3 di Sukabumi, BMKG deteksi 4 titik panas di Jabar, ini 5 info Gen XYZ mesti aware


Egi GP

Writed by: Egi GP
Editor by: Feryawi
18 Agu 2019 | 4:49 WIB


BPBD Kabupaten Sukabumi mengungkapkan kebakaran lahan terjadi di Blok Cibulagor, Kampung Cipendey, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan.

Musim kemarau berdampak pada bencana kekeringan di Sukabumi. Tak hanya itu, belakangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga terjadi di berbagai wilayah terutama di Kabupaten Sukabumi bagian selatan. Nah, ancaman karhutla di Sukabumi masih sangat besar dalam beberapa waktu ke depan. Salah satu indikasinya adalah kemunculan titik panas alias hot spot di beberapa daerah.

Waduh, malang nian nasib Sukabumi-ku! Tak henti-hentinya didera bencana, di balik keindahan surgawi yang dianugerahkan Tuhan kepada Sukabumi. Well, demikianlah faktanya, Gaess. Kita harus menerimanya dengan legowo dan penuh kewaspadaan.

Berikut lima info tentang hot spot di Sukabumi yang dirangkum Sukabumixyz.com dari berbagai sumber.

[1]  Ada 3 hot spot di Sukabumi

Kabupaten Sukabumi termasuk yang paling rentan dengan bencana karhutla. Menurut BMKG Jawa Barat berdasarkan pantauan sensor modis pada data tanggal 15 Agustus 2019 pukul 07.00 WIB sampai 16 Agustus 2019 pukul 06.00 WIB, ada 4 hot spot di Jawa Barat, 3 di antaranya di Kabupaten Sukabumi. Ke-3 titik panas di wilayah Kabupaten Sukabumi tercatat berada di Simpenan (1 titik) dan Waluran (2 titik).

Staf Observasi Gempa Bumi dan Tsunami Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Rafid Ahadi membenarkan adanya sebaran titik panas di Kabupaten Sukabumi yang terdeteksi BMKG. Menurut dia, kemungkinan titik panas karena warga membuka lahan dengan cara membakar lahan. “Jadi ada titik hot spot terpantau dari sensor bisa berupa pembukaan lahan atau spot panas lainnya,” kata Rafdi seperti dikutip dari JPNN.com.

[2] Tak ada kebakaran hutan di Waluran

Menanggapi kabar dari BMKG Jabar, Bayu Saputra dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kecamatan Waluran mengonfirmasi bahwa di wilayahnya sejauh ini tidak mengalami kejadian kebakaran. “Sejauh ini kami cek ke setiap desa tidak ditemukan adanya laporan kebakaran, baik hutan maupun rumah,” kata Bayu seperti dilansir dari JPNN.com.

Adapun yang terpantau adalah pembukaan lahan pertanian untuk bercocok tanam padi huma. “Itu pun lahannya milik pribadi dan saat pembakaran pun diawasi paling luas setengah hingga satu hektare,” pungkas Bayu.

[3] Karhutla di Blok Cibulagor

Adapun sejauh ini, kejadian yang termasuk kategori karhutla terjadi di di Blok Cibulagor, Kampung Cipendey, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan. Hal itu diungkapkan oleh Koordinator Pusadalops BPBD Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna.

Api diduga dari pembukaan lahan untuk padi huma dengan membakar rumput atau semak yang kemudian ditinggalkan begitu saja. Akibatnya, api menjalar ke sekitar lahan karena kondisi semak-semak dan rumput kering karena kemarau panjang. Kejadian kebakaran lahan tersebut terjadi pada Selasa malam (13 Agustus).

Sementara itu, perihal dua hot spot di Kecamatan Simpenan seperti yang dirilis BMKG, belum ada laporan kebakaran lahan hingga berita ini dinaikkan. “Belum ada laporan,” ujar Daeng seperti dikutip dari Sukabumiupdate.com.

editor’s picks:

Juni, 18 bencana di Sukabumi dengan kerugian Rp13 M, 5 fakta Gen XYZ mesti tahu

Juli, kerugian gegara bencana di Sukabumi capai Rp1,94 M, ini 5 fakta gen XYZ mesti tahu

Sukabumi dan 19 Kokab di Jabar alami kekeringan, 5 update warganet mesti tahu

[4] Hotspot per tanggal 17 Agustus

Jika membuka website resmi BMKG, di tabel hots pot yang terdeteksi dengan Tingkat Kepercayaan Tinggi (81-100%), terdapat empat lagi hot spot di Kabupaten Sukabumi . Tiga hot spot terdeteksi di Kecamatan Ciemas dan satu di Waluran.

Walau pun tercatat dengan Tingkat Kepercayaan Tinggi (81-100%) sebaran titik panas itu bukanlah karhutla melainkan hanya pembukaan lahan huma dengan cara pembakaran. Tagana Waluran memastikan pembukaan lahan Itu terjadi di lahan milik pribadi paling luas setengah hingga satu hektar dengan pengawasan yang sangat ketat.

Pengawasan ketat inilah yang harus menjadi titik tekan karena jika tidak hati-hati bakal berdampak terjadinya bencana karhutla yang akan merugikan banyak pihak, tak hanya kasus kebakarannya tetapi juga dampak lanjutan yaitu asap yang bisa mengganggu kesehatan.

[5] Apa itu hot spot?

Nah, agar lebih aware terhadap bahaya karhutla, kita harus tahu benar apa itu hot spot. Informasi titik panas tersebut didapat berdasarkan citra Satelit Terra Aqua (LAPAN) dan Satelit Himawari (JMA Jepang) yang dianalisis BMKG. Hasil pantau ini menentukan lokasi hot spot yang kamudian memberi kewaspadaan kepada pihak-pihak yang terkait dalam upaya mitigasi bencana karhutla.  

FYI, BMKG mengidentifikasi sedikitnya terdapat 18.895 titik panas di seluruh wilayah Asia Tenggara dan Papua Nugini dalam dua pekan terakhir. “Peningkatan jumlah titik panas tersebut diakibatkan kondisi atmosfer dan cuaca yang relatif kering sehingga mengakibatkan tanaman menjadi mudah terbakar,” kata Deputi Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, Rabu (7 Agustus) lalu) seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Wow. Hati-hati dan waspada ya, Gaess!

[dari berbagai sumber]

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *