Sempat ingin bunuh diri, HAMKA, ayah dan adiknya pernah ditahan di Sukabumi, ini 5 fakta sejarahnya

HAMKA disiksa selama ditahan di Sukabumi sampai terpikir hendak bunuh diri.

Seiring perjalanan waktu dari dulu sampai sekarang, banyak tokoh nasional singgah dan menetap di Sukabumi dengan berbagai alasan dan kondisi. Dari tokoh-tokoh nasional itu, salah satu di antaranya adalah ulama besar HAMKA yang pernah ditahan selama 15 hari di Sukabumi pada era Orde Lama. Selain HAMKA, ayahnya Haji Rasul dan adiknya AWKA juga ternyata pernah diasingkan di Sukabumi pada zaman kolonial Belanda.

Berikut lima fakta sejarah kedekatan HAMKA, ayah dan adiknya dengan Sukabumi.

1. HAMKA dan Sukabumi

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA adalah salah satu ulama terbesar yang pernah hidup di Indonesia pasca kemerdekaan. Citra keulamaan mantan ketua MUI ini sedikit saja yang bisa menandingi. Tak hanya itu, HAMKA juga nama besar di dunia kesusasteraan ditandai dengan berbagai judul novelnya yang melegenda.

Sementara itu, sikap HAMKA yang tegas dan saklek dalam kebenaran membuatnya kerap bersebrangan dengan penguasa. Walhasil, pada 27 Januari 1961, bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 1383, kira-kira pukul 11 siang, HAMKA dijemput di rumahnya, ditangkap dan dibawa ke Sukabumi.

HAMKA dituduh terlibat dalam perencanaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Selama 15 hari ditahan, HAMKA diintrogasi dalam pemeriksaan yang digambarkannya, “tidak berhenti-henti, siang-malam, petang pagi. Istirahat hanya ketika makan dan sembahyang saja.” Melewati pemeriksaan yang kejam, Hamka bahkan sempat berpikir untuk bunuh diri. Karena jatuh sakit, HAMKA dipindahkan dari tahanan ke RS Persahabatan, Jakarta Timur.

Sayang sekali, persentuhan HAMKA dengan Sukabumi tak indah sama sekali.

2. Haji Rasul diasingkan oleh Belanda ke Sukabumi

HAMKA adalah keturunan ulama besar suku Minang bernama Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Terlahir dengan nama Muhammad Rasul membuatnya lebih dikenal dengan nama Haji Rasul atau Inyiak Rasul. Ia lahir di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 10 Februari 1879 dan meninggal di Jakarta, 2 Juni 1945 pada umur 66 tahun.

Haji Rasul adalah ulama terkemuka sekaligus reformis Islam di Indonesia. Ia juga merupakan pendiri Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Bersama Abdullah Ahmad, Haji Rasul menjadi orang Indonesia terawal yang memperoleh gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, di Kairo, Mesir.

Aktivitas Haji Rasul sebagai pendiri tokoh Muhammadiyah di Sumatera Barat membuat pemerintah kolonial Belanda gerah. Walhasil dengan tuduhan subversif, Belanda akhirnya memutuskan untuk mengasingkannya Haji Rasul ke Sukabumi pada 8 Agustus 1941. Haji Rasul pergi ke Sukabumi bersama dengan istrinya Dariyah dan anaknya Abdul Wadud Karim Amrullah alias AWKA.

BACA JUGA:

FYI nih gen XYZ Sukabumi, 5 fakta sejarah kemerdekaan RI yang terlupakan

Film ini dibuat zaman Belanda, nomor 5 produsernya wartawan asal Sukabumi

5 catatan sejarah masa perjuangan dari Tour Sejarah ke Takokak, gen XYZ Sukabumi wajib tahu

3. AWKA menemani sang ayah selama pengasingan di Sukabumi

Kisah hidup Haji Rasul dalam pengasingan di Sukabumi banyak diungkap dalam buku biografi Abdul Wadud Karim Amrullah berjudul “Sumatran Warrior, Mighty Man of Love and Courage: Abdul Wadud Karim Amrullah.”

Abdul Wadud Karim Amrullah atau yang juga dikenal dengan panggilan AWKA adalah adik dari HAMKA. Saat masih berusia belia, AWKA menemani ayahnya Haji Rasul dalam pengasingan di Sukabumi. Menurut kesaksian AWKA dalam buku biografinya, ia dan ayahnya Haji Rasul sempat ditahan di Tjikirai Straat no. 8 (Jalan Cikirai). Sebelumnya mereka juga sempat tinggal di sebuah hotel dekat stasiun kereta api Sukabumi.

Lalu, masih menurut AWKA, kabar menyebar bahwa Haji Rasul ditahan di Sukabumi, warga Minang yang merantau di Sukabumi langsung memberikan pertolongan. Di antaranya Engku Iskandar yang berasal dari Padang Pariaman, menyediakan rumah untuk ditempati Haji Rasul dan AWKA. Ia ingat, di belakang rumah yang ditempati ayahnya, Haji Rasul, ada sebuah masjid dan di seberang jalan ada Sekolah Katholik.

4. Dukungan moril Aoh K. Hadimaja

Dalam buku biografi AWKA pada bagian bercerita tentang masa pengasingan di Sukabumi, ada banyak fakta sejarah menarik lainnya yang terungkap. Salah satunya adalah dukungan moril sastrawan Sunda, Aoh Kartahadimadja atau di dunia sastra dikenal dengan nama pena Aoh K. Hadimaja.

Pada sekitar tahun 1937, Aoh yang kelahiran Bandung pernah beristirahat di sanatorium Cisarua. Selama itu, ia juga sempat bekerja di perkebunan Parakansalak, Sukabumi. Aoh sangat menyukai membaca buku HAMKA dan menganggapnya sebagai guru. Oleh karena itulah, saat ia tahu ayah HAMKA, Haji Rasul ditahan di Sukabumi, maka ia memberi dukungan moril kepadanya.

Menurut AWKA, Aoh selalu menyempatkan mengunjungi Haji Rasul dan membawakan roti, mentega, keju, dan selai untuk sarapan pagi.

5. “Hanya Allah” ditulis di Sukabumi

Selama masa pengasingan di Sukabumi, Haji Rasul tetap menjalankan dakwah Islam dan menjadi guru. Selama di Sukabumi, tepatnya sekitar tahun 1943, ia juga menyelesaikan sebuah buku berjudul “Hanya Allah” namun belum sempat diterbitkan.

Buku itu ditulis Haji Rasul sebagai jawaban atas permintaan pemerintahan pendudukan Jepang kala itu, yang meminta komentar beliau tentang konsepsi ketuhanan versi Jepang yang dirangkum dalam sebuah buku berjudul “Wajah Semangat.”

Di kemudian hari, HAMKA lalu membuat buku biografi untuk ayahnya berjudul, “Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera.” Berisi 19 bab, bab terakhir merupakan salinan buku “Hanya Allah.”

Nah, apa sih pentingnya fakta sejarah seperti ini untuk generasi XYZ Sukabumi dalam konteks kekinian? Well, setidaknya sedikit menambah pengetahuan tentang kesejarahan Sukabumi, dan secara perlahan memupuk kecintaan terhadap Sukabumi. “Kalau sudah cinta, kotoran ayam pun rasa coklat, bukan?“ kata orang…hehe. (dari berbagai sumber)

  • 28
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *