Cinta, karya dan politik, 5 fakta Selabintana mewarnai Sukabumi di kancah internasional

Jepang menghancurkan Pearl Harbor, AS, usai kegagalan Jepang dalam Perundingan Selabintana.

Selabintana merupakan salah satu tempat wisata yang menjadi tujuan masyarakat baik dari maupun luar Sukabumi. Sejak zaman kolonial wilayah ini, terutama resortnya terkenal dengan suasananya yang sejuk dan juga indah.

Nah Gengs, dari sisi sejarah, Ketua Yayasan Dapuran Kipahare Irman “Sufi” Firmansyah mengatakan, konon kata Selabintana berasal dari buah Sala (Couropita Guianensis) yang berkhasiat untuk obat penyakit malaria dan demam berdarah. “Sedangkan bintan adalah pohon kayu yang akarnya biasa digunakan untuk obat cuci perut jika dicampur pinang.”

Namun, ada pula pendapat bahwa dulunya didekat resort tersebut ada makam yang disebut makam Eyang Selabintana yang menurut penduduk setempat sebagai pembuka alas pertama yang bermukim di kawasan yang dikenal sejuk itu.

“Selabintana sebelumnya merupakan areal hutan tropis yang sebagian digunakan sebagai pusat kesehatan. Awalnya sekitar 1890an merupakan cabang sanatorium Selabatu, namun kemudian berdiri sendiri tanpa nama saat dimiliki Dr Van Teijn,” imbuh Irman.

Irman menambahkan, sekira tahun 1900an pemilik Hotel Victoria yaitu AAE Lenne membeli areal tersebut dan dijadikan sebuah hotel. “Keluarga Lenne saat itu mengelola tiga hotel besar yaitu Victoria, Selabatu dan Selabintana. Hingga pada tahun 1925 pengelolaannya diserahkan kepada L. Rossbacher yang kemudian membeli Selabintana bahkan Hotel Selabatoe pada tahun 1930.”

Meskipun demikian, kata Irman lagi, mereka masih bekerjasama dengan keluarga Lenne hingga kemudian Jepang masuk ke Indonesia. “Kolam renangnya sendiri dimodernisasi pada 1934 ditambah fasilitas lain seperti lapangan golf dan tennis. Bahkan, dulu ada olahraga berkuda untuk hiburan masyarakat dan pacuan kudofesional.”

Nah Gengs, biar kamu tamba yakin, setidaknya terdapat lima fakta menarik tentang Selabintana yang bisa menjadi pertimbangan menarik milenial Sukabumi memahami sejarah daerahnya.

1. Dikunjungi Susuhunan Pakubuwono X, Penumpang Empress of Britain dan Gubernur Jendral

Susuhunan Pakubuwono X, adalah seorang raja Jawa yang dikenal nyentrik. Raja yang mempunyai 39 selir ini sempat mengunjungi Hotel Selabintana sebanyak dua kali. Konon kunjungan estafet ke beberapa tempat di Jawa ini adalah upayanya mengobarkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai kaisar jawa.

“Dalam persiapan kedatangan Pakubuwono X tersebut warga Kota Sukabumi cukup dibuat sibuk, mengingat rombongan Pakubuwono X terdiri dari 37 orang dengan 10 mobil. Jadi harus disiapkan sekitar 27 kamar untuk abdi dalemnya, tiga kamar pribadi untuk Susuhunan dan satu kamar khusus untuk ritual,” papar Irman yang juga pegiat Sukabumi Heritages itu.

Hotel Selabatu menjadi pilihan menginap bagi rombongan Susuhunan dan istrinya Ratu Mas (GKR Hemas). Pada kunjungan pertama mereka mendatangi Hotel Selabintana pada 1 Oktober 1922, untuk melakukan makan siang bersama rombongan sekaligus melihat-lihat resort Selabintana.

Dalam kunjungan kedua kalinya tanggal 8 Januari 1923, Pakubuwono X dan rombongan mengunjungi Hotel Selabintana untuk makan. Dalam kunjungan yang dilakukan hari Jumat tersebut, Susuhunan disambut mantan asisten residen van Den Bosch yang merupakan teman lama Susuhunan.

“Susuhunan sangat ramah dan akrab, bahkan tidak jarang memberi tips kepada para pelayan. Dia sempat bermain bilyard di hotel dan bercengkrama serta memberi petuah bijak. Keesokan harinya ia berkeliling Kota Sukabumi bersama istri dan rombongan dan mengunjungi toko cokelat Schuttavaer.”

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi asisten residen. Keesokan harinya, Minggu pagi, barulah Pakubuwono X mengunjungi tempat makanan yang dikenal lezat yaitu Hotel Selabintana. “Pakubuwono X mengaku sangat puas dan terus memberi pujian akan keindahan alam serta kelezatan menu makanannya. Kemudian pada hari Senin ia meninggalkan Sukabumi.”

Januari 1932, Selabintana juga sempat dikunjungi sekitar 30 penumpang kapal Empress of Britain, sebuah kapal yang akhirnya ditenggelamkan oleh torpedo Jerman. Mereka menikmati udara pegunungan dan melakukan perjalanan ke Gedeh dan menyaksikan pertunjukan wayang masyarakat tari “Mardi Karti”.

“Bahan, Gubernur Jendral Hindia Belanda terakhir, WA.W.L Tjarda van Starkenborgh Stachouwer juga sempat mengunjungi Hotel Selabintana. Dia ditemani istri dan putrinya berlibur di Grand Hotel Selabintana pada Minggu, 7 Februari 1937, atau beberapa bulan sejak menjabat Gubernur Jendral,” terang Irman lebih jauh.

BACA JUGA:

Penduduk purba Gunung Padang menyebar ke Sukabumi, 5 fakta gen XYZ mesti tahu

Dulu Pagadungan sekarang Cicurug, 5 fakta sejarah wilayah paling utara Sukabumi

Semerbak si ‘emas hitam’ membius dunia, 5 fakta sejarah Kopi Sukabumi gen XYZ mesti bangga

2. Jadi sumber air warga Kota Sukabumi

Selain memiliki nilai histori, Selabintana juga dikenal dengan sumber air yang melimpah dari kaki Gunung Gede. Beberapa sungai yang mengalir ke Kota Sukabumi berasal dari Selabintana.

Pada masa kolonial ada tiga hotel yang dikenal mempunyai sumber air sendiri yaitu Hotel Selabintana, Broderij Cramer, dan Hotel Wanasari, ketiganya disebut Hotelbergen (Hotel Gunung). “Salah satu sumber air sangat terkenal keindahannya adalah Curug Cibeureum. Air terjun ini menjadi tujuan para peneliti seperti Junghunn dan Bartels. Sebelum dibangunnya PLTA Ubrug, Maret 1905, sempat dibuat konsorsium untuk menggunakan air terjun Cibeureum sebagai pembangkit listrik,” jelas pria yang bekerja sebagai HRD di salah satu perusahaan swasta itu.

Terdapat juga sumber air yang kemudian dijadikan sebagai pemasok air ke seluruh wilayah Kota Sukabumi yaitu dari mata air Cipalasari Selabintana. Rencana pembangunan pipa air untuk menyalurkan mata air tersebut dimulai sejak 1913, tiga tahun sesudah penyadapan mata airnya sendiri.

Idenya muncul saat terjadi wabah penyakit di kamp polisi bersenjata (cikal bakal Secapa). Untuk mencari pasokan air minum yang lebih baik, pada September 1913 Dinas Kesehatan Sipil memulai penelitian di beberapa mata air, khususnya Cipalasari dan Cisalada. Perubahan rencana dari pemipaan menjadi penyaringan air dengan ozonisasi di Cipelang mulai 1916. Namun, karena adanya perbedaan biaya antara perkiraan dengan implementasi, akhirnya proyek tersebut dibatalkan.

Rencanapun dikembalikan ke Dewan Kota dan tidak di-follow up karena dianggap buang-buang uang. Baru pada 1920 ide pemipaan dari mata air dibuka kembali. “Dibentuklah panitia yang dipimpin Ir. Voonerman, kemudian dilakukan peneitian mendalam secara geologi dan analis kimia di mata air Cipalasari, Karawang dan Cisalada.”

Tahun 1923 dilakukan penelitian bakteriologi, dan disimpulkan bahwa mata air Cipalasari dapat digunakan sebagai air minum. Mei 1924 diberikanlah konsesi terhadap mata air tersebut dan dirancang proyek senilai 225.000 Gulden yang dibeli oleh Dewan Kota pada November 1924.

Kemudian dilibatkanlah Ir. Willingen, seorang ahli pasokan air untuk membantu, termasuk tim dari departemen teknik. Pembangunan penyadap air dilakukan mulai 2 September 1925. Setahun kemudian, November 1926, pipa-pipa air disalurkan ke Kota Sukabumi sejauh 3.5 km dan tingginya 200 m dari Kota Sukabumi.

“Layanan penyediaan air ledeng diresmikan tanggal 19 Mei 1927 oleh Rambounet di Alun-alun Kota Sukabumi dengan perayaan meriah, termasuk demo pemadam kebakaran. Pengelolaan air minum dikerjakan menurut tata niaga (Waterleidingbedrjf) yang terpisah dari anggaran umum pemerintah daerah (Stadsgemente),” jelas Irman.

Sumber air ini cukup membantu kebutuhan air bersih masyarakat kota, hingga 1942 sudah tercatat 1.250 pelangganan.

3. Pertemuan Selabintana Pemicu perang pasifik

Pada awalnya, hubungan Hindia Belanda (Indonesia) dengan Jepang cukup baik karena Jepang sendiri merupakan negara pengimpor minyak mentah dari Hinda Belanda. Bahkan, banyak orang Jepang tinggal di Sukabumi, seperti pemilik Toko Nanyo dan Mr. Handa pemilik villa di Selabintana.

Hubungan Hindia Belanda dan Jepang mulai dingin sejak Negara Sakura tersebut mengekspansi negara-negara di sekitarnya. Di satu sisi Jepang juga mencurigai adanya front bersama antara Hindia Belanda dan Inggris di Asia Tenggara.

Jepang yang sangat membutuhkan tambahan pasokan minyak kemudian mengirimkan 24 delegasi ke Hindia Belanda yang dipimpin Kobayashi, Menteri Perdagangan dan Industri Jepang. Ia disambut di pelabuhan oleh Hubertus Johannes van Mook, Menteri Belanda Urusan Ekonomi.

Rombongan delegasi Jepang kemudian menuju ke Selabintana, tujuannya untuk melunakkan tuntutan Jepang yang saat itu begitu ditakuti. Delegasi Jepang pun diberikan kenyamanan luar biasa dengan suasana kebun teh, air terjun, sawah, dan dusun di sekitar Sukabumi. “Saat itu rombongan delegasi mengatakan, mereka merasa seperti tengah berada di kawasan Gunung Fuji,” terang Irman.

Konferensi antara Hindia Belanda dan Jepang berlangsung pada 16 Oktober 1940, dibuka pada pukul 09.00 pagi hingga 00.00 malam. Konferensi tersebut dihadiri semua anggota delegasi dari kedua belah pihak, termasuk Kobayashi, kepala Jepang dan HJ van Mook.

Konferensi berlangsung sengit, Jepang meminta diberi tambahan alokasi minyak sebanyak 3.150.000 metrik per tahun dan garansi selama 5 tahun. Namun, Van Mook menyatakan bahwa Hindia Belanda hanyalah mengawasi minyak yang dimiliki perusahaan-perusahaan asing.

Tak ayal, Kobayashi pada keesokan harinya kembali ke Batavia dengan suasana hati gusar, sementara delegasi masih melanjutkan pertemuan.

Pertemuan pun akhirnya mengalami deadlock. Kobayashi menganggap Hindia Belanda hanya boneka Amerika Serikat. Anggapan tersebut bukan tak beralasan, dalam bukunya berjudul Day of Deceit: The Truth About FDR and Pearl Harbor, Robert B. Stinnett menulis hasrat terpendam Presiden Amerika Serikat (AS) Franklin D. Roosevelt untuk meninggalkan politik isolasi AS dan memprovokasi Jepang agar mau berperang dengan AS.

Pertemuan antara Menteri Luar Negeri Belanda dengan AS di New York mengungkap rencana tersebut. Saat sang menteri ke Batavia, ia memberi pesan jelas kepada Gubernur Jendral Tjarda van Starkenborgh Stachouwer supaya tidak lagi mengekspor minyak Hindia Belanda kepada Jepang.

“Perundingan akhirnya gagal, dan Jepang di-bully media-media AS sebagai kegagalan diplomatik Jepang. Jepang pun marah besar dan merencanakan mengambil sumber alam yang dibutuhkan secara langsung dari Hindia Belanda,” papar Irman lebih jauh.

Dalam perjalanannya, niat Jepang itu tidak berjalan mulus karena sebelum memasuki Hindia Belanda, tentunya Jepang harus melewati pangkalan militer AS di Pearl Harbor. Jepang pun akhirnya menghancurkan Pearl Harbor dan “mengundang” AS untuk menyatakan perang terhadap Jepang.

Pecahlah perang Pasifik yang diakibatkan kegagalan perundingan Selabintana.

BACA JUGA:

Apun Gencay, widadari ti Cikembar Sukabumi pemicu tewasnya Bupati Cianjur

Gaess, ini dia 5 orang Belanda yang punya kedekatan dengan sejarah Sukabumi

Dulu Secapa sekarang Setukpa, ini 5 periode sejarah sekolah perwira polisi Sukabumi

4. Tempat pembuangan dan perjuangan

Selabintana juga menjadi tempat pembuangan para pejuang di antaranya Dr Tjiptomangoenkoesoemo. Dr. Tjip (Panggilan Dr Tjipto) adalah tokoh pejuang lulusan STOVIA yang sering membuat tulisan-tulisan pedas mengkritik Belanda.

Tjip sempat bergabung dengan Budi Utomo, Indische Partij, Insulinde (Nationaal-Indische Partij) dan Algemeene StudieClub (PNI). Dia sempat mendekam di penjara beberapa kali dan dibuang ke berbagai daerah, terakhir sebelum ke Sukabumi ia sempat di Banda Neira bersama Hatta dan Sjahrir. Dia kemudian dipindahkan ke Makassar lalu ke Sukabumi pada 1940 dengan membawa 20 peti buku.

Di Sukabumi, ia ditempatkan di Selabintanaweg 30 bersama keluarganya, ia sempat bertemu Hatta dan Syahrir dan membantu mereka saat pertama kali datang. Di rumahnya pula di Selabintana Amir Sjarifudin yang melakukan pertemuan rahasia bersama Mr. Hendromartono dan Dr. Iskak. Mereka kemudian membentuk Geraf (Gerakan Rakyat Anti Fasis) sebagai gerakan bawah tanah melawan Jepang, padahal pasukan darat Jepang sendiri memasuki Kota Sukabumi dimulai dari Perkebunan Perbawati Selabintana pasca serangan udara Kota Sukabumi.

Saat pendudukan Jepang, beberapa personil koran Sinpo juga bersembunyi di Selabintana seperti Chang Ming An (Administratur). Pada akhir Desember 1942, sesudah dibubarkannya “Gerakan 3A,” Kolonel Nakayama mengundang empat serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan KH Mas Mansyur) ke Sukabumi, tepatnya di Hotel Selabintana.

Pertemuan itu membahas usul Bung Karno mengenai pendirian organisasi pribumi bernama Putera (Poesat Tenaga Rakyat), yang dimaksudkan untuk membantu perang Jepang (sempat pula menemui Dr Cipto Mangunkusumo di Selabintanaweg).

Nakayama memandang ide tersebut baik namun ada kekhawatiran gerakan itu menjadi gerakan partai atau kebangsaan di mana pemerintah Jepang tidak menginginkan sebuah gerakan nasionalis.

Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa Putera bisa dibentuk hanya untuk wilayah Jawa, dan mulai beraktivitas pada 9 Maret 1943. Pada masa revolusi fisik, wilayah Wanasari Selabintana sempat menjadi tempat latihan para pejuang yang dipimpin dua desersir pasukan Jepang, Shiroy dan Wakayama, yang merubah nama menjadi Karta dan Soma.

Masih menurut Irman, “Hotel Selabintana juga sempat menjadi sasaran serangan pasukan Kala Hitam Princen karena hotel ini diduduki Belanda.”

Di Selabintana juga ada tokoh kiri yang diasingkan yaitu H. Achmad Khaerun. Ia diasingkan di Selabintana karena peristiwa Brigade Citarum yang berhubungan dengan gerakan bambu runcing di daerah Jampang yang menamai dirinya sebagai PKI hitam.

5. Menginsprasi banyak tokoh dan karya

Selabintana juga menjadi sumber inspirasi banyak tokoh. Bukan kebetulan jika dalam buku Tarekat Mason Bebas di Hindia Belanda, Selabintana menjadi tempat peristirahatan para mason (anggota freemasonry sebuah perkumpulan rahasia), sekaligus markas atau loji freemasonry Sukabumi yang disebut De Hoeksteen, terletak di sebelah Kantor Pemadam Kebakaran, Kota Sukabumi, yang dulu disebut Lodjiweg.

Konon, Selabintana tempat yang disukai Dw Berrety, seorang pengusaha media dan pemilik Villa Isola, yang meninggal karena kecelakaan pesawat. Pengusaha flamboyan itu selalu ingin membawa teman-temannya yang kebanyakan wanita ke Selabintana.

Pada masa pendudukan Jepang, Selabintana dijadikan tempat peristirahatan para pejabat seperti Syuutyokan (setingkat Residen). Setelah mengontrol Bogor, dia selalu memilih beristirahat di Sukabumi untuk sekadar melepas penat ataupun merancang strategi.

Selabintana bahkan sempat menjadi setting film Musim Bunga yang dibintangi Ratna Asmara pada 1951, sebuah karya seni peran produksi perusahaan film milik warga tionghoa. Sinopsisnya cukup menarik, mengisahkan keluarga Dr. Kusuma (Iskandar Sucarno) bersama sang istri, Suratni (Ida Prijatni). Sebelum menikah dengan Kusuma, Suratni berpacaran dengan seorang pengacara bernama Natawijaya SH, yang diperankan Chatir Haro.

Sebagai keluarga dokter, Kusuma sering membawa isteri dan anak-anak beristirahat di Selabintana. Suatu waktu Natawijaya muncul, dan nampak sering berdua-duaan dengan Suratni. Timbul percekcokan segi-tiga yang mengakibatkan perceraian.

Baru kemudian Kusuma tahu, bahwa Natawijaya menemui Suratni untuk berkonsultasi, sehubungan dengan perkara ayah Suratni yang ditangani pengacara itu. Baru belasan tahun kemudian Kusuma dapat berjumpa lagi dengan isteri dan anak-anaknya yang telah dewasa. Pertemuan yang diatur oleh jasa baik Natawijaya.

“Film ini terinspirasi sebuah lagu keroncong berjudul Selabintana yang dinyanyikan Upit Sarimanah, istri pejuang di wilayah Sukabumi hingga melahirkan saat berjuang. Lagu ini kemudian dijadikan soundtrack film tersebut dan diubah judulnya menjadi Musim Bunga di Selabintana,” pungkas Irman mengakhiri perbincangan.

Sebenarnya Gaess, lagu tersebut merupakan gubahan si empunya lagu atas perintah Keimin Bunko Shidosho (Kementrian Kebudayaan). Dalam masa pendudukannya, Jepang menolak lagu keroncong dengan karakter mendayu-dayu dan kurang bersemangat, sehingga dibuatlah lagu penuh semangat atau lirik yang mendukung perang Jepang. Lirik lagu Cahya Terang di Timur Daya Merah Merona dianggap puja puji terhadap Jepang, sekaligus pelarian masyarakat di saat sedang kesusahan.

Nah Gaess, itulah fakta-fakta sejarah tentang Selabintana, semoga bisa menjadi salah satu alasan para pengunjung untuk selalu datang ke Selabintana.

Selamat berlibur.

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *