Catatan letusan Tangkuban Parahu, bagaimana dampaknya ke Sukabumi? 5 info gen XYZ mesti waspada

Meski statusnya masih level 1 alias normal, wisatawan tidak diperbolehkan turun mendekati dasar Kawah Ratu dan Kawah Upas.

Gunung Tangkuban Parahu mengalami erupsi dengan luapan debu mencapai 200 meter. Erupsi tersebut terjadi sekitar pukul 15.48 WIB, Jumát (26 Juli). Nah, Tangkuban Parahu dengan Sukabumi memang jauh ya, Gaess. Kurang lebih posisi Sukabumi berada 135 km bagian tenggara dari Tangkuban Parahu.

Namun demikian, posibilitas wilayah Sukabumi terdampak oleh letusan Tangkuban Parahu yang berada di Kabupaten Bandung, tetap ada. Berikut lima info yang dirangkum sukabumiXYZ.com dari berbagai sumber.

[1] Sukabumi terdampak jika…

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi memastikan erupsi Gunung Tangkuban Perahu tidak berdampak langsung di wilayahnya. Pasalnya, debu dan lava yang berterbangan mengarah ke utara dan timur. Artinya, jika letusannya membesar dan arah angin ke tenggara atau selatan, maka bukan tidak mungkin wilayah Sukabumi terdampak.

“Belum ke tenggara ataupun selatan. Jadi belum ke Sukabumi,” ujar Kasi Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kota Sukabumi Zulkarnain Barhami seperti dikutip dari Kantor Berita RMOLJabar, Jumat (26 Juli).

[2] Langkah antisipatif

Lalu apa langkah antisipatif yang dilakukan pihak BPBD jika arah angin ke Sukabumi? “Kita menyiapkan masker. Sebab kemungkinan akan menerbangkan debu dan lava yang mengganggu pernapasan,” ucap Zulkarnain.

Zulkarnain juga mengimbau kepada masyarakat untuk menyiapkan masker. Termasuk menggunakannya jika sewaktu-waktu arah angin mengarah ke Sukabumi. “Sudah kita imbau ke berbagai pihak untuk menyiapkan dan memakai masker apabila debunya sampai ke Sukabumi,” ungkapnya.

[3] Benarkah letusan Tangkuban Perahu tiba-tiba?

Erupsi Tangkuban Parahu disebutkan tiba-tiba sehingga mengagetkan masyarakat. Benarkah? Rupanya ahli vulkanologi Surono membantah hal itu. “Alam itu setiap akan ada kejadian, (pasti) ada tanda-tandanya,” ungkap Surono seperti dikutip dari Antara.

Bagi Surono, tanda-tanda letusan gunung itu seperti awan yang terlihat mendung. Dia mengingatkan agar masyarakat untuk selalu menyiapkan mitigasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Jadi, setiap gunung akan meletus, pasti ada tanda-tandanya. Mau jelas atau nggak jelas. Karena itu ada ahlinya untuk menjelaskan yang tidak jelas,” tegas Surono.

Editor’s Picks:

PT SUG hanya puncak gunung es, dua tahun terakhir 5 pabrik di Sukabumi bangkrut

Gunung Salak dan Gede berstatus waspada, ini 5 info gen XYZ Sukabumi mesti aware

[4] Wisatawan dilarang naik ke kawah

Peringatan ini penting menjadi perhatian orang Sukabumi yang hendak ke Tangkuban Parahu. Saat ini, kata dia, Gunung Tangkuban Perahu berada pada status level I atau normal. Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat sekitar Gunung Tangkuban Perahu dan pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan turun mendekati dasar kawah Ratu dan Kawah Upas.

“Dan tidak boleh menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks Gunung Tangkuban Perahu, serta ketika cuaca mendung dan hujan dikarenakan terdapatnya gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia,” ujar Kepala Pusat PVMBG, Kasbani seperti dikutip dari VIVAnews.

Kasbani juga meminta kepada  masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Perahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata Gunung Tangkuban Perahu agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

[5] Catatan sejarah Tangkuban Perahu erupsi

  • Tahun 1829: Letusan berupa abu dan batu dari Kawah Ratu dan Domas.
  • Tahun 1846: Terjadi peningkatan kegiatan.
  • Tahun 1896: Terbentuk fumarol baru di sebelah utara Kawah Badak dari Kawah Ratu.
  • Tahun 1910: Kolom asam membumbung setinggi 2 Km di atas dinding kawah, letusan berasal dari Kawah Ratu.
  • Tahun 1926: Letusan freatik di Kawah Ratu membentuk lubang Ecoma.
  • Tahun 1935: Lapangan fumarol baru disebut Badak terbentuk, 150 m ke arah selatan baratdaya dari Kawah Ratu
  • Tahun 1952: Letusan abu didahului oleh letusan hidrotermal freatik
  • Tahun 1957: Letusan freatik di Kawah Ratu, terbentuk lubang kawah baru
  • Tahun 1961: Terjadi letusan freatik Gunung api Tangkuban Perahu
  • Tahun 1965: Terjadi letusan freatik Gunung api Tangkuban Perahu
  • Tahun 1967: Terjadi letusan freatik Gunung api Tangkuban Perahu
  • Tahun 1969: Letusan freatik didahului letusan lemah yang menghasilkan abu
  • Tahun 1971: Letusan freatik
  • Tahun 1983: Awan abu membumbung setinggi 150 m di atas Kawah Ratu.
  • Tahun 1992: Peningkatan kegiatan kuat dengan gempa seismik dangkal dan letusan freatik kecil
  • Tahun 1994: Letusan freatik di kawah baru
  • Tahun 1999: Peningkatan aktivitas
  • Tahun 2002: Peningkatan aktivitas
  • Tahun 2005: Peningkatan aktivitas
  • Tahun 2013: Beberapa kali terjadi peningkatan aktivitas (Februari, Maret, Oktober).

Sejarah baru tahun 2013 inilah terjadi 11 kali letusan freatik dalam kurun waktu 4 hari (5-10 Oktober 2013).

  • Tahun 2019: Peningkatan aktivitas terjadi erupsi. Letusan menyemburkan abu yang teramati hingga ketinggian ± 200 m di atas puncak (± 2.284 m di atas permukaan laut).

[dari berbagai sumber]

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *