Sukabumi didera 223 longsor dan 54 kebakaran, 5 update bencana warganet mesti aware

Bencana yang paling menyorot perhatian adalah pergerakan tanah di tiga Kampung Gunungbatu.

Karena keindahan alamnya, Sukabumi kerap disebut sebagai tanah surgawi. Boleh donk bangga ya, Gaess! Tapi, semua keindahan itu tak hadir secara “gratis.” Di balik semua keindahan itu ada potensi bencana alam yang mengintip secara konstan di sepanjang tahun. Maka, pilihan yang logis bagi kita Gaess, adalah mensyukuri anugerah yang diberikan Tuhan dengan sikap waspada!

Nah, mau tahu bencana alam apa saja yang terjadi di Sukabumi terhitung semester pertama tahun 2019 (Januari-Juni)? Berikut lima update yang dirangkum sukabumiXYZ.com dari berbagai sumber.

[1] Longsor mendominasi   

Bencana alam apa yang paling banyak terjadi di Kabupaten Sukabumi? Jawabannya adalah longsor. Longsor menjadi kasus bencana tertinggi di sepanjang semester pertama (Januari-Juni) 2019 di Kabupaten Sukabumi. FYI, hampir seluruh wilayah di Kabupaten Sukabumi memang rawan terjadi bencana longsor.

“Dari Januari hingga Juni 2019, bencana longsor tercatat sebanyak 223 kejadian,” ujar Kepala Seksi Kedaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman seperti dikutip dari Antara, Rabu (24 Juli). Jumlah ini paling banyak dibandingkan dengan jenis bencana lainnya.

Koordinator Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna menambahkan, setiap bulannya bencana longsor memang paling tinggi kasusnya. Ia menyontohkan pada Februari 2019 dari sebanyak 53 kejadian bencana, sebanyak 23 kejadian di antaranya adalah longsor. ‘

[2] Bencana pergeseran tanah menyita perhatian

Eka Widiaman lebih lanjut menambahkan bencana terbanyak kedua di Kabupaten Sukabumi ditempati oleh angin kencang atau puting beliung sebanyak 59 kejadian, lalu ada kebakaran sebanyak 54 kejadian, banjir 28 kejadian dan pergerakan tanah 12 kejadian.

Bencana yang paling menyorot perhatian adalah pergerakan tanah di tiga Kampung Gunungbatu terdiri dari RT 01, 02 dan 03 di RW 09 Kedusunan Liunggunung, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung. Kini, Pemkab tengah berupaya membangun hunian sementara (Huntara) bagi warga yang menjadi korban di sana.

[3] Bencana kekeringan dera 12 kecamatan

Selain bencana-bencana yang disebutkan di atas, memasuki musim kemarau Sukabumi juga kini sedang banyak didera bencana kekeringan. Sampai akhir Juli ini, jumlah daerah yang mengalami kekeringan di Kabupaten Sukabumi dikabarkan mencapai 12 kecamatan. Padahal, di awal Juli jumlah wilayah terdampak kekeringan baru tujuh kecamatan.

“Saat ini daerah terdampak kekeringan mencapai 12 kecamatan yang tersebar di 36 desa,” ujar Kepala Seksi Kedaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman, Rabu (24 Juli). Ke-12 kecamatan itu meliputi Gegerbitung, Gunungguruh, Cisaat, Cibadak, Cicurug, Parungkuda, Cikembar, Warungkiara, Bantargadung, Palabuhanratu, Cisolok, dan Ciracap.

Editor’s Picks:

Duh, sungai Cicurug hingga Cibadak Sukabumi dikepung limbah, cek kuy 5 faktanya

Terulang seperti 2018, enam bulan pertama 2019 ada 5 kasus bunuh diri di Sukabumi

[4] Status siaga darurat kekeringan

Pada 16 Juli lalu, Pemprov Jawa Barat telah melakukan rapat siaga kekeringan. Dari rapat itu, rencananya akan keluar surat keputusan (SK) Gubernur Jabar tentang siaga darurat kekeringan per 16 Juli 2019. Namun hingga kini SK tersebut belum dikeluarkan. Eka Widiaman menuturkan jika SK tersebut diterbitkan maka Pemkab Sukabumi akan menetapkan hal serupa. Sebabnya penetapan status siaga kekeringan mengacu pada penetapan di tingkat provinsi.

Namun walau belum ada SK siaga kekeringan, BPBD telah berupaya menangani wilayah terdampak kekeringan terutama warga yang kesulitan air bersih. Selain BPBD, pasokan air bersih juga dilakukan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sukabumi dan PDAM Kabupaten Sukabumi.

[5] Bencana kebakaran mulai marak

Terakhir, di Sukabumi juga bencana kebakaran mulai semakin marak di berbagai wilayah. Bencana kebakaran kebanyakan diakibatkan oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebakaran hutan ini misalnya terjadi di Hutan Gunung Kiara Jajar Desa Mekar Sakti, Kecamatan Ciemas pada 16 Juli 2019 lalu.

Selain itu dilaporkan juga kebakaran lahan di Desa Mandrajaya, Kecamatan Ciemas. “Kebakaran kemungkinan terjadi karena ada orang membuka lahan dengan cara membakar lahan,” ujar Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono seperti dikutip dari Antara, Senin (22 Juli).

Sementara itu, Koordinator Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna mengatakan, kebakaran lahan terjadi pada saat musim kemarau. Potensi kebakaran itu harus diantisipasi di musim kemarau.

So, eling dan waspada ya, Gaess!

[dari berbagai sumber]

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *