Dampak kemarau 7.000 ha sawah kering, 3.160 ha puso, 5 info Gen XYZ Sukabumi mesti tahu

Per Juli 2019, sekira 22.000 ha sawah di Sukabumi sudah dipanen, itulah mengapa stok beras dinyatakan aman oleh Dinas Pertanian.

Musim kemarau rupanya masih kangen menyapa kita di Sukabumi ya, Gaess. Kemarau enggan pergi dan hujan pun enggan datang. Walaupun di beberapa wilayah di Sukabumi sudah mulai turun hujan sedikit, namun secara keseluruhan kemarau menyebabkan bencana kekeringan semakin parah. Dampaknya, luasan sawah yang mengalami kekeringan terus bertambah dan bahkan mengalami gagal panen atau puso.

Berikut lima info yang dirangkum sukabumiXYZ.com dari berbagai sumber.

[1] Sawah kering dan alami puso

Selama musim kemarau, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi, mencatat sedikitnya 7.000 hektare (ha) lahan pertanian mengalami kekeringan. Selain itu, 3.160 hektare di antaranya mengalami puso alias gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian, Kabupaten Sukabumi, Ajat Sudrajat mengatakan, data sawah yang mengalami puso merujuk pada laporan sekitar seminggu yang lalu.Artinya, tidak menutup kemungkinan jumlah lahan yang mengalami puso itu bertambah dan masih akan terus bertambah karena musim kemarau belum juga berlalu.

“Ya, sebagian besar pesawahan di Kabupaten Sukabumi mengalami gagal panen (puso),” kata Adjat seperti dikutip dari Pojoksatu.id Group, Senin (02 September).

[2] Untungnya 22 ribu hektare sudah panen

Ajat lalu menambahkan untung saja sebagian besar sawah sudah sukses dipanen pada Juli lalu. Dengan demikian stok beras di Sukabumi aman sampai musim kemarau berlalu. Untuk diketahui, jumlah luas lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi saat ini sekitar 66.000 ha. Pada Juli lalu, seluas 22.000 ha dan Agustus 9000 ha berhasil dipanen dengan penghasilan rata-rata sebanyak 5,5 ton.

“Sehingga meskipun dampak kekeringan semakin meluas, tapi stok gabah kering kami pastikan aman, yang penting petani tidak menjualnya ke luar Sukabumi,” ujarnya.

Namun, meski ketersediaan pangan di Kabupaten Sukabumi musim kemarau ini tidak berpengaruh, namun cukup membawa dampak pada ketersediaan pangan skala nasional.

“Suplai ke luar Sukabumi akan berkurang, kalau memang terjadi kekeringan yang tidak terkendali. Namun sejauh ini hasil pengelolaan panen masih ada di kirim ke luar, karena stok untuk Sukabumi aman,” tambah Ajat.

[3] Upaya menyelamatkan lahan sawah yang kekeringan

Pada musim kemarau ini, Distan Kabupaten Sukabumi sudah dan akan terus memberikan bantuan kepada para petani yang mengalami kekeringan dengan cara memberikan mesin pompa air. “Kelompok tani (poktan) tinggal mengajukannya melalui pemerintah desa setempat dan ditujukan langsung ke Dinas Pertanian. Dengan catatan, di lokasi ada sumber air yang dapat disalurkan ke pesawahan,” pungkas Ajat.

editor’s picks:

3 di Sukabumi, BMKG deteksi 4 titik panas di Jabar, ini 5 info Gen XYZ mesti aware

15 hari gempa goyang Sukabumi 72 kali, Gunung Salak dipantau, 5 info gen XYZ mesti tahu

Sukabumi dan 19 Kokab di Jabar alami kekeringan, 5 update warganet mesti tahu

[4] Kemarau panjang sebabkan kebakaran

Pada musim kemarau, kebakaran lahan merupakan ancaman bencana yang cukup potensial pada musim kemarau. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk tidak membakar untuk membuka lahan masih sangat rendah. Sebagai buktinya, banyak kebakaran lahan dan hutan disebabkan oleh hal sepele seperti itu dan itu terus berulang terjadi.

Itulah mengapa otoritas BPBD selalu mengingatkan masyarakat agar terus waspada dan tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang memicu kebakaran di musim kemarau seperti saat ini.

[5] Warga lakukan salat Istisqa

Musim kemarau yang panjang tahun ini terasa sangat menyiksa terutama di Surade dan sebagian besar wilayah Pajampangan. Berbagai upaya dilakukan oleh warga, salah satunya dengan melakukan shalat Istisqa untuk meminta hujan. 

Jumat siang (30 Agustus), ratusan warga Surade dengan khusyuk melaksanakan salat Istisqa di Lapang Lodaya Setra, Kelurahan Surade, Kecamatan Surade. Seorang warga mengatakan salat Istisqa diikuti sekitar 200 jemaah dan dilaksanakan setelah salat Jumat. Menurut warga, kemarau panjang membuat warga krisis air bersih karena sumur-sumur warga mengering.

“Hampir lima bulan di wilayah Pajampangan belum turun hujan dan di beberapa desa sudah kesulitan air bersih. Mudah-mudahan dengan adanya pelaksanaan salat sunah Istisqa, secepatnya Allah SWT mengabulkan permohonan kami,” pungkas seorang warga dikutip dari Sukabumiupdate.com.

[dari berbagai sumber]

Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *