1856-2019, ini kronologis Gamelan Sari Oneng Parakansalak Sukabumi diklaim Pemkab Sumedang

Jika memang katiadaan museum menjadi alasan Gamelan Sari Oneng tidak dikembalikan, lantas siapa yang salah ya, Gaess?

Sari Oneng Parakansalak adalah kelompok gamelan dari Sukabumi yang mendunia. Pada masanya, tim gamelan ini sudah melanglang buana ke Amerika Serikat, Perancis, dan Belanda. Bahkan, para pemain gamelan ini tak cuma bermain musik, tetapi juga membawa misi memperkenalkan komoditas dan budaya Nusantara yang saat itu disebut Hindia Belanda.

Dalam perjalanannya, instrumen gamelan dititip Bupati Sukabumi ke Sumedang untuk dirawat. Upaya mengembalikan gamelan ke Parakansalak sudah dilakukan oleh kalangan seniman dan budayawan Sukabumi, Gaess. Namun sayangnya, keberadaan museum menjadi syarat gamelan tersebut dikembalikan. Banarkah? Ketiadaan museum bukan alasan Sari Oneng tak bisa kembali ke Sukabumi

Berikut adalah lima fakta menarik Sari Oneng yang layak untuk diulas kembali khusus buat gen XYZ Sukabumi.

[1] 1856: Milik Perkebunan Parakansalak

Gamelan Sari Oneg ini konon di buat di Sumedang pada 1825, kemudian dipesan oleh Adriaan Walfaare Holle, administratur Parakansalak pada 1856. Dia juga memesan ukiran kayu rancak berbahan kayu besi didominasi warna biru dan hijau dengan kepala harimau di Saron dan naga pada gantungan gong khusus dari Thailand.

Konon Sari Oneng ini tidak cuma satu, tetapi ada juga Sari Oneng lain yang distel secara khusus. Mundt, bahkan memesan Gamelan yang dapat memainkan nada-nada diatonik untuk keperluan tertentu.

Holle membeli seperangkat gamelan untuk menghibur para pekerja perkebunan dan masyarakat. ia sendiri dikenal mahir memainkan alat musik rebab. Sari Oneng rutin berlatih di sela-sela melepas penat selepas mengurus perkebunan. Saat itu, perkebunan adalah tempat terpencil yang jauh dari hingar bingar hiburan, sementara pekerjaan mereka cukup berat dengan libur satu hari dalam satu minggu.

Kala itu, dibentuk Syndicat Jawa Chicago beranggotakan dua administratur perkebunan teh, yaitu Eduard Julius Kerkhoven dari Sinagar, dan Gustaf Mundt dari Parakansalak. Sindikat membiayai pengangkutan gamelan serta penduduk kampung Sinagar dan Parakansalak dengan hasil pertanian termasuk teh. Kolaborasi tersebut berhasil sebagai ajang promosi perkebunan sekaligus promosi Hindia Belanda di Eropa.

[2] 1882: Peresmian jalur KA Bogor-Sukabumi

Saat peresmian jalur kereta api (KA) Buitenzorg-Soekaboemi (Bogor-Sukabumi) pada Maret 1882, Sari Oneng Parakansalak menyambut para tamu undangan, tuan tanah, dan pejabat yang pertama kali menaiki KA dan berhenti di Stasiun Parungkuda.

Selain itu, Sari Oneng Parakansalak menjadi pagelaran wajib saat diadakan pesta administratur perkebunan. Misalnya saat bulan perayaan pernikahan perak keluarga Mundt yang dilangsungkan selama sepekan mulai 15 Juni 1896, Sari Oneng menjadi sajian utama selain hiburan lainnya yang terdiri dari musik Eropa, kembang api, balon udara, memancing di danau, permainan rakyat, pesta dansa dan seabreg kegiatan perayaan lainnya.

Perayaan dilakukan di alun-alun perkebunan dan dibeberapa ruang fungsional dan juga landhuis Parakansalak (Gedung Patamon).

BACA JUGA:

Catatan dari Paris: Menyingkap alasan pria Eropa jatuh cinta kepada penari Sari Oneng Sukabumi

Personel Sari Oneng Parakansalak, pionir mogok tenaga kerja Sukabumi di pentas internasioal

[3] 1883: Sari Oneng mendunia

Gamelan Sari Oneng mulai melanglangbuana ke mancanegara setelah Gustaf CFW Mundt emnggantikan A.W. Holle sebagai Administrator Perkebunan Parakansalak, pada 1883. Mundt membawa rombongan gamelan dalam pameran di Kota Amsterdam, Belanda.

Usai tampil di Belanda, Sari Oneng mengikuti pameran di Kota Paris, Perancis, selama enam bulan pada 1889. Kembali ke Hindia Belanda, gamelan diatonik milik Mundt itu sempat memainkan lagu kebangsaan Belanda Het Wilhelmus, saat menjamu Gubernur Jendral Cornelis Pjnaker Hordijk yang datang ke Sukabumi pada Agustus 1889. Gamelan berlaras pelog tersebut kini disimpan di Museum Negara Leiden, Belanda.

Gamelan ini dimungkinkan sedikit berbeda dengan yang dibawa ke Paris, mengingat pameran di Paris berlangsung hingga November 1889. Pameran internasional lain juga sempat diikuti yaitu The World’s Columbia Exposition International di Chicago, Amerika Serikat, pada 1893, dipimpin seorang pekerja sekaligus pemain rebab bernama Suminta Mein.

Suminta memiliki seorang anak perempuan bernama Iyi Endah, istri dari W. Th. Boreel yang menjabat Administratur di Parakansalak. Baca kisah Iyi Endah: Cinta sejati untuk Ameri: Gadis Sukabumi tak sempurna yang membutakan hati pria bermata biru

[3] 1942: Gamelan berada di Sumedang

Selepas melanglangbuana mengikuti pelbagai kegiatan di luar negeri, Sari Oneng kembali ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Gamelan tetap digunakan dalam berbagai acara priayi dan pembesar Belanda terutama yang bersifat seremonial.

Hingga pecah Perang Dunia II, dan Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, Gamelan tersebut disembunyikan oleh Bupati Sukabumi Soeria Daoeningrat. Hal ini sangat beralasan karena Jepang terus mencari keberadaan bahan-bahan yang terbuat dari logam untuk dilebur menjadi senjata atau alat perang lainnya.

Atas jasanya itu, Administratur Parakan Salak, MOA Huguenin menghibahkan gamelan Sari Oneng kepada Soeria Daoeningrat pada 1957. Setelah Soeria Danoeningrat wafat pada 1975, oleh ahli waris Soeria Danoeningrat, Sari Oneng dititipkan di Museum Geusan Ulun Sumedang.

Sedangkan goong indung atau goong ageung (gong besar) Sari Oneng yang memiliki garis tengah 92 cm dengan berat 30 kg, masih disimpan di Tropen Museum karena tertinggal di Belanda. Pada April 1989, goong tersebut dikembalikan ke Indonesia karena kerap berbunyi sendiri sehingga membuat takut pengelola dan pengunjung museum.

Hingga kini, Plakat Kepemilikan dan Penyerahan Gamelan Sari Oneng Parakansalak kepada ahli waris R.A.A Soeria Danoeningrat masih tertera alam keterangan di museum.

Secara jelas ada keterangan bawa gamelan tersebut dititipkan (bukan diserahkan) kepada Museum Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang untuk dirawat. Hingga saat ini gamelan tersebut masih sah milik keluarga R.A.A Soeria Danoeningrat, bukan Pemda Sumedang.

[4] 11 Mei 2019: Tampil di pentas bergengsi

Gamelan Sari Oneng Parakansalak dimainkan mengiringi Musik Debussy. Kolaborasi ini digelar pada malam gala Impression Universelles di Aula Simfonia Jakarta, Sabtu (11/5/2019) lalu. Diakui berbagai kalangan, kolaborasi antara Musik Debussy dengan Gamelan Sari Oneng Parakansalak ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah Indonesia. Untuk acara tersebut, Pemda Sumedang telah mengirimkan sekitar 28 orang musisi dan official.

Lebih jauh, Pemkab Sumedang mengklaim jika malam gala Impressions Universelles sebagai perayaan hari jadi ke 441 Sumedang sekaligus merayakan hari jadi si Wanita Besi atau Menara Eiffel yang merupakan simbol teknologi dan kemajuan. Pada acara tersebut, Gamelan Sari Oneng Parakansalak berhasil memukau sekira seribu penonton yang berasal dari berbagai negara.

Hadir pada acara tersebut, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan, Ketua DPRD Kabupaten Sumedang Yadi Mulyadi, Sekda Sumedang Herman Suryatman, dan pejabat lainnya besertra istri.

Selama acara berlangsung, ribuan sorot mata dengan hening tertuju pada panggung pentas pagelaran Gamelan Sarioneng Parakansalak, yang dimainkan dengan musik Debussy disertai dengan tarian tradisional Jawa, yang melibatkan Sanggar Tari Darma Giri Budaya, Wonogiri.

[5] 11 Mei 2019: Bupati Sumedang di-bully netizen Sukabumi

Sabtu, 11 Mei 2019, di fanpage-nya, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menulis:

“Alhamdulillah Konser Sarioneng Parakansalak dan Orkes Simponi di Aula Simfonia Jakarta, Sabtu malam berjalan sukses. Gamelan Sarioneng dibuat di Sumedang dan menjadi koleksi Museum Prabu Geusan Ulun. Pertunjukan kelas dunia Impressions Universelles ini kerjasama Pemkab Sumedang dengan Kedutaan Perancis dan Institut Francais Indonesia merupakan misi dan diplomasi budaya sekaligus bisnis dan investasi bagi Sumedang. Dihadapan penonton yang kebanyakan kalangan bisnis dan ekspatriat, saya mengundang mereka untuk berinvestasi dan berkunjung ke Sumedang. Karpet merah akan disiapkan.”

Sontak saja, halaman milik orang nomor satu di Sumedang tersebut dikritik pemerhati seni Sukabumi. Isu klaim Gamelan Sari Oneng oleh Pemkab Sumedang ini juga memang ramai diperbincangkan netizen Sukabumi. Wajar jika kritikan bernada sindiran dialamatkan kepada Dony pada kolom komentar.

Akun Irman Musafir Sufi, misalnya menulis: “Seharusnya dikembalikan ke parakansalak sukabumi supaya sejarahnya tidak hilang, tak elok pula mengklaim gamelan wilayah lain dan memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri tanpa memperhatikan sejarah darimana gamelan itu berasal.”

Sejak kapan Sarioneng parakansalak Ngalih ka Sumedang. Apakah Sarioneng parakansalak sukabumi sudah tdk ada s Peta Kab. sukabumi ??¿” tulis akun Bachry Barra.

Nah, Gaess, menurut kamu gimana tuh? Jika memang katiadaan museum menjadi alasan Gamelan Sari Oneng tidak dikembalikan, lantas siapa yang salah ya, Gaess?

[dari berbagai sumber]

Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *