#CerpenSukabumi: I have selulit, so what?

Menjelang tidurpun aku masih berpikir keras, menimbang semua ucapan Ranti untuk mendapatkan kecantikan instan dengan oprasi plastik.

Jam menunjuk pukul sembilan malam, butikku seharusnya sudah tutup, tapi karena pelangganku kali ini adalah teman lama mau tak mau aku harus menunggunya. Suntuk, di luar hujan pula. Menjengkelkan saja kalau ternyata dia tak jadi datang. Waktu terus bergerak kini mendekati angka sepuluh, oh ini waktunya tidur, aku telungkup di meja kerja tak kuasa menahan kantuk. Tiba-tiba lonceng kecil di atas pintu butik berbunyi, seseorang datang.

“Aduh, Mela, maaf aku telat banget” ungkapnya penuh rasa bersalah.

Aku memandangi sosok wanita di hadapanku itu, perawakannya tinggi langsing, semampai seperti seorang model, matanya sayu namun memiliki sorotan yang sangat kuat, wajahnya bulat telur dengan sepasang pipi tirus, ah sempurna sekali untuk dinilai.

“Mel, Mela?”

Eh ya, Ranti apa kabar? Kamu cantik sekali, aku sampai pangling banget,” seruku.

“Ah kamu bisa aja, Mel, aku biasa aja kok, mungkin faktor lama gak ketemu aja kali.”

“Iya hampir lima tahun ya kita gak ketemu, kamu lebih cantik dari foto foto yang aku lihat di Facebook.”

“Masa sih,” Ranti tertawa renyah.

“Iya Ran, oya, jadi mau fitting hari ini?”

“Udah kemaleman ya, Mel, besok gimana? Aku mau minta katalog aja dulu ya.”

“Iya boleh banget, ngomong-ngomong kamu nikah sama siapa? Faisal?”

“Faisal? Dia mah udah kelaut, Mel” Ranti menjawab seraya tertawa.

Aku senang mendengar Ranti tidak menikah dengan Faisal, pria yang sejak SMA kutaksir tapi dia malah memilih Ranti, tapi apa kabarnya dia sekarang, Ranti bilang Faisal menjadi seorang ahli gizi di Jakarta.

Loh, terus kamu nikah sama siapa Ran?”

“Ada deh, tar juga kamu tau” Ranti tertawa.

“Iya pokonya mudah-mudahan lancar deh ya acaranya.”

“Iya amin, ngomong-ngomong kamu sendiri udah punya calon belum? Oya kamu gemuk amat sih, Mel, itu selulit ngintip belakang rok span.”

Sial, ucapannya menyentil perasaanku, usia kami sama-sama 27 tahun, bedanya, Ranti telat menikah karena tuntutan profesinya sebagai pekerja hiburan, dia seorang model runway sedangkan aku, telat menikah karena bobot tubuhku yang jauh dari proporsional, dengan tinggi hanya 150 dan berat badan mencapai 90 kilo membuatku jangankan memiliki calon suami, teman dekat lelaki pun aku tak punya.

Hmm aku baru putus, Ran,” kataku berbohong.

“Oh, be patient… Kamu diet dong.”

“Udah coba tapi gak bisa fokus, kerjaan aku banyak, Ran, kamu sendiri ngolah badan tetep langsing dan cantik gimana?”

“Alaah sekarang banyak yang instan, oprasi plastik udah murah kok

“Apa? Kamu oprasi plastik?”

“Iya, sedot lemak, buttock, dan suntik putih juga,” ungkapnya penuh rasa puas.

“Gak ada efek samaping?”

“Efeknya banjir tawaran job, Mel, banyak cowok yang kesemsem juga.”

“Kamu oprasi di luar apa di sini?”

“Di luar lah, Mel, di sini prosedurnya ribet, aku udah oprasi 13 kali.”

Oh God, serius kamu?”

“Serius, Mel, makanya kamu ini punya butik laku, desainer laris pula, ngumpulin duit mulu buat apa sih? Mending ikutin cara aku, buat kamu juga kok hasilnya. Kita perlu kepuasan buat tubuh kita juga kan sebagai perempuan, gak ada salahnya kok

“Iya Ran, aku pikir-pikir deh, besok kita ketemu lagi kan?”

“Iya, aku masih stay di Sukabumi sampai minggu depan, besok ketemu di luar aja ya sekalian makan siang.”

Ranti pamit pulang, aku segera merapikan meja kerja dan bergegas pulang juga. Tak terasa kami menghabiskan waktu hampir dua jam untuk mengobrol ngalor ngidul dengan hasil aku terdoktrin dengan cerita oprasi plastiknya, gaya hidup yang menuntutnya, tapi apa salahnya aku ikut mencoba, untuk menemukan jodohku.

BACA JUGA:

CerpenSukabumi: Ash Lee Soon

CerpenSukabumi: Kado dari mama


Menjelang tidurpun aku masih berpikir keras, menimbang semua ucapan Ranti untuk mendapatkan kecantikan instan dengan oprasi plastik, aku yakin meski uang hasil kerja kerasku harus habis, setidaknaya itu pasti terbayar dengan rasa puas atas tubuhku yang nantinya seelok biola, apa salahnya, Ranti bilang begitu, ya apa salahnya, kupejamkan mata mungkin mimpi memberiku solusi.

Pagi tiba, kubuka ponsel ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari Ranti, aku menghubungi Ranti kembali, mailbox. Segera kukirimi ia pesan, belum sempat kukirim Ranti kembali menelpon, segera kuangkat.

“Iya Ran, kenapa? Jadi kita ketemu?”

Sorry, Mel kayaknya aku gak jadi beli gaun kamu deh.”

Loh kenapa? Kamu ada perancang lain? Lebih bagus? Lebih murah? Atau gimana?”

“Bukan, Mel, bukan gitu. Aku gak jadi nikah, Mel, tadi pagi buta ada yang susul aku ke sukabumi, ternyata dia istrinya calon suamiku. Aku dilabrak, Mel.”

“Tapi kamu sebelumnya tau kalau dia beristri? Apa kamu ditipu?”

“Aku tau, Mel, tadinya aku mau dimadu, dia kaya, Mel. Gak seperti Faisal.”

“Tuhan! Ya udah tak care ya, kuatin diri kamu.”

“Iya, Mel tenang aja, aku kayanya mau balik sama Faisal aja deh.”

“Hah? iya deh kalau gitu aku berangkat kerja dulu ya.”

“Oya gimana, mau oplas gak? Atau sedot lemak dulu deh.”

“Aku pikir-pikir dulu deh, Mel.”

“Oke deh, nanti kabarin aja ya. Aku siap anterin kamu.”

Menjelang tidurpun aku masih berpikir keras, menimbang semua ucapan Ranti untuk mendapatkan kecantikan instan dengan oprasi plastik, aku yakin meski uang hasil kerja kerasku harus habis, setidaknya itu pasti terbayar dengan rasa puas atas tubuhku yang nantinya seelok biola, apa salahnya, Ranti bilang begitu, ya apa salahnya, kupejamkan mata mungkin mimpi memberiku solusi.

Pagi tiba, kubuka ponsel ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari Ranti, aku menghubungi Ranti kembali, mailbox. Segera kukirimi ia pesan, belum sempat kukirim Ranti kembali menelpon, segera kuangkat.

“Iya Ran, kenapa? Jadi kita ketemu?”

“Sorry, Mel kayaknya aku gak jadi beli gaun kamu deh.”

Loh kenapa? Kamu ada perancang lain? Lebih bagus? Lebih murah? Atau gimana?”

“Bukan, Mel, bukan gitu. Aku gak jadi nikah, Mel, tadi pagi buta ada yang susul aku ke sukabumi, ternyata dia istrinya calon suamiku. Aku dilabrak, Mel.”

“Tapi kamu sebelumnya tau kalau dia beristri? Apa kamu ditipu?”

“Aku tau, Mel, tadinya aku mau dimadu, dia kaya, Mel. Gak seperti Faisal.”

“Tuhan! Ya udah tak care ya, kuatin diri kamu.”

“Iya, Mel tenang aja, aku kayanya mau balik sama Faisal aja deh.”

“Hah? iya deh kalau gitu aku beangkat kerja dulu ya.”

“Oya gimana, mau oplas gak? Atau sedot lemak dulu deh.”

“Aku pikir-pikir dulu deh, Mel.”

“Oke deh, nanti kabarin aja ya. Aku siap anterin kamu.”


Aku tak bisa konsen bekerja, Ranti kembali pada Faisal, padahal Ia adalah motivasiku untuk menjadi kurus dan cantik, aku berharap Faisal jodohku, tapi Ranti, ah sudahlah, aku harus mengulang tidak menjadi pilihan Faisal untuk kedua kalinya.

Lonceng kecil di atas pintu butikku berbunyi, seseorang masuk, kulihat seseorang yang kukenal. Faisal.

Dia terlihat tampan mengenakan setelan kaos polo dan celana jeans, Faisal mendekat, aku segera bangkit dari tempat duduk, menyambut uluran tangannya lalu bersalaman.

“Kamu agak gemuk ya, Mel sekarang.”

“Ah iya nih, gak sempet ngurus badan.”

Gak apa-apa, masih cantik kok.”

Faisal mengatakan Ranti membujuknya untuk kembali setelah meninggalkannya demi suami orang hanya karena Ia kaya, Ranti memang kerap bergonta-ganti pasangan yang rata-rata kalangan pejabat hanya untuk uang, sementara kini Faisal pun tengah sukses Ranti memintanya kembali. Aku hanya terharu tak menyangka Faisal menemuiku, kebetulan dia bertugas di salah satu rumah sakit di kotaku, Sukabumi. kami jadi sering menghabiskan waktu bersama.

Ia selalu bilang aku bisa lebih cantik tanpa perlu oprasi plastik, dia memberiku banayak menu dan pola makanan sehat sesuai profesinya sebagai ahli gizi, aku memiliki konsultan pribadi sekarang, badanku perlahan ideal meski tak semampai seperti Ranti, tapi aku puas dengan kerja kerasku, seperti ini tubuh indahku, bukan plastik berjalan seperti Ranti.


Waktu terus berjalan, jika saat itu aku memilih mengikuti langkah Ranti untuk oprasi, belum tentu aku bisa sedekat ini dengan Faisal, jika aku sudah langsing, Faisal tak memiliki alasan untuk mengurus dietku dan menjadi konsultan giziku. Aku bersyukur dengan semua yang kupunya sekarang, kini tepat di usiaku yang ke 28 tahun Faisal, Melamarku, cinta lamaku semakin mendekat pada hidupku, ternyata jodoh memang sudah ditentukan.

Cinta memang turun dari mata ke hati, tapi prilaku kita selanjutnya yang membuat cinta itu bertahan atau tidak, aku hanya bagian dari rekam wanita yang pernah putus asa karena takut tak dicintai dan tak memiliki jodoh, karena itu aku, Melampiaskannya dengan bekerja, mencari uang sebanyak mungkin entah untuk apa, tapi Tuhan membuka jalan, bahkan Ia memeberikan yang aku inginkan.

Jangan pernah takut tidak dicintai hanya karena tubuh kita tak seperti wanita yang kita lihat di majalah atau di TV, untuk mendapatkan tubuh yang indah, berjalanlah dengan ilmu pengetahuan.

Kecantikan perempuan tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada kehalusan wajah dan bentuk tubuhnya, apalagi pada pisau oprasi. Tetapi pada matanya. Ya cara kita memandang dunia, karena di matalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia lainnya, di mana cinta dapat berkembang untuknya untuk dunia dan hidupnya.

Cerpen Kiriman: Anisa Siti Rizkia

Feryawi Heryadi

Feryawi Heryadi

FERYAWI HERYADI adalah Pemimpin Redaksi sukabumiXYZ.com. Lahir di Sukabumi pada 17 Agustus 1975. Fery lebih berpengalaman di bidang disain grafis, pertama kali mempelajari disain grafis di Koran Republika, setelah itu menimba ilmu dan pengalaman disain grafis dari banyak media lokal, nasional, hingga regional. Pernah bekerja di Koran Investor Daily, majalah SINDO Weekly (MNC Grup), Majalah BUMN Insight, Pantau.com, Jakarta. FERYAWI kini sebagai konsultan disain grafis untuk beberapa perusahaan di Jakarta, serta konsultan media dan digital marketing Universitas Nusa Putra. Silakan klik www.feryheryadi.com untuk cek portofolio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *