#CerpenSukabumi: Ash Lee Soon

“….Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena angin terlampau bisu untuk sekadar menggambarkan pedihnya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena langit seakan kaku untuk sekadar melukiskan nyerinya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena awan terlampau gagu untuk sekadar memberitakan sakitnya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena kau sendiri yang membuat luka itu. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku… Karena… Karena, aku sendiri tak mau kau tahu akan hal itu. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena, karena… aku terlanjur mencintaimu..“

* * * * *

Baru hanya sebaris itu yang ia mampu tuliskan, belum sampai jua kepada apa yang dimaksudkan, ia sudah tak kuasa meneruskan. Tersungkur ia menangis tersedu, di balut malam yang sendu. Menahan sepi yang tak terperikan, ia mulai mengiris-iris urat nadinya dengan sisa-sisa pecahan kaca dari gelas yang tadi ia lemparkan ke tembok.

* * * * *

[Satu]

Pagi itu,

“Hah?” hanya itu respon yang aku berikan ketika Ash mengeluhkan kesahnya. Ash adalah salah seorang teman, dari sekian banyak teman, yang sangat aku kagumi kepiawaiannya memainkan rima dalam pelbagai macam tulisannya. Kadang aku merasa mungkin dia dilahirkan dari rahim aksara dan di besarkan dalam lingkungan alfabeta. Aku sangat iri pada kemampuannya menguasai kosakata; dari mana dia mempelajarinya? Bagaimana cara dia belajar?

Nama lengkapnya Ash Lee Soon, nama yang cukup aneh untuk orang sunda kebanyakan. Dan “Ash”, adalah jajaran huruf yang ia reka sendiri dari nama aslinya.

Aku pun memanggilnya begitu, pura-pura tidak tahu nama aslinya. Terlebih, aku percaya, orang akan lebih bangga ketika dipanggil sesuai dengan keinginannya.

Selidik punya selidik, ternyata Ash Lee Soon itu adalah nama yang sengaja ia buat untuk menunjukan bahwa ia berasal dari suku Sunda, dan ia sangat bangga dengan itu.

Sebetulnya, dulu ia sempat menggunakan nama lain, namun nama yang dulu ia pakai pun tetap menunjukan kecintaannya terhadap Sunda. Sempat terjadi silang pendapat antara otak kiri dan kanan ketika dulu ia hendak mengganti nama, dan perdebatan pikiran itu terselesaikan oleh hati.

Itulah asal usul nama Ash Lee Soon yang berawal dari perdebatan otak kiri dan kanan yang kemudian bermufakat untuk mengikuti keputusan hati yang sebenarnya tak penting untuk dibahas. Hehehe….

* * * * *

[Dua]

Menjelang siang,

“Kang Haji, aku sudah dapat menyangkanya, sekalipun kamu pluralis, kamu pasti bakal menganggapnya aneh, janggal dan rancu!?” Bentak Ash atas ketidakmengertianku terhadap keadaannya.

“Sebentar Ash” aku coba meredakan amarahnya.

“Ingat kita ini hidup di Indonesia Ash, kamu tahu bagaimana situasi Negara kita saat ini? Ricuh. Teroris, bencana alam. Ingat bagaimana reaksi masyarakat kita ketika bintang porno Maria Ozawa itu mau datang ke Negara kita?… demo dimana-mana? Apalagi yang kamu bicarakan barusan itu termasuk masalah NORMA, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu nanti, … “

“Aku beritahu Ash, segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah agama di Negara ini sangat sensitif. Kamu ingat? Lia Eden,… ustad Roy dan jejeran peristiwa lainnya. Mendingan jangan sentuh masalah agama, biarkan orang-orang pintar itu yang menyelesaikan.”

Aku pikir, mungkin apa yang aku ucapkan barusan bisa menggugah kesadaran Ash yang sedang kesumat itu, karena selepas aku bicara Ash tertunduk. Diam. Tapi ternyata perkiraanku meleset. Dari raut mukanya, aku melihat kemarahan. Namun kemarahan yang sangat sepi di simpan secara rapi di telaga sunyi. Ash terdiam. Menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Bagaimana Ash?” ku coba menghancurkan kesunyian itu. Sekali lagi Ash tidak menjawab, dia seakan hanyut dalam pikirannya sendiri, sedang rokok itu masih setia menggelayut di bibirnya yang memerah. Sungguh suasana yang tidak aku inginkan.

“Kamu sudah memesan makanan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Belum” jawabnya.

“Baiklah, biar aku yang memesan untukmu, …” Aku pun bangkit memesan makanan. Sesaat setelah membawa makanan. Ternyata Ash sudah tidak ada. Di atas meja ada secarik kertas, yang kukira sengaja ia tinggalkan untukku. Begini isinya;

“… Cinta adalah sebuah perasaan yang netral. Seperti air, ia bebas. Tak berbentuk namun membentuk. Cinta bisa hinggap pada siapa saja, orang awan ataupun bangsawan. Seperti halnya kantuk atau kentut ia bisa menimpa siapa saja, orang yang berpendidikan atau tidak berpendidikan. Dan yang paling penting, cinta tak mengenal jenis kelamin, pria atau wanita … “

Setelah membaca note itu, aku langsung menelepon Niki, lengkapnya Nikita Jupe Willy; gadis berparas Nikita namun memiliki bodi Jupe, dialah inti dari permasalahan ini.

* * * * *

BACA JUGA: #CerpenSukabumi: Kado dari mama

[Tiga]

Hampir malam,

Ash terhuyung-huyung memasuki kamarnya. Dia terlihat sangat berantakan, kemeja kotak-kotaknya itu sangat lusuh. Kemudian dia duduk persis di depan poster hitam bertuliskan Cinta Rock ‘N Roll. Kepalanya tertunduk di topang oleh kedua lututnya sedang kedua tangannya melingkar di atas kepala. Beberapa saat yang cukup lama ia terus pada posisi itu.

Hening dan hitam.

Kemudian, ia mulai bergerak, mengeluarkan sebuah botol Vodka dari tasnya. Ia mengambil gelas putih yang tidak jauh dari jangkauannya. Ia mulai minum. Pada tetes terakhir, ia bermain-main dengan gelas yang di pegangnya itu. Ia amati gelas itu dari pelbagai sudut. Lantas dengan datar. Ia lemparkan gelas itu ke tembok. Keras! Sangat keras sekali. Sesaat kemudian.

Hening dan hitam.

Dan … Entah dari mana datangnya suara itu, Ash tiba-tiba mendengar suara musik dengan nada-nada getir yang sudah tak asing lagi di telinganya. Matanya nanar seakan menikmati balutan melodi nyeri dari musik itu. Dengan lirih ia pun ikut bergumam…

“Apa salahku? Kau buat begini… Akhirnya kini aku mengerti apa yang ada dipikiranmu selama ini… Kau hanya ingin memainkan perasaanku…“

* * * * *

[Empat]

Tengah malam,

Ia mulai menulis;

…..

“… Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena angin terlampau bisu untuk sekadar menggambarkan pedihnya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena langit seakan kaku untuk sekadar melukiskan nyerinya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena awan terlampau gagu untuk sekadar memberitakan sakitnya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena kau sendiri yang membuat luka itu. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku… Karena, … Karena, aku sendiri tak mau kau tahu akan hal itu. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena, karena… Aku terlanjur mencintaimu…“

Baru hanya sebaris itu yang ia mampu tuliskan, belum sampai jua kepada apa yang dimaksudkan, ia sudah tak kuasa meneruskan. Tersungkur ia menangis tersedu, di balut malam yang sendu.

Menahan sepi yang tak terperikan, ia mulai mengiris-iris urat nadinya dengan sisa-sisa pecahan kaca dari gelas yang tadi ia lemparkan ke tembok. (cerpen kiriman Anonim)

  • 25
    Shares
Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *