September-Desember 2019, 5 kasus keracunan massal di Sukabumi, ratusan jadi korban

Kasus keracunan massal akibat mengonsumsi makanan tidak higienis terus terjadi di Sukabumi. Mirisnya, ratusan orang menjadi korbannya, bahkan empat di antaranya meninggal dunia.

Duh, ngeri nih Gengs. Ratusan orang sejak September hingga Desember 2019 menjadi korban keracunan massal di Kota dan Kabupaten Sukabumi. Bahkan, khusus di Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, kasus serupa bukan merupakan yang pertama.

Bahkan, di Kota Sukabumi lebih mengerikan lagi Gengs. Sebanyak 13 siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi permen yang dijajakan pedagang di sekitar sekolah mereka. Duh, hati-hati ya, Bunda.

Nah, biar menjadi pelajaran, ada baiknya Gen XYZ Sukabumi berhati-hati saat mengonsumsi makanan. Terlebih jika kamu sendiri gak tahu proses memasaknya. Makanan yang tidak higienis bisa menyebabkan keracunan, bahkan lebih fatal, menyebabkan kematian. Simak kuy lima faktanya.

[1] Selasa, 10 September 2019

171 warga Kampung Pangkalan, Desa Bojonggaling, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat muntah-muntah diduga keracunan setelah menyantap makanan acara tahlilan memperingati 100 hari meninggalnya salah satu warga di kampung itu, Selasa(10/9/2019) malam.

Peristiwa itu mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan ratusan lainnya dirawat di puskesmas dan rumah sakit. Rendy (9) meninggal saat dirawat di RSUD Pelabuhanratu, sementara Dewi (37) di RSUD Sekarwangi. Hingga Kamis (12/9/2019) sore, sebanyak 142 korban keracunan dirujuk ke beberapa rumah sakit. Rinciannya, 24 orang dirujuk ke RSUD Pelabuhanratu, 20 orang dirawat di RSUD Sekarwangi dan sisanya sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik.

Hasil investigasi di lapangan, penyebab ratusan orang mengalami keracunan massal di Kampung Pangkalan, ditemukan beberapa rekomendasi, khususnya dalam hal perbaikan sanitasi dasar. Sanitasi dasar ini bisa dicapai melalui STBM, atau Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Dari hasil pemeriksaan sementara, diambil dari sediaan feses atau tinja, itu ditemukan bakteri Campylobacter Jejuni (Kampilobakter). Bakteri ini akan sangat cepat perkembangannya pada suhu di musim kemarau.

Korban keracunan di Kecamatan Bantargadung.

[2] Senin, 16 September 2019

Jumlah korban diduga keracunan makanan di Kampung Babakan, Dusun Ciangkrek, Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan, Sukabumi, Selasa (17/9/2019) bertambah menjadi 182 orang. Sebelumnya dilaporkan sebanyak 66 orang, diduga keracunan makanan setelah mengonsumsi makanan dari resepsi pernikahan warga di desa setempat, Senin (16/9/2019) sekitar pukul 17.00 WIB.

Hingga Selasa petang jumlah pasien menjadi 182 orang, mulai anak hingga dewasa. Tidak ada korban jiwa dalam dugaan keracunan ini. Sebanyak 66 orang mendapatkan penanganan tim medis di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Cibuntu. Juga, dari 66 orang ini, ada empat yang dirujuk ke RSUD Palabuhanratu. Sedangkan sebanyak 116 orang mendapatkan penanganan medis di tempat kejadian perkara (TKP) di Dusun Ciangkrek.

Sejumlah warga merasakan gejala mual, muntah, pusing, sakit kepala setelah sekitar satu jam mengonsumsi makanan hidangan resepsi pernikahan warga di desa setempat. Makanan yang dikonsumsi di antaranya nasi putih, mie goreng, daging ayam, dan rebung aren. Mereka mengonsumsi makanan itu, Senin (16/9/2019) sekitar pukul 17.00 WIB dan mulai merasakan gejala sekira pukul 18.00 WIB.

[3] Jumat, 15 November 2019

Seorang warga Desa Sirnamekar, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia diduga akibat keracunan makanan yang dibagikan salah seorang warga yang melaksanakan acara haul keluarga. Sementara puluhan warga dari beberapa dusun di desa tersebut harus mendapatkan penanganan medis dari pihak Puskesmas setempat, Jumat (15/11/2019) pukul 17.00 WIB

Awalnya warga yang menikmati makanan itu tidak mengalami gejala keracunan tapi keesokan harinya atau pada Sabtu (16/11/2019) satu persatu warga mengalami pusing, mual, muntah hingga buang air besar berulang kali. Akibatnya sebanyak 34 warga dari beberapa dusun di desa tersebut harus mendapat penanganan medis dari pihak Puskesmas setempat. Bahkan, tiga warga harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jampangkulon karena kondisinya yang terus melemah.

Tiga warga itu diketahui bernama Olis warga Kampung Puncaknangka, serta Yoyoh (56) dan Dayat (60) warga Kampung Cijoho. Namun, karena kondisi kesehatannya yang semakin menurun Olis akhirnya meninggal dunia pada Minggu (17/11/2019). Sementara Yoyoh meninggal dunia sehari kemudian, Senin (18/11/2019).

[4] Jumat, 15 November 2019

Keracunan massal terjadi di Sukabumi. Sebanyak 13 murid yang berasal dari sebuah sekolah di wilayah Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi dilarikan ke RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi, Jumat (15/11/2019). Dugaan sementara mereka mengalami keracunan dengan gejala pusing dan mual setelah mengkonsumsi jajanan jenis permen.

“Kami terima pasien sekitar pukul 13:00 WIB, dugaan awal pasien mengalami keracunan makanan, makanan jenis apa kami masih dalami, tapi semnetara informasinya dari permen,” jelas Kasubag Hukum dan Humas RSUD Syamsudin SH, Supriyanto.

Secara keseluruhan, kondisi 13 pasien tersebut cukup baik. Penanganan medis selanjutnya, bakal ditentukan pasca tim medis melakukan observasi.

[5] Sabtu, 14 Desember 2019

Puluhan warga diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Keracunan massal ini dialami warga dua desa berbatasan di Kecamatan Nagrak yakni Kampung Barujagong RT 04/10, Desa Cisarua, dan Kampung Sinagarkolot RT 01/08, Desa Nagrak Utara, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.

Acara Maulidan digelar di Kampung Barujagong, Sabtu (14/12/2019). Puluhan warga mulai merasakan mual, pusing dan muntah sejak Sabtu malam. Data terakhir jumlah warga diduga mengalami keracunan makanan mencapai sekira 150 orang.

Semua korban sudah mendapat penanganan medis baik di Posko, Puskesmas Nagrak, hingga dirujuk ke RS Kartika dan RSUD Sekarwangi Cibadak.

Nah Gengs, berikut adalah tips mengatasi anak korban keracunan makanan. Dalam kebanyakan kasus dilansir dari Healthline, anak yang mengalami keracunan makanan akan membaik meski tanpa perawatan. Tetapi, tak ada salahnya mengunjungi dokter untuk mengetahui diagnosis jelasnya.

Khusus untuk perawatan di rumah, Anda bisa melakukan ini untuk mengatasi keracunan pada anak, yakni (1) Istirahat cukup. (2) Mengonsumsi banyak cairan agar terhindar dari dehidrasi. (3) Minuman elektrolit lebih baik dan anak bisa minum apapun kecuali susu dan minuman berkafein.

Minum sedikit tapi teratur agar tubuh mudah menyerap cairan dan jangan konsumsi makanan padat selama gejala diare belum reda.

Jika anak mengeluarkan cairan tanpa muntah dan menunjukkan dehidrasi akibat keracunan, Anda harus segera membawanya ke dokter. Karena ia harus mendapatkan infus untuk menggantikan cairan yang hilang dan mengembalikan keseimbangan elektrolit. Elektrolit adalah mineral, seperti natrium dan kalium yang membantu segalanya, mulai menjaga detak jantung hingga mengendalikan cairan dalam tubuh.

Selain itu, Anda juga tidak boleh memberikan obat apapun untuk menghentikan diarenya akibat keracunan makanan. Karena, diare setelah keracunan makanan termasuk bagian mengeluarkan kuman dan bakteri.

Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *