Dulu Pagadungan sekarang Cicurug, 5 fakta sejarah wilayah paling utara Sukabumi

Seberapa banyak orang Cicurug mengetahui tentang Pagadungan? 

Hai gen XYZ Sukabumi, seberapa penting sih mengetahui sejarah lokal daerahmu? Jawabannya puentingggg sangadddd!! Ah apa pentingnya?

Lha, tahukah kalian, cinta merupakan terapi paling hebat untuk menghentikan habit buruk membuang sampah sembarangan, contoh kecilnya. Dan dari mana tumbuh kecintaan terhadap daerah tempat tinggalmu? Ya, dari seberapa besar pengetahuanmu tentang daerahmu! Masuk akal tidak? Kebangetan deh Gaess kalau gak paham!

Nah, dalam rangka berkontribusi untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Sukabumi, wa bil khusus Cicurug, tulisan ini dibuat. Berikut adalah lima fakta tentang Cicurug yang disarikan dari berbagai sumber, terutama dari tulisan pemerhati sejarah Sukabumi, Irman Firmansyah berjudul, “Pemugaran Jangan Merusak Nilai Sejarah Panjang Pendopo Cicurug Sukabumi.”

1. Distrik Pagadungan cikal bakal Kecamatan Cicurug

Cicurug adalah salah satu kecamatan paling penting di Sukabumi. Posisinya yang berada di wilayah paling utara Sukabumi, Cicurug bukan hanya pintu gerbang Sukabumi dari arah Jakarta dan Bogor, tetapi juga menjadi pusat industri dan perniagaan di mana ratusan ribu bahkan jutaan orang warga Sukabumi menggantungkan hidup.

Menurut Irman Firmansyah, menilik sejarah perjalanannya Kecamatan Cicurug merupakan bagian dari Distrik Pagadungan. Bahkan bisa dikatakan Pagadungan adalah cikal bakal Kecamatan Cicurug. Dikatakan pula bahwa Cicurug adalah distrik yang pertama kali dibentuk oleh VOC di wilayah Sukabumi pada tahun 1776 pada masa kepemimpinan Bupati Cianjur, Raden Enoh (Wiratanudatar VI).

Berdirinya Distrik Pagadungan bersamaan dengan pembentukan Distrik Gunungparang (kini: Kota Sukabumi dan Sukaraja), Ciheulang (kini: Cibadak), Cimahi (kini: Cisaat dan Cikembar), dan Jampang (termasuk Basisir Kidul).

2. Pendopo Cicurug bukti otentik Distrik Pagadungan

Sebagai bukti yang paling otentik bahwa Distrik Pagadungan merupakan cikal bakal Kecamatan Cicurug adalah eksistensi Pendopo Cicurug, yang kerap disebut “kawedanaan” oleh orang Cicurug. Pendopo Cicurug disinyalir sebagai bangunan yang digunakan sebagai kantor kepala Distrik Pagadungan.

Irman menjelaskan dari arsitekturnya terlihat bangunan Pendopo Cicurug masih bergaya Indische empire style sekitar abad ke-18 dan ke-19. Gaya arsitektur ini merupakan gaya arsitektur percampuran antara Barat (Eropa) dan Timur (Jawa/Sunda) yang dipopulerkan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dengan menggunakan material lokal.

BACA JUGA:

Tunjukkin kita peduli Gengs, karena wanita Cidahu Sukabumi ini pengecualian

Gaess, ada 5 bentuk batu di situs Batu Kujang Cicurug Sukabumi

Keren Gaess, tiga palajar Cicurug Sukabumi raih medali Kejurnas Tarung Bebas Indonesia

3. Cicurug masuk wilayah partikelir Wilde

Kemudian, pada sekitar tahun 1813, pada masa Sir Stamford Raffles, wilayah Cicurug masuk dalam wilayah Partikelir Wilde karena dikelola oleh Andries De Wilde yang mulai dikelola dari perkebunan Cimalati.

Di tahun 1816, peran Pendopo Cicurug sebagai pusat Distrik Pagadungan menjadi semakin sentral seiring meningkatnya perekonomian wilayah, sehingga banyak dikunjungi orang-orang Eropa yang melakukan survei.

4. Pagadungan menjadi Cicurug

Distrik Pagadungan dirubah namanya menjadi Distrik Cicurug pada tahun 1819. Sejak itu, Cicurug sangat berperan dalam catatan sejarah perkebunan di Priangan. Misalnya, pada tanggal 2 Juli 1831, seorang botanis Belanda bernama Pieter Willem Korthals melakukan survei di Cicurug selama 6 hari dan hasilnya menjadi pertimbangan pembukaan lahan perkebunan di Cicurug.

Seiring perkembangannya, perubahan administratif wilayah Cicurug terus terjadi di mana pada tanggal 8 September 1882, Pemerintah Hindia Belanda mengadakan perubahan struktur pemerintahan, yaitu berupa pembentukan onder distrik di bawah distrik yang dipimpin Camat atau Asisten Wedana.

Distrik Cicurug yang berkedudukan di Cicurug dibagi dengan onder distrik Cicurug, Cibodas, Benda dan Kalapanunggal. Kemudian dirubah lagi pada tanggal 17 Mei 1913, Distrik Cicurug membawahi Onder Distrik Cicurug, Parungkuda, Benda dan Kalapanunggal.

Pembangunan jalan kereta api Batavia-Bandung tahap pertama, yaitu jalur Bogor-Cicurug sepanjang 27 km yang aktif mulai 5 Oktober 1881, berdampak semakin ramainya Cicurug. Hingga kini, Cicurug menjadi kecamatan di bawah naungan Kabupaten Sukabumi semakin ramai sejak menjamurnya berbagai pabrik berskala nasional dan dunia sejak akhir tahun 1980an.

5. Cicurug di masa Padjajaran

Menilik lebih jauh ke masa lalu, di masa Kerajaan Padjajaran, Pagadungan disebut di antaranya dalam rumpaka atau lirik lagu “Paku Jajar Di Gunung Parang” karya Anis Djatisunda berkaitan dengan legenda Nyai Raden Pudak Arum.

Anis Djatisunda menjelaskan bahwa Nyai Raden Pudak Arum adalah karuhun adalah nenek moyang Pagadungan. Anis menjelaskan pula bahwa Sukabumi yang terletak di antara kaki Gunung Gede dan kaki Gunung Salak, pada masa Pajajaran disebut Tatar Pagadungan atau Tanah Awatan Pagadungan dan Papanah Awatan Pagadungan.

Adapun pusat Kabupaten Pagadungan, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kadatuan Pamingkis ini, kira-kira berada di daerah Gunung Walat, dekat daerah Cibadak sekarang. Sedangkan yang menjadi Bupati atau Datu pada masa itu, bernama Ki Ranggah Bitung. Sementara isterinya bernama Nyai Raden Puntang Mayang.

Nah, gengs XYZ Sukabumi, ada banyak sumber untuk kalian menggali sejarah Sukabumi. Masalahnya, kamu mau menggalinya tidak?! (dari berbagai sumber)

  • 22
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *