayam broiler ini.

Selain itu, pemasaran yang terbatas juga memengaruhi kredibilitas para peternak mandiri sehingga tak sedikit juga yang mengalami gulung tikar karena biaya produksi yang melonjak. Juga harga pasar yang tidak menentu serta permintaan harga yang relatif lebih murah dari para konsumen membuat kondisi para peternak mandiri ayam organik memprihatinkan.

Dalam konteks ini, Kang Didi berharap agar pemerintah mau lebih memperhatikan para peternak ayam mandiri seperti dirinya. Jika saja ada penyediaan bibit dan pakan yang lebih terjangkau, serta standarisasi harga penjualan ayam broiler dari pemerintah, mungkin kondisi para peternak mandiri akan lebih baik dari saat ini.

Khusus untuk kandang mini close house yang ia kreasi, Kang Didi berharap dapat menjadi inspirasi bagi para peternak mandiri dalam upaya meningkatkan produktifitas dan kapasitas ternak.

Untuk saat ini, Kang Didi menginformasikan pengembangan kandang mini close house Kang sudah ada di Kp. Lio – Cicurug, Gadog-Puncak, dan solo.

5. Tren ayam organik dan ayam herbal

Gaess, kalian mungkin sudah familiar dengan salah satu merk franchise Herbal Chicken, ya? Nah, ayam organik ini mirip-mirip lah dengan ayam herbal yang sebenarnya lebih pas disebut ayam probiotik. Lalu, apa sebenarnya beda ayam organik dan ayam probiotik?

Ayam organik adalah ayam yang diternakkan secara alami, tanpa sentuhan bahan kimia. Bibit ayam (day old chicken, DOC)-nya sejak awal ditetaskan dan dibesarkan dengan perlakuan organik. Pakannya pun berasal dari sayuran organik dan dedaknya dibuat dari beras organik.

Makanya, tidak terdeteksi pestisida saat diuji di laboratorium. Kadar E. coli berada di bawah ambang batas, sementara Salmonella thyposa terbukti negatif. Cemaran logam juga di bawah ambang batas, sehingga daging ayam organik aman dikonsumsi.

Pemeliharaan, pemotongan, dan pembersihan daging ayam juga tidak menggunakan bahan kimia. Ayam organik dipelihara selama 70 hari sampai mencapai berat 900-1.000 gram. Harga per ekornya sekitar Rp48.500 untuk ukuran 700-800 gram.

Sementara itu, ayam probiotik atau herbal adalah ayam broiler biasa yang diberi bakteri lactobacillus lewat pakannya. Ayam juga diberi jamu-jamuan seperti temulawak, kunyit, jahe, brotowali, dan lain-lain. Dengan tambahan bakteri baik dan jamu ini, kinerja pencernaan ayam jadi lebih baik. Lemak, lendir, dan minyak alami jadi lebih sedikit dibanding ayam biasa.

Itulah mengapa, kadar kolesterolnyapun jadi lebih rendah dan proteinnya lebih tinggi. Tak hanya itu. Kandungan air ayam probiotik juga lebih rendah, sementara Salmonella, E. coli, dan antibiotiknya tak terdeteksi. Cemaran timbal, merkuri, dan arsenik juga di bawah batas aman. Di supermarket, harga ayam probiotik bisa mencapai Rp 50.000/kg.

Nah, ada rupa, ada harga. Daging ayam organik dan probiotik memang memiliki serangkaian keunggulan, namun tentu saja kalian harus menebusnya dengan uang lebih. Tertarik untuk beternak ayam organik atau probiotik, Gaess.

  • 214
    Shares
Glyn

Glyn

Glyn lahir di Cicurug, 19 Agustus 1984. Ia tinggal di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, seorang ibu muda yang gaul, hobi menulis dan bikin cerpen. Glyn juga menjadi pendidik di kota tempat tinggalnya.

2 tanggapan untuk “Intip kuy usaha ternak ayam organik di Cicurug, 5 info gen XYZ Sukabumi mesti tahu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *